You

You
Meminta Izin



“Kau yakin tidak ingin menikahi Efira sesegera mungkin? Bukankah akan bahaya jika dia terlalu lama tidak dalam pengwasan langsung darimu?” Tanya sang tuan Harrison di meja makan.


Mau sarapan saja begini sekali, pikir Alex.


Tapi, apa yang dikatakan ayahnya ada benarnya.


“Ingat Alex, posisimu sudah mulai tidak aman. Mereka sudah mulai mencari tau tentang dirimu” Ucap tuan Harrison.


“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Tanya Alex pada ayahnya.


“Lamar dia secepatnya, berikan dia keamanan ketat. Aku khawatir dia menjadi incaran mereka, hindari juga dia untuk beberapa waktu hingga setidaknya sudah tidak ada ancaman berbahaya” Begitu yang dikatakan tuan Harrison.


“Aku pusing, kenapa memiliki suami dan anak yang seperti ini. Kenapa tidak berhenti saja dari sana?” Ucap nyonya Harrison.


“Lalu kenapa bunda dulu mau dengan ayah?” Tanya Alex.


“Ya tentu saja karena ayahmu yang memaksa bunda untuk menikah” Balas nyonya Harrison.


“Jika tidak cinta lalu, kenapa aku bisa ada disini?”


Tuan Harrison ingin tertawa mendengar penuturan putranya.


Tidak salah jika dia mewariskan banyak hal kepada anak semata wayangnya itu, dia memang cerdas.


Sedangkan nyonya Harrison sudah memerah malu, “Ya karena nenek dan kakekmu ingin segera memiliki cucu” Jawabnya.


“Kenapa ayah tidak diijinkan menikah lagi saja? Atau setidaknya kalian mengangkat seorang bayi untuk menjadi ahli waris keluarga Harrison”


Nyonya Javonte terlihat sedikit geram dengan putranya.


“Jika kau tidak ingin menjadi bagian dari keluarga Harrison, pergi saja sana” Ucap nyonya Harrison.


“Ampuni aku wahai ibunda, aku tidak akan melakukan kesalahan lagi”


Mari tinggalkan keluarga dramatis ini menuju keluarga Javonte yang terlihat tenang di pagi mereka.


“Efira, hari ini kau berangkat dengan Alex atau berangkat sendiri?” Tanya tuan Javonte.


“Berangkat sendiri ayah, Alex ada urusan katanya”


“Bawa sopir saja” Ucap tuan Javonte.


“Tapi, kenapa ayah?”


“Tidak ada tapi, memang seharusnya dari awal kau kan berangkat dan pulang dengan sopir. Kau saja memang yang bebal jika dibilangi”


Efira jadi cengar-cengir sendiri disana.


“Maafkan Efira, ayah. Hari ini Efira akan beramgkat dengan sopir”


“Pulang tepat waktu, kasian tubuhmu jika terus di forsir untuk bekerja” Sahut nyonya Javonte.


Efira mengangguk mengerti.


How a sweet home they are?


...***...


“Bunda, apa ayah ada di rumah?” Tanya Alex pada nyonya Javonte.


Entah apa yang akan dilakukan lelaki itu di rumah keluarga Javonte di pagi hari begini.


Saat ini, dia tidak sengaja bertemu dengan nyonya Javonte saat nyonya Javonte akan pergi ke butik Efira, sekedar melihat bagaimana keadaan disana.


“Ada, masuk saja. Ayahnya Efira di belakang, sedang mengurus taman sultannya” Ucap nyonya Javonte.


“Kau tidak ke kantor? Efira bilang kau ada urusan, kenapa tidak segera berangkat anak muda?” Ucap nyonya Javonte mengingatkan Alex.


“Urusanku di rumah ini” Jawab Alex, sukses membuat kening nyonya Javonte berkerut.


“Bunda mau kemana?” Lanjut Alex.


“Mau ke butiknya Efira”


“Apa tidak bisa ditunda sebentar saja? Aku ingin berbicara dengan bunda juga” Ujar Alex, menahan ibunda kekasihnya untuk pergi.


“Atau bunda bisa ke butik dulu, biar sepulangnya nanti aku akan bicara. Sembari menunggu, aku bisa membantu ayah di belakang”


Nyonya Javonte langsung putar balik membawa lengan kekasih putrinya.


“Pak, kita berangkatnya nanti saja ya” Ucap nyonya Javonte pada supirnya.


Sedangkan nyonya Javonte, terus membawa Alex sampai di ruang makan.


“Pergilah dulu ke belakang, aku akan menyusul sebentar lagi”


Alex mengangguk, melangkahkan kakinya ke taman belakang. Sedangkan nyonya Javonte pergi ke dapur, entah akan melakukan apa.


“Ayah?”


Alex menyapa tuan Javonte yang kini tengah membereskan tanamannya.


“Iya? Ada apa Alex?”


Pria paruh baya itu langsung berdiri, membersihkan tangannya dan menghampiri Alex.


