
“Hei, ayo kesana!” Teriak Efira ketika matanya menyambut abang penjual martabak di pinggir jalan. Gadis itu menarik tangan Alex dengan riang.
“Pelan-pelan Efira, nanti kau jatuh bagaimana?” Sahut Alex namun, langkahnya juga mengikuti tarikan Efira.
“Bang, martabak telur spesial satu porsi, martabak manisnya juga satu porsi” Efira menunjuk gambar martabak di gerobak milik abang penjual itu.
“Siap neng, ditunggu sebentar” Jawab si abang.
Mata Efira sudah jelalatan kesana kemari, menunjukkan semangat 45 melihat banyak jajanan yang membuatnya terus menelan ludah sendiri.
Sedangkan Alex hanya bisa tersenyum menatap sahabatnya dalam.
“Setelah menjelajah ini, kau mau kemana?”
“Ke danau, kita akan menyantap camilan ini disana. Anggap saja kita sedang piknik di dekat sungai han. Hehehe” Efira menunjuk danau yang tersaji di sekitarnya malam itu. Suara kekehan gadis itu terdengar nyaring di telinga Alex.
Lelaki itu sadar bahwa di Korea, sungai Han adalah tempat yang indah, cocok untuk kencan kan? Banyak pasangan yang memilih sungai Han untuk mereka berkencan bukan?
“Apa aku juga harus menganggapnya sebagai kencang?” Tanya Alex menggoda Efira.
Detik itu juga, gadis itu hanya mampu tergagap. Dia mengerti itu hanya sebuah guyonan tapi, entah kenapa jantungnya berdebar ingin meledak.
“Neng, ini sudah siap”
Terimakasih abang martabak. Begitulah batin Efira menatap abang itu lega.
Efira mengeluarkan satu lembar uang berwarna merah.
“Ambil saja kembaliannya bang” Ucap Efira lalu menarik tangan Alex lagi, menuju tetangga-tetangga penjual.
“Bu, kue rangi ya. Yang manis kayak saya”
Kue rangi, jajanan tradisional Betawi. Diadon dari tepung kanji dicampur kelapa. Kue ini digoreng tepat di depan pembeli. Efira misalnya.
Aroma khasnya membuat gadis itu nampak berbinar, tidak sabar merasakan sensasi manis dan gurih dari kue tersebut.
“Mas, tolong sempolnya. Dua porsi aja”
“Mbak, boba rasa coklat satu, strawberry satu”
“Bang, mau cirengnya dong”
“Mau cireng yang mana non?”
Efira celingukan, rupanya dia tidak mengerti maksud si abang. Setahunya, waktu dia masih sekolah hanya ada satu jenis cireng.
“Ada cireng banyur, bumbu rujak, crispy dan cireng isi”
Woah, banyak sekali ternyata. Efira ingin mengecap semua rasanya.
“Semua saja, masing-masing satu porsi” Ucap Efira tanpa pikir panjang. Alex langsung dibuat mendelik mendengar sahabatnya itu.
“Perutmu akan meledak jika seperti ini” Alex berkomentar melihat jajanan di tangannya dan juga di tangan Efira. Mereka sudah berada di danau, berjalan mencari tempat yang cocok untuk menyantap makanan tersebut.
“Apa kata nanti saja, Alex” Jawab Efira.
“Ayo duduk disana” Efira menunjuk satu tempat di bawah lampu penerang, di kelilingi beberapa bunga. Terlihat indah di antara lampu yang tamaram.
“Ayo”
Ini adalah definisi piknik yang sebenarnya. Bahkan tadi mereka sempat berbelok di sebuah toko untuk membeli sebuah tikar.
Alex sudah menggelar tikar itu, Efira sibuk membuka satu per satu bungkusan jajanannya.
Di mulai dari martabak telur. Ini adalah street food fonomenal di Indonesia, biasanya martabak telur dijual berdampingan dengan martabak manis dan Efira membeli keduanya.
Sebenarnya, versi asli dari martabak telur adalah menggunakan bebek sebagai isiannya tapi, sekarang banyak juga yang menyediakan telur ayam. Seperti abang tadi, menggunakan telur ayam sebagai isian.
Tidak penting telur apa yang digunakan, yang penting adalah rasa cuka asam, timun, dan cabai rawit dari martabak itu sangat menyatu. Sebenarnya, martabak itu akan sangat lezat jika disantap saat masih hangat.
Ah. Tapi, tidak masalah untuk Efira. Gadis itu terlihat memasukkan potongan demi potongan martabak telurnya dengan lahap.
Alex hanya tersenyum melihat hal manis di depannya.
“Pelan-pelan Efira. Nanti kau tersedak” Tegur Alex.
“Kau juga harus merasakan ini” Efira menyodorkan satu potong martabak, tepat di bibir Alex.
“Kau saja”
“Tidak, jika aku menghabiskan ini sendirian, perutku benar-benar akan meledak. Jadi, kau harus membantuku menghabiskan ini semua”
Damn!
