
“Alex? Jemput Efira?” Ini suara tuan Javonte saat melihat Alex sudah berada di ruang tamunya. Baru selesai sarapan bersama?
Tuan Javonte sedang menyiram tanamannya, ditemani nyonya Javonte membantu pak kebun. Selain dari membantu saja, tuan Javonte memang suka sekali berkebun. Terbukti dari rumahnya yang terlihat asri.
“Iya ayah, aku sedang ingin berangkat bersama” Jawab Alex.
“Masuk saja, Efira sepertinya sedang mengambil tasnya”
“Terimakasih ayah. Aku permisi” Jawab Alex lalu melangkahkan kakinya ke dalam rumah sang kekasih.
“Kau sudah datang?” Suara Efira memenuhi pendengarannya. Berada di ruang tamu, baru saja turun dari kamarnya?
“Ya. Sudah siap?” Tanya Alex.
“Sudah, ayo berangkat” Ajak Efira, menggandeng tangan kekasihnya.
“Kami pamit berangkat dahulu ayah, bunda” Pamit Alex pada kedua orang tua Efira, menemui mereka dahulu sebelum benar-benar berangkat bekerja.
“Hati-hati di jalan anak-anak”
...***...
“Tumben sekali hm? Ada hal penting apa?” Tanya Alex saat dirinya sudah berada di mobil bersama Efira. Jika biasanya Alex berangkat bersama supirnya namun, tidak jika Efira ikut bersamanya.
“Sangat penting” Jawab Efira, wajahnya sangat tidak bersahabat.
Menurut Alex, tadi Efiranya biasa saja. Kenapa setelah keluar dari gerbang rumahnya terlihat seperti orang penuh beban?
“Kau bahkan sampai kurang tidur?” Tanya lelaki itu, menyadari mata bengkak gadisnya.
“Sampai tidak tidur” Jawab Efira pelan.
“Jadi, ada apa sayang?”
Alex menggenggam tangan kekasihnya lembut, menyalurkan kenyamanan agar suasana diantara keduanya mencair dan tidak tegang.
“Ke kantormu dulu, aku akan membicarakannya” Pinta Efira.
Efiranya benar-benar berubah, pasti masalahnya sangat berat. Batin Alex.
...***...
Efira memasuki ruang kerja Alex, disana Devan sudah menunggu atasannya yang ternyata malah datang bersama Efira.
“Tumben nona?” Tanya Devan menyapa Efira.
Efira melirik sebentar ke arah Devan, memamerkan senyum termanisnya seolah tidak ada masalah. “Tidak ada, hanya ingin menemani Alex sebentar” Balasnya.
Gadis itu seperti memiliki kepribadian ganda. Lihat saja sekarang, bisa-bisanya dia tersenyum ramah seperti itu pada Devan. Sedangkan, sedari tadi dirinya seperti singa betina di hadapan Alex.
“Aku ingin bicara berdua dengan Efira” Ucap Alex yang langsung diangguki oleh Devan, keluar dari ruang kerja atasannya.
Setelah Devan menutup pintu, Efira segera mengeluarkan berkas-berkas yang ia temukan.
“Tolong cari tau tentang dia” Ucap Efira.
“Apa ini?” Tanya Alex sembari membuka berkas tersebut.
“Aku menemukannya di gudang dua hari yang lalu. Saat aku tanyakan kepada ayah dan bunda, mereka tidak ingin menjelaskan apapun. Lalu, aku juga menemukan majalah itu juga di gudang semalam. Mereka pikir aku salah baca atau apa tapi, aku rasa ada yang mereka sembunyikan dariku. Jadi, apa kau mau membantuku?” Jelas Efira dingin.
Hmm
Seseorang telah menggunakan marga Javonte di namanya, memangnya siapa yang berani memanipulasi identitasnya? Apa sedang ingin memberikan nyawa?
Tentu saja tidak, mana mungkin pikiran keduanya sedangkal itu. Pasti ada alasan lain.
“Aku akan membantumu, serahkan ini padaku. Aku akan mengabarimu secepatnya tentang masalah ini”
“Terimakasih, aku akan langsung ke kantor setelah ini” Ucap Efira, pamit untuk pekerjaannya.
