
“Katakan, apa yang sudah terjadi?” Tanya nyonya Harrison selepas Devan dan juga Mira turun dari panggung.
Nyonya Harrison terlihat begitu tidak sabar menunggu jawaban dari Devan, sementara dirinya sama sekali tidak tau tentang apa yang sudah terjadi pada putranya.
“Tuan Alex tidak dalam bahaya, hanya saja nona Efira harus dilarikan ke rumah sakit karena penyerangan yang terjadi di kediaman keluarga Harrison dan keluarga Javonte” Jelas Devan, membuat baik tuan-nyonya Harrison maupun tuan-nyonya Javonte bagai disambar petir.
“Bagaimana mungkin rumah kamik bisa diserang, jika pengamanannya sudah sangat ketat” Ucap tuan Javonte, mulai tidak tenang dengan keadaan putri semata wayangnya.
“Kelompok mafia itu sudah mengetahui tuan Alex, sepertinya mereka sengaja membuat tuan Alex sibuk dengan nona Efira agar dapat menyerang markas kita” Ucap Devan pelan, tidak ingin jika ada orang lain yang mendengarkan hal ini.
“Sialan, berani sekali mereka bertindak secara terang-terangan” Gumam tuan Harrison.
“Baiklah, ayo pergi ke rumah sakit terlebih dahulu” Ucap tuan Harrison, mengajak istri dan calon besannya.
Tidak peduli dengan acara yang sedang berlangsung, mereka segera meninggalkan tempat itu yang nantinya akan dikondisikan oleh Devan dan juga Mira.
...***...
“Efira, sudah bangun?” Alex segera menghampiri gadisnya tatkala gadis itu membuka matanya.
Tidak ada yang istimewa, mata kekasihnya berair.
“A-Aku takut”
“A-Aku…”
“Hei” Alex menjeda ucapan Efira. Dia mengelus pelan surai hitam gadis itu.
“Tidak apa, aku bersamamu. Tidak ada yang bisa melukaimu”
Efira menggenggam erat tangan kekasih sekaligus sahabatnya itu.
Ternyata ketakutan itu masih menjalar di benak kekasihnya.
“Mau minum?” Tawar Alex.
Efira mengangguk, dengan cepat Alex mengambilkan air putih untuk gadisnya, sembari membantu Efira menegakkan tubuhnya.
“Apa ada yang sakit?”
Efira menggeleng lemas.
Ceklek
“Efira, kau baik-baik saja?” Tanya tuan Javonte selaku ayah dari gadis itu. beliau berjalan cepat diikuti nyonya Javonte dan juga kedua orang tua Alex.
Tentu saja sebagai seorang ayah, beliau begitu khawatir mengingat putri semata wayangnya sempat memiliki trauma mendalam sebelumnya.
“Sebenarnya apa yang sudah terjadi?” Tanya tuan Harrison kepada putranya, Alex.
Melihat kondisi Efira sedikit memprihatinkan, pucat dan juga seperti tidak ada jiwa?
“Kita bicarakan ini nanti di luar setelah Efira istirahat” Ucap Alex. Lelaki itu tau dan cukup mengerti bahwa Efiranya sedang masih belum stabil, dan pastinya gadis itu masih tidak ingin membahas kejadian ini.
...***...
“Kau sudah gila ha? Rencana bodoh macam apa ini?” Mira mengeluarkan taringnya pada Devan.
Saat ini, acara sudah selesai. Acara yang tadinya berjalan dengan lancar dan juga meriah, digantikan dengan suasana tegang di belakang panggung utama.
“Sudahlah, jangan marah-marah. Kau ini tidak bisa mencari jalan keluar malah terus menyalahkanku. Terima saja nasibmu sebagai tunanganku” Ucap Devan santai.
“Wanita gila mana yang mau menikah denganmu ha?” Ucap Mira.
“Hey, diluar sana banyak yang ingin berada di posisimu”
“Aku tidak peduli, aku harap ini hanya sebatas rekayasa”
“Oh tentu tidak sayang, menurutmu apa yang akan dikatakan orang-orang jika sampai kita tidak menikah?” Sarkas Devan tegas.
Mereka bersitegang, beruntungnya tidak ada orang disana.
Jika saja ada orang yang melihatnya, mungkin pasti akan ada bisikan seperti, ‘Baru tunangan langsung bertengkar?’, ah itu terdengar tidak estetik sekali kawan-kawan.
“Baiklah, lupakan itu. Ayo kita ke rumah sakit” Ucap Devan lalu menarik tangan Mira pelan.
“Aku bisa kesana sendiri”
“Hei anak muda, kau bahkan kesini karena aku menculikmu”
Benar juga yang dikatakan Devan.
