
Waktu berlalu dan terus berlalu, tak terasa sudah memasuki bulan ketiga aku berpacaran dengan Rival. Di balik senyumnya yang hangat, aku selalu merasa ada hal lain yang ia sembunyikan dariku. Aku masih tak begitu mempercayainya pada alasan yang ia berikan tentang hipnotisnya padaku tempo hari. Aku yakin, ia pasti mengetahui sesuatu tentang masa laluku. Ia pasti tahu sesuatu yang berkaitan dengan Shia. Aku ingin menanyainya tentang semua hal itu, sayangnya, aku sudah berjanji padanya untuk tidak membahas semua itu dan melanjutkan saja hubungan kami seperti apa adanya.
Hari ini, aku ingin memberikan kejutan perayaan 3 bulan berpacaran dengan Rival. Setelah membeli kue dan lilin, aku bergegas ke rumahnya. Namun, begitu pintu di ketuk tak ada balasan jawaban dari dalam. Akupun membuka pintu yang tak dikunci dan mencari Rival.
“Rival,” panggilku sambil mencari keberadaannya.
Aku berjalan ke arah kamarnya dan melihat ia tertidur di tempat tidur.
“Rival?” panggilku.
Ia hanya tertidur dan tak menjawab panggilanku. Kulihat wajahnya yang pucat dan tanpa senyuman itu. Aku mendekatinya dan merasakan panas tubuhnya. Ia benar-benar demam.
“Val, kok kamu gak ngasi tahu aku kalau kamu demam?”tanyaku panik.
Ia tak menjawab dan hanya mengerang tak jelas.
Kuambil air hangat dan memberikannya kompres. Setelah itu, aku keluar dan membeli obat turun panas. Rival masih tertidur namun segera kubangunkan untuk memberikannya obat. Iapun meminumnya dan kembali tidur.
Rival pasti belum makan seharian, pikirku. Akupun segera bergegas ke dapur dan membuatkannya bubur wortel. Rasanya lumayan enak walaupun tidak terlalu enak, namun bisalah kalau untuk dimakan.
Aku kembali ke kamar sambil membawakan semangkuk bubur. Sekilas, Rival memanggil-manggil nama seseorang. Perlahan kudengarkan dan begitu aku tahu siapa yang ia panggil, itu semakin membuatku terkejut.
“Shia?” bisikku.
Kenapa Rival memanggil nama Shia? Siapa sih gadis itu sebenarnya? Rival pasti mengetahui sesuatu. Tapi mengapa ia menyembunyikannya dariku? Rival, kamu benar-benar membuatku galau. Kamu sebenarnya mengetahui tentang Wira dan Shia, kan? Tapi mengapa kamu harus menyembunyikannya dariku?
Aku memandanginya beberapa saat dan pergi setelah meletakkan bubur itu di atas meja belajarnya. Tanpa tersadar, air mataku sudah berjatuhan satu per satu. Aku sebenarnya sedikit kecewa, Rival pasti ada hubungannya dengan masa laluku dan memilih untuk tidak memberitahuku. Tapi apa alasan ia tak ingin memberitahuku? Sungguh, aku benar-benar penasaran apa sebenarnya yang terjadi di kehidupanku sebelumnya.
Beberapa hari telah berlalu, aku benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa ingin tahuku pada Rival. Jadi kuputuskan untuk mengajaknya pergi ke suatu tempat dan membicarakan hal ini secara perlahan. Aku berharap Rival dapat memberitahuku walau hanya sedikit.
Aku menghampiri Rival yang sudah sejak tadi menungguku. Ia datang lebih awal dariku. Baju putih yang ia kenakan seolah membuat mataku silau saat cahaya mata hari mengenainya. Benar-benar tampak memantulkan cahaya. Ia tersenyum menyambut kedatanganku. Akupun membalas senyumannya dan segera mendekatinya.
“Kamu mau ngomong apa, sayang?” tanya Rival perlahan.
“Tapi kamu harus jawab ya.”
