
Rival Side Story.
Namaku sebelumnya adalah Raven. Aku mengenal Shia sejak ia berusia 4 tahun. Aku selalu memperhatikannya dari kejauhan tanpa berani mendekat. Aku hanyalah seorang anak kecil yang tidak memiliki siapa-siapa lagi dan berjalan sendiri di kehidupan ini. Sementara Shia adalah sang matahari yang selalu bersinar terang mewarnai kehidupan di sekitarnya; ayahnya, ibunya, bahkan hatiku. Ia benar-benar berada di luar jangkauaku.
Di dalam darahku mengalir darah seorang penyihir. Aku masih mengingatnya, kedua orang tuaku dibunuh oleh masyarakat yang takut pada penyihir. Ibuku mencoba menyelamatkanku sebelum akhirnya mereka dibunuh. Aku masih bertanya-tanya, tak ada kejahatan yang ayah dan ibuku lakukan pada orang-orang di sekitar kerajaan. Tapi mengapa mereka harus disingkirkan dari kehidupan ini?
Pertemuan pertamaku dengan Shia terjadi saat umurku 5 tahun. Saat itu, aku berjalan sendirian di keramaian pasar dan kelaparan. Tiba-tiba, seorang gadis kecil menghampiriku. Gadis itu begitu cantik dan sangat manis, setidaknya itu adalah kesan pertama yang kudapat saat pertama kali bertemu dengannya.
“Kakak kenapa?” tanya gadis itu polos.
Aku tak menghiraukannya karena sejujurnya aku membenci setiap orang yang kutemui. Terutama atas apa yang telah mereka lakukan pada orang tuaku. Setiap orang terasa sama, mereka adalah orang-orang yang sangat kubenci. Suatu hari nanti, aku akan membalaskan semua yang telah mereka lakukan pada keluargaku.
“Kakak, ayo makan ini bersama,”ajak gadis itu sambil mengeluarkan roti dan apel dari dalam tasnya tanpa memperdulikan perilakuku sebelumnya.
Tanpa pikir panjang, aku menerima ajakannya dan memakan apel serta roti itu karena kelaparan. Gadis itu mengajakku berjalan ke sebuah danau yang luas jauh dari keramaian pasar. Kamipun menghabiskan waktu beberapa saat di sana. Gadis itu banyak menceritkan hal-hal yang menyenangkan dan menghiburkan, seolah-olah dia memberitahuku bahwa saat ini aku tidak boleh sendiri lagi.
“Kakak, aku mengantuk,” ujar gadis itu sambil tertidur di pangkuanku.
Aku melihat wajahnya yang begitu polos, terlihat cantik dan ceria. Seandainya kedua orang tuaku masih ada hingga saat ini, mungkin aku bisa bahagia seperti gadis ini dan tidak harus menjalani kesendirianku.
Tak lama kemudian, aku mendengar suara seorang laki-laki dan perempuan yang memanggil-manggil nama Shia. Mereka perlahan mendekatiku dan menemukan apa yang mereka cari.
“Oh, Shia, ternyata kamu disini,” ujar wanita itu sambil melihat Shia yang tertidur di pangkuanku.
“Maaf kalau anak kami telah merepotkan kamu, dia tertidur, lucu sekali ya,” lanjut laki-laki itu.
“Adik kecil, siapa nama kamu?” tanya wanita itu perlahan.
Aku tidak menjawab pertanyaan wanita itu.
“Wah, kamu pemalu ya. Ayo ikut ke rumah kami sebentar. Karena kamu sudah menemani Shia bermain hari ini, kamu harus ikut makan siang di rumah kami,” ajak wanita itu.
Awalnya aku menolak ajakan itu, namun akhirnya aku menerimanya. Shia digendong oleh wanita itu, aku memperhatikannya dan hal itu menarik perhatian laki-laki yang berdiri di belakangku.
“Kamu juga mau digendong ya?” tanya laki-laki itu lalu mulai menaikkanku ke atas punggungnya tanpa mendapat persetujuanku.
Aku merasa malu dan sekaligus senang, sudah lama aku tidak melakukan hal seperti ini bersama kedua orang tuaku. Sepanjang perjalanan, laki-laki itu banyak bercerita tentang putrinya yang periang. Aku merasa senang mendengar ceritanya dan ingin mengetahui lebih bnayak lagi tentang Shia.
