You

You
Tidak Ada Kabar



Brak


Brak


Brak


“FRANS, ELENA BANGUN!”


Pagi yang indah untuk Efira, sisi liarnya benar-benar keluar. Terhitung pagi pertama Frans dan juga Elena di Indonesia namun, Efira sudah seperti kucing kelaparan, dengan brutal menggedor pintu kedua temannya itu.


“Aish, kenapa kau berisik sekali, Efira?” Tanya Elena, gadis itu masih menggunakan piyamanya, rambutnya bahkan masih berantakan.


“Bangunkan Frans, aku akan mengajarkan cara membuat masakan lokal. Setelah itu, kita jalan-jalan. Kau belum pernah berkebun kan? Maka hari ini kita akan berkebun. Kau juga belum pernah menonton drama Korea di outdoor kan? Dan hari ini kita akan melakukan itu”


Elena langsung bersemangat mendengar hal itu, dia segera mencuci wajahnya lalu membangunkan Frans.


“Ayo, apa yang akan kita masak?” Tanya Elena, gadis itu sudah terlihat segar.


“Nanti juga kau tau, tolong kau potong-potong sayuran ini” Ucap Efira menunjuk sayur-sayuran yang sudah dicuci.


“Bagaimana?” Elena bingung, dia hanya memegang pisau sambil melihat Efira dan sayuran itu bergantian.


“Kau tidak bisa? Begini caranya…” Efira menjelaskan sambil mempraktekkannya hingga Elena bisa.


Sedangkan Frans, lelaki itu susah payah mengaduk bumbu.


“Apa kau ingin membuat salad? Kenapa sausnya harus direbus begini?” Tanya Frans.


“Kenapa kau ini cerewet sekali? Sudah mendidih bukan? Angkat itu ke wadah, lalu rebus sepanci air” Jawab Efira sambil membalik tempenya. Lelaki itu segera melaksanakan apa yang dikatakan Efira.


“Jika airnya sudah mendidih, tolong masukkan sayuran itu”


“Okay” Jawab Elena.


Frans sudah kabur, dia bertugas menyiapkan meja makan sekarang. Apa sudah terlihat seperti sekelompok teman kos jika begitu?


Setelah 25 menit berkutat dengan alat dapur, mereka memilih mandi terlebih dulu, baru sarapan bersama. Efira juga sudah menyiapkan bekal untuk kedua orang tuanya. Dia akan mengunjungi orang tuanya yang tengah berlibur di pedesaan sana hari ini, sekalian mengajak kedua temannya bermain di pedesaan. Mumpung weekend, pikirnya.


“Benar-benar salad” Tutur Frans menatap menu makanan di hadapannya.


“Kenapa pakai nasi? Kan malah tidak jadi diet?”


“Ini salad tradisionalnya orang lokal. Cobalah!” Efira menyendokkan sayuran lengkap dengan sausnya ke piring Frans dan Elena.


Salad tradisional? Gadis itu hanya terkekeh mengingat jawabannya.


Setelah sarapan, Efira segera mencuci piringnya.


Sungguh makmur para pelayan disana mendapat majikan seperti Efira.


Frans dan Elena pun sudah berlalu, mereka bersiap untuk hari yang panjang dan menyenangkan.


Efira sendiri juga sudah bersiap lalu mengeluarkan mobilnya dari garasi.


Tin


Tin


Itu suara klakson mobil Efira, menandakan dirinya sudah siap meluncur.


Brak


Brak


Frans mengambil alih kursi kemudi, sedangkan Efira duduk di depan, dan Elena duduk di belakang sendirian.


...***...


“Sebenarnya gadis ini kemana?” Alex terus mengomel, dia baru saja menyelesaikan meeting-nya dengan klien. Sedang ingin mengistirahatkan diri di hotel maksudnya namun, Efira tidak juga menjawab panggilannya. Membaca pesannya saja tidak. Hal itu tentu saja membuat Alex resah sendiri.


Lelaki itu berjalan ke kanan lalu ke kiri, kembali ke kanan serta kembali lagi ke kiri.


Devan pusing melihatnya. Dia sedang memeriksa beberapa dokumen dan tuannya malah sibuk dengan dunia percintaannya yang tidak jelas itu.


“Tuan, jika anda tidak mau membantuku maka diam dan duduklah, atau setidaknya selesaikan ini secepatnya lalu kita pulang. Saya pusing melihat anda mondar-mandir begitu”


Coba katakan sekretaris se-berani itu, siapa lagi jika bukan Devan?


Siapa yang berani memerintah bosnya begitu?


Hanya Devan.


Dan Mira ada di urutan kedua.


“Aish, kau tidak pernah memiliki kekasih, jadi kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya” Jawab Alex sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur.


“Tuan, maafkan saya. Bukankah anda juga tidak pernah memiliki kekasih?”


“Efira hanya sahabat anda bukan?”


Double kill.


Alex diam, benar juga perkataan sekretarisnya itu.


Apa yang lebih sialan dari hal itu?


“Lihat bosku, awalnya dia tidak peka dengan perasaannya sendiri. Lalu sekarang? Dia juga tidak peka dengan pekerjaannya. Ah aku lelah sekali” Gumam Devan sambil menutup dokumen-dokumennya lalu pergi ke kamarnya.


...***...


“Ayaaaah, bundaaaaa” Efira segera berlari menuju orang tuanya. Dia sudah sampai tujuan dengan selamat.


