You

You
Keluarga Johnson



“Kita harus mencari keberadaannya” Ucap tuan Javonte setelah sadar dari keheningan atas keterkejutannya.


“Yang artinya kita harus mencari keberadaan nyonya Johnson terlebih dahulu, bukan begitu?” Ucap Alex.


Tuan Javonte mengangguk. Saat ini nyonya Javonte sedang bersama Efira di kamarnya, syok dengan apa yang terjadi, wanita paruh baya itu mengalami drop pada tubuhnya.


“Dan kita tentu saja harus mencari langsung kesana, meminta izin kepada salah satu pihak disana dimana kita bisa melacak keberadaan nyonya Johnson di wilayah mereka” Sahut tuan Javonte lagi.


Alex diam, terlihat berfikir sejenak. Bukankah memang seharusnya begitu? Tapi, sepertinya itu akan memakan banyak waktu.


“Aku akan coba menghubungi rekan kerjaku saat kuliah, mungkin beliau bisa membantu kita. Perusahaannya juga bergerak di bidang IT, mungkin saja mereka bisa menemukan nyonya Johnson. Aku rasa itu akan lebih mudah daripada kita harus pergi kesana dan mencari tau sendiri, terdengar sedikit merepotkan untuk anda tuan Javonte” Ucap Alex.


Tuan Javonte merasa sangat terbantu dengan kehadiran Alex, meskipun sebenarnya Alex tidak boleh ikut campur dalam masalah keluarganya tapi, bukankah Alex sudah dianggap sebagai putranya sendiri sejak dulu?


“Bahasamu terlalu formal, sepertinya kau terbawa suasana tegang dan menganggap ini meeting dengan klienmu di perusahaan” Goda tuan Javonte.


Alex diam sebentar, menatap tuan Javonte lalu mereka tertawa bersama.


Benar juga ya.


“Aku akan menghubunginya nanti, jika disana sudah waktu luang untuk para pekerja” Ucap Alex. Tidak mungkin jika dirinya mengganggu mantan bosnya di jam begini, di AS ini masih malam.


“Terimakasih Alex, kau sepertinya banyak membantu kasus ini” Tuan Javonte menepuk pelan bahu lelaki di hadapannya dengan jantan.


Seperti tepukan seorang ayah kepada anaknya, seolah mengutarakan ‘Aku bangga padamu’.


What a good moment that is?


Mereka mengobrol sebentar, melupakan masalah itu sejenak.


Lalu terlihat Efira memunculkan wujudnya.


“Jadi, apa rencana kalian selanjutnya?” Tanya Efira, mendaratkan bokongnya di sofa dengan sopan.


“Aku akan menghubungi tuan Piton dan meminta bantuannya, menurutku akan lebih baik jika teknologi mulai bergerak sekarang. Menggunakan teknik manual akan sangat menyusahkan, bisa saja ketika kita meminta bantuan kepada pihak kepolisian New York, nyonya Johnson menyadarinya dan malah menyuap pihak bersangkutan seperti yang sudah terjadi” Ucap Alex, menjelaskan pada kekasihnya tentang rencana mereka kedepannya.


Efira sedikit menghembuskan nafasnya kasar, mengeluarkan beban di pundaknya bersama nafas yang ia keluarkan.


“Kenapa tidak mencari keluarga nyonya Johnson saja?” Tanya Efira.


“Tidak ada, keluarganya mati dalam pembunuhan berantai”


Glek


Efira menelan ludahnya kasar, dibunuh secara berantai?


“Nyonya Johnson bukan dari keluarga biasa, dia wanita ular, licik. Dia bermain sangat halus, dia juga memiliki banyak musuh di dunia bisnis karena telah membantu keluarga dan suaminya dalam menyuntik orang dalam di setiap perusahaan untuk mencuri data-data penting mereka”


“Hingga suatu hari, keluarga kandung nyonya Johnson mati di dalam rumah dalam keadaan tubuh yang penuh darah” Jelas tuan Johnson.


“Lalu, bagaimana kasusnya diselesaikan?”


Tuan Alex menunjukkan smirk-nya. “Memangnya apa pedulinya wanita itu dengan keluarganya? Dia tidak benar-benar berduka, menangis hanya di depan media dan tertawa di depan suaminya. Otaknya mungkin hanya berisi tentang harta” Ucapnya.


Wow


Sungguh tidak disangka bahwa dulunya dunia bisnis terkesan seperti sekelompok mafia sedang memperebutkan kedudukan mafia yang lain.