Sesampainya di rumah mereka, Shia mulai terbangun dan mulai ceria kembali. Wanita itu membuat masakan yang sangat banyak dan enak. Kami makan bersama seperti sebuah keluarga yang bahagia.
“Oh, jadi nama kamu, Raven ya? Nama yang bagus,” ujar laki-laki itu saat mengetahui namaku dari Shia.
Aku masih merasa malu berada di sana, sehingga setiap kali ditanyai, aku hanya terdiam dan tertunduk malu. Shia lalu datang mendekatiku dan merangkulku.
“Ayah, sekarang Raven jadi teman Shia ya,”
“Ha.. ha..ha.. Iya, Shia sayang,”
“Sekarang Raven berteman dengan Shia ya,” pinta ibu Shia.
Sebagai jawaban atas jawaban iya, aku hanya menangguk perlahan dan mereka semuapun tersenyum lalu tertawa bersama.
“Kak Raven, cobain yang ini, enak loh. Ini makanan kesukaan Shia,” ujar Shia lalu menyuapiku makanan itu.
Rasanya benar-benar enak sekali. Tapi yang membuatnya benar-benar terasa enak adalah karena saat ini aku berada di sini dalam suasa yang seperti ini.
“Ini enak sekali,” ujarku perlahan.
“Kan? Ibu, Raven bilang makanan ibu enak,” ujar Shia lalu tersenyum dan kembali memelukku.
Menjelang sore, ayah Shia berniat mengantarku pulang. Namun, aku malah menangis dan memberitahukan mereka bahwa aku tak punya tujuan untuk kembali pulang. Mereka memintaku untuk menceritakan apa yang terjadi. Perlahan, akupun mulai bercerita sambil berlinangan air mata, bahkan aku menceritakan bahwa keluargaku adalah penyihir. Setelah mendengarkan ceritaku, mereka mengizinkanku tinggal disana dan memanggil mereka berdua dengan panggilan Ayah dan Ibu. Akupun senang mendengar ajakan mereka. Shia yang saat itu tak mengerti apa yang sedang kami bicarakan kemudian berjalan kearahku dan memberikan pelukan yang hangat.
Ayah Shia bekerja di kerajaan dan menduduki posisi yang penting disana, hal itulah yang membuat keluarga ini disegani dalam masyarakat, sedangkan ibu Shia adalah seorang perangkai bunga.
Setiap hari, aku selalu bermain bersama Shia. Ia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Namun, semakin lama bersamanya semakin membuatku menyukainya, suka yang berarti ingin menikah dengannya.
Setelah beberapa lama tinggal bersama mereka, aku akhirnya mengetahui bahwa ayah dan ibu Shia adalah seorang penyihir juga, namun aku tahu mereka bukanlah penyihir jahat. Aku juga mengetahui jika aku berhasil membuat Shia jatuh cinta padaku maka hidupku akan abadi namun tentunya hal itu dapat membahayakan kehidupan Shia.
Hari demi hari yang kulalui bersama Shia terasa begitu menyenangkan. Satu bulan kemudian aku memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuaku. Awalnya mereka tidak mengizinkannya namun karena aku bersikeras, mereka mengizinkanku.
“Raven yakin mau pergi sekarang?” tanya ibu Shia.
“Iya, ibu. Raven kangen rumah lama Raven dan ingin pulang,”
“Hem, ibu dan ayah tidak bisa memaksa kamu untuk tetap tinggal disini dan bermain bersama Shia. Tapi, kapanpun kamu ingin kembali ke sini, rumah ini selalu terbuka lebar untukmu. kamu sudah kami anggap seperti anak sendiri,” ujar ayah Shia.
Akupun memeluk mereka semua sebelum akhirnya melangkahkan kaki dari rumah yang terasa hangat dan nyaman itu. Shia melambaikan tangannya padaku hingga akhirnya tak terlihat lagi. Aku benar-benar akan merindukannya. Tapi, untuk saat ini ada hal lain yang harus kulakukan terlebih dahulu.
Walaupun aku sudah tidak berada di dekat Shia, aku selalu memperhatikannya dari kejauhan, aku tidak ingin mencuri hatinya dan membahayakan nyawanya, setidaknya itulah yang kupikirkan saat itu. Aku harus menjauhinya.
