You

You
Tuan Rian & Efira



“Selamat pagi Efira, Alex” Suara itu milik tuan Rian. Tidak seperti biasanya, lelaki itu terlihat kalem-kalem saja.


Baik Efira maupun Alex mengernyit bingung. Pasalnya itu sama sekali bukan tuan Rian yang biasa mereka lihat.


Terlihat lebih cuek dari biasanya?


Mungkin begitu.


“Pukul 10.00, tolong temui aku. Bawa semua berkas-berkasmu dan siapkan file untuk presentasi. Hari ini kita meeting dengan pihak lain yang akan berkontribusi di acara fashion show bulan depan” Tuan Rian terlihat sangat tegas hari ini. Seperti tidak terlalu gencar lagi dengan Efira?


Itu bagus tapi, itu juga aneh.


“Baik tuan” Jawab Efira.


Jika biasanya Efira dan tuan Rian akan sedikit beradu mulut di dalam lift. Maka hari ini, tuan Rian hanya diam. Lelaki itu memasukkan kedua tangannya pada saku celana, ditambah tatapannya hanya fokus pada satu titik, pintu lift. Seolah tidak ada Alex maupun Efira di sana. Sekretaris tuan Rian pun hanya diam, berada di belakang tuan Rian.


Sampai di lantai teratas, lift segera terbuka, dengan santainya tuan Rian keluar tanpa berpamitan, diikuti sekretarisnya lalu Efira serta Alex.


Efira melongo melihat hal tersebut.


Sedangkan Alex? Lelaki itu memperhatikan sahabatnya dengan raut wajah tidak terbaca.


“Alex, menurutmu ada apa dengannya?” Tanya Efira, gadis itu duduk di kursi kerjanya diikuti Alex yang duduk di sofa ruangan tersebut.


“Aku tidak tau, bukankah itu bagus? Dia tidak akan mengganggumu lagi jika seperti itu” Jawab Alex cuek.


“Tapi, itu aneh”


Jawaban itu sukses membuat Alex kesal. Apa maksud dari perkataan sahabatnya itu? Selama ini dia selalu terganggu dengan sikap tuan Rian bukan? Artinya perubahan tuan Rian ini akan sangat menguntungkan utuk dirinya sendiri.


“Kau menyesal sudah mencampakannya?” Tanya Alex sarkatis.


“Mana ada seperti itu. Aku akan melanjutkan pekerjaanku” Jawab Efira lalu sibuk dengan urusannya.


Sedangkan Alex sudah mengeluarkan tanduknya, tidak peduli Efira sadar atau tidak tapi, lelaki itu tidak suka jika sahabatnya peduli dengan lelaki lain yang jelas-jelas sudah membuatnya tidak nyaman.


Waktu terus berlalu, satu jam, dua jam, hingga tiga jam, masih belum ada percakapan yang tercipta di antara Alex dan Efira. Gadis itu sibuk menyiapkan bahan presentasinya, sedangkan Alex? Sibuk mengamati gerak-gerik Efira.


Lihat saja, perubahan tuan Rian juga membuat sahabatnya berubah.


“Alex, aku akan pergi dulu. Kau bisa lakukan apapun di ruangan ini” Ucap Efira mengemasi dokumen-dokumen bersama laptopnya.


“Aku akan kembali ke hotel” Ketus Alex.


Rupanya Efira sama sekali tidak peka dengan udara di sekitarnya.


Maksudnya, sikap dingin Alex padanya. Gadis itu tidak sadar.


“Kenapa tiba-tiba sekali?” Tanya Efira santai.


“Ingin mendinginkan kepala” Ucap Alex yang segera dihadiahi angkatan kedua bahu Efira.


Seolah tingkahnya itu mengatakan, ‘Yasudah’.


“Hati-hati, aku meeting dulu” Ucap Efira lalu berlari ke ruangan tuan Rian.


Tok


Tok


Tok


“Kemana perginya sekretarisnya ini?” Gumam Efira, menatap meja sekretaris tuan Rian yang kosong.


Efira masuk ruangan tuan Rian, gadis itu melihat kliennya sedang sibuk dengan laptonya.


“Duduk dulu” Ucap tuan Rian dingin.


Efira hanya mengangguk lalu duduk di sofa, tempat dimana dirinya makan siang bersama tuan Rian di hari pertama kedatangannya ke perusahaan itu. Gadis itu benar-benar bingung dengan sikap kliennya yang mendadak berubah seperti itu.


