
“Pak, Alex ada?”
Itu suara Efira, gadis itu sudah berada di depan rumah Alex, bertanya kepada satpam dengan hoodie putih tulang dan juga celana pendeknya.
“Ada non, silahkan masuk saja” Ucap pak satpam setelah membukakan pintu gerbang untuk Efira.
“Terimakasih pak” Ucap Efira lalu melangkahkan kakinya menuju rumah megah di hadapannya, entah nona muda mana nanti yang berhasil menguasai rumah ini pada akhirnya.
Tok
Tok
Tok
“Alex, anybody home?” Efira memanggil sahabatnya dari luar.
Tok
Tok
Tok
Efira kembali menunggu karena setelah beberapa saat dirinya masih tidak juga dibukakan pintu.
“Non, belnya dipake atuh” Ucap pak satpam, sepertinya pak satpam ingin membantu Efira malam itu.
Bodoh sekali, kenapa bel ini tidak terlihat olehku sejak tadi? Pikir Efira menatap nanar bel rumah Alex yang terletak tidak jauh darinya.
“Makasih pak, udah lama gak kesini, lupa kalo ada bel” Jawab Efira.
“Sama-sama non, bapak permisi dulu. Kalau belum dibukakan pintu, bapak ada di pos satpam, biar bapak yang panggilkan pelayan nanti”
“Ah makasih pak, jangan repot-repot” Sahut Efira.
Setelah pandangannya tidak lagi melihat pak satpam, Efira akhirnya memanfaatkan fungsi tombol yang tertempel di dinding, tak jauh dari jangkauan tangannya.
Ceklek
Tidak lama setelah bel tersebut berbunyi, Efira mendengar pintu megah di hadapannya dibuka dari dalam.
Ah, ternyata kepala pelayan yang membukakan pintu. Wanita paruh baya itu membuka suara setelah melihat Efira berada di ambang pintu malam-malam, “Eh, non Efira. Cari tuan Alex ya?”
“Seperti biasa saja bi” Jawab Efira.
“Silahkan duduk non, di tunggu dulu. Bibi panggilkan tuan Alexnya”
Efira segera menadaratkan bokongnya pada sofa empuk di ruang keluarga itu. Efira sudah seperti anak kandung perempuan disana bahkan tak jarang orang tua Alex akan lebih memilih Efira daripada darah daging mereka.
“Langsung masuk ke kamarnya saja Efira”
Efira segera menolehkan kepalanya, mendapati nyonya Harrison berdiri di belakangnya.
“Bibi sudah memanggilkannya untukku, bunda” Jawab Efira sopan. Meskipun sudah sangat dekat, sepertinya tidak mengubah etiket baik seorang Efira kepada keluarga sahabatnya.
“Tak apa, langsung masuk saja”
Sudah mendapat izin bukan? Efira langsung pamit untuk menaiki anak tangga menuju kamar Alex.
“Belum keluar Bi?” Tanya Efira ketika melihat kepala pelayan masih berada di depan pintu kamar Alex.
“Belum non” Jawab pelayan tersebut, sebut saja namanya Bi Diah.
“Bibi tinggal saja, bunda sudah memberiku izin memasuki kamarnya” Efira berkata dengan lembut kepada wanita paruh baya itu.
“Baik non, saya permisi”
Efira menganggukkan kepalanya sembari tersenyum tipis.
Tok
Tok
Tok
Tok
Tok
Tok
Tidak ada jawaban.
Efira melihat jam di ponselnya, masih pukul 20.00.
Ceklek
Efira membuka pintu ruangan pribadi Alex tersebut.
Dan terpampanglah Alex yang tengah tengkurap di kasur, memejamkan matanya tenang. Bahkan lelaki itu masih menggunakan setelan kantornya.
“Aish, lelaki ini benar-benar” Gumam Efira, gadis itu menghampiri sahabatnya melepas kaos kaki Alex lalu melepas jasnya, setelah itu melonggarkan ikat pinggang juga dasinya.
Seperti pekerjaan seorang istri kepada suami.
“Hmmm” Alex bergumam, merasakan banyak usikan di tubuhnya.
Lelaki itu bahkan membuka matanya pelan.
“Apa yang kau lakukan pada tubuhku?” Tanya Alex saat melihat Efira di atasnya tengah melonggarkan dasi yang ia gunakan.
“Kau ini bagaimana, tidur tanpa melepas setelanmu? Tidak mandi pula” Ucap Efira.
“Ya ya ya, ngomong-ngomong apa yang membuatmu kemari?” Ucap Alex dengan suaranya yang masih terdengar serak, khas bangun tidur.
“Apa kau lupa siapa yang menantangku bermain PS? Tau jika kau malah tidur, aku tidak akan meninggalkan pekerjaanku” Jawab Efira.
Alex lupa jika dirinya sendiri yang mengundang sahabatnya itu untuk bermain, lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalu beranjak dari kasurnya.
“Aku mandi dulu, tunggulah sebentar lalu aku akan mengalahkanmu bahkan hanya dari babak pertama” Ujar Alex, melarikan dirinya ke kamar mandi.
...***...
“ALEEEEX, KAU CURANG!!!!” Efira histeris saat jagoannya hendak tumbang di tangan Alex. Mereka langsung bermain sejak Alex keluar dari kamar mandi.
Keduanya terus menekan stik PS di tangan mereka, fokus dengan permainannya.
“Aduh, ramai sekali ya”
Alex dan Efira langsung menoleh ke sumber suara. Ah, ternyata bundanya Alex ada di ambang pintu membawa minuman dan beberapa camilan untuk kedua anaknya.
“Eh, bunda. Ada apa?” Tanya Alex.
“Cuma ingin mengantar camilan” Jawab nyonya Harrison, meletakkan nampan yang ia bawa di hadapan putra-putrinya.
“Ya sudah, lanjutkan. Jangan terlalu larut, besok kalian bekerja” Pesan nyonya Harrison sebelum meninggalkan mereka.
“Terimakasih bunda” Ujar Efira.
Nyonya Harrison hanya tersenyum sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari pintu ruangan yang di tutup.
Mereka melanjutkan permainan entah sudah berapa jam, terhitung sudah pukul 23.00 saat ini, dan mereka masih ribut dengan permainannya.
“TIDAAAAAK. AAAARGGGHHH” Alex berteriak frustasi saat dirinya dijatuhkan oleh sahabatnya.
“YEAAAAH. Aku menang” Ujar Efira lalu merebahkan dirinya dengan senyum kemenangan di lantai berkarpet itu.
Alex hanya diam, pasrah dengan kekalahannya.
“Aku menunggu 20 ice cream M*gnum di kulkasku besok” Ujar Efira, berjalan gontai untuk pulang.
Mereka mungkin sudah bukan anak kecil tapi, mempertaruhkan makanan juga rupanya masih menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Ya, mereka mempersembahkan 20 buah Ice Cream M*gnum untuk sang pemenang. Terdengar sangat sederhana untuk CEO seperti mereka tapi, yang penting bukanlah hadiahnya, atau permainannya karena yang terpenting adalah kebersamaannya.