You

You
Ravo Boutique



Hari demi hari terus berlalu, hubungan Efira dan Alex semakin membaik setiap harinya. Mereka menjalaninya seperti sepasang kekasih atau bahkan menjadi sepasang sahabat pada umumnya.


Hari ini adalah hari dimana pembukaan butik Efira secara resmi. Tidak banyak orang yang diundang. Hanya beberapa orang-orang terdekat yang bisa hadir di acara tersebut tapi, Efira adalah seorang CEO wanita yang masih cukup muda, reporter mana yang tidak ingin meliput setiap moment dari dirinya?


Acara pembukaan dilakukan pukul 19.00, bertepatan dengan jam makan malam. Sedangkan ini masih pukul lima di sore hari, itu artinya masih tersisa dua jam untuk acara dimulai. Meskipun terbilang masih lama memasuki acara, para reporter sudah berjejer di sepanjang jalan menuju butik yang digadang-gadang mewah dan memiliki nominal fantastis selama pembangunan.


Efira sedikit heran, sebenarnya dari mana mereka tau tentang butiknya. Gadis itu sendiri terkejut ketika Mira mengabarinya tadi, tepatnya pada pukul tiga sore.


Saat itu, Efira sedang sibuk-sibunya dengan pekerjaan. Lalu Mira datang dan mengatakan, “Nona, sudah banyak sekali reporter di sepanjang jalan menuju butik anda”.


Sebenarnya tidak masalah, hanya saja itu terlalu siang.


“Kirim beberapa pelayan untuk memberi mereka makanan, aku khawatir mereka tidak akan makan hingga nanti. Ini masih terlalu sore jika dihitung sampai jam makan malam nanti” Balas Efira saat itu.


Para reporter tentu saja dibuat kagum dengan aksi mendadak dari CEO muda Javonte’s Group hari itu, mereka merasa tidak diperlakukan seenak hati para petinggi perusahaan.


Kembali ke cerita, Efira sebisa mungkin membagi waktunya. Baik di perusahaan maupun di butik, keduanya adalah tanggung jawabnya.


“Nona, pukul 17.30 anda harus segera pulang. Mobilnya sudah sia di parkiran bawah” Ucap Keisha.


Ya, itu adalah jadwalnya untuk bersiap-siap.


Ceklek


Efira yang tadinya sibuk dengan dokumen-dokumen, langsung melihat ke arah pintu.


“Hai sayang” Sapa Alex, dia memunculkan kepalanya diantara daun pintu.


“Alex? Sedang apa?” Tanya Efira.


Dia sedikit terkejut, kekasihnya itu tidak mengatakan akan datang ke kantornya hari ini.


“SURPRISE” Teriak Alex. Lelaki itu membuka pintu dengan kasar lalu membentangkan tangannya. Memang seperti seseorang yang membuat sebuah kejutan.


Sedangkan Efira yang sudah terbiasa dengan tingkah luar biasa kekasihnya hanya mampu menggelengkan kepalanya pelan.


“Sudah jam lima lewat, ayo bersiaplah. Biar aku yang mengantarmu. Supirmu sudah aku beri ongkos untuk pergi tadi”


Efira hanya mampu membelalakkan matanya. Alex selalu saja seenaknya sendiri. Sudah tau kan bahwa kekasih Efira ini memang memiliki tingkah luar biasa?


Ingin mengomel pun sepertinya percuma, toh sudah terjadi juga. Akhirnya Efira memutuskan untuk segera pulang saja.


“Ayo” Ajak Efira.


“Kemana?” Tanya Alex.


Ah, lelaki ini benar-benar menguji kesabaran Efira sepertinya.


“Kebun binatang, siapa tau ada saudaramu” Jawab Efira asal. Gadis itu lama-lama kesal juga.


Alex langsung tersenyum, dia menggandeng tangan Efira menuju parkiran belakang.


Kenapa begitu?


Selain di tempat pembukaan butik, di depan sana juga terdapat banyak reporter.


Efira tidak menyangka bahwa kehidupannya menjadi konsumsi publik saat ini.


...***...


Sesampainya di rumah, Efira segera bersiap. Tidak ada yang istimewa, hanya seperti biasa saja. Mandi lalu merias diri.