Apa lelaki itu sedang ada masalah?


Apa aku membuat kesalahan?


“Waktumu tersisa kurang dari dua minggu, apa semua sudah siap? Aku tidak ingin ada kegagalan” Ucap tuan Rian, dia sedang berjalan menghampiri Efira?


Ah, nyatanya. Lelaki itu bukan menghampiri Efira tapi, berjalan menuju pintu. Gadis itu dilewatkan begitu saja.


“Kau tidak perlu ikut, aku akan mengurusnya bersama Efira” Ucap tuan Rian pada sekretarisnya yang entah sudah kembali ke mejanya sejak kapan.


“Presentasikan dengan sempurna, jangan ada kesalahan walaupun itu hanya seujung rambutmu”


Begitulah ucapan sarkatis dari tuan Rian untuk Efira. Saat ini, Efira berjalan di belakang tuan Rian. Terlihat seperti Efira adalah sekretarisnya.


Mereka benar-benar bekerja kali ini.


Tidak ada tuan Rian yang suka mengganggu Efira.


Tidak ada tuan Rian yang selalu membuatnya kesal.


Tidak ada tuan Rian dengan ucapan melanturnya.


Saat ini hanya ada tuan Rian yang perfectsionis.


...***...


“Bisa-bisanya dia mengabaikan diriku seperti tadi. Ada apa juga dengannya?” Alex bermonolog di mejanya. Laki-laki itu tidak benar-benar pergi ke hotel, memilih tinggal di restoran terdekat untuk membelikan Efira makan siang.


Sambil menunggu jam makan siang, Alex menyeduh teh hangat bersama dengan pikirannya yang melayang kemana-mana,


“Kenapa sikapnya berubah setelah sikap tuan Rian juga berubah hm?”


Satu suap sup rumput laut sudah berhasil masuk ke mulutnya setelah mengoceh sendiri.


“Apa dia menyukai lelaki itu?”


Pikiran buruk itu menyerang Alex, lelaki itu mengerutkan keningnya, memikirkan alasan dibalik pemikirannya.


Tapi, nihil. Lelaki itu hanya menemukan kekesalan dalam dirinya sendiri.


...***...


“Segera siapkan laporannya, aku menunggu sore ini” Ucap tuan Rian pada Efira. Saat ini mereka masih berada di ruang meeting. Hanya mereka berdua.


“Baik” Jawab Efira.


Sebenarnya, gadis itu ingin bertanya lebih tentang sikap kliennya hari ini tapi, dia urungkan. Takut jika nanti malah salah bicara.


Bukankah memang bagus seperti ini? Efira memang menginginkan ini sejak awal bukan?


“Ayo makan siang, ajak juga Alex. Aku akan mengajak sekretarisku bersama” Ucap tuan Rian, nadanya masih tidak seperti biasanya.


Ini benar-benar tabu untuk Efira.


“Alex sudah pulang dan sepertinya juga sudah keluar” Jawab Efira menunjuk seorang wanita melewati ruang meeting. Tidak lain dan tidak bukan itu adalah sekretaris tuan Rian.


“Ah, benar juga. Yasudah, ayo kita saja yang keluar, makan di restoran terdekat saja ya. Anggap saja ini sebagai bentuk perayaan atas suksesnya presentasimu tadi”


Ajakan makan seorang rekan kerja, bukan seperti saat pertama kali mereka bertemu. Ini lebih formal dan lebih baik.


Efira hanya menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.


Mereka berjalan beriringan memasuki restoran, tanpa disadari, tempat itu adalah tempat dimana Alex berkunjung meredakan pikirannya.


Alex sudah melihat pemandangan itu, tepat saat Efira dan tuan Rian memasuki restoran. Alex tau tapi, dia memilih diam. Menatap bungkusan makanan yang seharusnya untuk Efira.


Alex akhirnya meninggalkan bungkusan itu lalu keluar tanpa sepengetahuan Efira maupun tuan Rian.


Di pikiran Efira, sahabatnya sedang di hotel.


“Munafik sekali” Gumam Alex, lelaki itu kembali ke hotel. Kali ini benar-benar pulang ke hotel.


Di waktu yang sama, Efira dengan tenang makan bersama tuan Rian. Sesekali mereka membicarakan pekerjaan atau bahkan sedikit bercanda.


Efira melihat sisi lain dari CEO Bianjaya Group. Sisi yang lebih hangat dan lebih baik dari yang biasa ia temui.