
“Yeaaaaay, satu poin lagi kita akan jadi pemenang guys” Teriak Efira berloncatan karena senang.
Antara Alex dan Efira sudah mendapatkan skor seri. Terlihat sekali ketegangan ada diantara kedua tim.
Devan sibuk menghitung skor, sedangkan Nando sibuk menghabiskan camilan yang ia bawa dari villa.
“Fokuslah Alex. Seharusnya kau bisa mengalahkan Frans. Kau hanya akan terlihat lemah jika seperti ini” Omel Elena.
Benar juga kata gadis itu, sejak tadi dirinya tidak fokus karena melihat kedekatan dan kekompakan Efira dan juga Frans. Sedangkan ia sangat ingin menghukum Efira, karena pemenangnya boleh meminta apa saja kepada yang kalah.
Dengan semangat 45 lex berusaha memenangkan pertandingan sengit ini.
Ayo lakukan. Pikir Alex.
Lelaki itu menembak terus menerus, tim lawan pun menerima dengan baik terus menerus. Hingga sampai di hasil akhirnya.
“Pemenangnya adalah tim tuan Alex” Ucap Devan.
“Yeaaaay”
Tim Alex terdengar ricuh atas kemenangan sederhana itu.
Alex sudah menyeringai jahat kepada Efira, sialnya Efira melihat hal itu.
“Katakan, apa yang kalian inginkan?” Tanya Alex kepada teman-teman satu timnya.
“Aku ingin nanti kalian menyiapkan pesta BBQ kita nanti malam, jangan lupa jagung bakarnya” Ucap Elena. Hal itu memang sudah disepakati oleh tim Alex secara rahasia tapi, khusu untuk Alex dapat meminta apapun kepada Efira.
Tugas yang tadinya sudah disusun untuk pesta nanti malam akhirnya hanya harus disiapkan oleh tim Efira.
“Oke” Jawab Efira lesu.
“Efira, kau punya hukuman sendiri” Sahut Alex.
“Mana ada seperti itu” Ucap Efira protes.
Alex tidak mengindahkan ucapan sahabatnya, lelaki itu malah menyampaikan hukuman pribadinya untuk gadis itu.
“Aku ingin, kau selalu membantuku 24 jam selama liburan ini”
Alex menunjukkan senyum iblisnya saat itu juga.
“Kenapa harus begitu?” Tanya Efira. Dia tentu saja tidak terima dengan permintaan tidak masuk akal itu. Liburannya akan hancur jika begitu.
“Karena aku ingin begitu” Jawab Alex.
“Benar-benar iblis” Efira memicingkan matanya untuk Alex.
...***...
“Makanan siaap” Teriak Efira dibarengi daging panggang yang sudah ditata di piring pada kedua tangannya.
“Baiklah, kita habiskan malam ini dengan karaoke dan pesta barbeque” Ucap Frans mengangkat satu botol wine yang dibeli di toko sekitar Jogger kemarin.
“Yeaaay” Teriak mereka bersamaan, mengangkat gelas mereka masing-masing lalu meneguknya.
Aulia? Gadis itu meneguk minuman soda yang disiapkan Samuel khusus untuknya. Katanya agar Aulia dapat menikmati pesta seperti yang lainnya tanpa harus menyalahi aturan di dalam kepercayaannya.
Efira juga begitu, sebelum gadis itu meneguk wine-nya, Alex terlebih dahulu mencegah “Kau tidak boleh minum wine, minum ini saja” Lelaki itu menyodorkan satu botol soda. Itu karena toleransi alkohol Efira sangat rendah.
Gadis itu hanya mampu mengerucutkan bibirnya saat Alex mengganti gelas wine-nya dengan botol soda. Itu seperti dia adalah anak di bawah umur. Tatapannya benar-benar memohon kepada Alex.
“Tidak Efira. Kau tidak boleh minum. Titik” Tegas Alex.
Mereka yang melihat merasa gemas sendiri dengan tingkah keduanya yang sudah seperti sepasang kekasih.
Mereka pun memulai pestanya. Bernyanyi dan tertawa bersama. Ditemani bintang-bintang dan juga rembulan malam. Apa yang lebih menyenangkan daripada pesta barbeque dan karaoke outdoor dengan pemandangan samudera di sekeliling mereka.
Bukankah menyenangkan?
“Bagaimana jika kita bermain Truth or dare? Siapapun kalian yang tidak bisa menjawab pertanyaan kami, maka harus meminum satu gelas wine sebagai gantinya” Ucap Devan, dia mulai bosan bernyanyi.
Sebenarnya karena tidak ada satupun dari mereka yang memiliki suara merdu.
“Ide bagus” Elena menyetujui hal itu.
“Aku akan menggantikan Aulia meminum wine itu” Ucap Samuel jantan.
“Aw. Kapankah jodohku datang?” Ucap Gio.
Deva tersenyum mendengar perkataan mantan kekasihnya itu, “Jangan suka menggantung perasaan orang lain tanpa tujuan. Itu akibatnya jika kau bermain-main” Balas Deva.
“Ketika mantanku, menyumpahiku” Ujar Nando, mendramakan moment di hadapannya.
Sedangkan saat itu, Efira mulai tersenyum senang. Bukankah itu artinya dia akan menjemput minumnya sendiri?
“Ayo putar botol ini” Devan memberikan sebuah botol plastik yang masih terisi sedikit air.
Frans memutar botol itu dan sampailah tutup botol itu kepada Devan.
“Kapan ciuman pertamamu terjadi?” Tanya Alex, lelaki itu sangat penasaran dengan kisah cinta sekretarisnya yang sedikit kurang ajar itu.