Ayah bundanya sedang menikmati waktu berdua di sebuah batu besar. Batu tersebut ada di halaman villa keluarga, tempat ayah dan bundanya menghabiskan watu akhir-akhir ini. Kedua orang tuanya menghadap ke hamparan kebun sambil ayahnya memeluk bahu sang bunda.


Romantis sekali.


“Apa sudah rindu?” Tanya ibu Efira.


“Tentu saja, aku membawa dua temanku dari Amerika. Mereka datang kemarin” Ucap Efira, memperkenalkan kedua temannya.


Untungnya setelah lama bersama Efira, Elena dan Frans sudah lancar berbahasa lokal, meskipun terdengar sedikit belepotan. Jadi, tidak butuh waktu yang lama untuk keduanya bisa dekat dengan orang tua Efira.


Saat itu, hari masih belum terlalu siang. Masih pukul 09.00 waktu sekitar. Efira segera pamit, ingin mengajak kedua rekannya jalan-jalan katanya.


“Ayo bersiap. Kita akan pergi ke kebun. Pilih sendiri kamar kalian” Ucap Efira saat baru tiba di villa keluarganya.


Tidak menunggu waktu lama, Efira, Elena dan juga Frans sudah siap. Outfit casual melekat di tubuh mereka.


Efira mengajak keduanya berjalan kaki, agar sehat katanya. Mereka melewati jalanan yang di kanan dan kirinya berjajar perkebunan warga, tak jarang banyak juga warga yang menyapa Efira.


“Nona Efira. Makin geulis euy”


“Non Efira, mau ke kebun ya?”


“Si eneng the mening geulis pisan. Pangling saya”


Kira-kira begitu sapaan warga dan Efira dengan hati menanggapinya dengan senyum sumringah.


Setelah berjalan kurang lebih 2km, akhirnya mereka bertiga sampai di sebuah perkebunan anggur.


Elena dan Frans tentu saja kegirangan melihat anggur berwarna merah menggantung di atas kepala mereka.


Efira mengajak keduanya untuk memetik buah namun, tak jarang mereka menyelipkan waktu untuk mengunyah salah satu hasil petikan mereka.


“Efira, aku senang sekali. Lihat! Banyak sekali buahnya” Elena berteriak kegirangan.


Tidak jauh berbeda, Frans juga terlihat sangat bahagia. Lelaki itu fokus memotret setiap sudut perkebunan.


Menurutnya itu sangat cantik.


“Aku tidak pernah tau bahwa perkebunan disini sangat sejuk dan indah seperti ini” Ucap Frans sambil menatap hasil jepretannya. Tak jarang juga, lelaki itu memotret kedua temannya dalam posisi candid.


Efira tersenyum senang, dia berhasil membuat kedua temannya bahagia. Mekipun itu terkesan sangat sederhana.


“Ini menyenangkan” Elena merentangkan kedua tangannya lalu menengadahkan kepalanya. Menarik lalu menghembuskan napasnya perlahan, menikmati alam ceritanya.


Sangat segar.


Udara alami tanpa polusi.


Mereka menghabiskan waku di kebun hingga sore menyapa, pukul 16.00 mereka memutuskan untuk kembali ke villa.


Memasak berbagai olahan anggur disana. Bolu kismis misalnya dan juga salad. Itu terlihat lezat kata Elena.


Sedangkan, untuk makan malam. Efira memasak sayur bayam saja, tempe dan juga sambel khas dari gadis itu. Sesuatu yang sederhana namun, sangat lezat.


“Bagaimana hari kalian? Menyenangkan?” Tanya ayah Efira.


“Sangat senang om, Efira memberi banyak pelajaran tentang anggur” Jawab Frans, terdengar kaku karena lidahnya itu memang lidah seorang bule.


“Aku senang jika kalian betah” Sahut ibunda Efira.


Setelah selesai semua, Efira mengajak kedua orang tuanya dan teman-temannya untuk menggelar layar tancap kecil-kecilan. Hanya dipersembahkan untuk mereka.


Menonton drama Korea ditambah beberapa camilan yang dibuat bersama tadi. Itu sudah lebih dari cukup.


“Aku sangat senang berada disini, aku senang” Ucap Elena, gadis itu menatap kain putih yang menampilkan pantulan drama Korea dari ponsel Efira ke proyektor, lalu dipantulkan ke kain putih yang terbentang di halaman belakang villa.


“Kalian sering melakukan ini di Amerika?” Tanya nyonya Javonte, dia baru saja keluar dari dapur. Mengambil beberapa chiki-chiki untuk bisa dicicipi.


Sedangkan, Frans bersama tuan Javonte tidak terlalu mengindahkan drama itu. Mereka lebih sering berbicara tentang bisnis.


Mendefinisikan sebuah keluarga utuh yang harmonis.


...***...


“Efira ini kemana?” Alex sudah uring-uringan karena sahabatnya tidak juga memberi kabar.


Devan sudah pusing, karena saat dia tanya kepada Mira, gadis itu juga tidak tau dimana bosnya berada. Di Indonesia sekarang adalah weekend jadi, mungkin bosnya itu memanfaatkan hari libur sehari itu dengan baik.


“Kau tidak berguna sekali menjadi sekretaris pribadi Efira” Ucap Devan di telepon.


Tanpa banyak bicara, Mira langsung mematikan sambungan panggilannya dengan Devan. Merasa kesal dengan ucapan Devan.


Apa dirinya harus selalu ada untuk nona Efiranya?


Hello,ini weekend.