Setahun kemudian, aku mengetahui bahwa Ayah Shia dijebak di Kerajaan. Mereka yang menjebaknya mengincar posisi Ayah Shia. Mereka menuduh seolah-olah ia telah membunuh salah satu selir raja. Iapun diusir dari kerajaan. Ibu dan ayah Shia sangat bersedih, namun mereka tetap bersabar. Beberapa hari kemudian, beberapa orang dari kerajaan menghancurkan dagangan ibu Shia di pasar tepat di hadapan Shia. Aku yang melihat kejadian itu dari kejauhan merasa marah dan ingin membalaskan semuanya. Tapi apa daya, tak ada yang dapat kulakukan saat itu. Aku hanyalah bocah biasa yang tak memiliki apa-apa.
Beberapa hari berlalu, tak kulihat Shia ataupun ayah dan ibunya keluar rumah. Mereka tetap berada di dalam rumah sepanjang hari. Tak lama kemudian, aku mengetahui bahwa mereka telah berubah. Kebencian mereka kepada pihak Kerajaan benar-benar sudah tidak dapat dipendam lagi. Mereka sepenuhnya berubah menjadi penyihir jahat. Mereka mulai berusaha membangkitkan kekuatan yang ada dalam diri putrinya.
Setahun kemudian, aku melihat seorang anak laki-laki yang tersesat di sekitar rumah Shia yang mulai terlihat seperti rumah angker. Shia menemuinya dan sejak saat itu mereka menjadi dekat. Anak laki-laki itu sering mengajak Shia pergi bermain di tepi danau. Sebenarnya aku ingin menghentikan tindakannya saat itu, namun aku tak bisa menampakkan wajahku saat ini.
Wajahku terbakar ketika aku mencoba membuat ramuan sihir seperti yang pernah ayah dan ibuku buat. Dengan kondisiku yang seperti ini, tak mungkin aku muncul di hadapan Shia. Aku takut jika dengan kemunculanku yang tiba-tiba akan menakutinya dan membuatnya menangis. Aku tak ingin membuatnya takut ataupun benci padaku.
Aku tidak menyukai kelakuan anak laki-laki itu yang selalu mengajak Shia pergi bermain, sehingga kukirimkan secarik kertas untuk ayah dan ibu Shia, aku memberitahukan bahwa salah seorang anak dari ksatria istana selalu membawa Shia pergi di siang hari. Akhirnya, mereka marah dan segera mencari Shia sekalipun saat itu hujan turun sangat lebat.
Hari itu adalah hari terakhirku melihat Shia. Sejak saat itu, mereka mengurung Shia di dalam rumah dan entah apa yang mereka lakukan padanya. Sejenak, aku merasa menyesal telah melakukan hal itu, tapi bagiku hal itu lah yang terbaik untuk Shia. Shia tidak boleh terlalu sering bersama dengan anak laki-laki itu.
Ia berjalan perlahan ke luar rumah, aku mengikutinya sampai ia berhenti di tepian danau yang luas.
“Keluarlah,” perintah Shia yang ternyata menyadari keberadaanku.
Aku perlahan memberanikan diri keluar dan menemui Shia.
“Wajah kamu kenapa, Raven?” tanya Shia datar.
Tak kusangka ia masih mengenaliku setelah bertahun-tahun tak pernah melihatku dan ditambah lagi dengan luka yang ada di wajah ini.
“Hanya kecelakaan kecil saja,” jawabku.
Shia perlahan mengambil air danau, membacakan mantra, dan menyiramkan di wajahku, seketika itu juga luka bakar di wajahku hilang.
“Terima kasih, Shia. Kamu benar-benar hebat” ucapku.
Shia tak menghiraukanku dan hanya tetap mengarahkan pandangannya ke arah danau yang luas.
“Aku benci kehidupan ini, Raven. Aku benci ketika kamu tiba-tiba pergi begitu saja,” ujar Shia perlahan.
Aku merasa bersalah mendengar pernyataan Shia. Tapi aku pergi meninggalkannya juga untuk kebaikannya.
“Aku tahu selama ini kamu mengawasiku,” ujar Shia lagi.
Aku dan Shia akhirnya hanya terdiam kaku. Shia pergi begitu saja tanpa berkata apapun.
Setelah itu, aku mulai mendengar kabar tentang penyihir jahat yang selalu mengambil hati gadis-gadis di sekitar Kerajaan. Ia juga membunuh para petinggi kerajaan sebagai balasan atas perbuatan yang pernah mereka lakukan pada keluarga Shia.