“Aku antar” Ucap Alex.
“Kau tau aku tidak suka penolakan”
Alex mengambil kunci mobilnya lalu, menggandeng tangan Efira ke parkiran untuk mengantarkan gadis itu ke kantornya.
...***...
“Nona Aulia tadi mencari anda nona, sebenarnya anda kemana?” Tanya Mira saat Efira baru saja sampai di ruangannya.
“Aku mampir ke Harrison Company dulu, membahas beberapa hal penting disana. Ada apa Aulia mencariku?”
Lagi-lagi Efira terlihat santai dan biasa saja, memang aktris yang pandai.
“Katanya anda yang mengundangnya untuk membicarakan butik”
Ah iya, Efira melupakan janjinya yang satu itu.
“Lalu sekarang dia dimana?” Tanya Efira.
“Nona Aulia harus pergi ke butik bertemu customer, saya sudah buatkan janji dengannya setelah jam makan siang berakhir” Jelas Mira.
“Terimakasih, apa jadwalku hari ini?” Tanya Efira lagi, memastikan bahwa hari ini dirinya tidak terlalu sibuk.
“Hanya bertemu dengan nona Aulia nanti”
Efira mengangguk paham, dibersamai dengan Mira yang pamit keluar dari ruangan tersebut.
“Itu sangat mengganggu hm” Gumam Efira memijat pelipisnya pelan. Merasa pusing karena memikirkan masalahnya atau pusing karena kurang tidur?
...***...
Sedangkan Alex di ruangannya masih terdiam memandangi laptopnya.
Pertama, dirinya hanya perlu membuka kata kunci ‘Keluarga Javonte’ di halaman pencarian tapi, nihil. Hanya kabar-kabar terbaru yang muncul, tentang Efira misalnya. Kekasihnya itu sedang berada di trending topic karena pembukaan butiknya.
Ah tapi, bukan itu yang ia cari. Coba menggunakan nama seseorang tersebut.
“Sial, kenapa seluruh artikelnya dihapus?” Ucap Alex bermonolog mendapati halaman artikel online itu malah mengeluarkan bahasa link not found.
“Baiklah, cari secara halus” Gumamnya. Berbekal nama dan juga tanggal lahir, Alex mencoba masuk ke dalam sistem di satu per satu media yang pernah memposting artikel tentang seseorang yang sedang dicari kekasihnya.
Dengan mudah, Alex sudah dapat memasuki sistemnya tapi, masalahnya bukan disana. Masalahnya adalah seluruh file yang terkumpul tentang orang itu sama sekali tidak ada. Bahkan meskipun Alex membobol pertahanan sistem mereka, itu hanya akan sia-sia. Karena data-data itu telah dihapus permanen oleh pihak mereka.
Tidak menyerah begitu saja, Alex terus mencoba mencari dari sumber lainnya.
Ceklek
Alex segera menutup berkasnya dan langsung menutup laptopnya, melihat siapa yang datang ke ruangannya.
“Devan, ada apa?” Tanya Alex.
Devan sedikit merasa aneh dengan atasannya itu, raut wajahnya seperti terkejut dan seperti habis dikejar waktu.
“Berkas-berkas yang harus anda tangani” Ucap Devan memberikan beberapa map di meja kerja atasannya.
“Ya Terimakasih” Jawab Alex.
Benar-benar aneh, pikir Devan. Memangnya apa yang sedang disembunyikan atasannya itu di laptopnya. Sampai harus menutup laptopnya begitu keras saat dirinya masuk tadi.
“Tuan, anda tidak apa-apa?” Tanya Devan.
“Aku tidak apa-apa”
“Apa terjadi sesuatu di laptop anda?” Tanya Devan lagi.
“Kau tidak perlu tau, pergilah” Ucap Alex, megusir Devan halus?
Ya, sebisa mungkin dirinya menyembunyikan hal itu dari orang-orang yang lain selain dari dirinya dan juga Efira. Ini termasuk misi rahasia bukan?
“Sepertinya Tuan Javonte sengaja menutup rapat kasus ini” Ucap Alex, ketika dirinya berhasil mengutak-atik laptonya lagi. Masih dengan hasil yang sama, tidak ada informasi terkait apapun.