You

You
Episode 1



Shanvierra Side Story


 


“Aku mencintaimu, Shia. Sampai kapan kamu akan terus begini? Aku akan selalu menunggumu untuk mencintaiku, sekalipun itu di kehidupan yang selanjutnya,”


***********


Berkas-berkas cahaya mentari perlahan menerobos masuk ke dalam kamarku, bersamaan dengan suhu udara yang semakin tinggi. Akupun terbangun karena kepanasan dari tidurku yang singkat, mendapati jam di dinding sudah tersenyum tepat pukul 10.00. Aku kesiangan, pikirku.


Masih samar-samar dapat kuingat perkataan seorang laki-laki yang tidak kukenali dalam mimpiku. Selalu kata-kata yang sama; selalu ditujukan kepadaku dengan tatapan yang dingin. Mungkin aku dapat mengenalinya jika bertemu di dunia nyata karena terlalu sering memimpikannya.


Wajah laki-laki itu selalu terlihat sama, entah apa yang membuatnya terlihat begitu bersedih, seakan ada hal menyakitkan yang pernah ia alami. Ia tidak terasa asing di dalam mimpi yang selalu kualami. Seperti sudah terbiasa menghabiskan waktu dengannya. Namun, sejauh apapun memikirkannya, nyatanya laki-laki itu benar-benar asing dalam kehidupanku.


Aku sering memikirkannya, apakah ada kemungkinan jika laki-laki itu berasal dari salah satu fantasi game online yang sedang kumainkan? Kalau dipikir-pikir, mungkin bisa saja. Aku menyukai beberapa karakter dalam game online yang sedang kumainkan. Mungkin terdengar aneh, tapi alasan mengapa sampai saat ini aku jomblo adalah karena aku tidak menemukan laki-laki yang sesuai kriteriaku. Karena bagiku, laki-laki tampan hanya ada di dunia game dan anime.


Usiaku sudah menginjak 22 tahun, yang berarti statusku saat ini adalah seorang MABA. Bukan MABA yang berarti mahasiswa baru, melainkan Mahasiswa Akhir Baru Aktif. Penelitianku sudah dilakukan beberapa bulan yang lalu, hanya tinggal mengumpulkan niat saja untuk mulai menyusun bagian selanjutnya dari desain penelitian yang telah diseminarkan sebelumnya. Apa lagi kalau bukan skripsi. Ah, entah mengapa setiap kali mendengar kata skripsi atau wisuda membuatku mendadak ingin lebih lama tidur atau amnesia. Mungkin ini yang namanya sindrom mahasiswa akhir, ya? Selalu pertanyaan yang sama setiap kali kutemui beberapa orang yang sudah dahulu lulus dariku; “Sudah selesaikah kuliahnya?” Rasanya ingin kuterkam orang yang bertanya demikian. Sayangnya, selalu senyuman manis yang kuberikan pada orang-orang itu sambil berkata; “Tentu saja belum.” Arrrgghhhhhh……..


Suara detak jam di dinding yang begitu merdu terdengar dengan jelas mengisi kesunyian yang menemaniku. Ada beberapa burung gereja yang berkicau di jendela kamarku yang terbuka lebar, memperlihatkan hari yang begitu cerah dan indah. Namun, sekalipun cuaca begitu cerah hari ini namun aku masih belum berniat ke kampus. Aku mendekam di kamar kost-ku yang suram. Berupaya merubah seluruh aura di dunia ini dengan auraku yang suram. Bermain game online, membaca buku “Blood Type 3” sambil tertawa-tawa, dan yang terakhir mungkin kembali tidur. Sebagai seorang anak perempuan yang biasa-biasa saja, aku memiliki hobi yang cukup berbeda dengan kebanyakan anak perempuan lainnya. Aku menyenangi bermain game online dan menonton anime. Aku lebih suka menonton anime-anime Jepang daripada menonton acara di televisi. Karena aku pikir, beberapa acara di televisi terkadang terlihat tidak mendidik dan hanya tentang cinta-cintaan atau gosip-gosipan. Kalaupun menonton televisi, mungkin aku hanya akan menonton siaran berita saja. Bukan berarti anime yang kutonton tidak ada unsur cinta-cintaannya, namun rasanya sedikit berbeda.


