
Tepat pukul 07.00 malam Geri menjemputku. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna merah dengan paduan celana jean dan sepatu biru. Wajahnya yang terkena kilauan cahaya lampu jalan terlihat sedikit berbeda di mataku. Terlihat lebih tampan.
Kami pergi bersama ke danau angsa untuk menikmati indahnya bintang di sana. Tidak ada yang berubah dari dirinya selama beberapa tahun ini, masih seperti kak Geri yang dulu yang pernah kukenal; orang yang ramah dan penuh kehangatan.
Kak Geri mengendarai motor yang menurutku cukup tinggi. Aku tidak ingin menyebutkan merk nya. Yah, motor itu cukup membuatku sedikit kesulitan saat hendak naik, karena badanku tidak terlalu tinggi. Tapi, ambil sisi positifnya, dibonceng dengan motor ini benar-benar menyenangkan. Hembusan angin malam yang dingin menyapu lembut wajahku. Seakan tiap hembusannya menyingkirkan satu per satu kegelisahanku selama ini, karena Wira atau hal lainnya, sekaligus mengingatkanku pada kenangan bersama kak Andre. Ia dulu sering mengajakku berkeliling kota sambil menaiki motor.
Kak Andre dulu selalu mengatakan bahwa ia tidak butuh wanita lain untuk diajak jalan-jalan selama ada aku di sampingnya. Padahal aku tahu betul alasan sebenarnya.
Papa dan mama selalu melarang kami berpacaran dengan anak-anak lain selama masih sekolah.
Aku sadar, papa dan mama memang ada benarnya, sebaiknya memang tidak berpacaran selama masih sekolah, karena itu dapat mengganggu fokus belajar dan terutama uang jajan juga masih dari papa dan mama, rasanya agak malu kalau hendak memberi hadiah pada pasangan kita dengan uang jajan pemberian orang tua.
Jika mengingat kak Andre, aku selalu berpikir bahwa kak Geri benar-benar orang yang bisa menggantikan posisi kak Andre selama ia menungguku di surga. Jadi, bagaimana aku bisa berpacaran dengan orang yang sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri?
Tak butuh waktu lama, kami sudah sampai di danau angsa.
“Shan, kamu mau pesan apa?” tanya Geri saat kami mulai menempati salah satu meja yang tersedia.
“Eh, harusnya Shan yang nanya kakak. Kan Shan yang mau traktir,”
“Gak apa-apa, kamu duluan aja,” ujar Geri.
Setelah melihat-lihat menu bersama-sama, akhirnya kami memutuskan memesan menu makanan yang sama. Mungkin karena selera kami sama atau bagaimana, tapi sejujurnya aku berharap ia memesan menu yang berbeda supaya aku bisa merasakan makanan yang berbeda dari pesanannya.
Setelah menyantap makan malam, Geri mengajakku untuk berkeliling di sekitar danau. Gemerlap lampu berwarna-warni menghiasi sekeliling danau tersebut dan benar-benar terlihat indah, sayangnya sejak terakhir kali aku datang ke tempat ini, terlanjut menggoreskan luka dan sedikit membuatku merasa tidak nyaman berada di sini. Kami sempat terdiam sejenak sebelum memulai pembicaraan. Jujur, aku merasa sedikit canggung saat itu. Aku sempat memikirkan Wira tapi segera kuhalau karena aku merasa tidak enak jika saat bersama Geri, aku malah memikirkan orang yang sebenarnya masih terasa asing bagiku.
“Shan, kamu habis ini mau kerja dimana?” tanya Geri mulai membuka percakapan.
“Belum ada rencana sih, tapi nanti mau cari-cari dulu,” jawabku.
“Kamu gak mau jadi guru? Kan itu sesuai sama kuliah kamu,” tanya Geri lagi.
“Gimana ya, kayaknya aku gak ada panggilan buat jadi guru deh. Lagian aku kuliah di jurusan keguruan ini juga atas permintaan dari ibuku,”
“Sayang sih kalau gitu,”
“Iya sih, tapi mau bagaimana lagi? Aku benar-benar gak siap kalau mau jadi guru. Aku pikir menjadi guru bukan hal yang sederhana. Jadi guru ya berarti harus benar-benar siap mendidik, dan aku pikir, aku belum siap untuk itu,"
"Belum siap? Sekalipun kamu sudah lulus dari fakultas keguruan?"
"Iya, kak. Soal perasaan itu tidak sesederhana itu," jawabku.
“Terserah kamu saja sih gimana bagusnya, oh iya Shan…,” panggil Geri dengan sedikit terbata.
“Iya, ada apa kak?” tanyaku sambil mengarahkan pandangan padanya.
“Sebenarnya aku tetap gak bisa melupakan kamu, aku masih sayang kamu,” ujar Geri dengan suara yang lebih pelan.
Aku sedikit terkejut, tapi hal itu tidak begitu menggangguku karena pada dasarnya aku sudah tahu kalau Geri masih menyayangiku. Tapi mau bagaimana lagi? Aku benar-benar tidak memiliki rasa cinta untuknya. Rasa yang kupunya padanya hanya sebatas perasaan seperti saudara sendiri.
“Kak maafin aku, tapi aku benar-benar tidak bisa,"
“Shan, kamu gak bisa kasi aku kesempatan sekali ini saja kah?” tanya Geri dengan tatapan mata serius sambil memegangi kedua bahuku.