“Iya,”
Aku tahu dengan mengajukan pertanyaan ini, pasti akan merusak suasana hati Rival. Tapi mau bagaimana lagi? Aku benar-benar tidak bisa menahan rasa ingin tahuku.
“Val, kamu tahu sesuatu tentang Shia, kan?” selidikku.
“Nggak kok, kenapa memangnya?”
“Kenapa kamu gak pernah jujur sama aku sih, Val?” tanyaku setengah memohon.
“Aku benar-benar gak tahu, Shan,”
“Kamu bohong, kamu menyebut nama Shia ketika kamu tidur,”
Rival hanya terdiam mendengar pernyataanku. Aku tahu ia sedang memikirkan alasan apa yang akan ia berikan padaku.
“Aku benar-benar gak tahu dia, Shan,”
“Kamu kenapa mesti bohong sih, Val? Kenapa kamu menyembunyikan fakta tentang Shia dari aku. Kalau begini saja kamu gak bisa jujur, gimana aku bisa percaya kamu kedepannya dihubungan kita?”
“Shan, kenapa sih kamu perlu tahu masalah ini?”
“Karena ini semua menggangguku,” jawabku setengah berteriak.
“Oke kalau kamu gak mau kasi tahu aku, aku minta kita putus. Aku gak bisa menjalin hubungan dengan orang yang nggak bisa jujur sama aku,” ancamku.
“Terserah kalau kamu mau putus,” jawab Rival lalu meninggalkanku.
“Rival, kamu kenapa sih? Kok kamu kayak gini sih? Rival jangan pergi,” lirihku memanggilnya.
“Rival jangan pergi…” panggilku lagi.
Rival sama sekali tak berbalik setelah mendengar kata-kataku. Aku memandangi punggungnya yang semakin menjauh dariku, hingga akhirnya tak terlihat lagi. Kenapa semua menjadi seperti ini?
Hembusan angin di hari itu benar-benar membawa jauh segala mimpi-mimpiku. Sinar matahari yang tadinya terasa hangat seketika berubah menjadi lebih dingin. Entah berapa lama aku berada di sana menunggunya. Saat tersadar, tetes-tetes hujan sudah membasahi tubuhku yang terdiam membatu. Air mataku mengalir berirama bersama derasnya hujan.
Val, aku gak benar-benar serius. Mengapa kamu memilih menerima ajakanku untuk putus ketimbang memberitahuku yang sebenarnya? Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan? Kamu meninggalkanku begitu saja hanya untuk menutupi rahasiamu. Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Siapa yang egois sebenarnya? Siapa yang nggak benar-benar sayang dan menganggap ini hanya permainan perasaan, hah?
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku menangis sejadinya malam itu. Kutelepon Nini dan menceritakan semua yang aku alami. Barulah sedikit aku memberitahukannya tentang Wira ataupun Shia. Nini setengah mempercayai ceritaku tentang Wira dan Shia. Tapi aku tak peduli lagi ia akan mempercayaiku atau tidak. Sejujurnya sulit untuk menerima hal konyol seperti itu di zaman seperti ini.
Samar-samar kudengar suara yang memintaku untuk tidak menangis. Aku mengenali suara itu dan aku tahu itu Wira. Aku tak mengharapkan mendengar suara samarnya saat ini, yang aku butuhkan adalah sosok nyatanya yang tidak lagi menghantuiku.
“Wira kamu dimana? Aku benar-benar butuh kamu,” pintaku sambil tersedu.
“Wira tolong, aku butuh kamu saat ini,”
“Wira tolong keluar. Aku ingin bertemu kamu, please, Wira. Aku mohon. Katakan sesuatu, please. Katakana apa yang sebenarnya sudah terjadi,”
Entah mengapa saat itu sekilas terlihat kenangan Shia dan Wira. Mereka tertawa bersama di tepi danau yang sangat luas. Aku merasa bahwa saat itu aku adalah Shia. Aku benar-benar bahagia, namun saat kusadari bahwa kenangan itu bukanlah sepenuhnya milikku, aku menangis dan menjatuhkan tubuhku di lantai sambil terisak tangis kembali. Aku benar-benar terpuruk. Seseorang, tolong selamatkan aku.
