You

You
Pantai Kuta



“ELENAAAAAA” Pagi-pagi sekali, Efira sudah kebakaran jenggot karena temannya yang satu itu tak kunjung bangun. Sedangkan dirinya dan juga Frans sudah siap untuk berangkat ke bandara.


“Jika kau tidak bangun, aku pastikan kau akan disini sendirian” Ucap Frans, lelaki itu menarik selimut Elena begitu saja. Tidak lupa beserta guling dan juga bantalnya.


Memang terlihat sangat kasar namun, hal itu mampu membuat Elena bangun.


“Kalian mengganggu tidurku” Ucap Elena.


Tidak perlu menunggu waktu yang lama, Frans langsung menggendong Elena ala bridal style, diikuti Efira yang membawa koper milik Elena.


Pasalnya, mereka sudah melewati jam perjanjian dengan teman-teman Efira yang lain.


“Ah, tubuhmu tidak sedap sekali aromanya” Frans mengeluh sesaat setelah menurunkan Elena di kursi penumpang.


“Salahmu sendiri yang membawaku dalam keadaan begini” Jawab Elena menatap Frans yang duduk di sampingnya.


Brak


Itu suara pintu mobil di tutup, Efira baru selesai meletakkan koper-koper bawaan mereka di bagasi. Gadis itu duduk di depan, di samping kursi kemudi.


“Jalan pak, ke bandara” Ucap Efira pada supirnya.


...***...


“Apa kau tidak bisa lebih cepat? Jalanmu seperti anak siput ” Alex sudah berada di Bali sejak tadi malam. Setelah puas beristirahat di hotel, pagi-pagi sekali dia sudah berada di bandara Ngurah Rai. Katanya menunggu Efira.


“Tuan, jika anda ingi berlari, silahkan berlari. Saya akan berjalan santai saja. Lagipula, nona Efira belum berangkat dari ibu kota” Jawab Devan.


“Jangan sok tau” Ucap Alex, menatap sekretarisnya itu.


“Saya bahkan tau jika nona Efira masih dalam perjalanan menuju bandara saat ini”


“Kau pikir, kau cenayang?”


“Tidak, saya tau semua yang berhubungan dengan anda, karena saya ditugaskan menjaga anda selama 24/7”


“Kau terdengar seperti penyuka sesama jenis” Ucap Alex, berlalu meninggalkan sekretarisnya itu.


...***...


Bandara Ngurah Rai 09.00 am


“Hello Bali” Elena merentangkan tangannya menyambut udara Bali. Tidak peduli dengan penampilan bangun tidurnya.


Mereka semua (Efira, Elena, Frans, Gio, Nando, Samuel, Aulia, Deva, dan juga Bella) langsung melanjutkan perjalanan ke Pantai Kuta. Sebelum itu, mereka check in dulu di hotel terdekat, sebelum akhirnya mereka bersiap pergi menuju tempat tujuan.


Tidak lupa, Alex dan Devan yang sudah membuntuti Efira dan kawan-kawannya sejak tadi. Beruntung sekali mata Alex tajam, setajam Elang. Sesaat setelah Efira memasuki taxi, Alex langsung menyeret Devan menyusul sahabat wanitanya itu.


Tidak salah lagi, Efira check in di hotel yang sama dengannya. Itu bagus. Jadi, Alex dapat lebih mudah memantau sahabatnya itu.


“What the f*ck?” Umpat Alex. Lelaki itu jelas tidak terima dengan pakaian yang Efira gunakan.


Gadis itu baru saja keluar dari kamarnya, dan Alex melihat hal itu. ingin rasanya lelaki itu menendang Efira kembali masuk ke kamar.


Blazer bunga-bunga berwarna putih sepaha yang sialnya Alex bahkan dapat melihat bikini berwarna dusty pink di balik blazer itu. Alex sangat yakin jika nanti saat sudah tiba di pantai, Efira hanya akan menggunakan bikini haram itu. Setidaknya jangan gunakan pakaian kekurangan bahan itu.


Ah percuma saja mengomel sendirian, Efira juga idak mendengar Alex.


“Tuan, nona Efira terlihat sangat manis” Bisik Devan. Hal itu membuat Alex langsung naik darah.


“Apa matamu belum pernah dicongkel?” Alex segera berjalan mendekati Efira, tidak tahan dengan gadis itu.


Sedangkan Devan terkekeh dengan jawaban yang ia dapat. Lelaki itu sukses membuat tuannya murka.


