
15.00 waktu setempat
Alex dan Efira masih tidur sambil berpelukan, menyalurkan kehangatan dengan nyenyaknya di ranjang pasien.
“Hoam” Efira menguap, membuka matanya perlahan dan mendapati Alex di sampingnya.
Dia tersenyum tipis melihat wajah damai Alex yang seperti bayi.
“Ehm”
Suara sebuah deheman?
Baik, mari putar arah pandang.
Di belakang Efira, tepatnya di sofa ruangan itu sudah berjejer orang tuanya, orang tua Alex beserta teman-temannya.
Tentu saja gadis itu terbelalak kaget dan meloncat dari ranjang pasien.
Hal itu membuat Alex yang tengah bermimpi indah pun membuka matanya spontan.
“Sayang” Keluh Alex, masih menutup matanya. Lelaki itu merasa terganggu dengan gerakan Efira yang tiba-tiba.
Hening
Merasa tidak ada sahutan dari kekasihnya, dia pun membuka mata dan melihat keramaian di sekelilingnya.
Oke, itu memalukan.
“Halo semua” Sapa Alex canggung.
“Bisa kau jelaskan, Alex?” Ucap tuan Harrison.
Alex tau dan paham ke arah mana pembicaraan ini sebenarnya. Lelaki itu segera mensejajarkan duduknya dengan benar sebelum menjawab pertanyaan dari tuan besar keluarga Harrison.
“Tidak ada masalah apapun bukan? Alex hanya berbagi ranjang dengan Efira” Ucap Alex seadanya. Memang begitu kan keadaannya?
“Lalu? Sayang?”
Tuan Harrison itu memang ahli memojokkan seseorang.
Tapi, ingat. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
“Aku memanggil kekasihku dengan benar, ayah. Memangnya ada yang salah?”
Skakmat
Kali ini mereka semua terkejut, termasuk Efira. Bisa-bisanya Alex mengatakan hal itu dengan sangat mudah. Tidak lupa dia juga memasang wajah polosnya yang meminta sekali untuk dicakar itu.
“Sejak kapan kalian menjadi sepasang kekasih?” Tanya Aulia, heboh.
“Bukankah ketika liburan kalian masih sendiri-sendiri?” Selidik Bella.
“Atau kalian melakukan back street selama ini?” Balas Samuel.
“Itulah kenapa saat Frans mendekati Efira, Alex jadi kebakaran jenggot hingga menghabisi Frans di tempat” Gio menarik kesimpulan yang sangat bisa dikatakan masuk akal.
“Ada benarnya” Gumam Deva.
“Setuju” Ucap Nando, paling keras.
“Ini hari pertama kami” Jawab Alex.
Lelaki itu benar-benar kurang ajar menurut Efira.
Bisa tidak untuk tidak menggamblangkan-nya secara mendadak begini? Wajah Efira sudah merah sekali menahan malu dan Alex dengan sengaja-nya menggoda Efira di hadapan orang tuanya dan juga yang lainnya.
“Ah sudah-sudah. Kalian tidak lihat kekasihku ini sudah sangat malu. Lihat saja wajahnya sudah seperti udang rebus” Ucap Alex lalu tertawa puas.
Awas saja kau Alex, batin Efira.
“Niat hati ingin menjenguk teman yang sakit tapi, dia tidak terlihat sakit” Ucap Nando.
“Dia terlihat begitu sehat ditemani kekasih barunya” Balas Bella.
“Jangan lupakan pelukan hangat di ranjang pasien” Goda Deva.
Mereka memang selalu ramai bukan? tapi, itu menyenangkan.
“Baiklah, lekas sembuh Alex. Aku benar-benar tidak menyangka. Niatan ingin menjengukmu malah berakhir mendengar penjelasanmu yang membawa putriku ke ranjang yang sama denganmu” Ucap tuan Javonte.
“Terimakasih ayah, doakan hubungan kami berjalan hingga sukses” Jawab Alex diakhiri dengan kekehan pelan.
“Kau benar-benar ingin mati di tanganku rupanya” Bisik Efira kepada Alex.
Antara ucapan dan raut wajahnya sangat tidak sinkron. Mulutnya berkata tajam tapi, raut wajahnya sangat manis. Alex jadi gemas sendiri.
“Efira, kau ingin pulang?” Tanya nyonya Javonte.
“Tidak bunda, aku akan disini menunggu Alex”
“Menunggu kekasihmu maksudnya?” Goda ibunda Efira tersebut.
DUAR
Bagai disambar petir, pernyataan sang bunda kembali membuat pipinya bersemu.
“Tante, Efiranya sudah sangat malu” Tegur Samuel, sebenarnya lelaki itu juga sedang menggoda Efira. Ah, mereka semua sedang menggoda pasangan baru itu sekarang.
“Merah redam wajahku yang masam” Ucap Deva puitis.
Baik keluarga Efira maupun teman-temannya memang saja dengan Alex. Suka sekali menggodanya.
