You

You
Birthday Party



Efira sedang bersiap-siap, menggunakan dress berwarna orange dipadukan dengan sepatu senada. Tidak perlu mewah, mereka hanya akan pesta barbeque di halaman belakang rumah Alex.


Sedangkan Alex sendiri mengenakan kaos berwarna orange seperti Efira, satu set dengan celana jeans warna hitam. Sangat tampan.


“Aku memang tampan” Ucap Alex lalu turun ke halaman belakang rumahnya.


Disana sudah ada keluarganya, sekretaris pribadinya, Devan dan juga sekretaris kantornya, Cyntia.


Kue yang tadi dibuat Efira sudah bertengger manis di tengah-tengah meja, tidak lupa lilin angka 21 di tengah kuenya. Semua orang sudah menggunakan topi kerucut yang biasa digunakan di acara ulang tahum.


Alex mencari Efira, menolehkan kepalanya kesana dan kemari namun, batang hidung gadis itu belum juga ditemukan.


Sampai pada menit ke-?


Entah ke berapa, Efira dan keluarga bersama dua sekretaris Efira memasuki halaman. Alex terlihat begitu bahagia menatap sahabat perempuannya.


“Apa kalian janjian?” Tanya Cyntia menatap bosnya dan juga nona Efiranya.


Alex dan Efira bahkan baru sadar akan hal itu, mereka sedang menggunakan style code yang sama.


“Ah tidak. Mungkin hanya kebetulan” Jawab Alex tersenyum.


“Sepertinya kalian berjodoh” Ucap Devan.


Tidak peduli.


Alex hanya memandang Efira saat ini.


“Karena kalian sudah berada disini, jadi ayo kita mulai acaranya” Tutur tuan Harrison.


Acara dimulai dengan baik, mulai dari berdoa, tiup lilin, potong kue, hingga pesta utama, yaitu pesta barbeque dimulai.


Semua orang berkumpul mengelilingi meja besar yang disediakan Alex. Mereka memilih untuk lesehan, itu sangat menyenangkan, seolah mereka sedang piknik malam bersama.


“Kapan kalian akan menikah?” Tanya tuan Harrison.


“Siapa yang akan menikah dengan siapa?” Tanya Alex.


“Kau dan Efira. Aku yakin kalian saling menyukai. Cih, anak muda jaman sekarang. Suka gengsi mengakui perasaannya”


Telak sudah.


Bagaimana mungkin ayahnya dapat mengatakan hal semacam itu secara gamblang begitu? Pikiran Alex sudah melayang kemana-mana sekarang.


Efira sudah menahan malu setengah mati pula, wajahnya bahkan seperti habis direbus. Merah, sangat merah.


“Alex baru belajar cinta dari buku novel yang kemarin lusa Alex beli di mall” Jawab Alex seadanya.


“Apa barang berharga di kotak hitam itu juga milikmu? Ingin kau berikan untuk Efira?”


A-Apa?


Sesuatu berharga?


Di kotak hitam?


Itu kan?


Bagaimana ayah bisa tau? Batin Alex.


“Memangnya apa isinya om?” Tanya Efira santai, memakan daging sapi yang sudah di panggang.


“Isinya…”


“I-Itu tidak penting. Itu bukan untukmu, itu hanya simpanan barang-barang lamaku” Jawab Alex cepat sebelum ayahnya melanjutkan ucapannya.


“Apa kau menyimpan barang seperti itu untukmu sendiri?” Sarkas tuan Harrison.


Alex terus didesak, membuat lelaki itu kalap sendiri.


Efira dan yang lain hanya menatap ayah dan anak itu bergantian, tidak mengerti apa yang dimaksud dari pembicaraan keduanya.


Ucap seseorang dari arah pintu sana, dibelakangnya pun dia bersama dengan pasukannya.


Alex dan yang lain tentu saja menoleh, melihat siapakah tamu tak diundang yang berani masuk ke kediaman keluarga Harrison.


“Bella, Aul, Deva?” Efira berlari menuju gerombolan itu.


“Aku merindukan kalian” Efira merangkul ketiganya bergantian.


“Bohong” Jawab gadis yang bernama Bella?


