
“Hoaaam” Efira menguap, bingung karena gerakannya sedikit terhambat, perutnya terasa sedikit berat?
Efira segera melihat perutnya, sebuah tangan kekar tengah melingkar di perut ratanya.
“Yak”
PLAK
Beri tepuk tangan karena ini sudah kesekian kalinya Efira menampar lengan Alex.
Alex yang saat itu tengah berkeliaran di alam mimpi seketika langsung terbangun, terkejut dengan sesuatu yang dilakukan kekasihnya.
“Kenapa?” Tanya Alex bingung, nyawanya belum kembali sepenuhnya.
“Kau, kenapa disini? K-kenapa tidur disini?” Ucap Efira, sesekali membelalakkan matanya, tanda bahwa dia sedang dilanda amarah.
“Aku?” Alex menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dia memang tidur di kamar Efira bukan? Lalu apa yang salah?
Lelaki itu langsung menoleh kepada kekasihnya. Melayangkan tatapan elangnya. Pasti gadisnya itu lupa.
Sedangkan Efira masih terus menatap Alex horor. Tidak peduli, lelaki itu langsung tidur lagi, memeluk guling yang tadinya berada di belakangnya.
“ALEX, BAGAIMANA KAU BISA DISINI HA?” Teriak Efira.
Lagi-lagi Alex hanya bergeming tidak jelas. Biar saja kekasihnya iyu meneriaki dirinya sekeras apapun, karena pada akhirnya Alex tidak akan kalah.
Merasa tidak dihiraukan, Efira langsung memukuli Alex dengan guling lainnya. Biar saja kamarnya berantakan.
“ALEEEEX”
“Hey, bangun!”
“Pergi dari kamarku”
Kira-kira seperti itu teriakan seorang Efira di pagi hari ini.
Oke, Alex tidak tahan. Dia langsung bangun dan menarik guling yang menjadi senjata gadisnya, membuat Efira langsung terjatuh di kasur, tepat di samping Alex.
“Kau benar-benar cerewet pagi ini” Ucap Alex lalu berdiri, bersiap meninggalkan kamar Efira.
Namun, sebelum menyentuh gagang pintu, lelaki itu menatap Efira sebentar.
“Coba kau ingat apa yang sudah terjadi semalam” Ucap Alex lalu pergi meninggalkan gadisnya yang tengah termenung.
Efira terdiam mematung, memangnya apa yang terjadi semalam.
Dep
Lampu tiba-tiba padam, Efira langsung terbangun dan bingung. Dia gadis yang takut dengan kegelapan.
Gadis itu mencari ponselnya di nakas, lupa jika dirinya sampai di kamar saja entah bagaimana.
Bingung.
Sekarang dia mencari keberadaan tasnya. Dia butuh pencahayaan secepatnya hingga Alex datang dan membujuknya untuk menaiki ranjang.
Pipinya memerah saat mengingat hal itu, ada perasaan malu yang merasukinya.
Efira jadi merasa bersalah sudah menjadi singa betina seperti yang biasa dikatakan Alex biasanya. Pasti Alex sekarang sedang bersiap untuk bekerja sambil terus menggerutu atas tindakannya.
...***...
Terlihat Alex saat ini sedang menumis beberapa bahan makanan. Katanya dia ingin memasak nasi goreng saja hari ini. Sebuah menu sarapan yang menurutnya simpel namun, cukup mengenyangkan.
Bi Inah? Tentu saja diusir dari dapur oleh Alex, tidak jauh berbeda dengan Efira, lelaki itu mengklaim bahwa pagi itu dapur adalah wilayah kekuasaannya.
Beberapa campuran sosis, ayam suwir, sayur-sayuran dan juga telur sedang ditumis bersama nasi serta bumbu andalan Alex.
Coba katakan, dimana letak ketidak sempurnaannya?
“Meskipun kau garang seperti singa betina tapi, aku tetap menyayangimu sampai sebegininya” Gumam Alex sembari terus menggoreskan spatula pada wajan yang sudah berisi makanan itu.
Tidak butuh waktu lama, hanya 10 menit hingga akhirnya dia sudah siap dengan sarapannya. Lalu, dia menuangkan susu hangat ke dalam sebuah gelas dan membawa semua itu pada nampan untuk dibawa ke kamar kekasihnya.
Tok
Tok
Tok
Tidak ada jawaban
Tok
Tok
Tok
Sekali lagi, Alex mengetuk pintu kamar Efira namun, tidak ada jawaban dari sang pemilik ruangan.
Apa dia sedang mandi? Pikir Alex.
Lelaki itu mencoba membuka kamar gadisnya.
Ceklek
Eh, terbuka? Tidak dikunci?
Ternyata gadisnya itu malah ada di kasurnya sambil menutup wajah ayunya yang terlihat sedikit memerah?
“Kau sudah ingat?” Tanya Alex yang sukses membuat kekasihnya terlonjak kaget.
Lelaki itu hanya tersenyum lalu membawa nampan yang dibawanya mendekat pada Efira, meletakkannya di nakas dan duduk di samping gadisnya.
“Makan ini dan jangan sisakan satu nasipun lalu segeralah bersiap, berangkat bersamaku” Ucap Alex, mengelus pelan surai hitam Efira sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan kekasihnya sendirian. Bukankah dirinya juga harus bersiap untuk bekerja?
“Terimakasih” Ucap Efira.