
Di sisi lain, Devan sedang berada di bandara bersama dengan Mira. Gadis itu terus menekuk wajahnya, mengingat bagaimana dia dipaksa ikut untuk menemui orang tua Devan katanya.
“Mira, ini darurat. Kau harus ikut denganku” Ucap Devan terburu-buru saat baru saja sampai di tempat kerja tunangannya itu.
“Darurat apa maksudmu?” Tanya Mira santai, tidak begitu peduli dengan Devan sebenarnya.
“Ini bahaya, jika kau tidak ikut denganku mungkin nona Efira akan memarahimu atau bahkan bisa memecatmu” Ucap Devan dengan sedikit ancaman, nadanya masih terdengar terburu-buru. Beberapa kali tangannya tidak bisa diam menarik Mira yang begitu alot berdiri dari kursinya.
“Aish, nona Efira hari ini tidak masuk jadi jangan mencoba membohongiku” Ucap Mira malas.
“Jika kau tidak percaya, kita bisa ke butik sekarang” Balas Devan.
Mira sudah kebal dengan Devan, gadis itu tidak ingin lagi mendengarkan celotehan lelaki yang saat ini berstatus tunangannya, meskipun terpaksa.
“Baiklah, tidak ada cara lain” Gumam Devan.
Lelaki itu mendekati Mira, menggendong gadis itu dengan paksa. Sudah tidak ada waktu lagi, dengan alasan Efira saja rupanya tidak cukup apalagi mengatakan yang sebenarnya jika Devan ingin mengajak Mira menyambut orang tuanya.
Kira-kira begitu drama pemaksaan yang dilakukan Devan kepada Mira.
“Kau terlihat menggemaskan dengan pout bibirmu” Ucap Devan memcahkan keheningan.
Namun, tidak ada jawaban dari Mira. Jika saja dirinya bisa kabur, mungkin dia akan kabur.
Tapi, Devan punya seribu cara untuk menghentikan niatnya. Lelaki itu dengan entengnya mengatakan “Aku pastikan akan menciummu di depan semua jika kau berani kabur” Ucap Devan tadi.
Hal itu tentu saja membuat Mira pusing, membayangkannya saja ia tidak mampu.
Devan menoleh ke kanan dan ke kiri, dilihat dari jamnya seharusnya orang tuanya sudah tiba.
Hingga Devan menemukan ayahnya tengah menyeret koper bersama sang ibu. Reflek saja, lelaki itu menarik tangan Mira halus, membawa gadis itu mendekati orang tuanya.
Dan untuk pertama kalinya, Mira merasa sangat gugup?
Terlihat dari raut wajahnya yang menjadi tegang saat melihat kedua orang tua Devan yang benar-benar diluar ekspektasinya.
“Daddy mommy” Sapa Devan, memeluk ayah dan ibunya bergantian, melepas kerinduan diantara mereka sejenak.
“She’s your girl hm?” Tanya sang ayah, melihat Mira sekilas.
“Yeah, she’s so pretty right?” Ucap Devan.
Mira dengan sopan tersenyum ramah pada kedua orang tua tunangannya.
“Dia sedikit galak, sepertimu” Lanjutnya lirih, terdengar sedikit berbisik, menutupinya dari Mira?
Mendengar hal tersebut, sang ibu mencubit perut anaknya dengan gemas. Bisa-bisanya anak semata wayangnya mengatakan hal begitu padanya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.
...***...
“Tuan Pyton?” Tanya Alex pada seseorang di seberang sana.
“Benar, tuan Pyton bersama istrinya tiba di bandara siang ini”
“Kau yakin itu dia?” Tanya Alex lagi.
“Saya sudah mengeceknya tuan”
“Baiklah, beri aku kabar bertahap”
“Baik tuan”
Tut
Seperti biasa, panggilan diputus secara sepihak oleh Alex. Lelaki itu terlihat menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
“Devan? Tuan Pyton? Istrinya? Dan?”
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu itu membuyarkan segala atensinya.
“Masuk”
“Permisi tuan, ini ada berkas-berkas yang harus anda tanda tangani segera dan saya hanya ingin mengingatkan juga jika lima belas menit lagi kita ada meeting” Ucap Cyntia.
Alex mengangguk paham, mempersilahkan sekretarisnya untuk keluar ruangan terlebih dahulu sebelum akhirnya Alex juga beranjak pergi ke ruang meeting.