Terkadang, ada saat dimana aku ingin tidur terus saja. Karena dengan tidur, aku dapat bermimpi  dan bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan dan terbebas dari masalah nyata di kehidupan ini. Kehidupan ini begitu berat jika dirasa berat. Tapi, mungkin bukan itu yang seharusnya dilakukan. Yang seharusnya dilakukan adalah membuat kehidupan nyata itu menjadi menyenangkan bagaikan mimpi dan bukan mimpi atau bagian dari mimpi. Hanya saja, membuatnya menjadi menyenangkan itu yang sedikit sulit dilakukan, karena pada dasarnya, beginilah hidup. Ada susah dan ada senang. Mungkin kalimat yang tepat untuk menggambarkannya adalah “menikmati setiap moment kehidupan yang ada, pahit ataupun manis.” Namun tentu saja, tidak semua orang dapat menikmati saat-saat pahit dalam kehidupannya, karena pada dasarnya, pahitnya kehidupan adalah saat yang terkadang tidak ingin diingat dalam hidup, termasuk diriku.


Waktu terus berganti, tak lama berselang, kudapati pesan di inbox facebook-ku dari seseorang yang tidak kukenali. Mungkin hanya iseng atau ingin berkenalan, pikirku.


“Hai” sapa orang itu.


“Hai juga,” balasku.


“Salam kenal, ;) “


“Iya,”


“Kamu ingat aku?” tanya orang itu yang sejenak membuatku berpikir untuk mengenali wajahnya yang terlihat dari foto profilnya. Aku memang pelupa, sangat pelupa. Tapi aku selalu mengingat setiap orang yang pernah kukenali. Kali ini, aku benar-benar tidak tahu siapa orang itu, tapi entah mengapa wajahnya terlihat tidak asing bagiku.


“Gak,” jawabku singkat.


“Kamu memang selalu pelupa, ya”


Haaaaa?????? Orang ini benar-benar temankukah? Aku semakin penasaran dan mencoba untuk mengingat kembali. Kubuka album foto profil orang itu yang ternyata hanya ada sebuah foto saja. Tapi sekeras apapun aku mencobanya, tetap tidak bisa mengingat atau memang orang itu tidak pernah kukenali. Sempat terpikirkan bagiku bahwa orang ini tergolong ke dalam spesies iseng-isengan (berbeda spesies dengan cabe-cabean atau terong-terongan).


“Iya, trus kamu kenal aku, gitu?” tanyaku balik.


“Kenal, karena kita selalu bertemu,”


Astaga, kayaknya aku lagi dikerjailah, atau sedang digombalin? Orang ini SKSD atau apa sih?


“Emangnya aku siapa?” tanyaku lagi.


“Kamu adalah orang yang selalu aku cintai,” balasnya.


Astaga….. Astaga…. Astaga….. Aku benar-benar digombali orang asing. Somebody help me!!! Seram, pikirku. Orang kayak gini seharusnya gak usah diperdulikan. Segera kumatikan data selular hp-ku supaya tidak menerima pemberitahuan pesan masuk dari facebook.


Mood-ku yang tadinya biasa-biasanya saja mendadak berubah menjadi tak karuan. Segera kuberkemas dan berkunjung ke kost teman di blok sebelah. Setidaknya kalau bertemu dengan temanku itu, mood-ku bisa lebih baik. Wajahnya yang menyebalkan itu selalu membuatku merasa nyaman. Menyebalkan mengapa? Yah, karena ia selalu mengomeliku lebih banyak dari ibuku. Mengomeliku ketika terlalu sering bermain game online, mengomeliku ketika lembur, atau ketika aku sakit hal pertama yang ia lakukan ketika menjengukku adalah mengomeliku.


