You

You
Bekal



Pagi-pagi sekali Efira sudah bangun karena suara alarm yang menggema di kamarnya. Dia sengaja, ingin memasak bekal makan siang untuk Alex.


Setelah dua hari beristirahat di rumah, hari ini akhirnya Alex sudah masuk bekerja. Perban di kepalanya sudah dilepas.


Sebenarnya lelaki itu memang sangat bebal. Dia bahkan melepas perbannya sendiri tanpa saran dan bantuan dari dokter.


“Aku seperti membawa besi di kepalaku”, begitu katanya saat Efira marah-marah karena Alex yang dengan santainya melepas balutan perban kepalanya di depan Efira.


“Baiklah, apa yang akan kita masak hari ini?” Ucap Efira bermonolog.


Efira membuka kulkasnya, mengambil bahan-bahan yang bisa digunakan untuk memasak.


Salmon panggang menjadi menu pilihan Efira hari ini.


Gadis itu berkutat hampir satu jam di dapur, tidak lupa juga dia menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


Setelah semua selesai, dia melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Bersiap-siap untuk bekerja tentunya. Hari ini dia akan berangkat bersama Alex dan supirnya.


Alex yang meminta.


Kemeja berwarna nude dipadukan dengan rok span selutut membuat kesan tegas untuk Efira, tidak lupa aksesoris berupa jam tangan semakin membuatnya terlihat sempurna.


Sudah pukul 06.30, Efira segera kembali ke meja makan. Disana orang tuanya sudah menunggu.


“Kau yang memasak ini semua?” Tanya nyonya Javonte pada Efira. Wanita paruh baya itu menatap nasi goreng dan lauk pauk di meja makan dengan penuh minta.


“Tentu saja, Efira tidak ingin dibantu Bi Inah karena Efira sudah terbiasa masak sendiri mungkin?”


“Di kotak makan itu, bekal milikmu?” Tanya nyonya Javonte lagi.


“Tidak bunda, itu untuk Alex” Jawab Efira santai.


Tanpa disadari, orang tuanya saling menatap. Memberikan senyum menggoda untuk Efira.


“Sudah jadi budak cintanya Alex” Ucap tuan Javonte, menggoda anak gadis satu-satunya.


Efira terkejut, dia lupa bahwa dirinya dan Alex sudah menjadi kekasih. Itu alasan Efira menjawab dengan santai pertanyaan dari bundanya.


Dia yakin, pasti wajahnya sudah merah. Merasa malu dengan situasinya saat ini.


Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, Efira segera beranjak dari duduknya. Mengambil tas jinjingnya lalu berpamitan untuk berangkat ke perusahaan.


“Aku berangkat”


Sesampainya di depan gerbang rumah, terlihat Alex sedang berjalan menghampirinya. Lelaki itu baru saja ingin menjemput kekasih lima langkahnya tapi, Efira sudah keluar dulu dari rumah.


“Sudah siap?” Tanya Alex pada Efira.


“Sudah” Jawab Efira sambil tersenyum.


“Ayo masuk” Alex membukakan pintu mobil untuk kekasihnya.


Untuk pertama kalinya, Alex pergi bersama supir keluarga Harrison. Rasanya dia tidak nayaman. Ingin bermesraan dengan Efira jadi tidak bisa, begitu pikirnya.


“Bagaimana lukamu?” Tanya Efira di tengah perjalanan.


“Sangat baik” Jawab Alex.


“Apa masih pusing?”


“Tidak juga”


“Kapan jadwal kontrolmu?”


“Besok tapi, aku tidak mau. Aku merasa sudah sangat baikan” Ucap Alex santai.


“Alex!”


Efira memberi peringatan.


“Ayolah sayang, aku sudah sangat baikan. Ini bukan luka serius”


Efira membelalakkan matanya, bukan luka serius apanya? Lelaki itu bahkan terbaring di rumah sakit dalam waktu beberapa waktu.


“Tidak mau tau. Kau harus kontrol, besok aku temani” Ucap Efira final.


Sedangkan Alex hanya bisa tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


Memangnya apalagi yang bisa dia lakukan untuk menolak gadisnya?


...***...


“Bekerjalah dengan baik. Nanti pulangnya aku jemput, jangan kemana-mana sebelum aku datang” Ucap Alex setelah Efira sudah sampai di halaman perusahaannya.