Efira sedikit lega karena dunia yang ia geluti sekarang tak se-rumit dulu. Lebih tepatnya tidak se-menyeramkan dulu.


“Itu artinya kesuksesan mereka dulunya karena kelicikan keduanya?” Tanya Alex, menerawang bagaimana mereka menjadi singanya dunia bisnis.


“Tapi, kenapa sekarang reputasi mereka menurun?” Ucap Alex lagi.


Efira dan Alex mengangguk paham.


“Ada kemungkinan bahwa data perusahaan Javonte’s Group pada masa itu berpindah ke tangan mereka bukan?” Ucap Alex, menarik kesimpulan dari cerita itu.


“Bisa jadi, apalagi sudah jelas sepertinya orang IT kita bekerja sama dengan nyonya Johnson dalam menyembunyikan kasus ini. Tidak menutup kemungkinan juga bahwa dia menyerahkan data-data milik anda ke perusahaan Johnson” Ucap Alex.


“Mari lupakan masalah itu, sudah lama terjadi juga” Sahut tuan Javonte.


“Ayo makan siang bersama. Alex setelah makan kau harus kembali ke perusahaanmu, aku tidak ingin kau membolos begini. Aku ingin menantu yang bertanggung jawab baik dalam pekerjaan maupun keluarga nantinya” Lanjut tuan Javonte.


Kalimat itu sukses membuat Alex dan Efira ssalah tingkah, saling memandang dan tersipu.


Manis sekali, seperti anak muda yang baru jatuh cinta.


...***...


Sesampainya di kantor, Alex segera memasuki ruangannya sedangkan Devan langsung masuk ke ruangan atasannya itu.


“Tuan, bisakah anda menjelaskan sebenarnya ada masalah apa anda dengan polisi tadi?” Tanya Devan.


Bukan berniat ingin tau tapi, polisi hingga datang ke perusahaan? Bahkan hingga berani sekali menodongkan senjata kepada CEO muda itu.


Darimana Devan mengetahuinya?


Rekaman CCTV yang ia lihat selama atasannya berada di dalam ruangan tadi.


“Masalah keluarga yang terjadi beberapa waktu lalu. Dia hanya sampah masyarakat”


Devan mengangguk paham, mengambil flashdisk yang diberikan Alex kepadanya.


“Data-data korupsi, pemalsuan laporan dan juga bukti hubungan gelap polisi tadi. Kau tau bukan apa yang harus kau lakukan?” Ucap Alex pada sekretaris pribadinya itu.


Devan menatap flashdisk putih itu sekilas, mengeluarkan smirknya lalu menatap Alex, mengangguk mengerti dengan tugasnya.


“Selesaikan segera, aku menunggu kabar baiknya sore ini” Ucap Alex.


“Bahkan kurang dari satu jam, pasti kita mendapat kabar baiknya. Permisi” Ucap Devan pamit.


Alex mengangguk, dia melanjutkan pekerjaannya dengan santai.


Hingga selang beberapa waktu, kurang lebih 30 menit sejak Devan keluar dari ruangannya, Cyntia masuk membawa ponselnya.


Tok


Tok


Tok


“Masuk” Ucap Alex dari dalam.


Ceklek


“Tuan Alex memerintahkan saya menunjukkan ini kepada anda” Ucap Cyntia, memberikan ponselnya kepada Alex.


Alex tentu saja menerimanya dengan senang hati, sudah dapat menebak tontonan apa yang menarik di dalam ponsel itu.


“Keluarlah” Pinta Alex kepada Cyntia.


Berita terbaru, seorang oknum kepala kepolisian dikeluarkan dari jabatannya secara paksa karena pemalsuan data dari kasus-kasus yang diselesaikan, terduga juga dikatakan sering menggelapkan uang kepolisian sejak 25 tahun yang lalu. Terduga dikabarkan digugat cerai istrinya karena kasus perselingkuhannya dengan salah satu sekretaris perusahaan yang dirahasiakan identitasnya.


Alex tersenyum kecil, melihat polisi yang tadi pagi mengangkat senjata di hadapannya, siang ini malah diseret oleh rekan-rekannya sendiri ke dalam sel penjara. Lelaki itu meletakkan ponselnya di meja, memainkan bulpoin di tangannya, persis seperti yang dilakukan tadi pagi “Sungguh memuaskan. Dia yang berani bermain-main dengan Alexander Harrison, akan berakhir seperti apa yang Alexander Harrison inginkan” Ucapnya.