“Aku benar-benar terlihat cantik,” puji diriku sambil memandangi wajah manisku di cermin sebelum berangkat ke kost Nini.


Tapi sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat. Ini masih jam kuliah dan tentu saja, sebagai anak yang rajin, Nini, temanku itu pasti sedang menunggu dosen untuk bimbingan skripsi di kampus, aaarrrggghhhhhhhhhh…………


Ganti rencana, akupun memutuskan untuk pergi ke salah satu toko buku di mall. Biasanya aku selalu ke tempat ini setiap awal bulan untuk membeli buku, tapi berhubung ini bukan awal bulan, mungkin aku cuma akan baca-baca sinopsis buku saja. Aku melewati bagian buku dimana buku teman-teman sekampusku di pajang. Kadang aku berpikir, kapan aku bisa seperti itu. Kak Vina dan Yahya keren, pikirku. Mereka bisa menulis dan diterbitkan seperti itu. Mungkin aku bisa membuat karakter seperti Si Juki dilain versi dan menggantinya menjadi namaku, Si Shan. Tapi entah mengapa hal itu menjadi terdengar aneh.


Berbicara tentang keanehan, namaku juga sebenarnya cukup aneh di kalangan nama orang Indonesia pada umumnya. Ibu memberiku nama Shanvierra Areztha. Menurutku, nama yang terdiri dari dua kata itu entah mengapa dua-duanya terdengar aneh, walaupun terkadang aku berpikir itu keren. Ibuku pernah bilang jika namaku diambil dari nama latin salah satu tanaman yang berguna tapi tentu saja dengan sedikit plesetan sehingga berubah menjadi Shanvierra. Bayangkan saja jika ibuku memberiku nama dengan menggunakan nama latin tanaman atau familinya, mungkin namaku bisa berubah menjadi Shanvierraceae atau Arezthaceae. Mungkin dengan nama itu, aku bisa membentuk famili salah satu spesies tertentu dan mulai mencari spesies yang sama, lalu mulai membentuk kingdom sendiri.


Aku sampai di bagian toko buku paling ujung dan paling sudut, apa lagi kalau bukan bagian komik. Aku selalu menunggu rilis komik Akatsuki no Yona seri selanjutnya. Karena aku tidak sabar untuk melanjutkan membaca cerita selanjutnya. Aku sudah membeli semua seri yang sudah rilis karena aku menghargai penulisnya dan alasannya sebenarnya ya karena aku memang suka membacanya dan ingin memiliki komik itu. Tapi lagi-lagi aku kecewa, komik itu masih belum dirilis untuk seri selanjutnya dalam bahasa Indonesia. Aku ingin berteriak rasanya.


Berhubung aku sudah membeli komik untuk bulan ini, aku tidak berencana untuk membeli lagi dan hanya membaca bagian sinopsis komik saja. Jika nanti ada yang benar-benar menarik maka akan kubeli di awal bulan, jadi komik itu akan kuselip-selipkan di bagian bawah rak komik supaya tidak ada yang mengambilnya, tolong bagian ini jangan ditiru. Aku bukan orang yang suka membaca komik secara gratisan, aku hanya akan membaca bagian sinopsisnya saja dan akan membelinya jika menurutku bagus. Karena aku adalah orang yang sangat taat peraturan. Aku selalu memperhatikan dan membaca pemberitahuan yang ditulis dengan huruf kapital dan bold di bagian rak komik itu. “TERIMA KASIH UNTUK TIDAK MEMBUKA SEGEL BUKU,” kurang lebih seperti itu.


Ada satu komik yang menarik perhatianku. Komik tentang magic dan itu adalah salah satu genre komik favoritku. Komik itu benar-benar terlihat lebih bercahaya daripada komik lainnya. Dengan bersemangat aku segera mengambil komik itu, namun sebelum komik itu kuraih, komik itu ternyata sudah berada di tangan orang lain yang mengambilnya lebih dulu. Aku hanya tersenyum sambil menatap orang itu sebentar sebelum kulanjutkan pencarian komik itu di bagian lain. Apa komik itu cuma satu saja disini? Ah, jangan deh, aku beneran ingin membaca sinopsisnya. Tanpa berputus asa, aku menuju bagian pencarian buku. Kutulis judul komik itu pada layar monitor dan ternyata komik itu memang tinggal satu-satunya di sini. Arrrggghhhh….


