
“Apa yang membawa pasangan ini kemari hm?” Tanya Gio. Lelaki itu baru saja selesai bersih diri setelah acara operasinya berjalan dengan lancar.
Niat hati ingin beristirahat sejenak, lelaki itu malah mendapat kabar dari asistennya bahwa dirinya memiliki janji dengan Alex dan juga Efira.
“Kami ingin bicara secara pribadi denganmu” Ucap Alex.
“Keluarlah, carikan aku makanan. Jangan masuk jika kau tidak aku mengijinkan” Ucap Gio pada asistennya.
Gadis itu mengerti, langsung keluar dari ruangan sang dokter. “Permisi” Begitu pamitnya.
“Jadi, ada apa? Terlihat seperti sangat penting ya” Ujar Gio, mendapati kedua temannya itu memasang wajah serius mereka.
“Aku ingin minta tolong” Ucap Efira, gadis itu mengeluarkan sebuah kertas dari tasnya dan memberikannya kepada Gio. Tentu saja Gio langsung membacanya sambil mendengarkan penjelasan dari Alex.
“Surat kematian seseorang karena sebuah kecelakaan mobil. Surat itu dibuat di rumah sakit ini sekitar 25 tahun yang lalu, dikeluarkan oleh dokter Zea. Sedangkan dokter Zea sudah meninggal 3 tahun yang lalu karena serangan jantung” Ucap Alex.
“Lalu?” Tanya Gio.
“Tolong carikan data tentang lelaki itu bersama dengan korban tabrakan yang lain” Ucap Efira to the point.
“25 tahun yang lalu ya? Hm, mungkin akan sedikit sulit untukku. Kalian boleh mencarinya dari sistem rumah sakit ini lewat komputerku” Ucap Gio, memberikan tempat untuk kedua temannya.
Tidak disangka, ternyata mereka mendapatkan informasi itu akan semudah ini. Definisi the power of orang dalam.
“Aku akan mencobanya” Ucap Alex, menempati singgasana temannya itu. Lelaki itu mulai memasuki sistem rumah sakit, mencari data 25 tahun yang lalu.
“Aku baru tau jika masalah seperti ini bisa terkuak setelah sekian lama” Gumam Gio, memperhatikan surat kematian itu terus menerus.
“Apa menurutmu dia adalah?” Ucap Gio pada kedua orang di hadapannya.
“Aku dan Alex memiliki pikiran yang sama denganmu” Jawab Efira, membenarkan isi kepala Gio.
Begini enaknya jika memiliki teman se-frekuensi. Belum dikatakan pun sudah saling mengerti.
“Apa orang tuamu tidak pernah mengatakannya sebelumnya?” Tanya Gio pada Efira.
“Tidak, aku bahkan menemukannya di gudang tempo hari” Jawab Efira.
Gio hanya mengangguk sebagai respon, masih bingung dengan teka-teki keluarga Javonte.
“Ketemu” Teriak Alex setelah sekian menit berada di depan layar komputer itu.
Gio dan Alex segera mendekat ke arah Alex.
“Apa yang kau dapatkan?”
“Menurut data ini, ada 3 orang yang datang sebagai pasien. Tuan Javonte, nona Javonte dan juga Tuan Johnson yang langsung meninggal di tempat saat kecelakaan” Jelas Alex.
“Apa tuan Johnson seorang diri?” Tanya Efira.
“Entahlah, boleh aku merentas CCTV rumah sakitmu dokter Gio?”Tanya Alex pada Gio.
Alex langsung mengambil laptopnya di tas kerjanya, mulai memasukkan kode-kode untuk merentas CCTV, melihat rekaman di depan ruang UGD pada tahun itu.
“Saat Tuan dan Nyonya Javonte masuk ke ruang UGD, diikuti tuan Johnson di belakangnya dan wanita itu sepertinya hanya mengalami luka ringan, dia terlihat di luar ruangan menunggu seperti menunggu tuan Johnson keluar?” Alex mulai menjelaskan apa yang ia lihat, meskipun Efira dan Gio melihat juga.
“Bisa kau zoom bagaimana wajah wanita itu?” Ucap Efira penasaran.
“Tidak bisa, wajahnya buram. Kita tidak bisa melihatnya dengan jelas” Ucap Alex.
“Kira-kira siapa itu tuan Johnson?” Gumam Efira.
“Pada data pasien tadi hanya tertulis tn. Johnson tanpa ada keterangan lain disana” Ucap Alex lagi.
“Anehnya, disini sama sekali tidak terlihat bayi yang dibawa masuk ke dalam sana. Bukankah seharusnya dia juga masuk ke ruang UGD?” Ucap Alex, mengamati dengan cermat keanehan apa yang terjadi disana.
“Maksudmu dia tidak ada?” Sahut Efira.
“Ya”
Alex terus melihat bahkan hingga tuan dan nyonya Javonte dibawa ke ruang rawat inap bersama bodyguard pribadi tuan Javonte.
“Itu paman Luis?” Tanya Efira melihat bodyguard ayahnya yang sudah lama tak ia temui.
“Iya, dia paman Luis. Sepertinya kita bisa bertanya kepadanya” Ucap Alex.
“Tidak bisa, dia akan mengatakannya kepada ayah dan ayah akan menghapus semua jejak 25 tahun yang lalu” Sahut Efira.
Gio hanya diam di tempatnya, hanya menjadi pendengar yang baik tanpa mengerti apa yang sedang dibicarakan teman-temannya.
“Baiklah, intinya adalah bisa menjadi sebuah kemungkinan bahwa surat kematian itu palsu” Ucap Alex mengambil kesimpulan.
“Kau tidak ingin melihat di CCTV ruang mayat?” Tanya Efira.
“Tidak, dari sini saja kita sudah tau bahwa bayi itu tidak dibawa kesana. Bahkan meskipun dia mati di tempat, UGD pasti menjadi tempat pelabuhannya terlebih dahulu” Jawab Alex.
“Gio, aku boleh mengambil soft file-nya?” Tanya Alex, lagi-lagi dengan sopan meminta ijin terlebih dahulu.
“Ambil saja jika merasa kalian membutuhkannya” Ucap Gio.
Lelaki itu hanya bisa membantu memberi ijin saja rupanya. Tidak bisa merentas apalagi mencari data yang sudah terjadi sekian lama tahun yang lalu.
“Untuk hari ini, ini saja sudah cukup. Terimakasih Gio” Ucap Alex.
“Semoga ini dapat menjadi sedikit titik terang kalian” Balas Gio. Hanya mampu berdoa yang terbaik untuk kedua temannya.
“Kami pamit dulu, sekali lagi terimakasih” Ucap Efira sekaligus pamit kepada Gio.
“Hati-hati di jalan” Balas Gio sambil tersenyum, melihat kedua temannya keluar dari ruangannya.