“Wira, apakah kenangan itu yang kamu coba tunjukkan padaku? Kenapa harus kenangan itu? Aku benar-benar tak dapat mengartikannya, Wir. Apa maksud kamu sebenarnya? Apa yang harus kulakukan?”
Perlahan kutegakkan kembali tubuhku. Kutatap wajahku yang memerah dan berlinangan air mata di depan cermin. Entah sudah berapa banyak air mata yang tak tertahankan hari ini. Kuhapus kesedihan itu bersama dengan sisa-sisa air mata yang masih tertinggal di pipiku. Aku gak boleh lemah. Apapun yang terjadi pokoknya aku gak boleh lemah. Aku Shanvierra, bukan Shia. Terserah apapun tentangmu, Shia. Aku berharap sepenuhnya aku tak terlibat denganmu lagi. Aku hanya ingin menjalani kehidupanku yang sedang berjalan saat ini. Aku tak ingin terlibat lagi dengan kegilaan ini semua. Apapun itu, tolong kalian pergilah. Jika segalanya tak berjalan sesuai dengan yang kalian harapkan di masa lalu, tolong jangan mencoba memperbaikinya di masa depan, tolong jangan ganggu kehidupanku lagi. Ini sepenuhnya kehidupanku.
Tiba-tiba kurasakan dengungan di telingaku, aku memejamkan mata dan menutup telinga. Saat kurasakan dengungan itu sudah pergi, perlahan kubuka mataku. Aku terkejut mendapati sosok Shia di cermin yang sedang berada di hadapanku.
“Hai Shanvierra, ini yang kedua kali kita bertemu, ya,” sapa gadis itu.
“Iya,” jawabku singkat.
“Kamu habis menangis, ya?”
“Ah, iya,”jawabku sedikit terisak.
“Kenapa?”
“Ah, gak kenapa-kenapa kok. Shia, kenapa kalian terus saja muncul seperti ini? Kenapa kalian terus saja melibatkanku?” lirihku.
Shia hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku.
“Bisakah kamu pergi dari kehidupan yang sedang kujalani saat ini?” pintaku.
Shia terdiam sesaat sebelum akhirnya membuka suara “Aku hanya ingin meminta pertolonganmu, Shanvierra,”
“Apa yang bisa aku bantu? Apakah setelah itu kamu akan pergi?” tanyaku sedikit ragu.
“Ini tentang Wira dan mungkin saja setelah ini aku akan pergi dari kehidupanmu, mungkin,” jawab Shia dengan sedikit senyum simpul menghiasi bibirnya.
“Kenapa dengan dia?” tanyaku lagi.
“Dia sangat ingin menebus kesalahannya padaku, sampai-sampai ia ingin bertemu dengan diriku yang ada di masa depan karena tak dapat bertemu denganku lagi. Sebenarnya ini hanya salah paham dan semua ini bukan salah Wira. Aku tahu kamu ingin tahu semuanya, tapi aku ingin kamu menolongku terlebih dahulu sebelum semuanya terlambat. Kamu akan mengetahui semuanya ketika kita pergi nanti,”
“Baiklah, apa yang bisa kubantu?”
“Aku ingin kamu pergi ke masa sebelum Wira akan menemuimu untuk yang kedua kalinya. Ada hal buruk yang akan terjadi jika ia pergi. Jadi aku ingin kamu menghentikannya,” terang Shia.
“Baik, aku akan ikut kamu. Tapi, aku boleh ajukan satu pertanyaan gak? Please kamu harus jawab aku,” tanyaku perlahan.
“Iya, apa yang ingin kamu tanyakan?” tanya Shia.
“Siapa kamu sebenarnya?”
“Tapi aku masih gak ngerti apa masalahnya. Apa yang sudah terjadi dimasa lalu kamu dan Wira?”