“Kau bercanda bukan?” Alex membelalakkan matanya.
“Tidak” Jawab Efira santai.
“Baiklah baiklah” Final Alex, gemas sendiri melihat sahabatnya.
“Jika aku kehilangan roti sobek di perutku, kau harus tanggung jawab” Lanjut Alex, menyuap satu potong martabak.
“Aku akan menggantinya dengan tahu potong nanti”
“Tahu? Ditekan sedikit saja sudah hancur”
“Menurutmu roti jika ditekan tidak mengempes?”
Good Efira.
Selanjutnya, Efira mengambil satu bungkus cireng isi. Dibolak-balik cireng tersebut, seperti bentuk pastel goreng.
Pastel adalah salah satu jajanan pastri, dia dibuat dengan meletakkan isian di atas adonan lalu dilipat serta ditutup rapat lalu digoreng.
Begitu juga dengan cireng yang dipegang Efira. Bedanya, adonan selimut isiannya adalah adonan cireng.
Efira menggigit cireng tersebut dan?
“Alex, ini sangat lezat jika kau mau tau. Lihat! Ini diisi dengan daging ayam cincang, kornet dan juga keju. Woah, ini nikmat” Ucap Efira heboh, lagi-lagi menyodorkan satu buah cireng isi untuk sahabatnya.
Alex hanya bisa mengiyakan saja ucapan sahabatnya, lelaki itu sudah pasrah jika ia harus kehilangan roti sobeknya.
Efira, gadis itu tidak berhenti hanya dengan cireng isi. Dia mengambil cireng-cireng yang lain. Cireng banyur salah satunya. Cireng tersebut tidak dibungkus di plastik seperti yang lain. Cireng banyur lebih dikemas sangat rapi lengkap dengan sendok di atasnya.
Saat dibuka?
Jeng
Jeng
Jeng
Ternyata jenis cireng yang satu ini memiliki kuah. Efira segera mencicipi makanan tersebut. Kuahnya terasa pedas, Efira sangat berkeringat karenanya.
“Apa sepedas itu?” Tanya Alex, memandang sahabatnya yang mulai mendesis seperti ular.
“Ini pedas tapi, juga gurih. Kau akan ketagihan saat mencoba ini”
Karena penasaran, Alex mengambil salih cireng tersebut dari Efira. Matanya membelalak merasakan sensasi pedas di lidahnya tapi, rasa gurihnya dapat membuat siapapun ingin mencoba lagi dan lagi.
Lihat saja, meskipun wajahnya dimandikan keringat, lelaki itu tidak peduli. Menghabiskan cireng itu adalah yang utama.
Efira hanya terkikik geli sambil menyantap cireng crispy untuk menetralisir rasa panas yang tersisa di mulutnya. Cireng crispy ini yang dimaksud Efira di masa lalu. Biasanya, cireng tersebut diberi tambahan perasa bubuk.
“Minumlah” Efira akhirnya merasa kasihan, dia memberikan es boba untuk sahabatnya itu.
Sedangkan Alex yang tengah kesetanan langsung menyambar minuman itu dari tangan Efira.
Kali ini Efira ingin menyantap menu cireng terakhir, yaitu cireng bumbu rujak. Sama saja dengan cireng crispy, hanya saja cireng ini disantap dengan cara dicelupkan dulu dengan bumbu rujak.
Rasanya seperti memakan rujak buah pada umumnya tapi, ini adalah cireng.
Masih ada dua menu yang belum sempat ia sentuh.
Ah, Efira sudah kenyang. Tidak sanggup jika menghabiskan itu semua.
Gadis itu sudah mengelus perutnya yang mengembang kekenyangan seperti orang hamil.
Alex sendiri berinisiatif mengajak Efira jalan-jalan dulu agar tidak mengantuk mungkin?
Pasalnya, jika perut kenyang hatipun senang. Disaat seperti itu, tidur adalah pilihan yang tepat.
“Mau jalan-jalan dulu?” Tanya Alex.
Efira mengangguk mantap.
Mereka menyusuri jalanan di samping danau, tidak banyak orang disana. Mungkin karena di Indonesia, danau bukan tempat berkencan di malam hari. Taman lebih sering dikunjungi baik oleh pasangan maupun oleh keluarga kecil.
Udara dingin menusuk kulit mereka. Efira mulai merasa kedinginan, terbukti dari caranya memeluk dirinya sendiri.
Tapi, itu sebelum Alex menyampirkan jasnya di pundak Efira. Lelaki itu bahkan merangkul pundak sahabatnya untuk lebih mendekat dengan tubuhnya, menyalurkan kehangatan lewat rangkulan itu.
“Ayo pulang saja” Alex menggiring tubuh Efira kembali ke tempat mereka tadi, membereskan tempat piknik mereka lalu meluncur pulang.
Di perjalanan, Efira tertidur pulas.
Apa tadi Alex bilang?
Perut kenyang, hatipun senang.
Alex hanya tersenyum sendiri melihat wajah polos sahabatnya.