Aku kembali ke bagian komik itu dipajang, berharap orang itu segera mengembalikan komik itu ke tempatnya. Aku memandanginya beberapa kali sebagai kode keras bahwa aku ingin membaca komik itu, iya, sangat ingin membacanya dan ternyata hal itu menarik perhatian orang itu; kode kerasku tersampaikan. Sungguh laki-laki yang peka.


“Mau baca komik ini ya?” tanya laki-laki itu.


“Iya, tapi kamu duluan aja,” jawabku munafik.


“Aku gak akan lupa kok kalau kamu suka membaca yang seperti ini,” kata laki-laki itu tiba-tiba.


“Eh?” tanyaku heran mendapati laki-laki itu mengetahui selera komik favoritku.


“Hai, Shia. Apa kabar?” sapa laki-laki itu.


“Shia? Kayaknya kamu salah orang deh. Namaku bukan Shia,” jawabku.


Aku bergegas pergi karena jujur saja aku memang tidak terlalu suka bertemu dengan orang baru, apalagi jika itu laki-laki.


“Shia, tunggu,”


“Isshhh, namaku bukan Shia,” jawabku ketus sambil berbalik menghadapnya.


“Aku senang kita bisa bertemu lagi. Jika bukan Shia, lalu nama kamu siapa?”


“Apaan sih?” ujarku sambil benar-benar beranjak pergi dari situ tanpa menjawab pertanyaannya.


Aku merasa aneh, kenapa bisa-bisanya aku digombali dua kali dalam satu hari yang sama? Ah, mood-ku jadi jelek lagi, pikirku. Butuh asupan es krim, pikirku.


Mall sudah mulai ramai, orang-orang mulai hilir mudik di sekitarku. Mulai dari satu atau dua orang, menjadi enam sampai tujuh orang dan terus bertambah bagaikan bakteri yang membelah diri. Akupun segera menuju lantai 2 ke tempat dimana biasa aku membeli es krim dan menikmatinya. Es Shanghai, itu yang aku suka. Entah itu bagian dari es krim atau bukan, intinya aku senang menyebutnya sebagai salah satu dari es krim.


Terlihat jelas lalu lintas kendaraan yang mulai memadat dari jendela kaca di sudut ruangan. Aku mengamati-amatinya sambil menunggu kedatangan es Shanghai pesananku dan cemilan yang sudah kupesan. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada seorang gadis berbaju batik yang sudah tidak asing lagi. Ah, itu Nini. Pasti gak sendiri, pikirku. Dan benar saja, tak lama berselang terlihat Ari, Susi, dan Valen di belakangnya. Mereka adalah teman sekelasku di kampus yang konyol namun sangat dekat denganku. Ternyata mereka baru pulang dari kampus, untung saja tadi tidak kutunggu kedatangan Nini di kost-nya.


Valen adalah teman laki-laki satu-satunya yang memainkan game online yang sama denganku. Sehingga setiap week end kami sering hotspotan bersama sambil bermain game online. Kami sama-sama gamer dan sama-sama jomblo. Namun kami tidak saling suka. Aku sudah tahu sejak semester satu bahwa Valen menyukai Nini. Namun, ia tidak pernah berani mengungkapkannya pada Nini. Aku pernah menanyainya tentang perasaannya pada Nini sewaktu hotspotan, dan Valen terkejut karena aku mengetahuinya. Ia memintaku untuk merasahasiakannya dan aku mengiyakannya.


Berbeda dengan Valen, Ari adalah temanku yang paling menyebalkan dan pelit. Yah, mungkin itu yang akan dirasakan ketika pertama kali bertemu dengannya. Namun ketika sudah menjadi sahabatnya, ia akan terasa berbeda dan menjadi begitu peduli dan perhatian dengan sahabat-sahabatnya. Mungkin kata “pelit” di kalimat sebelumnya boleh dicoret jika sudah menjadi sahabatnya.


