You

You
CCTV



“Tuan Johnson dan nyonya Johnson, saat kecelakaan tersebut umur pernikahan mereka sudah 2 tahun. Mereka tidak dikaruniai seorang anak pun dari pernikahan itu. Tuan Johnson meninggal di tempat saat kecelakaan, sedangkan nyonya Johnson hanya mengalami luka ringan” Ucap Alex, menjelaskan penemuannya tentang keluarga Johnson pada Efira.


Saat ini, mereka sedang berada di ruang kerja Alex. Setelah jam makan malam tadi, Efira dihubungi Alex untuk menemuinya. Berkedok ingin main game bersama Alex, gadis itu diizinkan pergi oleh tuan dan nyonya Javonte.


“Lalu?” Tanya Efira.


“Tuan Johnson dimakamkan di pemakaman umum terdekat. Dia memiliki satu perusahaan yang mungkin sekarang sudah diurus oleh orang lain”


“Dimana istrinya sekarang?” Tanya Efira lagi.


“Dia pindah, sepertinya dirinya merasa trauma dengan kecelakaan yang merenggut suaminya. Menurut data dari bandara, pelabuhan dan juga kereta yang kurentas, nyonya Johnson pindah ke luar negeri. Aku tidak menyangka dia bisa pergi ke luar negeri bahkan belum satu hari setelah suaminya dimakamkan, aku pikir dia akan kembali ke rumah orang tuanya ternyata salah besar. New York adalah tujuannya dan setelah itu entah dimana keberadaannya” Ucap Alex.


“Dia juga menyembunyikan diri, tidak ada satupun gambar yang menunjukkan wajahnya. Atau tuan Johnson sengaja menyembunyikan istrinya dari publik?” Lanjut lelaki itu.


“Tidak menutup kemungkinan juga bahwa nyonya Johnson sendiri yang sengaja menutup diri karena kehidupannya tidak ingin disorot publik, mengingat tuan Johnson adalah seseorang yang cukup berpengaruh di dunia bisnis pada masanya” Ucap Efira menanggapi.


Alex mengangguk, menyetujui ucapan sahabatnya.


“Kecelakaan itu terjadi di dekat restoran yang saat ini sudah berpindah tangan pada kepemilikan Bella tapi, dulunya itu adalah restoran yang dikelola oleh orang lain”


Alex kembali mengetikkan sesuatu di komputernya, jarinya menari-nari begitu lihai di keyboardnya.


“Ini CCTV yang berhasil kurentas” Alex menunjukkan sebuah rekaman pada jalanan lokasi kecelakaan itu.


Efira melihatnya dengan seksama, awalnya jalanan tersebut terlihat senggang seperti biasa namun, tiba-tiba ada sebuah mobil dari arah berlawanan melewati jalurnya. “Itu mobil keluargamu” Lirih Alex.


Dan disitulah keluarga Johnson dan keluarga Javonte mengalami kecelakaan tragis, mengingat kedua mobil tersebut berada dalam kecepatan tinggi.


Efira memejamkan matanya, tidak mampu melihat bagaimana hancurnya kendaraan keduanya.


“Lihat, ada seorang anak yang keluar dari mobil keluarga Javonte. Itu dia, bayi yang kita cari-cari” Ucap Alex, menunjuk seorang bayi yang keluar dari mobil keluarga Javonte di layar monitor tersebut.


“Dia selamat? Kemana arahnya dia berjalan?” Tanya Efira, melihat dengan seksama anak itu lalu dia hilang tidak terekam CCTV lagi.


Alex dan Efira saling pandang, berinteraksi dengan batin masing-masing.


“Apa itu artinya dia selamat?” Tanya Efira pada Alex.


Alex mengangguk, mengiyakan ucapan kekasihnya.


“Kita hanya perlu ke kantor polisi besok” Ucap Alex final.


“Sekarang, kau hanya perlu istirahat, atau mau main dulu?” Lanjut Alex.


Efira mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan maksud Alex dengan kata ‘main’?


“Main PS atau yang lain sayang” Ucap Alex, seolah dapat membaca pikiran gadisnya.


Tapi, Alex kembali berfirik. Bukankah akan lebih baik menjahili gadisnya ini? lihat wajah polosnya itu, benar-benar mengundang Alex yang jahil.


Lelaki itu mendekati kekasihnya, membisikkan sesuatu di telinga gadis itu “Atau kau ingin bermain yang lain? yang mungkin bisa mengusir sebentar masalahmu, yang lebih panas dan lebih,-”


Okey, bahkan Alex belum menyelesaikan ucapannya tapi, lengannya selalu menjadi sasaran seorang Efira.


“Aw, menggairahkan”


Alex adalah Alex, meskipun mukutnya itu mengadu dan menjauhkan dirinya, mengelus lengannya pelan. Lelaki itu tetap menyelesaikan kalimatnya.


“Apa di otakmu itu hanya ada pemikiran gila itu?” Tanya Efira kesal.


“Hey sayang, kau yang membuatku ambigu. Awalnya aku hanya ingin meredakan pikiranmu dengan sedikit bermain PS dengan taruhan makanan seperti biasa tapi, sepertinya otakmu itu memikirkan hal yang lain. Lalu apa aku salah?” Ucap Alex panjang lebar.


“Kau mengatakan dengan ‘main’? Coba jika kau mengatakan dalam kosakata yang lebih jelas, lagipula otakku tidak memikirkan hal kotor itu” Jawab Efira.


“Lalu?”


“Hanya berpikir ‘main’ apa yang kau maksud” Jawab Efira. Lagi-lagi nadanya terdengar kesal.


“Permainan ranj*ng bukan? Sudahlah, tidak perlu munafik sayang. Aku bisa saja mengabulkannya untukmu”


Plak


Salahkan mulut kurang ajar Alex yang selalu membuat kekasihnya kesal, bukan salah Efira jika lengan lekaki itu akan terus menjadi korban.


“Ya ya, aku minta maaf sayang. Sekarang, apa kau ingin bermain PS?” Tanya Alex, kembali mengelus lengannya.


“Tidak” Jawab Efira singkat.


“Aku ingin pulang saja, selamat malam” Pamit gadis itu.


Tapi, Alex membuat langkahnya terhenti “Kau tidak ingin memberikan salam perpisahan untukku?” Tanya lelaki itu.


“Aku sudah berpamitan Alex, aku bahkan belum 2 menit mengatakan hal itu” Balas Efira.


Alex mendekati kekasihnya, menarik gadis itu dalam pelukannya lalu mengecup pelan kening Efira.


Romantis


Satu kata saja sudah cukup mewakilkan hal itu.


“Ini yang kumaksud salam perpisahan, hati-hati dijalan. Semoga mbak kunti tidak mengikutimu dari belakang” Ucap Alex.


“Aku akan memenggal kepalamu jika kau berani menakut-nakuti aku lagi” Ucap Efira lalu beranjak dari tempatnya berdiri, bersiap menyambut mimpi di kasur empuknya.


Setelah Efira hilang dari pandangannya, Alex hanya mampu tersenyum kecil. “Singa betinaku memang begitu” Gumamnya seorang diri.


Lihat? Alexander Harrison sedang dibutakan cinta.


“Aku akan melacak sistem bandara tentang identitas nyonya Johnson yang masih menjadi misteri” Gumam Alex. Lelaki itu kembali ke ruang kerjanya, mengetikkan kode-kode rahasia di komputer khususnya.