
Setelah bersih-bersih diri, Efira turun untuk makan malam. Sudah terlalu malam memang untuk mengkonsumsi karbohidrat di jam begini.
“Ayah, bunda? Belum tidur?” Tanya Efira saat melihat kedua orang tuanya masih dalam posisi yang sama saat dirinya naik ke kamarnya sebelum bersih diri tadi.
“Belum, mau makan malam? Bi Inah sudah siapkan untukmu. Makanlah yang banyak, mau bunda temani?” Ucap sang nyonya Javonte.
“Tidak bunda, nikmati saja masa indah kalian” Goda Efira.
Jika dijadikan sebagai aktris, mungkin Efira sudah mendapatkan peringkat pertama dalam dunia ke-aktrisan.
Lihat saja, meskipun otaknya dipenuhi dengan tanda tanya tentang berkas-berkas kemarin tapi, dia sanggup bersikap sebiasa mungkin di depan orang tuanya.
Gadis itu segera menyelesaikan acara makan malamnya, ingin bergabung dengan ayah bundanya?
“Sudah menemukan buku-bukumu untuk disumbangkan?” Tanya tuan Javonte setelah gadis itu masuk diantara orang tuanya.
“Sudah” Jawab Efira sembari memasukkan camilan ke dalam mulutnya.
“Hanya buku-buku bacaan? Buku-buku kuliahmu tidak ingin kau sumbangkan juga?” Tanya sang ayah lagi.
“Itu sudah banyak bekas coretanku, ayah. Aku bisa membelikan versi terbaru untuk mereka” Jawab Efira lagi.
Kedua orang tuanya awalnya hanya biasa saja, mempertanyakan hal-hal sederhana kepada putri semata wayang mereka. Hingga saat Efira mengatakan, “Tadi aku menemukan sebuah berkas, sepertinya penting. Kelahiran seseorang yang memiliki marga sama dengan kita sekitar 26 tahun yang lalu. Ada yang mau menjelaskan maksud dari berkas tersebut?”
Deg
Bagai disambar petir, kedua orang tuanya terdiam kaku. Seperti gugup atau takut?
“Berkas apa yang kau maksud?” Tanya tuan Javonte, terdengar sedikit bergetar.
Seperti ingin bersikap biasa saja namun, Efira adalah gadis cerdas yang bisa membedakan kapan kedua orang tuanya gugup dan santai.
Gadis itu masih seperti tidak punya dosa, bahkan masih santai melahap camilannya. Berniat membuat orang tuanya rileks atas ketidak tegangannya tapi, tetap saja itu membuat tuan dan nyonya Javonte tidak bisa menutupi ekspresi mereka yang tidak biasa.
Memang ada yang disembunyikan, batin Efira mengambil kesimpulan.
“Kau mungkin salah membaca, mana mungkin ada kelahiran lain di keluarga Javonte selain dirimu” Ucap bundanya.
Bohong, jelas-jelas disana tertulis nama itu dengan jelas. Bahkan nama ayah juga berada disana. Mana mungkin itu bukan keturunan Javonte. Batin Efira, rasanya ingin menyuarakan hal itu di hadapan orang tuanya.
“Apa benar begitu? Apa sebuah manipulasi data? Atau percobaan penipuan? Lalu, kira-kira siapakah orang yang berani menggunakan nama ayah dan juga marga Javonte di dalam namanya?” Tanya Efira yang secara bertubi-tubi seperti menghantam pikiran kedua orang tuanya.
Meski terlihat sangat santai, Efira bisa melihat reaksi orang tuanya yang luar biasa. Hingga tuan Javonte hanya mampu mengatakan, “Sudah, jangan dibahas lagi. itu terjadi sudah sangat lama, tidak baik jika kau mengungkit hal buruk dimasa sekarang”.
Menghindar dari masalah huh?
Efira saat itu hanya mengangguk tanda menyetujui perkataan ayahnya untuk tidak membahasnya lebih lanjut.
Sebenarnya tidak begitu dalam hatinya. Jika orang tuanya tidak akan memberitahukannya maka, dirinya akan mencari tau sendiri.
“Baiklah, ayo tidur. Ini sudah malam, apa kalian masih ingin bermesraan disini?” Tanya Efira, mulai ingin beranjak.
“Tidurlah dulu, ayah dan bunda akan menyusulmu ke alam mimpi setelah ini” Jawab nyonya Javonte.
...***...
Drrrt
Drrrt
Drrrt
Ponsel Alex sudah bergetar sejak tadi. Hey, ini masih pukul 05.00 pagi. Siapa yang berani mengganggu tidur seorang Alexander Harrison?
Drrrt
Drrrt
Drrrt
“Akan aku penggal kepalanya siapapun yang telah menghubungiku sepagi ini” Alex mengomel-ngomel sambil mencari keberadaan ponselnya di nakas.
“Devan, akan aku potong lehermu nanti. Ini masih terlalu pagi untuk bekerja” Ucapnya setelah mengangkat panggilan tersebut.
“Akan aku patahkan dulu tanganmu sebelum kau melakukan itu padaku” Balas orang di seberang sana.
Deg
Alex sadar, itu suara singa betinanya. Sudah menjadi kebiasaannya jika mengangkat panggilan tanpa melihat dulu siapa yang menghubungi. Jika seperti ini bagaimana?
“Maafkan aku, sayang. Ada apa pagi-pagi begini kau mengganggu tidur tampan tuan muda Harrison hm?” Tanya Alex menginginkan kekasihnya to the point, agar dirinya dapat lekas tertidur kembali.
“Kerja nanti, aku ikut denganmu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan” Sahut Efira.
Hanya untuk mengatakan berangkat bersama? Batin Alex. Sedikit jengkel dengan kekasihnya?
“Apa tuan Javonte menginginkan aku untuk segera melamarmu?” Tanya Alex, menggoda kekasihnya.
“Aku sedang tidak ingin bercanda”
Mode singanya ternyata sedang aktif, daripada berlanjut terjadi keributan di pagi hari begini, Alex memilih mengalah.
“Baiklah, aku akan menjemputmu nanti” Jawab Alex.
Tut
Gadis itu langsung mematikan panggilan tersebut secara sepihak tanpa mengucap apapun, membuat Alex heran sepenting apa masalahnya hingga membuat Efira kehilangan jati dirinya yang cerewet itu?
Alex memikirkannya sambil rebahan, hingga aroma bantalnya benar-benar memeluknya untuk kembali tertidur.
Sedangkan di kamar Efira, gadis itu membuka sebuah majalah hasil pencariannya kemarin. Tidak banyak kata yang tertulis di artikel tersebut, tidak ada foto atau sekedar identitas pemanis di dalamnya, tidak ada juga penjelasan detail disana. Hanya seperti gambaran umum dari sang penulis mengenai sosok tersebut.
Efira lagi-lagi dibuat tidak bisa tidur semalaman, kali ini hingga pagi menyapa kantuknya sama sekali tidak menghampiri dirinya. Miris sekali.
“Aku akan segera bersiap” Gumam gadis itu saat matahari sudah mulai merangkak terbit.