“Aku ingin bicara” Jawab Alex.


“Duduk saja dulu”


Tuan Javonte berjalan menuju gazebo yang memang sudah ada disana, diikuti Alex.


Baru saja mendaratkan bokongnya, terlihat nyonya Javonte mendekati mereka sambil membawa nampan berisi camilan dan juga minuman.


“Dimakan dan diminum dulu” Ucap nyonya Javonte sembari meletakkan nampannya, ikut duduk bergabung bersama suami dan kekasih putrinya.


Tuan Javonte langsung meneguk setengah dari satu gelas orange juice itu, sedangkan Alex hanya “Nanti saja bunda”


“Baiklah, jadi apa yang ingin kau katakan?” Tanya nyonya Javonte.


“Jadi, begini”


Terlihat gugup, Alex menghembuskan nafasnya perlahan.


“Alex ingin melamar Efira besok, bertepatan dengan ulang tahun bunda”


What?


Tentu saja kedua orang paruh baya itu terkejut.


Kenapa mendadak sekali?


“Terdengar sedikit mendadak” Ucap tuan Javonte.


“Ayah, itu memang mendadak. Sebenarnya aku ingin mengikatnya juga karena situasi yang sepertinya mulai memanas, mereka sudah mulai mencariku. Aku khawatir jika nanti Efira yang akan menjadi sasaran mereka”


Tuan Javonte mengangguk, mengerti posisi Alex saat ini.


“Aku tidak masalah tapi, jika kau belum memikirkannya secara matang maka, aku tidak akan mengijinkanmu. Usia kalian masih terbilang sangat muda untuk menikah, meskipun aku mengatakan pada Efira bahwa semua terserah padanya tapi, aku tetap saja tidak ingin putriku tersakiti nantinya”


“Apa yang bisa meyakinkan aku dan juga bundanya jika kau memang pantas untuk menjadi menantu di keluarga kami?” Lanjut tuan Javonte.


“Aku akan meletakkan Efira diatas segala yang kupunya setelah kedua orang tuaku” Ucap Alex.


“Apa yang akan kau lakukan jika setelah pertunangan, musuhmu itu keluar dan mulai menyerang? Mengingat acara pertunangan ini dihadiri oleh banyak orang dan banyak kalangan” Ucap tuan Javonte.


“Aku pasti akan menjaga Efira secara langsung. Dia juga akan aku berikan beberapa bodyguard dan asisten pribadi untuk kehidupan sehari-harinya” Jawab Alex.


Pasalnya sejak semalam, Alex tidak bisa tidur karena memikirkan masalah ini.


Tuan Javonte mengangguk. “Lalu? Apa kau akan mengatakan yang sebenarnya kepada Efira?” Tanyanya.


“Aku tidak yakin jika Efira tau dia masih bisa menerimaku atau tidak” Jawab Alex.


“Kau tidak akan mengatakannya?” Ulang nyonya Javonte.


“Mungkin setelah waktunya tepat, masalah Julio juga belum bisa terpecahkan hingga hari ini” Balas Alex.


“Aku juga ingin minta maaf karena meminta Efira disaat begini, maksudnya disaat keluarga kalian pun sedang ada masalah yang belum usai” Lanjut lelaki muda itu.


“Tidak apa. Aku juga ingin bertanya, bagaimana mungkin identitasmu mulai diketahui oleh mereka?” Tanya nyonya Javonte.


“Kasus polisi kemarin, aku menembaknya dengan pistol ilegal. Dia terluka saat itu, mungkin ada yang menyadari bahwa pelurunya yang ada di tangannya bukanlah peluru dari pistol biasa, dokter yang menangani kasus itu mengatakan bahwa itu adalah luka tusukan. Aku curiga dokter itu adalah bagian dari musuhku yang menyamar, bahkan polisi itu juga tidak mau angkat bicara, padahal jika mau polisi itu juga bisa menjebloskan aku ke penjara karena kepemilikan senjata ilegal”


“Hm, bagaimana kau bisa menggunakan senjata itu kepada orang awam hm?” Tanya tuan Javonte, biasanya Alex akan selalu bermain bersih tapi, kali ini terkesan brutal dan blak-blakan.


“Jika aku tidak menyerangnya maka, aku yang akan terserang. Polisi itu saja berani menodongkan tongkatnya di hadapanku saat dia baru masuk ke ruanganku, lalu dari CCTV yang terlihat di layar komputerku, dia juga berani menodongkan senjatanya setelah ber-drama memohon-mohon di kakiku. Terlalu naif dan munafik, jujur saja aku muak jadi aku mengakhiri permainan itu. Lagipula dia tidak begitu penting” Jawab Alex.


Pagi itu mereka menghabiskan waktu untuk berbincang, mulai dari masalah serius hingga masalah sepele. Sampai kira-kira pukul 10.00, Alex pamit dan pergi ke kantornya, melanjutkan rutinitasnya sebagai CEO Harrykiel Company.