
Pilot itu menolehkan kepalanya
“Surprise!!!” Gumamnya.
“Sialan kau, Rolex” Ucap Alex mendapati musuhnya berada di kursi kemudi helikopternya.
Lelaki itu langsung mengeluarkan pistolnya, langsung menembak ke arah lelaki itu yang ternyata adalah musuhnya baik di dunia mafia maupun dunia bisnis.
Tidak kalah tangguhnya, Rolex juga mengeluarkan senjatanya.
Adu tembak terjadi di dalam helikopter pribadinya, entah apa saja yang sudah rusak disebabkan oleh perkelahian iku.
Dor
Tembakan seseorang bernama Rolex itu tepat mengenai lengan kanan Alex, dimana itu adalah tempat Alex mengendalikan pistolnya.
“ALEEX” Teriak Efira.
“Sh*t” Umpatnya saat melihat lengannya mulai melengeluarkan darah, dia sedikit lengah dengan dirinya sendiri untuk melindungi Efira.
Alex melihat Efira mulai berjalan ke arahnya, tentu saja hal itu cukup membuatnya sedikit panik.
“Tidak, jangan mendekat Efira. Tetaplah pada jarakmu, jangan khawatirkan aku” Ucap Alex, mencegah Efira untuk mendekatinya.
Efira langsung berhenti, menuruti permintaan Alex dengan sedikit memundurkan dirinya.
Sedangkan Rolex?
Smirknya terlihat begitu mengerikan, “Lihatlah pengantin baru kita, apa ini cukup sebegai kejutan bagi kalian? Bukankah hadiah pernikahan yang unik?” Tanyanya pada dua sejoli yang baru saja menikah di hadapannya.
Alex terlihat mengepalkan tangannya, marah dengan tuturan sang musuh.
“Sialan”
Bug
Bug
Bug
Tanpa memikirkan lukanya, Alex langsung menyerang Rolex.
Perseteruan kali ini terjadi tanpa adanya senjata, benar-benar tangan kosong.
“Mati kau, berani sekali kau menghancurkan pernikahanku”
Bug
Bug
Bug
Alex dengan sisa tenaganya terus menghajar Rolex tanpa ampun.
Rolex hanya diam saat itu tapi, memanfaatkan kelelahan Alex dia balik menyerang lebih brutal hingga Alex akhirnya jatuh pingsan.
Gadis itu akhirnya memilih untuk lari mendapati tatapan maut itu namun nihil, pintunya tidak bisa dibuka.
...***...
Sedangkan di luar, Bella and the geng sedang berusaha menyelamatkan keluarga kedua mempelai.
Alih-alih menyelamatkan diri sendiri, mereka malah sibuk berperang melawan musuh.
“Hih, aku gemas sekali dengan perutmu ini” Ucap Bella, menusukkan garpu tamu pada perut musuhnya.
Tidak butuh waktu lama, lelaki itu terkapar begitu saja, dengan gayanya yang ‘slay’ membuat siapapun pasti terkejut melihat hal itu.
Sedangkan Samuel sibuk menyelamatkan Aulia dan keluarga inti mempelai pada suatu ruangan, dimana akhirnya Aulia menemani mereka semua di dalam sana dalam keadaan terkunci. Siapapun tidak akan bisa memasukinya kecuali orang-orang tertentu, karena ruangan itu hanya bisa dibuka dengan sensor mata.
Deva?
Wanita itu sibuk dengan pisau dapur untuk menebas apapun di hadapannya.
“Ini tidak berdosa, dalam hukum apapun” Gumamnya.
Sedangkan Gio malah asik bermain dengan lawan-lawannya. Membiarkan lawannya menyerang hingga lelah, lalu membiarkan mereka malah menyerang satu sama lain dalam lengah.
Lelaki itu hanya bisa geleng-geleng kepala, “Apa mereka di bekerja tanpa proses perekrutan?” gumamnya melihat bagaimana bodohnya lawan-lawannya itu.
Lelaki itu pergi, membiarkan mereka sibuk sendiri.
Frans?
Biar begitu, Frans ini terlihat berani melawan, menggunakan pistol yang ia dapat dari merebut milik lawannya tadi sebagai senjata.
Sekali tembak saja dia sudah bisa langsung tepat sasaran, instingnya kuat.
Sedangkan di ruangan tempat keluarga Javonte dan keluarga Harrison berada, mereka terlihat bingung.
“Bukankah Aiken sudah tewas? Lalu ini siapa?” Tanya nyonya Javonte.
“Dunia mafia itu luas, Alex sudah melebarkan sayapnya di dunia hitam ini sejak kembali kemari, ditambah dengan identitasnya yang sudah diketahui di dunia mafia membuatnya lebih sering diserang. Sebenarnya, target musuh bukanlah Alex sendiri tapi, hal-hal paling berharga yang ada di sekitarnya dan hari ini adalah waktu yang tepat untuk itu” Jelas tuan Harrison.
“Wah, apa aku harus menghukumnya setelah terbebas?” Ucap nyonya Harrison, sedikit gemas juga dengan putranya.
“Bahkan jika kita keluar sekarang pun tidak ada masalah. Kemungkinannya hanya ada dua, Alex dan Efira sudah berhasil kabur atau Alex dan Efira malah berhasil tertangkap” Ucap tuan Harrison santai, lelaki paruh baya itu membuka pintu ruangan tersebut dengan santai, mengeluarkan dua buah pistol dan melemparkannya satu untuk tuan Javonte.
Akhirnya, mereka keluar untuk membantu menyerang musuh.
Samuel?
“Tetap jaga saja ibu-ibu itu, kami akan mengatasi ini dengan baik” Ucap tuan Harrison.
Perkelahian anak-anak muda dan dua pria paruh baya terlihat begitu sengit.
Tuan Harrison terlihat begitu lihai menggunakan pistol, bahkan mematahkan tulang-tulang lawannya dengan baik tapi, tuan Javonte tidak kalah hebat. Lelaki itu adalah sabuk hitam taekwondo terbaik se-Asia.