“Hey nona”


Efira menolehkan kepalanya, mendapati seorang lelaki ber-setelan casual.


Celana pendek dan kemeja lengan pendek berwarna cream dengan motif daun, tidak lupa semua kancing kemeja yang tidak terkunci, mempertontonkan kaos putih polos yang digunakan.


“A-Alex?”


“Kembali ke kamarmu dan ganti baju, atau aku sendiri yang akan menendangmu ke dalam?” Ucap Alex dingin.


Apa-apaan itu? Sekalinya datang, malah mengacaukan suasana hati Efira. Pikir gadis itu.


“Bagus, kau memilih pilihan kedua” Alex langsung mengangkat Efira, menggendong gadis itu di pundaknya, seperti membawa karung beras.


“Password-nya?” Tanya Alex setelah sampai di depan pintu kamar Efira.


“Luak wh*te coffe”


“Kau pikir itu lucu? Kau tidak sedang promosi iklan”


“Aku tidak melucu, Alex”


“Bagus, katakan dengan benar password-nya atau kau akan menyesal”


“Aku tidak akan menyesal”


“Baiklah jika itu maumu”


Alex langsung mencari kunci kamar Efira di tasnya, sialnya lagi adalah tas Efira tepat berada di bawah pahanya.


“AAAA 1257, password-nya 1257”


Alex hanya menyeringai, menekan dial password kamar hotel itu.


BRAK


Tubuh Efira di banting begitu saja di kasur.


“Cepat ganti atau kau akan di tinggal oleh yang lainnya” Ucap Alex.


Efira benar-benar dibuat geram dengan sikap Alex. Ganti?


“Ah, ini sudah sangat pas untukku” Efira menyayangkan baju pantainya tidak dapat digunakan dengan baik.


Akhirnya gadis itu mencari baju pantai yang lain. Beruntung sekali dia membawa beberapa baju pantai. Jika tidak? Apa dirinya akan berjalan-jalan di pinggir pantai menggunakan piyama?


...***...


Pantai Kuta adalah jantungnya pariwisata pulau Bali, hamparan garis pantainya sangat landai. Bibir pantainya juga sangat luas dengan pasir putih sebagai selimutnya.


“Ini indah. Sangat indah. Efira, aku bisa melihat pantai ini hanya di internet dan sekarang kau mewujudkannya di depan mataku. Merasakan tekstur pasirnya yang halus. Woah!” Elena berlarian kesana dan kemari saking senangnya.


Bersama dengan teman-temannya yang lain, Efira hanya tersenyum simpul, membawa teman-temannya berlibur begini, bukanlah hal yang buruk.


“Hei kalian para lelaki, apa kalian tidak ingin berselancar? Lihat! Gelombang ombaknya besar, sangat cocok untuk berselancar” Tanya Efira pada teman-temannya.


“Hei Frans, jangan sungkan dengan mereka. Meskipun wajahnya sangar, mereka semua kocak” Ucap Efira pada Frans yang terlihat canggung? Atau kurang bisa berbaur?


“Kau tidak menawarkanku?” Tanya Alex tiba-tiba. Belum juga Frans menjawab apa yang dikatakan Efira. Bukankah itu tidak sopan?


“Tidak, lakukan apapun yang kau mau” Jawab Efira cepat, rupanya gadis itu masih kesal dengan Alex.


“Baiklah, Frans. Bagaimana jika kita bertanding selancar?” Tawar Alex.


“Woah,lihatlah ada yang menantangku” Jawab Frans.


“Kau begitu kentara jika cemburu tuan muda Harrison” Samuel meledek teman sekolahnya itu dengan nada khasnya.


“Efira, apa kau sedang diperebutkan oleh dua lelaki tampan ini?” Ucap Aulia.


Terlihat jelas dari sorot mata Alex dan Frans yang saling menantang. Sedangkan Efira hanya mengedikkan bahunya.


“Aku mencium aroma-aroma drama cinta segitiga disini” Sahut Gio.


Memang diantara yang lain, lelaki ini begitu memiliki jiwa julid yang sangat kuat rupanya.


Alex sama sekali tidak menggubris apa yang dikatakan teman-temannya. Hanya terus menatap Frans tajam, “Siapa yang menyerah terlebih dahulu, silahkan mentraktir kita semua makan nanti malam” Ucapnya.


“Hmm, boleh saja” Jawab Frans.


Mereka pun berjalan menuju tempat penyewaan papan selancar, lalu langsung melakukan aksi mereka diantara gelombang-gelombang di tengah pantai sana.