Pihak kerajaan akhirnya berhasil menangkap orang tua Shia dan membunuhnya, namun mereka tak bisa mengalahkan Shia begitu saja, karena Shia abadi dan sangat kuat.
Aku menemui Shia tak lama setelah mendengar berita itu. Ia berdiri di tepi danau sambil di temani banyak kupu-kupu yang indah. Kupu-kupu itu tanpa takut berterbangan di sekitar Shia, beberapa ada yang hinggap di tubuhnya, dan yang lainnya hinggap di dedaunan dekat Shia. Beberapa daun dan kelopak bunga yang berguguran mengenai rambutnya yang panjang, tampak seperti hiasan yang begitu cantik. Melihat hal itu, aku merasa bahwa sebenarnya ia bukanlah orang yang jahat.
Aku mulai menanyainya beberapa pertanyaan dan dengan tenang ia selalu menjawab pertanyaanku. Aku berharap Shia dapat tersenyum lebih banyak seperti yang dulu, bukan seperti sekarang ini yang memandangku tanpa ekspresi. Ia benar-benar terlihat kosong. Entah mengapa aku sedikit kecewa dan merindukan Shia yang dulu.
Ia mulai menceritakan alasan ia melakukan itu semua, tapi entah mengapa mendengar cerita Shia yang berbeda dengan cerita orang-orang yang kudengar, membuatku berpikir ada sesuatu yang salah disana. Aku berpikir bahwa ada orang lain yang terlibat disana dan sengaja membuat keluarga Shia menjadi buruk, seperti yang pernah terjadi pada keluargaku dulu.
Hari berlalu dan terus berlalu, tak lama kemudian, aku mendengar kabar bahwa Shia telah dikalahkan. Awalnya, aku tak mempercayai berita itu. Akupun mencari Shia di rumahnya dan di setiap sisi danau, namun hanya hampa yang kudapat. Aku berjalan sambil menutupi wajahku di tengah-tengah pasar, berharap seseorang akan mulai membicarakan tentang penyihir Shia yang baru saja dikalahkan. Dan benar saja, orang-orang mulai membicarakannya. Namun, cara mereka mengalahkan Shia dengan licik, membuatku ingin balas dendam. Andai saja aku selalu berada di sisi Shia dan tak pernah meninggalkannya sendiri, pasti ada hal yang dapat kulakukan untuk menyelamatkannya.
Akupun mencari dimana mereka menyembunyikan jasad Shia. Setelah lama mencari informasi, aku menemukan jasadnya disembunyikan dalam peti di dasar danau. Akupun mengambil dan membawanya pulang. Aku mencari jalan untuk menghidupkan Shia kembali, namun tak kutemukan caranya. Aku terus berusaha melanjutkan hidupku dengan kekuatan sihir dan tetap mencari cara untuk menghidupkan Shia kembali.
Sepanjang hidupku terus kulakukan untuk membaca berbagai buku dan mantra sihir yang dapat digunakan untuk menghidupkan Shia kembali. Namun tak jua kutemukan caranya, di sisi lain aku menyadari bahwa dengan melakukan itu semua selama ini semakin menambah kemampuan sihirku. Aku semakin tertarik mempelajari sihir-sihir terlarang ataupun sihir gelap lainnya.
Entah sudah berapa tahun berlalu akhirnya aku menemukan cara menghidupkan Shia kembali. Aku mengetahui bahwa Wira juga masih hidup dan ia dapat kumanfaatkan untuk menghidupkan Shia kembali. Aku juga mengetahui tentang pertapa itu dan menggagalkan rencana Wira untuk menemui Shanvierra.
Aku mengirim Wira ke dimensi yang berbeda sehingga ia tidak bisa kembali pulang atau berada di dimensi yang ia inginkan. Akupun mulai menyusun rencana untuk membawa Shanvierra kembali ke masa lalu tanpa ada gangguan sedikitpun dari Wira.
Aku merubah diriku menjadi Shia dan berusaha muncul di hadapan Shanvierra. Sedikit gagal disaat pertama kali kucoba. Namun untuk yang kedua kalinya aku benar-benar berhasil membawanya kembali ke masa lalu.
Kuambil jantungnya dan segera kuberikan kepada Shia. Tak lama kemudian iapun tersadar namun sayangnya ia tak dapat mengendalikan kekuatannya yang sudah lama tertidur. Ia menghempaskan dan menghancurkan tubuhku dengan kekuatannya dan aku pikir, aku tidak akan terbangun lagi.