“Mungkin suatu hari nanti” Jawab Devan santai.
“Apa kau tidak memiliki kekasih?” Tanya Bella.
“Otakku disetel untuk terus bekerja 24 jam sejak aku masih berusia 18 tahun. Apa aku terlihat memiliki waktu untuk mengurus hal-hal seperti itu” Ucap Devan.
Memangnya siapa yang mau menjadi kekasih dari seorang worka holic sepertinya?
“Kau masih straigh kan?” Tanya Nando, mendengar penuturan Devan lelaki itu rupanya sedikit khawatir dengan sekretaris temannya. Takut-takut jika ternyata lelaki tampan itu malah ‘belok’ karena terlalu sering bekerja.
“Aku masih straigh” Jawab Devan, seperti tidak ada beban saat mengucapkan hal itu.
“Apa tidak ada satupun gadis yang menyita perhatianmu?” Tanya Efira. Mungkin saatnya membongkar ketertarikan Devan dengan Mira?
“Kau” Jawab Devan.
Semua orang disana dibuat tercengang bahkan tersedak-sedak air liur sendiri atas jawab Devan yang tidak bermoral.
Apalagi Alex. Lelaki itu seperti sudah mengeluarkan tanduknya. Efira juga mana sempat berpikir jernih jika sudah seperti ini? Jawaban yang ia harapkan dari Devan malah menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
Melihat kepanikan semua orang, Devan segera tersadar. Dia mengambil satu gelas wine di hadapannya, “Aku bercanda” Ujarnya singkat sebelum meneguk habis wine di tangannya.
Semua dapat bernapas lega. Sebelumnya mereka sudah bersiap untuk memisahkan Alex dan Devan jika saja misalnya Alex langsung menghantam sekretarisnya dengan bogeman mentah.
Meskipun sudah terlihat biasa saja, sebenarnya di dalam hati Alex ingin sekali menghajar wajah tampan seorang Devan. Masih ada perasaan mengganjal di dalam benaknya atas pengakuan itu.
“Putar lagi” Pintah Aulia dan Frans langsung memutar botol di hadapannya.
Kali ini itu jatuh kepada Alex.
“Tuan, katakan kapan kau akan menyatakan cintamu kepadanya?”
Devan memang kurang ajar bukan? Sudah membuat hati Alex kesal setengah mati, sekarang malah membuka kartu Alex dengan sangat gamblang dan terlihat biasa saja dengan sikap menyebalkan yang biasa ia tunjukkan.
“Aku sudah mengatakannya” Jawab Alex tajam, tersisa rasa kesal dan mengganjal di dadanya atas sekretarisnya itu.
“Kau sudah memiliki kekasih?” Tanya Samuel.
“Mungkin akan” Jawab Alex.
Mereka dibuat terdiam, melirik Efira penasaran. Memastikan perasaan Efira baik-baik saja?
Namun, ekspresi yang Efira berikan sama sekali tidak dapat ditebak. Semua orang tidak berani bertanya lebih lanjut, takut jika itu akan melukai perasaan Efira.
Permainan terus berlanjut, sampai saat dimana Efira mendapatkan tembakan pertamanya.
“Efira, katakan nama seseorang yang ada di dalam benakmu sekarang” Ucap Deva.
Teman-temannya mungkin berharap jika gadis itu akan memilih untuk menjawab pertanyaan daripada meminum alkohol tapi, ternyata mereka salah karena Efira langsung bersiap mengambil gelasnya.
Sebenarnya bukan karena keinginan minumnya yang kuat tapi, gadis itu seperti memang tidak ingin menjawab pertanyaan dari Deva.
“Biar aku” Alex meraih gelas dari tangan Efira lalu meneguk minuman tersebut untuk sahabatnya.
Sampai pada banyak putaran, Alex harus terus menegak minuman untuk Efira dan untuk dirinya sendiri.
Sepertinya itu adalah malam sial untuk Alex, karena botol itu terus mengarah padanya dan Efira.
Toleransi alkoholnya memang tinggi tapi, ini sudah melewati batas kemampuannya. Lelaki itu nampak sudah sangat sayu dan mabuk.
“Kita sudahi. Alex sudah sangat mabuk” Efira segera menghentikan permainan karena sahabatnya terlihat sudah tidak mampu lagi bertahan.
Lelaki itu bahkan sudah meracau tidak karuan sejak tadi.
Efira segera membawa Alex ke kamarnya, membopong lelaki itu bukanlah hal yang mudah mengingat postur tubuh Alex jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.
Sedangkan teman-temannya yang lain masih ingin menikmati malam outdoor. Semuanya sudah setengah mabuk, kecuali Aulia. Tidak ada yang membantunya, Aulia pun mana berani menyentuh Alex.
“Hey Efira?” Alex bergumam sesaat setelah menatap wajah sahabatnya. Efira sedang menata selimut untuk Alex.
“Hm” Jawab gadis itu, masih fokus dengan pekerjaannya.
Sret
Alex menarik Efira ke dalam pelukannya. Membawa gadis itu dengan posisi membelakanginya.
“Hey, biarkan aku keluar dari kamar ini” Ucap Efira. Jujur saja, dia sangat gugup. Apalagi Alex dalam keadaan mabuk saat ini.
“Temani aku saja disini. Aku tidak akan macam-macam” Jawab Alex.
Akhirnya Efira hanya dapat mengangguk. Pikiran gadis itu adalah setelah Alex tidur dia akan keluar tapi, dirinya malah tertidur juga dipelukan sahabatnya.