“Bukankah hanya ada satu pertanyaan?” tanya Shia.
“Kita benar-benar gak ada waktu, jadi aku mohon kamu ikut aku sekarang,” pinta Shia setengah memaksa.
Akupun mengangguk dan atas permintaan dari Shia, aku memejamkan mata. Saat aku membukanya, Shia sudah tidak ada lagi di sampingku dan yang kulihat, Wira sudah ada di hadapanku, dan aku yakin, ini bukan masa dimana keberadaanku nyata.
Wira membelakangiku dan tidak menyadari kehadiranku. Apakah ini sungguhan? Aku benar-benar melihat Wira dan aku sangat merindukannya. Kali ini entah mengapa, aku ingin mengatakan bahwa Wira seharusnya milikku. Apakah ini pengaruh perbedaan dimensi yang ada pada diriku? Sejenak aku merasa pikiranku sedikit kacau. Aku tak lagi memikirkan Rival, sepenuhnya pikiranku hanya tertuju pada Wira. Ada rasa kebencian, kesedihan, dan cinta yang bercampur aduk dan semua itu tertuju pada Wira namun tak kuhiraukan.
Hembusan angin yang menerpa wajahku seakan mengembalikan beberapa kenangan Shia dan Wira di pikiranku. Aku tak ingin Wira pergi lagi. Aku berlari ke arah Wira dan memanggil namanya.
“Wira,”
Wira terkejut mendengar suaraku dan segera mengarahkan pandangannya padaku.
“Shanvierra, kenapa kamu disini?”
Untuk pertama kalinya bagitu, Wira memanggil namaku dengan nama sebenarnya diriku, bukan dengan nama Shia dan itu benar-benar membuatku senang. Apa yang terjadi pada diriku? Mengapa hanya dengan memanggil namaku saja sudah membuatku bahagia seperti ini? Kurasa aku telah jatuh hati padanya. Perasaanku tiba-tiba saja berubah seperti ini, rasanya sudah sejak dahulu rasa cintaku sangat dalam padanya, mungkinkan ini perasaan bawaan dari kehidupanku sebelumnya? Aku tersenyum dan memeluknya.
“Aku merindukanmu, Wira. Dan sekarang aku sadar kalau aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu” bisikku padanya.
“Tolong jangan katakan hal itu padaku,” pinta Wira dengan tatapan dingin.
Aku melihat ekspresi Wira dan aku tahu itu bukanlah ekspresi kebahagiaan. Aku heran apakah aku pergi ke masa yang salah? Bukankah Wira sebelumnya mengatakan jika ia akan menungguku mencintainya. Lalu, mengapa saat kukatakan bahwa aku mencintainya namun hanya ekspresi dan jawaban itu balasannya? Hanyalah tatapan yang kosong dan kata-kata yang tak pernah terpikirkan sebelumnya olehku. Tidakkah ia mencintaiku lagi?
“Shanvierra, kenapa kamu bisa ada disini?” tanya Wira lagi dan kali ini dengan sedikit bentakan tanpa memperdulikan pernyataan cintaku.
Aku melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah. Aku terkejut atas bentakannya. Aku bingung apa yang benar-benar terjadi. Wira mengenaliku, ini pasti benar masa sebelum Wira pergi, tapi mengapa ia tak senang dengan kehadiranku disini. Aku teringat apa yang Shia pesankan padaku. Aku benar-benar harus mencegahnya datang ke masa depan menemuiku.
“Aku mohon kamu jangan pergi lagi ke masa dimana keberadaanku nyata, karena itu akan membahayakanmu,” teriakku.
Wira tersentak dan aku tahu saat itu ia pasti menyadari sesuatu. Ia memandangiku dengan tatapan tajam seolah mencari kebenaran dari apa yang telah terjadi.
“Kamu adalah satu-satunya orang yang keberadaannya dalam bahaya jika berada di sini, Shanvierra,” ujar Wira perlahan.