Nah, berbicara tentang temanku yang bernama Susi, dia adalah orang yang sangat humoris dan selalu mengatakan danke. Mungkin bisa di cek di google apa artinya danke, sebab kamus bahasa inggris tidak akan memiliki terjemahan untuk kata itu. Setiap bertemu dengannya, hal pertama yang kulakukan adalah mencubit hidungnya yang mancung.


Aku sudah bisa memperkirakan kemana mereka akan pergi. Ada 3 opsi yang kupikirkan; (1) makan di KFC, (2) nonton bioskop, dan (3) survey pakaian di Matahari. Yah, karena biasanya memang itu yang kami lakukan jika pergi ke mall bersama-sama. Niatnya aku ingin bergabung dengan mereka, tapi setelah dipikir-pikir, mungkin aku sedang butuh “me time”.


Pesananku datang dan waktunya untuk makan. Tapi menyebalkanya, bersamaannya dengan pesananku yang datang, ternyata yang mengantarkan pesananku adalah orang yang tadi kutemui di toko buku. Orang ini ada dimana-mana dan dapat berubah menjadi apa saja, semacam bunglon atau Doraemon.


“Kok kamu bisa ada disini? Maksudku, kok kamu bisa antar pesananku?” tanyaku.


“Bisa saja lah, ayo silahkan dimakan. Hem, aku boleh duduk disini juga?”


“Terima kasih. Ini gak kamu masukin racun, kan? Duduk aja, santai aja,” jawabku gugup tapi berpura-pura santai.


“Makasih,”


“Kamu ngikutin aku, ya?” tanyaku.


“Gak kok, mungkin kebetulan ketemu aja,” jawabnya sambil tersenyum.


“Ah, bohong,”


“Iya, aku bohong. Soalnya aku senang aja ketemu kamu lagi,”


“Kita temanan waktu masih kecilkah?”


“Gak kok, jauh sebelum itu malah,”


“Ah, bagaimana ya menjelaskannya. Mungkin kamu juga akan sulit mengerti. Aku pikir kita sudah bertemu di kehidupan sebelumnya,”


Mendadak mendengar jawaban itu membuatku ingin tertawa terbahak-bahak. Ini orang kebanyakan nonton film atau apa sih? Ngegombalnya gak pake logika.


“Oh, iya, iya, terserah deh. Pasti kamu kebanyakan mainin game” lanjutku.


“Sebenarnya ini gak adil,” lirih laki-laki itu tiba-tiba.


“Kenapa memangnya?”


“Kenapa hanya aku saja yang ingat dan kamu tidak?”


Aku hanya terdiam karena sejujurnya aku tidak mengerti arah pembicaraan ini. Sepenuhnya aku tidak bisa percaya dengan perkataannya karena dia juga orang asing bagiku. Tapi aku memutuskan untuk mendengarkan saja dulu dan menghilangkan rasa penasaranku.


“Apa yang kamu ingat?” tanyaku.


“Kamu adalah milikku,” jawabnya singkat.


“Maksudnya?”


“Kamu seharusnya milikku,”


Aku benar-benar semakin tidak mengerti. Apakah laki-laki ini waras? Apakah dia salah satu orang gila yang baru lepas dari RSJ? Tapi jika dilihat dari gaya berpakaiannya, aku pikir dia normal. Tapi perkataannya itu yang tidak normal.


“Aku mencintaimu, Shia. Sampai kapan kamu akan terus begini? Aku akan selalu menunggumu untuk mencintaiku, sekalipun itu di kehidupan yang selanjutnya,” ujar laki-laki itu perlahan.


Aku mengenali kalimat itu, bukankah itu dari kata-kata dalam mimpiku yang biasanya kualami? Aku benar-benar tidak menyadari jika sebelumnya dia juga memanggilku dengan nama Shia. Aku pikir dapat mengenali wajah orang yang ada dalam mimpiku di kehidupan nyata, tetapi nyatanya aku tidak bisa.