“Sudahlah, jangan sok jual mahal. Cepat ikut aku atau kau benar-benar akan aku biarkan berjalan dari sini ke rumah sakit” Lanjut Devan.
Dengan sangat terpaksa, Mira menghentakkan kakinya mengikuti Devan, menandakan dirinya tengah kesal dan juga tidak dalam suasana hati yang baik.
...***...
“Jadi, katakan apa yang sudah terjadi” Ucap tuan Javonte, pria paruh baya itu terlihat begitu serius kali ini.
Alex, tuan Javonte dan juga tuan Harrison sedang berada di luar ruangan untuk membicarakan kejadian yang menimpa putri tunggal keluarga Javonte.
“Dia datang lagi, masa lalu Efira yang kembali. Cris mengatakan padaku bahwa lelaki itu mungkin saja adalah ketua kelompok mafia yang menyerang markas tepat saat aku disekap di rumah. Lelaki itu memiliki simbol yang sama yaitu tato ular dilehernya dengan orang-orang yang menyerang markas tadi” Ucap Alex.
“Sudah coba untuk dia membuka suara?” Tanya tuan Harrison.
“Jika dia ketua kelompok mafia itu maka, dia tidak mungkin mengatakannya. Anehnya, kenapa dia mudah sekali aku kalahkan dengan tangan kosong?” Gumam Alex.
“Karena fokusnya adalah kelompok mafiamu, bukan Efira. Efira adalah bonus jika kau datang terlambat sedikit saja. Lelaki itu mungkin saja hanya membuatmu sibuk dengan Efira tanpa memikirkan kondisi anak buahmu di markas” Ucap tuan Harrison.
“Masuk akal” Ucap Alex.
“Lalu, apa rencanamu selanjutnya? Putriku pasti akan selalu dalam kondisi seperti ini setelahnya. Karena musuhmu sudah pasti tau kelemahanmu berada dimana” Ucap tuan Javonte.
“Ayah, aku pastikan semuanya akan baik-baik saja. Kita perketat penjagaan baik di kediaman keluarga Harrison maupun kediaman keluarga Javonte. Aku akan menyiapkan bodyguard untuk Efira nanti, pesanku jangan biarkan gadis nakal itu berkeliaran sendirian nanti. Mereka pasti sudah mulai mengawasiku dan juga Efira” Ucap Alex.
“Pada intinya, Efira akan selalu ada dibawah pengawasan kita. Aku akan memasang GPS pada benda yang selalu ia gunakan, agar kita tau pergerakannya. Kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi” Lanjut Alex meyakinkan ayahnya dan calon ayah mertuanya.
“Baiklah, kita sama-sama menjaga Efira” Ucap tuan Javonte.
Setelah itu mereka kembali masuk ke ruangan Efira, dilihatnya Efira masih memiliki keadaan yang sama.
“Ayah dan bunda, pulanglah. Aku akan menjaga Efira disini” Ucap Alex pada orang tuanya.
“Apa kau mengusir orang tuamu sendiri?” Tanya nyonya Harrison.
“Aku meminta kalian beristirahat, bukan mengusir kalian” Ucap Alex.
“Ayah dan bunda Javonte juga boleh beristirahat di rumah, aku akan menjaga Efira disini. Nanti aku akan memanggil bodyguard untuk berjaga di depan. Kalian tidak perlu khawatir” Lanjut Alex, kali ini kepada tuan dan nyonya Javonte.
Niatnya baik, hanya menginginkan orang tuanya dan juga orang tua kekasihnya untuk beristirahat dengan baik. Jika memang ingin menemani Efira kan masih ada esok hari. Kira-kira begitu pemikiran Alex.
“Baiklah, kami pulang. Besok kami akan kembali, segera kabari jika ada sesuatu terjadi” Ucap tuan Javonte, setelah melihat kondisi istrinya yang terlihat begitu lelah.
“Tidak bisakah aku disini saja?” Ucap nyonya Javonte.
“Tidak, ikut pulang denganku” Jawab tuan Javonte cepat, dia tentu saja tidak ingin istrinya sakit juga.
“Besok kita kemari lagi, Alex bisa menjaga putri kita dengan baik. Aku mengerti perasaanmu tapi, pikirkan juga kesehatanmu” Lanjut tuan Javonte.
“Bunda, percayakan semuanya padaku. Aku pastikan Efira akan tetap aman dan baik-baik saja” Ucap Alex meyakinkan nyonya Javonte.
Setelah berhasil membujuk nyonya Javonte, para orang tua pun pergi dari ruangan Efira.
Tak lama berselang, tiba-tiba.
Ceklek