“Apa Shia yang membawamu kesini?” tanya Wira dengan wajah sedih.
“Iya, aku benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” jawabku.
“Shanvierra, kamu benar-benar harus pergi dari sini. Aku bisa jelaskan alasannya nanti. Tapi saat ini kamu benar-benar harus pergi dari sini,” pinta Wira.
“Tapi bagaimana caranya aku kembali? Apa yang sebenarnya akan terjadi?” tanyaku dengan bingung.
“Ah, aku juga bingung, apa yang harus kulakukan?” keluh Wira kesal.
“Wira, selama ini kamu kemana saja? Mengapa kamu tidak datang ke danau angsa, ke tempat yang kita janjikan untuk bertemu?” tanyaku.
“Aku gak ngerti maksud perkataan kamu, kapan kita berjanji?” tanya Wira balik.
Mendengar perkataannya itu, aku menyadari bahwa aku kembali ke masa lalu sebelum kami bertemu untuk kedua kalinya, tentu saja Wira tidak akan ingat apapun.
“Pokoknya, kenapa kamu tidak pernah menemuiku lagi dimasa depan?” tanyaku dengan sedikit berteriak.
“Aku baru saja akan pergi ke masa depan. Aku ingin menemuimu. Aku menunggu jawabanmu, Shanvierra,” jawab Wira.
Wira akan pergi ke masa depan? Jadi apa yang sebenarnya terjadi setelah ini? Apakah itu berhubungan dengan masa depan? Apakah masa depan akan berubah dengan kembalinya aku ke masa lalu? Tidak, tidak ada yang berubah selama aku baik-baik disini, pikirku.
“Ayo Shanvierra, kita benar-benar harus pergi dari sini,” ajak Wira sambil menarikku berlari ke dalam hutan meninggalkan lapangan luas yang sama sekali tidak ditumbuhi rumput ini.
Namun, sebelum kami berhasil masuk ke dalam hutan, tiba-tiba angin berhembus sangat kencang dan memisahkanku dari Wira. Akupun mendengar suara berdenging lagi di telingaku yang sangat nyaring. Saat aku tersadar, aku merasakan ada benda tajam yang menusuk jantungku. Rasanya sakit sekali. Saat itu, aku melihat semua kenangan yang pernah dilalui Wira dan Shia di masa lalu. Ada saat-saat dimana masa bahagia mewarnai kehidupan meraka walaupun yang terlihat dominan adalah masa kelam yang menyelimuti. Shia memang diriku yang berada di masa lalu, tapi dia sungguh bukan aku yang ada di masa depan.
…….
“Shia… Shia, ayo kesini,” panggil Wira yang saat itu masih berumur 7 tahun.
“Kita mau kemana, Wira?” tanya Shia ragu-ragu.
“Ayo kita bermain. Kita cari bersama tempat persembunyian kita berdua,” ajak Wira lagi.
Mereka bergandengan tangan dan tertawa masuk ke dalam hutan. Ada sebuah danau yang indah disana juga ada gua yang tidak terlalu besar. Mereka menggunakannya sebagai tempat persembunyian mereka di saat sedih maupun senang.
Saat itu hujan turun sangat lebat. Mereka berteduh di dalam gua sambil terus memandangi hujan yang menimpa danau yang luas. Mereka tersenyum satu sama lain sambil menengadahkan tangan mereka dalam hujan, berharap dapat menggenggam hujan yang ada.
“Shia, kalau sudah besar maukah kamu menikah denganku?” tanya Wira dengan malu-malu.
“Hem, tentu saja aku mau,” jawab Shia sambil tersipu malu.
“Janji?” tanya Wira lagi.
“Hem, janji,” jawab Shia.
“Ayo kita membuat janji,” ajak Wira.
Merekapun menggigit ibu jari kanan mereka hingga mengalir darah segar. Mereka saling menyatukan ibu jari mereka yang masih mengalir darah.