…
Terlahir sebagai Rival di kehidupan selanjutnya membuatku memiliki beberapa kekuatan sihir yang pernah ada dimasa lalu. Mungkin karena besarnya kekuatan sebelumnya yang pernah kumiliki sehingga ikut terbawa di kehidupan selanjutnya. Aku mulai mengingat semua kenangan masa lalu ketika umurku menginjak 18 tahun. Dengan begitu, aku harus segera menemukan Shia yang telah terlahir kembali dan mencegahnya kembali ke masa lalu. Aku yang pernah membawanya ke masa lalu maka aku pula yang harus mencegahnya kembali ke sana. Aku ingin mengubah masa lalu dan tetap menjalankan masa depan. Jika Shia yang telah terlahir berhasil kembali ke masa lalu, maka keberadaanku di dunia ini bagaikan lingkaran yang tanpa ujung. Aku akan mati lagi dan kemudian terlahir kembali.
Setiap kali kuingat kehidupan sebelumnya bersama Shia, aku menyadari ada kekosongan besar yang tercipta di hatiku. Aku benar-benar berharap dapat tetap hidup besamanya. Mencintai seseorang dari masa lalu dengan begitu besar tentunya akan menjadi cinta yang tak akan pernah terwujud.
Awalnya aku tak menyadari jika Shanvierra adalah Shia yang dulu pernah kubawa ke masa lalu. Sama sekali tak terpikirkan jika gadis yang selama ini kucari adalah orang yang dekat denganku; orang yang selama ini selalu menghabiskan waktu denganku di sekolah. Berkat kedatangannya saat itu untuk meminta pertolongan padaku, membuatku mengetahuinya. Aku begitu senang bisa bertemu lagi dengannya. Aku ingin menjalani kehidupan lurus ke depan dan melupakan masa lalu. Sebab, Shia hanya akan membunuhku kembali jika kami kembali ke masa lalu. Aku sudah terlahir kembali dan begitu juga dengan Shia, sehingga bisa kumulai segalanya dari awal, semuanya juga sudah berubah dan menjadi lebih baik.
Aku memeluk Shanvierra yang ada dihadapanku begitu aku mengetahui bahwa ia adalah gadis yang selama ini kucari. Aku harus menjaganya dan mencegahnya kembali ke masa lalu. Kuselidiki segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan Shanvierra. Ia sempat menyadari bahwa aku mengikutinya selama beberapa hari. Namun dengan kemampuan yang kumiliki, ia tak akan berhasil menemukanku. Aku hanya ingin memastikan bahwa ia baik-baik saja.
Aku membenci laki-laki yang bernama Geri. Ia selalu berada di dekat Shanvierra padahal aku tahu jika Shanvierra sebenarnya tidak menyukainya. Tak lama kemudian, aku menyadari bahwa Geri adalah Wira yang telah terlahir kembali. Saat itu kurasakan keberadaan Wira yang terasa aneh. Mungkin itu saat dimana Wira terbawa ke dimensi yang berbeda. Jika mereka berdua berada dengan jarak yang berdekatan, tentu akan membahayakan salah satu diantara mereka, dan sejak saat itu aku merasakannya. Jika Wira terlahir kembali sebagai Geri, hal itu menandakan bahwa ia juga terbunuh di masa lalu, pikirku. Akhirnya keabadiannya lenyap pula.
Aku mencari tahu dimana Shanvierra bekerja dan begitu bahagianya aku ketika mengetahui ternyata ia bekerja di salah satu perusahaan yang di kelola oleh ayahku. Aku meminta tolong kepada ayah untuk memasukanku di tempat kerja Shanvierra. Awalnya ia menolak namun akhirnya mengizinkanku. Tidak banyak orang disana yang mengetahui jika ayahku adalah pimpinan perusahaan itu, mungkin hanya orang dekat ayah saja yang mengetahui dan atasan Shanvierra yang telah memasukanku bekerja di sana.
Aku tahu hati Shanvierra telah membeku dengan hal yang bernama cinta, jadi kupikirkan berbagai cara untuk membuatnya menjadi pacarku. Akhirnya dengan usaha yang kulakukan dan hampir gagal, iapun menerima cintaku. Aku tahu jika pada awalnya ia tidak mencintaiku, aku hanya perlu sedikit berusaha untuk membuatnya benar-benar jatuh cinta padaku.