Gaun panjang yang digunakan Efira kali ini berwarna putih dan juga kuning dengan aksen mutiara melingkari bagian perutnya. Untuk menambah kesan sensual, gadis itu memilih gaun bersiluet A-Line, dan belahan tinggi untuk model gaunnya.


Rambutnya digulung untuk menambah kesan dewasa. Tidak lupa aksesoris berupa kalung dia kenakan melingkar dilehernya agar bagian tersebut tidak terlihat kosong.


Tok


Tok


Tok


Ceklek


Dia berfikir bahwa putri kecilnya sudah sangat dewasa sekarang. Lihat saja, gadis itu bahkan sudah bisa merias dirinya sendiri dengan baik. Padahal jika diingat-ingat, saat peresmian Javonte’s Group beberapa waktu lalu, Efira masih menggunakan jasa salon untuk merias dirinya.


“Sudah, ayo berangkat” Ucap Efira.


Efira berangkat bersama dengan kedua orang tuanya. Sedangkan keluarga Alex mengikuti di belakangnya.


...***...


Cekrek


Cekrek


Cekrek


Lagi, suara lampu blitz kamera memenuhi pendengaran Efira sejak mobilnya memasuki area butik. Sudah kedua kali ini setelah yang pertama saat peresmian perusahaan, gadis itu merasa menjadi seorang selebriti sekarang.


“Mbak Efira, apa nama butik anda nanti?”


“Kenapa namanya dibuat seperti itu?”


“Apa alasan anda membuka sebuah butik? Bukankah anda sudah memiliki perusahaan yang besar?”


“Apakah gaun yang anda gunakan saat ini adalah hasil rancangan anda sendiri?”


Dengan telaten Efira menjawab beberapa pertanyaan dari para wartawan itu, tentu saja disertai dengan senyum manisnya. Beberapa anak buah Efira sudah standby disana, mencegah wartawan terlalu mendekat dengan atasannya.


Sedangkan Alex? Lelaki itu hanya memperhatikan kekasihnya dari jauh, menunggu gadsi itu selesai sesi wawancara dengan para wartawan.


Orang tua Alex dan Efira sudah dituntun menuju ruangan utama bersama Devan dan juga Mira.


Setelah selesai, Efira segera masuk bersama dengan Alex ke ruang utama acara. Halaman utama butik menjadi ruangan utamanya. Beberapa kolega Efira dibidang fashion turut hadir pada peresmian tersebut, tidak terkecuali Frans dan juga Elena.


Tentu saja Efira menyapa tamu-tamunya dengan baik.


“Kau benar-benar seperti seorang penggila kerja” Ucap Bella, tidak menyangka bahwa Efira tiba-tiba saja membuka butiknya sendiri.


“Hanya penyaluran hobi” Jawab Efira.


“Ini sangat mewah” Tutur Aulia.


“Apa kita bisa bekerja sama?” Tawar Efira pada Aulia, dia tau bahwa teman muslimnya itu adalah desainer yang cukup kompeten dibidangnya.


“Bisa kita bicarkan nanti” Ucap Aulia diakhiri dengan kekehan, begitupula Efira.


“Samuel, kau tidak ingin membangun butik untuk Aulia?” Jiwa penggoda seorang Gio baru saja keluar.


“Jika dia bersedia bersamaku. Jangankan butik, pabrik kain saja akan aku belikan untuknya” Jawab Samuel.


Ughhh


Teman-temannya yang lain memandang Samuel dengan memicingkan matanya karena bualan berlebihan seorang Samuel.


“Kau akan kena mental jika Aulia mengatakan, aku pasti akan menerima Samuel. Jangankan menjadi kekasih, menikah saja aku mau. Asalkan dia mampu mengikuti ajaran agamaku” Balas Nando.


Telak sudah.


Samuel benar-benar diam setelah itu, tidak tau harus mengatakan apa lagi jika sudah menyangkut tentang kepercayaan.


Long Distance Relationship beda negara memang keras tapi, Long Distance Relationship beda Tuhan jauh lebih menantang.


Mereka asyik bercanda tawa, hingga tidak terasa, acara sambutan dan juga acara inti sudah waktunya dilakukan.


“Dengan puji Tuhan. Hari ini, saya Efira Javonte resmi membuka Ravo Boutique”


Tas


Pita di hadapan Efira sudah terpotong sempurna, diiringi dengan suara tepuk tangan dari seluruh tamu.