“Kamu siapa sebenarnya?”tanyaku lagi.


“Aku orang yang sangat mencintaimu,”


“Bisa beri penjelasan yang lebih logis, gak?”tanyaku mulai kesal namun sangat penasaran.


“Namaku Wira, aku datang dari masa lalu hanya untuk menunggumu menerimaku,”


“Eh? Kamu beneran dari masa lalu? Bagaimana caranya kamu bisa ke sini? Kerennnnn,”


“Shia, aku benar-benar merindukan kamu,” ujarnya dengan wajah serius.


Melihat tatapannya yang begitu tulus dan serius, aku menjadi tidak enak jika malah menganggapnya sebagai lelucon. Tapi bagaimana aku bisa menerima perkataannya begitu saja. Apakah ini bulan April? Apakah ini tanggal 1? Tidak, saat ini tanggal 21 Oktober.


“Oh iya, namaku bukan Shia. Namaku Shanvierra. Kalau aku milikmu di masa lalu, mengapa kamu harus datang ke masa depan untuk mencariku lagi? Apa sesuatu yang buruk terjadi padaku di masa lalu?”


“Tidak ada hal buruk yang terjadi padamu, hanya saja, kita tidak bersama walaupun seharusnya bersama. Itu semua karena kesalahanku,”


“Kayaknya kamu gak boleh bilang kalau aku adalah milikmu. Berarti sesuatu yang buruk benar-benar terjadi padaku di masa lalu sehingga kamu harus menemuiku disini, pada saat ini.”


“Tapi aku benar-benar mencintaimu. Ya, sesuatu yang buruk memang terjadi di masa lalu. Seharusnya kamu jadi milikku satu-satunya. Tidak ada wanita lain yang bisa menggantikanmu. Rasa bersalahku padamu membuatku ingin menebus semua kesalahanku supaya kamu bisa kembali padaku lagi, karena itu aku menemui disini.”


“Memangnya apa yang sudah kamu lakukan?”


Wira sejenak hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaanku. Sepertinya ia enggan untuk menjawab pertanyaanku. Aku memikirkannya, apakah jika ia menjawab pertanyaan itu akan membuatku kembali tidak bersama dengannya lagi ataukah kejadian buruk yang menimpaku di masa lalu benar-benar begitu menyakitkan baginya?


“Ok, kalau kamu tidak mau menjawab juga tidak apa-apa. Aku gak akan memaksa. Jadi, sekarang apakah ada yang bisa kubantu” tanyaku.


“Shia, aku akan selalu menunggumu, aku ingin kamu menikah denganku,”


Astaga!!!! Inikah yang namanya dilamar? Pacaran aja gak pernah, tahu-tahu sudah diajakin nikah seperti ini. Kayaknya ini cuma bagian dari mimpi deh. Atau mungkinkan ini adalah bawaan sikap orang dari masa lalu yang langsung main ngajakin nikah? Ataukah ini sejenis acara super trap, lalu tiba-tiba akan muncul orang-orang dari berbagai sudut sambil membawa kamera?


“Hehe, aku masih belum mau menikah, aku masih mau kuliah dulu,” jawabku.


“Aku akan menunggu sampai kamu siap. Shia, waktuku sementara tidak akan lama lagi disini. Tapi aku akan berusaha kembali lagi dan menunggu kamu hingga kamu siap dan dapat mencintaiku lagi.”


Aku tak tahu harus menjawab apa. Tapi entah mengapa saat itu aku langsung mengangguk perlahan, seakan ada sisi lain dari diriku yang juga merindukannya.


Wira pergi setelah mengatakan hal itu; menghilang begitu saja tepat di hadapanku tanpa ada yang menyadarinya. Kata-kata yang Wira ucapkan benar-benar sama dengan kata-kata yang selalu kudengar dalam mimpiku. Seperti memberikan sihir, aku ingin bertemu dengan dirinya lagi.