“Hm, aku membawakan bekal untuk makan siangmu. Jangan lupa minum obatmu” Jawab Efira menyodorkan sebuah paperbag berisi kotak makan. Lalu gadis itu membuka pintu mobil di sampingnya.


“Terimakasih” Ucap Alex sambil tersenyum.


“Selamat pagi Mira, Keisha” Sapa Efira pada kedua sekretarisnya.


Keduanya langsung berdiri menunduk, memberi hormat.


“Selamat pagi nona” Jawab keduanya bersamaan.


Efira lagi-lagi hanya mampu tersenyum. Rasanya percuma, ribuan kali dia mengatakan untuk tidak berlaku terlalu formal. Hasilnya sama saja, kedua sekretarisnya masih saja merasa segan.


Efira langsung membuka laptopnya dan membuka beberapa berkas yang sudah tersedia di mejanya.


...***...


“Pak, pulang saja ya. Nanti saya sendiri yang membawa mobilnya” Perintah Alex pada supir keluarganya itu.


“Tapi, tuan…”


Belum sempat pak supir melanjutkan ucapannya tapi, Alex sudah menyelanya sambil memberikan uang kepada pak supir.


“Ini uangnya. Aku akan baik-baik saja. percayalah” Ucap Alex seolah mengerti bahwa supirnya itu takut terjadi sesuatu yang burul, mengingat tuan mudanya itu sedang ada dalam masa pemulihan.


Tapi, apa boleh buat? Kunci mobil juga sudah berada di tangan Alex. Mau menolak pun seperti tidak ada gunanya.


“Baiklah, saya permisi tuan” Ucap pak supir lalu pergi meninggalkan atasannya.


...***...


Tidak terasa, jam sudah menunjukkan waktu untuk makan siang. Alex segera merenggangkan punggung dan juga kedua tangannya.


Dia melihat arlojinya dan beralih menatap paperbag dari Efira.


Lelaki itu berpikir untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia membereskan dokumen-dokumennya dan membawa paperbag itu pergi bersamanya.


“Anda ingin kemana tuan?” Tanya Devan bingung, atasannya membawa semua pekerjaannya?


“Kau tidak perlu tau, urus saja perusahaan dengan baik” Jawab Alex lalu pergi begitu saja.


Devan hanya mampu geleng-geleng kepala dan juga mengelus dada dengan tingkah tuan muda Harrison itu. Sangat tidak seperti ayahya.


Entah kemana lelaki itu pergi, dia membawa mobilnya dengan tenang.


Sekitar 15 menit, dia sampai di sebuah perusahaan miliki keluarga Javonte. Apalagi jika bukan Javonte’s Group. Yang berarti lelaki itu sedang ingin menemui kekasihnya.


Tok


Tok


Tok


Alex mengetuk pintu ruang kerja Efira. Mira dan juga Keisha sudah tidak ada di tempat maka dari itu Alex mengetuk pintu megah di hadapannya.


Tok


Tok


Tok


Hening


Tok


Tok


“Iya?”


Akhirnya, batin Alex.


Efira membukakan pintu untuk Alex. Lelaki itu langsung menerobos masuk tanpa permini. Mendudukkan bokongnya pada sofa empuk disana dan juga meletakkan pekerjaannya di meja.


“Apa yang kau lakukan?” Tanya Efira.


Alex seolah tuli, dia mengambil paperbag dari Efira lalu membukanya di hadapan kekasihnya itu.


“Kenapa dibawa kembali kemari?” Tanya Efira lagi, menatap seluruh pekerjaan Alex dan juga bekal darinya?


“Kau sudah makan?” Tanya Alex.


Efira hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


“Kita makan bersama. Jangan menyiksa tubuhmu untuk terus bekerja, kau butuh asupan dan juga istirahat” Sahut Alex, dia memberikan satu sendok nasi dan juga lauknya tepat di mulut Efira.


Bagai dicucuk hidungnya, Efira segera membuka mulut, dia juga lapar. Lalu Alex menyusul dengan memasukkan masakan kekasihnya itu ke mulutnya sendiri.


Begitu seharusnya, mereka menghabiskan bekal bersama ditemani hiruk pikuknya kehidupan perusahaan.


Itu suatu hal yang sederhana namun, juga manis.