
Rombongan Efira mulai menyusuri pantai bersama. Menantikan sunset katanya.
Tak jarang, ada banyak wisatawan lain yang duduk di tepi pantai sambil menikmati minuman dingin.
“Pukul 17.30, kira-kira 30 menit lagi kita baru bisa menikmati indahnya sunset” Ucap Alex.
“Ini menyenangkan, bahkan meskipun kau hanya diam. Disini sangat indah. Aku sangat betah disini” Ucap Elena.
“Ya ya, tinggal saja disini. Jangan ikut pulang” Jawab Frans.
“Terserah padaku saja kalau itu” Gumam Elena.
“Oh ya, Efira. Besok apa rencana kita?” Lanjut Elena. Pasalnya baik dirinya maupun yang lainnya tidak tau rencana liburan bagaimana yang disiapkan Efira.
“Besok kita ke villa, aku sudah menyiapkannya untuk tiga hari dua malam. Disana akan ada banyak yang bisa kita lakukan” Jawab Efira.
“Wow Efira, kau menyiapkannya dengan sangat baik rupanya” Sahut Samuel.
“Tentu saja, itu juga akan mengganti waktu yang kita buang lima tahun terakhir tanpa pertemuan. Bukan begitu?” Sahut Efira. Gadis itu sengaja mengajak teman-teman SMA-nya karena memang selama lima tahun terakhir mereka benar-benar tidak bertemu. Hanya berkomunikasi lewat ponsel, kadang video call untuk mengobati rasa rindu atau sekedar bercerita.
“Kau memang baik hati dan tidak sombong” Ujar Bella.
Efira tersenyum, menikmati kebersamaannya dengan teman-temannya.
Hingga, “Aku ikut!” Ucap Alex dari jauh sana. Lelaki itu mendengar Efira mengatakan rencana liburannya sejak tadi.
Efira yang mendengar hal itu hanya memutar bola matanya malas. Sudah terduga akan seperti ini situasinya jika Alex datang bersamanya.
Ah, tidak-tidak. Alex tidak seperti ini biasanya. Dia memang menyebalkan tapi, hari ini jauh lebih menyebalkan. Batin Efira.
Lihat saja sekarang, Alex bahkan terlampau dekat dengan Efira.
“Ah, bukankah kau harusnya masih berada di Paris dan tidak ada dalam list liburan ini?” Frans menyahutinya, merangkul pundak Efira.
Detik itu juga, Alex menghempaskan tangan Frans dari sahabatnya. “Jangan menyentuh Efira. Aku tidak mengijinkannya” Ucap Alex.
“Posesif sekali, sebenarnya kau juga bukan kekasihnya. Kenapa jadi seperti kau adalah kekasihnya?” Frans memang keras kepala. Dia sendiri semakin membuat panas perdebatan.
“Hei orang asing, jangan berani-berani kau denganku. Jika sudah kupatahkan tulangmu, kau tak akan bisa berjalan seumur hidupmu” Jawab Alex.
“Efira pasti akan mengurusku dengan baik sebagai bentuk pertanggung jawaban atas ketidak sopanan sahabatnya” Tutur Frans, melirik sahabat temannya itu.
“Oh, atau mungkin dia akan menikahiku karena rasa bersalahnya padaku? Itu terdengar sangat romantis” Lanjut Frans.
Sedangkan Alex sudah menggeram marah, mengepalkan tangannya hingga wajahnya memerah.
“Aw, tuan muda Harrison sedang cemburu sepertinya” Goda Gio.
Sudah dikatakan sebelumnya bahwa Gio adalah lelaki ter-julid diantara rombongan itu. Sebenarnya lelaki itu hanya ingin mencairkan suasana.
“Jenggotnya terbakar” Sahut Nando.
“Hei, aku tidak memiliki jenggot. Kau tidak lihat wajahku mulus seperti jalan tol?” Jawab Alex cepat.
Tidak peduli, biarkan mereka beradu mulut. Efira membawa Devan dan juga Elena menjauh dari teman-temannya yang random.
“Kenapa bosmu itu begitu agresif? Masalah sepele saja bisa menjadi di ledak-ledakkan” Gumam Efira mengingat tingkah Alex.
Harinya yang harusnya indah, kini harus berubah.
Sekali lagi, Alex adalah dalangnya.
“Karena tuan Alex ingin menjaga anda nona” Jawab Devan.
“Menjaga your eyes. Itu sangat menyebalkan jika kau mau tau” Efira memanyunkan bibirnya, tanda bahwa unmood-nya sedang meningkat seribu persen.
“Omong-omong, kenapa Mira tidak ikut?” Tanya Devan. Bukankah menurut konfirmasi orang suruhannya, seharusnya Mira ada diantara liburan kali ini?
“Dia sedang ada urusan dengan keluarganya” Jawab Efira.
Gadis itu menyipitkan matanya melihat Devan, bertanya-tanya apa hubungan antara sekretaris pribadinya dengan Devan?
“Kenapa melihatku seperti itu,nona?” Tanya Devan.
“Tidak ada. By the way, panggil aku Efira seperti biasanya. Kau terlalu sering berkumpul dengan Alex hingga bahasa formalmu itu terdengar sangat memuakkan” Protes Efira.
“Efira” Gumam Devan.
Seperti ada yang aneh saat menggumamkan hal itu. Dulu memang Devan sering memanggil nama itu tapi, sekarang seperti terasa berbeda. Lelaki itu selalu menemukan kenyamanan tersendiri saat berada di dekat Efira. Ada apa sebenarnya?
“Hey lihat! Indah sekali” Elena menatap sunset di ujung pantai sana dengan mata berbinar.
Itu memang indah, pemandangan matahari terbenam di Pantai Kuta sejak dulu memang terkenal eksotis.
Apalagi warna langitnya yang kemerahan, ditambah gelombang pantai yang indah adalah kesan lukisan alam yang nyata dan mempesona.
“Devan, ambilkan gambarku bersama Efira”
Alex menyodorkan kameranya kepada Devan lalu menarik Efira mendekat ke arah pantai.
Siluet keduanya tercetak jelas disana, seperti sepasang kekasih yang tengah di mabuk cinta. Alex memeluk Efira dari belakang.
“So sweet” Gumam Elena.
Gadis itu dan teman-teman Efira yang lain hanya mampu menggigit jari melihat pemandangan di hadapannya.
Ingin menggoda tapi, nanti merusak suasana. Kira-kira begitu ucapan hati Gio dan teman-teman yang lain.
Hanya satu kali jepretan sempurna, Alex dan Efira kembali dari tempat berswa foto.
“Kenapa wajahmu merah begitu?” Tanya Deva.
“A-Ah tidak apa-apa” Jawab Efira gugup. Mereka semua dibuat terheran-heran dengan Efira. Bukankah tadi saat diseret Alex gadis itu nampak seperti singa? Kenapa sekembalinya malah menjadi kucing manis begitu?
Sedangkan Alex yang dimintai penjelasan oleh yang lain, hanya tersenyum senang.