Hari-hari terus berganti, entah mengapa aku sangat ingin bertemu dengan Wira lagi. Banyak pertanyaan yang saat ini baru terpikirkan dan ingin kutanyakan. Namun aku tak pernah bertemu dengannya lagi atau memimpikan mimpi itu lagi. Mungkin benar ia datang dari masa lalu walaupun aku tak tahu bagaimana caranya. Mungkin ia hanya memiliki satu hari kesempatan saja untuk bertemu denganku. Banyak pertanyaan yang menggantung dipikiranku tentang apa yang sebenarnya terjadi di kehidupanku sebelumnya. Mengapa kami tak bisa bersama walaupun ia mengatakan bahwa aku adalah miliknya?


Aku tak pernah menceritakan kepada siapapun mengenai kejadian itu. Karena, aku sudah dianggap aneh oleh Nini jika sudah membicarakan masalah game dengan Valen. Apalagi jika aku membicarakan tentang seseorang yang datang dari masa lalu untuk menemuiku. Jelas-jelas itu lebih tidak masuk akal lagi. Mungkin suatu saat aku akan bertemu dengan Wira lagi. Walaupun Wira terlihat sangat tampan, tapi entah mengapa aku tak merasakan menyukainya sedikitpun. Apakah itu perasaan bawaan dari kehidupan sebelumnya? Apa di masa lalu sebenarnya Wira hanya mengalami cinta yang bertepuk sebelah tangan? Entahlah.


Malam semakin larut, aku masih belum dapat tertidur. Jam di dinding menunjukkan pukul 23.05 malam. Kejadian yang kualami siang tadi benar-benar menggangguku.


Dinginnya udara malam menerobos masuk melalui jendela kamarku yang terbuka, mengajakku untuk melihat bintang-bintang yang sedari tadi memandangiku penuh perhatian, seakan berbisik kepadaku, “kamu tidak sendirian.”


“Aku memang tidak sendiri,” jawabku yakin.


Sayang sekali, bintang malam ini tidak terlihat dengan jelas. Pendaran cahaya lampu perkotaan mengalahkan cahaya bintang-bintang malam. Sedikit keegoisan dalam hatiku muncul, berharap listrik dapat padam walau sebentar saja di seluruh perkotaan.


Tak berapa lama, aku terkejut melihat seluruh cahaya di perkotaan lenyap dalam sekejap. Listrik disana benar-benar padam, bahkan di kost-ku juga, ini semua bagaikan sihir. Aku sedikit ketakutan karena gelap dan mencoba mencari ponselku, namun tak kutemukan. Akupun kembali memandangi bintang-bintang malam dalam gelap itu, dan benar saja, seluruh bintang akhirnya terlihat dengan jelas. Memandangi bintang-bintang itu seakan menghidupkan kembali kenangan yang pernah ada, jauh di masa lalu. Kenangan bersama kak Andre, saudara laki-laki ku yang telah pergi jauh dan tak akan pernah kembali lagi.


Saat umurku genap tujuh tahun, papa dan mama pernah mengajak kami sekelurga berlibur di puncak sekaligus merayakan ulang tahunku. Ketika papa dan mama tertidur lelap, kak Andre tiba-tiba menyelinap ke kamarku dan mengajak melihat bintang bersama. Saat itu aku benar-benar mengantuk namun akhirnya aku mengikutinya.


Kami memandangi jutaan bintang dari halaman villa. Seperti terkena sihir, rasa mengantukku seketika hilang melihat indahnya langit malam itu.


“Shan maaf ya, kakak tidak bisa memberikan hadiah ulang tahun kamu. Sebagai gantinya, kakak akan memberikan seluruh bintang di langit untuk kamu,” ujar kak Andre perlahan.


“Memangnya bisa kak?” tanyaku penasaran.