Setiap pagi kuperiksa laptop kerja milik Shanvierra yang telah kuinstal dengan aplikasi perekam yang dapat merekam berbagai aktivitasnya selama di berada kantor. Kuamati setiap aktivitasnya untuk mencegah kedatangan diriku dari masa lalu yang akan membawa Shanvierra pergi. Mungkin ini terdengar seperti tindak kriminal, namun apa yang kulakukan juga demi kebaikannya.
Sampai saat insiden penghapusan file oleh seorang pekerja kantor bernama Hendra yang tidak berkompeten itu setidaknya membuat aplikasi itu berguna untuk hal lain. Aku menunjukkan rekaman video saat Hendra menghapus file milik Shanvierra kepada atasan kami. Aku memintanya untuk memecat Hendra bagaimanapun caranya. Mungkin aku bukan orang yang adil dan hanya menggunakan kekuasaan ayahku untuk memecat orang seperti itu. Tapi aku benar-benar tidak ingin Shanvierra berada di dekat orang-orang seperti itu. Aku harus menjaganya di kehidupan saat ini karena aku telah gagal di kehidupan sebelumnya. Aku sempat bersyukur karena dapat mengingat kembali kenangan dari kehidupanku sebelumnya. Aku berpikir bahwa Tuhan memberikanku kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan yang pernah kulakukan.
Shanvierra akhirnya menyadari bahwa keberadaanku ikut terlibat dengan masa lalunya. Ia meminta penjelasan dan mengancam akan putus denganku jika aku tidak memberitahunya. Aku sedikit terbawa emosi apalagi dengan masalah yang sedang kuhadapi dengan ayahku soal perjodohanku dengan anak salah satu rekan bisnisnya.
Ayah mengancam atas dasar kesehatannya supaya aku menerima perjodohan itu. Tapi sungguh tak kuperdulikan. Ini bukan zaman dimana perjodohan dan pernikahan yang tidak berlandaskan cinta masih dianut. Seberapa banyak ayah mengancamku namun tak berarti apa-apa. Aku menolaknya karena aku hanya akan hidup bersama dengan gadis yang kucintai yaitu Shanvierra.
Shanvierra masih memandang dan meminta penjelasan dariku. Aku benar-benar kesal saat itu. Mengapa ia begitu keras kepala ingin mengetahu kisah masa lalunya yang suram. Tak kuperdulikan ancaman yang Shanvierra berikan sebab aku benar-benar tidak ingin ia mengetahui kejahatan dan kesedihannya di masa lalu. Aku memutuskannya dengan emosi yang masih ada dan pergi begitu saja.
“Rival jangan pergi,”
Aku terus mendengarkan kata-kata itu bahkan hingga Shanvierra tak terlihat lagi. Kata-kata itu terus saja bergeming di telingaku. Seakan sebelumnya pernah ada yang mengatakannya padaku selain Shanvierra.
Sepanjang malam kegelisahan menyelimuti hatiku. Aku benar-benar tak bermaksud memutuskan hubungan kami. Aku berencana meminta maaf padanya di keesokan hari. Namun entah mengapa malam ini aku begitu memikirkan Shanvierra.
Akhirnya aku menyadari mungkin malam ini adalah saat dimana diriku dimasa lalu membawa Shanvierra pergi. Aku bergegas pergi ke kostnya tanpa memperdulikan aturan yang ada di kost itu. Tak kutemukan keberadaannya di sana. Akupun berlari menuju danau angsa dan merasakan keberadaan Shanvierra mulai di hapus. Aku terus memanggil-manggil namanya berharap untuk dapat tetap mengingatnya hingga akhirnya tak sadarkan diri.
Saat tersadar aku telah berada di kamar tidurku, aku keluar dan melihat ayah sedang duduk di ruang tamu. Entah ada angin apa malam itu ayah mengunjungiku. Kuperhatikan foto angkatan semasa SMA dulu yang tersenyum di atas meja. Ada ruang kosong diantara dua siswi yang berdiri disana. Ruang kosong itu berada tepat di hadapanku. Kuperhatikan juga beberapa foto lain yang ada di kamarku. Ada sebuah foto yang hanya diambil memperlihatkan sebuah danau saja tanpa ada yang berfoto di dalamnya.
“Kenapa foto seperti ini kupajang?” ujarku sambil menyingkirkan foto itu dari atas meja dan membuangnya ke tong sampah.