
“Ayo kita belanja di Jogger Kuta, membeli oleh-oleh disana?” Efira berucap dengan cepat, mengalihkan pembicaraan? Atau menghindari pertanyaan dari teman-temannya?
Intinya sama saja, menghindar dari apapun yang membahas keanehannya setelah mengambil gambar dengan Alex.
“Kita makan dulu, bukankah pria asing itu yang akan mentraktir?” Sela Alex.
“Namaku Frans. Hanya satu kata. Tolong diingat dengan baik” Balas Frans tidak terima.
“Terserah apa katamu” Sahut Alex.
Jika diingat-ingat, sejak pagi tadi mereka melewatkan makanan berat. Mereka hanya membeli camilan dan makanan ringan sejak tadi.
“Ya, itu terdengar baik” Jawab Elena, menyetujui ucapan dari sahabat Efira yang katanya menyebalkan.
Efira dan rombongan segera mencari tempat makan terdekat.
Bukan restoran atau tempat makan yang mewah. Itu hanya sebuah makanan pinggir jalan yang menyediakan sebuah menu khas Bali.
“Nasi Jinggo sama tum ayam 10 porsi. Ditambah sate lilit masing-masing tiga tusuk ya, uda” Ucap Alex pada sang penjual.
“Dimakan sini?” Tanya mas-mas penjual.
“Iya” Jawab Alex.
“Minumnya?”
“Guys, es the semua?” Tanya Alex kepada teman-temannya.
“Es jeruk” Jawab Efira.
Yang lain, ikut saja dengan Alex dan Efira.
“Es jeruk semua 10” Alex menjawab pertanyaan mas penjual setelah berunding dengan yang lainnya.
Mas-mas penjual mengangguk mengerti, memberikan senyum terbaik untuk pembelinya.
Tidak butuh waktu lama, sang penjual sepertinya dibantu oleh beberapa rekannya. Tergolong cekatan, karena saat itu kondisinya sedang ramai pembeli.
“Selamat menikmati” Ucap mas-mas yang mengantar pesanannya sembari meletakkan pesanan di meja Alex dan kawan-kawan.
“Apa ini?” Tanya Elena mengangkat batang serai yang diatasnya berisi gumpalan daging?
“Kau? Aish. Kenapa harus diangkat begitu?” Gio gemas sendiri, bukankah itu tidak sopan? Jangan lupakan ekspresi penasaran sekaligus menyebalkan dari Elena.
“Itu sate lilit. Ini adalah salah satu menu khas Bali. Jika kau biasa melihat sate Indonesia dengan potongan daging yang ditusuk. Maka, sate lilit berbeda. Daging dari sate lilit dihaluskan lalu dililitkan di batang serai seperti ini, kadang juga orang-orang menggunakan bambu untuk batangnya” Ucap Alex menjelaskan.
“Daging yang digunakan bervariasi. Ada ayam, sapi dan juga babi. Yang kau pegang itu adalah sate lilit dengan daging sapi” Ucap Gio, melanjutkan penjelasan dari Alex.
Elena hanya mengangguk, tanda bahwa dia mengerti.
Ternyata seperti itu.
“Kalian memang sangat pengertian” Ucap Aulia yang saat itu menjadi pemegang tahta muslim, seorang muslim sendiri diantara yang lain.
“Jadi, bagaimana Samuel?” Tutur Alex, melihat Samuel.
Merasa terpanggil, Samuel meminta penjelasan lewat tatapannya. Pasalnya, mulutnya sudah penuh dengan nasi.
“Apa kau siap mengubah kepercayaan untuk menghalalkan Aulia?” Ucap Alex gamblang.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Bug
Bug
Bug
Aulia memukul pelan punggung Samuel. Setelah dirasa lebih baik, gadis itu menyodorkan minuman untuk lelaki itu.
“Sudah sehati, sudah seamin, sayang sekali tidak seiman” Ucap Bella.
“Tragis” Balas Nando, semakin membakar suasana.
“Bilang pada Tuhanmu, boleh sa sayang ko nona?” Gio melantunkan salah satu lagu lokal yang menurutnya sangat mewakili perasaan Aulia dan Samuel, parahnya adalah lelaki itu menggunakan sate lilit sebagai microphone-nya.
“Aulia, memangnya kau mau denganku?” Tanya Samuel.
“Tidak” Jawab Aulia singkat namun, wajah merahnya itu mana bisa berbohong?
“Nanti saja membahas Aulia dan Samuel. Aku lapar” Ucap Gio, mulai mengeksekusi nasi jinggo di hadapannya.
Saat itu semuanya sudah menikmati makanan mereka masing-masing tapi, berbeda dengan Frans yang malah melihat nasi di depannya. Melihat hal itu Alex langsung membuka suaranya.
“Kalau itu, namanya nasi jinggo. Nasi yang mirip dengan nasi kucing disini. Nasinya memang sekepalan tangan orang dewasa begitu, wajar jika nanti kau atau Elena malah kurang. Lihat saja, detail ayam suwir, mie goreng dan tempe goreng memang terlihat sederhana namun, yang istimewa dari makanan ini adalah sambalnya yang super pedas” Jelas Alex.
Sebagai warga lokal, kita memang perlu mengenalkan budaya dan ciri khasnya setiap daerah yang dikunjungi warga negara asing.
Kenapa?
Ini berarti kita mengenalkan negara kita kepada dunia lewat hal-hal sederhana.
“Kalau ini?” Elena menunjuk bungkusan daun pisang yang sudah terbuka.
“Namanya adalah tum ayam, terbuat dari campuran daging ayam, aneka bumbu rahasia dan juga santan. Nah, semuanya dicampur lalu dikukus kurang lebih 20-30 menit dan jadilah tum ayam” Kali ini Deva yang menjelaskan hal itu dengan singkat kepada Elena, diakhiri dengan satu suapan tum ayam di mulutnya.
“Baiklah, selamat makan. Tidak baik terlalu banyak bicara di depan makanan” Sahut Aulia.
Mereka pun makan dengan tenang, pemandangan pantai menjadi sajian terbaik untuk pengunjung. Wisatawan sudah banyak yang kembali ke tempat mereka namun, tak sedikit pula yang masih disana, menikmati angin pantai di malam hari.
“Shhh, iniiih memangh peh dash” Frans mendesis di tengah aktivitas minumnya.
Mereka hanya tertawa, karena memang tidak ada yang terlihat baik-baik saja setelah menyantap makanan ini.
“Frans, selesaikan administrasi bersamaku” Ucap Alex kepada Frans.
Alex tidak sejahat yang dikira, lelaki itu membantu Frans menyelesaikan separuh administrasi makanan tersebut.
Mengapa hanya separuh? Bukankah Alex adalah anak tunggal keluarga Harrison?
Mengajarkan Frans tentang rasa tanggung jawab?
Setelah menyelesaikan administrasi, mereka melanjutkan perjalanan ke Jogger Kuta. Membeli beberapa oleh-oleh dan aksesoris.
“Kenapa Jogger? Aku lihat banyak sekali pusat oleh-oleh. Kenapa tidak mampir saja kesana?” Frans membuka suara di tengah perjalanan.
“Hanya di Jogger yang oleh-oleh khasnya tidak ada di seluruh Indonesia bahkan dunia. Produk Jogger pun hanya dapat dibeli di Jogger outlet, kau tidak bisa membelinya dimanapun” Ucap Alex, sesaat sebelum akhirnya dia memasuki Jogger outlet.
Mereka memilih barang apapun yang mereka inginkan hingga malam menyapa. Setelah puas berbelanja, mereka ber-sepuluh memutuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat untuk menyambut esok harinya.