“Tidak bisa sih, tapi kan bintang-bintang itu tidak ada yang memilikinya, jadi sebelum diakui orang lain, sebaiknya kamu jadikan milikmu saja,”


“Oke deh, mulai sekarang semua bintang di langit milik Shan ya, kak,”


Kami terus memandangi bintang-bintang yang berkelip tanpa mengantuk sedikitpun. Kak Andre memberitahuku jika suatu hari nanti kami melakukan perjalanan malam dan tersesat, maka bintang-bintang dapat menuntun kembali.


“Shan coba kamu lihat ke arah selatan, nah itu dia,” ujar kak Andre sambil menunjuk sesuatu di langi.


“Itu apa kak?” tanyaku perlahan.


“Itu, rasi bintang yang seperti layang-layang, lihat tidak?”


“Oh iya kak, Shan lihat,”


“Jadi kalau kamu tersesat, bintang itu bisa dijadikan penunjuk arah selatan. Lalu ada lagi, di bagian barat, namanya rasi bintang orion. Nah itu kelihatan di bagian barat, yang bentuknya seperti tiga bintang yang di atas membentuk kepala,”


“Yang itu ya kak,?”tanyaku sambil menunjuk bentuk bintang seperti yang kak Andre jelaskan.


“Iya, yang itu. Ada lagi nih di bagian utara, namanya rasi bintang biduk. Namanya agak aneh ya, bentuknya seperti layang-layang yang ada ekornya, nah itu ada disana. Rasi bintangnya terdiri dari tujuh bintang, cantik, kan?”


“Iya kak, cantik,”


“Yang terakhir, rasi bintang scorpio. Rasi bintangnya agak mirip kalajengking, tapi kalau kamu lihat di langit bagian timur, nah yang itu dia rasinya, gak mirip kalajengking, kan? Agak mirip ceker ayam,” ujar kak Andre lalu tertawa. Akupun tertawa bersamanya dan tak lama setelah itu, kami kembali ke kamar masing-masing.


Mengingat semua kenangan itu selalu berakhir dengan kerinduanku yang tak berkesudahan pada kak Andre. Ia meninggal lima tahun yang lalu karena sakit. Seandainya waktu bisa dikembalikan, aku ingin terus menghabiskan waktu bersama kak Andre daripada hanya bermain game online.


Semenjak kepergian kak Andre, keluargaku mulai tidak harmonis.  Papa dan mama selalu saja bertengkar satu sama lain; seolah-olah saling menyalahkan atas kepergian kak Andre yang begitu tiba-tiba. Sama seperti keadaanku saat ini. Kala itu kak Andre juga sedang kuliah dan meninggalkan rumah. Ia menempati salah satu kost khusus laki-laki yang tidak jauh dari kampusnya.


Hari itu kak Andre tiba-tiba menelpon ke rumah. Suaranya terdengar begitu serak. Mama memberitahu papa bahwa kak Andre sedang sakit dan ingin segera menjenguknya. Namun papa saat itu sedang sibuk dan meminta mama untuk bersabar dan memberi pengertian bahwa kak Andre mungkin hanya demam biasa. Tapi, semuanya terasa begitu tiba-tiba; keesokan harinya salah satu teman kak Andre menelpon bahwa kak Andre sudah “pergi”.


Semuanya memang terasa begitu tiba-tiba. Padahal beberapa hari sebelumnya, kak Andre sempat menelponku dan mengajak supaya liburan nanti aku berkunjung ke tempatnya dan mengelilingi kota dan tempat-tempat rekresasi bersamanya. Salah satu harta karunku yang berharga sudah ditemukan oleh Tuhan dan diambil.


Air mataku berjatuhan satu per satu, membasahi pipiku yang mulai terasa dingin. Mengingat semua itu, benar-benar menyakitkan. Seperti membuka luka menganga yang sedang terbungkus perban; sakit sekali. Aku berpikir bahwa Tuhan mungkin sedang mencobai keluarga kami dan kami gagal, tapi aku pikir itu semua terasa menyakitkan dan tidak adil. Aku merasa bahwa semua itu terlalu berlebihan dan berat. Dalam kesunyian malam itu, kutitipkan doa untuk kebahagiaan kak Andre di sana.