You

You
Happy New Year (Ending)



3 tahun berlalu, Alex dan Efira berhasil merawat Felix dengan baik. Meskipun sepertinya sangat tidak wajar mendapati anak berusia 3 tahun sudah pandai memanah.


“Alex, apa kau menurunkan jiwa psikopatmu kepadanya?” Tanya Efira, melihat Felix yang masih anak memanah di lahan yang memang sudah mereka siapkan.


“Tidak tapi, aku tetap ayahnya, pasti ada sikapku yang ada pada dirinya, selama dia tidak menyakiti siapapun, biarkan saja dia berkembang” Ucap Alex.


Tidak lama, terdengar suara gaduh di luar sana.


Ternyata Dalio dan 3 anak lainnya sedang berlarian menghampiri mereka.


“Dalio, jangan lari-larian sayang. Contohkan hal baik kepada adik-adikmu” Teriak Mira mengingatkan putra semata wayangnya.


“Befran, nanti jatuh” Kali ini Bella yang berteriak.


“Sela, kau tau? Tuhan tidak suka dengan anak nakal” Kalau yang ini suara Aulia.


Masih ada satu lagi, “Geva, mama tidak suka kau begitu, ayo berhenti dan berjalan sewajarnya” Ucap Deva.


Mereka semua sudah menikah dan memiliki anak masing-masing.


Bella yang berhasil meluluhkan dan menyembuhkan Frans dari penyakit gay-nya, Samuel juga tidak gagal menjadi imam yang baik untuk Aulia dan yang terakhir Deva dan Gio, mereka memutuskan kembali menjalani kisah asmara di jenjang yang lebih serius.


Rumah keluarga Harrison terlihat ramai, keluarga Javonte, tuan dan nyonya Harrison bahkan Tuan Pyton juga berkumpul di taman belakang. Mereka memang sengaja menyiapkan acara begini untuk mempererat persaudaraan di malam tahun baru.


Sore yang indah, Alex mengundang teman-temannya melakukan pesta barbeque di kediamannya.


“Woah, sangat berbeda dengan terakhir kali kita merayakan pesta barbeque saat acara ulang tahun mereka” Ucap Bella yang masih ingat betul mereka sempat mengadakan pesta barbeque saat ulang tahun Alex dan Efira beberapa tahun lalu.


“Bisa-bisanya kau masih ingat” Sahut Gio.


“Tentu saja, moment berharga yang tidak bisa kita lupakan” Jawabnya.


Melihat anak-anak mereka tumbuh bersama, rasanya sangat menyenangkan.


Setelah sekian banyak masalah yang dihadapi mereka akhirnya bisa tenang dan bahkan sudah menjalani kehidupan normal tanpa gangguan lagi.


“Kapan mau menambah momongan?” Tanya Aulia kepada Mira.


Mira terdiam sesaat, melihat suaminya ragu, “Kapan saja jika mau, lagipula kami masih suka dengan proses pembuatannya” Jawab Devan disertai candaan kotornya.


“Cih, kau benar-benar diluar dugaan” Sahut Bella.


“Efira, apa tidak mau membuat adik untuk Felix?” Tanya Bella pada Efira.


“Aku sudah membuatnya tapi, tidak menjadikannya” Jawab Efira, tidak kalah kotor dengan kakaknya.


Sedangkan para orang tua lebih memilih untuk duduk menyendiri di gazebo, menikmati snack yang disajikan sambil berbincang ringan, melihat anak-anak yang berlarian kesana kemari, begitu menyenangkan.


“Lihat, mereka tumbuh dengan cepat. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, cucuku sudah cukup besar untuk bisa mengemong adik-adiknya” Ucap tuan Javonte, mengomentari sikap Dalio yang sudah terlihat jiwa pemimpinnya, terbukti dari cara dia mengatur adik-adiknya untuk tetap hati-hati dalam bermain.


“Hati-hati Beflan, jangan lali-lali nanti jatuh, kau mau masuk lumah sakit? Memangnya mau di suntik?”


“Felix, jangan belmain panah lagi ya, nanti kena teman-teman yang lain, itu belbahaya”


Kira-kira begitu ucapan Dalio saat mengingatkan adik-adiknya dengan aksennya yang masih cadel.


Di sisi lain, Efira melihat Devan yang terlihat tersenyum tipis, “Senang melihat Dalio tumbuh dengan baik?”


“Hm, meskipun dia bukan milikku tapi, aku menyayanginya” Gumamnya.


Ha?


Efira terdiam, mencerna ucapan kakaknya.


“Maksudku, dia lebih dekat dengan Mira, kesibukanku menjadikan aku hanya memiliki waktu di sore sampai malam hari untuk menemaninya” Ucap Devan, memperjelas kalimatnya.


“Oh, begitu” Sahut Efira, menganggukkan kepalanya mengerti.


“Efira, Devan. Ayo sini berkumpul, kita mulai bakar-bakarnya” Panggil Bella.


Hari mulai terlihat petang, mereka membuka acara barbeque dengan membakar jagung dan memanggang daging-daging sesuai dengan tugas masing-masing.


Api unggun bahkan mereka nyalakan hingga malam menyapa.


“Hei hei, aku bawa kembang api tadi” Ucap Gio, mengeluarkan kembang api yang dia bawa dari rumah.


10 detik menjelang jam duabelas malam, mereka menghitung mundur bersama-sama.


“Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu, HAPPY NEW YEAAAAAAARRR”


Duar


Duar


Duar


Kembang api meletus indah di langit sana, disaksikan Alex, Efira dan yang lainnya, berharap semoga tahun selanjutnya berjalan dengan lebih baik.