Wajah merahnya itu tentu saja mengundang tawa semua orang disana.
“Bunda sudah membawakanmu baju ganti sekaligus makan siang untukmu” Ucap nyonya Javonte.
“Aku harus kembali, aku memilikki pasien yang harus kuurus” Pamit Gio.
“Aku juga harus kembali, ada urusan dengan klien” Sahut Samuel.
Mereka semua akhirnya berpamitan untuk kembali dengan kesibukan masing-masing. Niat hati ingin menjenguk Alex harus berakhir tidak seperti yang diinginkan, mana mungkin mereka mengganggu pasangan kekasih baru itu.
...***...
“Efira, aku lapar” Keluh Alex.
“Makan” Jawab Efira ketus.
“Tapi, aku sedang sakit”
Efira ingin mengumpat, sejak kapan Alex menjadi manja begitu?
“Yang sakit kan kepalamu, bukan tanganmu”
“Sayang, sebenarnya kau ini kenapa hm?” Ucap Alex, sengaja memelankan suaranya agar gadisnya itu tidak bersikap acuh.
Hari pertama mereka terlihat sangat kacau dan penuh perdebatan bukan?
“Aku kesal sekali, kau sengaja menggodaku di depan mereka semua kan?”
Alex mengulum senyum setelah mendengar jawaban Efira jadi gadis nya merajuk karena itu?
“Hm, aku hanya mengatakan yang sebenarnya kepada mereka” Jawab Alex, sedangkan Efira hanya diam di tempatnya.
“Lupakan saja. Cepat suapi aku” Lanjut Alex.
Dia tidak bohong, lelaki itu sangat lapar.
Efira langsung mengambil mangkuk berisi bubur yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.
“Aku mau yang dibawakan bundamu” Ucap Alex sebelum Efira berhasil mengangkat satu sendok bubur itu untuk Alex.
Akan lebih baik jika Alex tidak sakit. Sekalinya sakit malah sangat memusingkan kepala.
“Tapi, makanan ini akan membantumu lekas pulih tuan Alexander Harrison” Jawab Efira.
“Hey yang sakit kepalaku bukan perutku, apalagi ususku. Selama itu diurus oleh dirimu, aku pasti akan segera sembuh”
Gombalan anak muda. Sayangnya Efira sudah lelah berdebat. Akhirnya, gadis itu membawakan bekal dari bundanya untuk Alex.
“Jika kau tidak menghabiskan ini, akan aku potong lidahmu” Ketus Efira sambil membuka kotak makan tersebut.
“Garang sekali kau ini” Ucap Alex sambil terkekeh. Gadisnya itu mood-nya sedang berubah-ubah akhir-akhir ini. Apa sedang masanya?
Efira lalu menyuapkan satu sendok nasi, tidak lupa dengan lauk pauknya. Dengan senang hati, Alex menerima perlakuan manis dari kekasihnya.
“Kau juga makanlah” Ucap Alex.
“Kau tidak takut aku tertular?” Jawab Efira.
“Aku tidak demam, tidak juga flu ataupun batuk. Sakitku ini murni karena kecelakaan”
Betul juga, Alex terbaring di rumah sakit ini bukan dikarenakan penyakit menular.
“Makanlah, atau perlu aku suapi juga?” Lanjut Alex.
“Ah tidak-tidak, aku bisa makan sendiri”
Efira menyiapkan satu sendok nasi untuk dirinya sendiri. Sebenarnya di dalam hati kecilnya, gadis itu salah tingkah.
“Aku ingin jalan-jalan. Ayo ke taman” Ucap Alex, lelaki itu sudah siap berdiri namun, Efira segera mencegahnya.
“Pakai kursi roda saja”
Efira segera mengambil kursi roda dan membantu Alex duduk disana.
...***...
“Sayang”
Itu menggelikan. Efira menolehkan kepalanya perlahan, menatap kekasih pertamanya yang ternyata adalah sahabatnya sendiri.
Bukankah sangat membosankan?
Hahaha
Sayangnya Efira sudah jatuh hati dengan sosok Alex, begitu pula sebaliknya.
“Hm?”
“Bukankah ini sedikit aneh?” Ucap Alex diakhiri dengan kekehan.
“Menurutmu?”
“Baiklah, mari bersikap biasa saja” Ucap Alex, masih dengan senyum manisnya.
Pasalnya, sikap keduanya terlihat sedikit aneh sejak tadi.
“Tapi, aku sama sekali tidak bisa berlaku manis pada kekasihku” Lanjut Alex, menggenggam tangan Efira.
“Jalani saja apa adanya, Alex. Kau membuat jantungku berpacu lebih cepat” Jawab Efira.
“Cih, kau seperti tidak pernah disentuh olehku”
Benar juga, mereka bahkan sering tidur bersama.
Ingat, hanya tidur tidak lebih.
Efira meringis jika mengingat hal itu.