“Jika kau merindukan kami, kau pasti mengabari kami tapi, apa Efira? Kau melupakan kami, bahkan sampai hari dimana kau diresmikan menjadi CEO Javonte's Group hingga hari ini kau sudah ulang tahun yang ke-21. Hello Efira, kau benar-benar jahat” Ini suara gadis yang bernama Aulia. Dalam ingatan Efira, Aulia memang yang paling cerewet diantara yang lainnya.


“Maafkan aku. Kali ini aku memang salah” Jawab Efira meringis pelan.


Sedangkan di lain tempat, “Hei bro, kau jahat sekali tidak mengabari kami” Ucap seorang lelaki yang Alex kenal bernama Samuel.


Samuel tidak sendirian, dia bersama Gio dan juga Nando. Mereka bertiga adalah teman dekat, bisa dibilang juga adalah sahabat Alex semasa SMA. Mereka bahkan menjadi most wanted sekolah saat itu.


“Aku lupa jika aku masih memiliki teman semacam kalian disini” Jawab Alex santai diiringi tawa menyenangkan di akhir kalimatnya.


“Kau memang jahat sejak dulu mas” Gio berulah seolah dirinya adalah seorang gadis yang telah disakiti oleh kekasihnya.


Eeeyuuuu. Nando, Alex, dan Samuel bergidik ngeri mendengar ucapan Gio yang seperti itu. Sungguh mengerikan.


“Sudah-sudah. Ayo langsung ikut bergabung” Ajak nyonya Harrison, ibunda Alex.


Kedua keluarga tersebut tentu tau siapa yang telah datang tanpa kabar itu, teman-teman Alex dan juga Efira semasa SMA. Jika diingat-ingat, mereka memang tidak pernah mengunjungi kediaman Harrison dan juga Javonte sejak Alex dan Efira merantau ke negeri orang.


Mereka dengan gembira bergambung bersama di acara tersebut.


Jika kalian mengira mengapa mereka tidak sungkan?


Mereka dulunya sudah sering berkumpul bersama keluarga Alex dan Efira.


“Kalian juga tidak pernah menyambangi kami selama Alex dan Efira tidak ada” Ucap nyonya Javonte.


“Hehehe” Ke-enam gadis dan bujang itu hanya tersenyum tanpa dosa.


“Jadi, apa kegiatan kalian selama 5 tahun terakhir?” Tanya tuan Harrison.


“Kuliah om, S1 saja kami baru lulus satu tahun yang lalu. Aulia sudah menjadi desainer sekarang, Bella menjadi chef, dan aku sendiri? Sudah akan menikah dengan sugar dosen idaman mahasiswi di kampus” Ucap Deva.


“Kau sudah akan menikah?” Tanya Gio.


“Tentu saja, jika kau ingin menyesal sudah tidak ada gunanya. Kau terlalu lambat untuk meminangku wahai anak muda” Jawab Deva.


Pasalnya, Deva dan Gio adalah sepasang kekasih dulunya, entah bagaimana mereka bisa menjadi mantan pada hari ini.


Semua orang tertawa melihat wajah Gio yang seketika menjadi muram.


“Gio sudah menjadi seorang dokter sekarang, apa kau yakin tidak ingin kembali?” Ucap Samuel.


“Hey, pak pengacara. Kau tidak bisa membuatku kembali bersamanya. Salahkan dia yang tidak mau berjuang dulunya” Ucap Deva menjawab perkataan Samuel.


“Aku sudah berjuang untukmu dan kau berjuang untuknya. Sungguh malang nasibku” Tutur Gio, menyahuti ucapan Deva sebelumnya.


“Baiklah-baiklah. Lalu Nando? Apa kau akan menikah seperti Deva?” Tanya tuan Javonte kepada Nando.


“Tidak om, aku sudah melanjutkan S2 di salah universitas disini” Jawab Nando.


“Otakmu masih kuat ternyata” Sahut Alex.


“Lebih kuat mana dengan otakmu? Apa kau tidak punya uban menyelesaikan 5 tahun S1 dan S2 secara langsung?” Ucap Nando.


“Tidak, Efira selalu ada bersamaku” Jawab Alex.


Semua orang disana tersenyum penuh arti atas jawaban yang diucapkan Alex.


Menyadari hal itu, Alex segera mengalihkan pembicaraan. Mengajak Efira bersamanya, “Efira, ayo ikut aku. Apa kau tidak ingin tukar kado?”