“Ini adalah janji kita, di saat kita besar nanti, kita akan menikah. Aku akan menjadi suamimu, Shia,”
“Ini adalah janji kita, di saat kita besar nanti, kita akan menikah dan aku akan menjadi istrimu, Wira,”
“Seperti janji pernikahan ya,” ujar Wira.
“Iya, ya,” sambung Shia.
“Aku sudah merasa memilikimu. Jadi aku berjanji akan terus menjagamu hingga kita menikah nanti,”
“Terima kasih, Wira,”
Tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan orang tua Shia memanggil-manggil namanya. Mereka berdua terkejut dan ketakutan. Orang tua Shia segera menemukan mereka dan menarik Shia pulang dalam hujan yang semakin deras. Orang tua Shia benar-benar tidak menyukai Shia memiliki teman dan terutama jika orang itu adalah Wira. Hari itu menjadi kenangan terakhir bagi Wira bertemu dengan Shia setelah sekian lama.
Bertahun-tahun berlalu, Shia sepenuhnya berubah menjadi orang yang berbeda bagi Wira. Shia menjadi seorang penyihir yang sangat jahat di masa itu. Walaupun begitu, Wira selalu mencintainya bagaimanapun keadaannya. Shia yang masih kecil sama sekali berbeda dengan Shia ketika ia dewasa. Shia yang dulunya adalah gadis periang yang sangat baik hati, telah membuat Wira mencintainya dan tetap berpikir jika Shia bisa menjadi seperti Shia yang dulu. Ketika orang tua Shia mengetahui jika Shia selalu bermain dengan Wira dan mencintai laki-laki itu, mereka mencuci pikiran Shia dan merubah Shia sepenuhnya. Karena rasa cinta hanya akan membuat Shia tidak dapat menjadi penyihir jahat yang hebat.
Ketika kedua orang tua Shia meninggal, ia benar-benar menjadi penyihir jahat terhebat di kerajaan itu. Shia selalu mengambil hati gadis-gadis cantik untuk menambah kekuatan dan kecantikannya. Tentu saja hal itu tak dapat dibiarkan. Seisi kerajaan menjadi gempar. Mereka tak mampu menandingi kekuatan Shia. Banyak pengawal istana yang telah terbunuh saat mencoba mengalahkan Shia, bahkan sang Raja telah memerintahkan setiap orang yang memiliki kekuatan untuk mengalahkan Shia, namun tak pernah membuahkan hasil. Orang tua Wira adalah sepasang ksatria dari Kerajaan tempat mereka tinggal. Mereka akhirnya mengetahui kelemahan Shia bahwa ia tidak boleh jatuh cinta. Orang tua Wira mengingat bahwa sewaktu kecil Wira berteman baik dengan Shia. Sehingga, ada peluang untuk mengembalikan ingatan dan membunuhnya. Awalnya Wira memang menolak rencana kedua orang tuanya untuk membuat Shia jatuh hati padanya dan membunuh Shia, namun karena tindakan Shia yang sudah sangat keterlaluan di Kerajaan, akhirnya ia memutuskan untuk menjalankan rencana itu.
Wira mulai mendekati Shia dan perlahan membuatnya mengingat setiap kenangan masa kecil mereka. Perlahan Shia mulai mengingatnya dan berubah sedikit demi sedikit, namun akhirnya Shia mengetahui bahwa itu semua hanya tipuan walaupun Wira benar-benar tulus mencintainya. Shia sudah mulai jatuh hati pada Wira namun ia akhirnya dibunuh oleh masyarakat dengan menusuk jantungnya hingga tembus tepat di hadapan Wira.
“Aku benar-benar mencintaimu dengan tulus, Wira. Tapi mengapa ini yang aku dapatkan?Bukankah aku adalah milikmu dan kamu adalah milikku? Bukankah kita sudah berjanji untuk menikah dan saling melindungi? Kamu lebih jahat dari seorang penyihir, Wira,” lirih Shia sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Diiringi rasa bersalah yang begitu besar selama hidupnya, Wira mencari cara untuk menebus kesalahannya kepada Shia. Ia diberitahu oleh seorang pertapa di hutan yang tak pernah dijangkau manusia, bahwa ada satu cara bagi Wira untuk menebus kesalahannya.
Shia akan terlahir kembali di masa depan. Ia akan terlahir menjadi seorang gadis baik hati dan bukan sebagai seorang penyihir lagi. Namun, karena jantungnya sudah diambil dari masa lalu, ia tidak akan memiliki rasa untuk mencintai seseorang. Ia bisa saja jatuh hati namun sangat susah dilakukan.
Jika Wira bisa membuatnya mencintaimu di masa depan, maka Shia yang ada dimasa depan akan kembali mendapatkan jantungnya dan akan berubah menjadi Shia kecil seperti yang pernah kamu kenal dulu.
Sejak saat itu, dengan bantuan sang pertapa, Wira terus pergi ke masa depan untuk menemui Shia yang sudah terlahir kembali. Namun, setiap kali ia bertemu dengan Shia yang ada dimasa depan, Shia tidak pernah mencintainya dan akhirnya meninggal dalam kesendirian sebelum akhirnya dilahirkan kembali di kehidupan selanjutnya. Entah sudah berapa banyak ia menemui Shia dimasa depan untuk menebus kesalahannya, namun tetap saja Shia tidak pernah mencintainya, hingga akhirnya ia bertemu Shia yang terlahir sebagai Shanvierra.
Kematian Shia tidak hanya meninggalkan luka yang dalam bagi Wira, namun juga bagi Raven. Ia adalah seorang penyihir yang selalu memandang Shia dari kejauhan sejak kecil, bahkan jauh sebelum Shia bertemu Wira. Iapun ingin menghidupkan kembali Shia ke dunia dengan kemampuannya. Ia mengetahui cara satu-satunya adalah dengan membawa Shia di masa depan yang telah memiliki jantung ke masa lalu. Ia juga mengetahui jika Wira dapat melakukan perjalanan waktu ke masa depan dengan bantuan sang pertapa.
Penyihir itu berusaha menggagalkan rencana Wira dan membuatnya masuk ke dunia yang berbeda dimensi di masa depan dengan dunia Shanvierra. Awalnya Wira tak menyadari bahwa ia masuk ke dalam dimensi yang berbeda, namun ia akhirnya menyadari ketika dimensi itu akhirnya kian menjauh dan membuatnya benar-benar menghilang dan tidak dapat kembali ke masa lalu atau masa depan. Sehingga sekalipun mereka berdekatan, mereka tidak dapat bertemu satu sama lain namun dapat saling merasakan karena mereka mulai mencintai satu sama lain.
Penyihir itu masuk ke masa depan dimana Shanvierra berada dan membujuknya untuk datang ke masa lalu dengan menyamar menjadi Shia, sehingga ia bisa mengambil jantungnya dan memberikannya kepada Shia. Ia sengaja meminta Shanvierra datang sebelum ia menjebak Wira di dimensi lain, karena ia ingin Wira melihat apa yang akan ia lakukan untuk Shia. Ia ingin Wira melihat apa yang mampu ia lakukan pada Shanvierra. Karena pada dasarnya ia hanya ingin membuat Wira merasakan setiap kesedihan yang selama ini penyihir itu rasakan.
…..
Aku mengetahuinya, aku mengetahui semuanya. Sekilas aku melihat Shia yang tertawa lepas di hadapanku sambil memegangi jantungku. Aku menyadari bahwa aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar dengan kembali ke masa lalu, bahkan kesalahanku telah dimulai ketika aku mulai jatuh cinta pada seseorang. Sejenak, teriakan Wira yang memanggil namaku dan nama Shia berdengung di telingaku sebelum akhirnya semua menjadi gelap. Lucu sekali, bukankah masa depan akan berubah jika sesuatu yang buruk terjadi padaku saat ini? Semua benar-benar menjadi gelap dan terasa begitu dingin di hatiku, sekujur tubuhku terasa dingin. Apakah aku akan mati di sini?