“Aku benar-benar sayang kamu, apa gak ada kesempatan buat aku? Aku benar-benar serius sama kamu dan aku juga mau menikah dengan kamu,” lirih Geri sambil menundukkan kepalanya di hadapanku.
“Sejujurnya, sejak pertama kali bertemu denganmu saat penerimaan mahasiswa baru, aku sudah menyukaimu. Entah mengapa dalam hati kecilku selalu berbisik bahwa aku benar-benar telah menemukan orang yang tepat. Rasanya seperti kita telah terikat satu sama lain. Aku benar-benar tidak pernah bisa melupakan sedikitpun kenangan tentang kamu. Sekalipun kamu menolakku saat itu, aku pikir rasa ini tidak pernah berubah. Sempat kucoba untuk memikirkan orang lain yang bisa menggantikan posisimu di pikiranku, tapi sekalipun sudah berusaha keras, hanya kamu yang selalu mengisi hatiku. Aku hanya perlu menunggu sedikit lebih lama saja sampai perasaanmu berubah dan dapat memberiku kesempatan sedikit saja, Shan,” lanjut Geri.
Aku hanya terdiam karena tak tahu harus menjawab apa. Sejenak keadaan menjadi begitu sunyi seakan semua menjadi takjub dengan pernyataan cinta Geri padaku. Daun-daun yang sedari tadi terlihat berguguranpun seakan berhenti sekejap untuk mendukung keseriusan Geri, sedangkan hembusan angin yang tadinya bertiup mesra, seakan termangu dan berhenti menerpa wajahku karena terkejut atas pernyataan cinta orang yang ada di hadapanku.
Aku menghela nafas dalam sebelum memberikannya jawaban.
“Kak, boleh kasi aku waktu untuk memikirkannya? Aku tidak ingin terburu-buru menentukan perasaanku. Aku hanya berpikir, tidak baik seandainya aku memulai suatu hubungan, tapi aku sendiri masih ragu dengan perasaanku, terutama karena aku benar-benar tidak ada perasaan cinta untuk kakak, bahkan untuk orang lain lainnya,"
Geri mulai menegakkan kepalanya dan melepaskan pegangannya.
“Maafin karena aku terlalu memaksa kamu, Shan. Terima kasih, aku akan menunggu jawaban kamu,”
“Kak, ayo lanjut jalan,” ajakku sambil mencoba mencairkan suasana yang sudah terlanjur kaku dan membeku.
Kami berjalan beriringan, ia mengikuti jejak-jejak langkahku dan itu terlihat lucu. Aku berjalan berkelok-kelok supaya ia tak bisa mengikuti jejakku namun ia tetap saja dapat mengikutinya. Langkah kakinya yang lebih besar dari langkahku seakan mendukung untuk terus menemukan jejak kakiku yang tertinggal di tanah.
Taman yang ada di danau angsa ini tidak terlalu luas, namun kerlap-kerlip lampu yang dipasang di atas pohon dan jalan-jalan, membuat tempat ini menjadi begitu indah di malam hari. Jika ada kunang-kunang musim panas yang berterbangan di sekitar danau ini, tentu cahayanya akan terkalahkan oleh kerlip lampu yang menghiasi taman ini. Namun jika kunang-kunang itu terbang di atas danau ini, pasti keindahannya akan mengalahkan kerlap kerlip cahaya lampu di tepian danau itu.
“Shan, kamu tahu mitos tentang tempat ini gak?” tanya Geri.
“Nggak, kak. Emang apaan?”
“Aku ceritain ya, tapi kamu jangan tidur,”
“Iya, kakak,”
“Dahulu kala, ada seorang penyihir jahat yang tinggal di suatu desa yang dekat dengan danau ini. Penyihir itu berwajah sangat cantik dan berbeda dengan wajah kebanyakan penyihir dalam dongeng-dongeng lain. Sang penyihir tak memiliki hati untuk mencintai seseorang, sehingga ia berlaku sangat jahat dan kejam. Suatu hari, datanglah seorang pemuda yang tampan dan gagah berani. Ia berniat untuk mengakhiri kejahatan sang penyihir untuk selama-lamanya. Iapun berusaha membuat sang penyihir jatuh hati padanya. Akhirnya, sang pemuda berhasil membuat sang penyihir jatuh hati dan kehilangan kekuatannya. Sang penyihirpun menjadi sangat sedih setelah ia mengetahui bahwa cinta sang pemuda padanya tidaklah tulus. Sang penyihir terlanjur memiliki hati dan jatuh cinta. Sedikitpun ia tak memiliki kebencian kepada sang pemuda. Akhirnya, dengan sisa-sisa kekuatannya, ia berlari ke danau ini dan merubah dirinya menjadi seekor angsa. Semua orang menganggap bahwa sang penyihir telah mati dan menghilang. Sehingga, ia dapat melanjutkan akhir hidupnya dan merenungi takdirnya sebagai seorang angsa di danau ini. Begitu ceritanya.” Ungkap Geri.
“Wow, kasian ya. Aku baru tahu. Naas banget. Tapi wajar sih, dia kan penyihir jahat. Tapi, apa kejahatan yang sudah dia lakukan? Tahu gak, kakak?” tanyaku.
“Kalau itu sih aku gak tahu. Namanya juga mitos. Jadikan belum tentu benar juga,”
“Iya sih,”
“Shan, kalau boleh aku tahu, kenapa sih kok kayaknya kamu sulit sekali menerima aku, apakah ada orang lain yang sudah kamu sukai?” tanya Geri tiba-tiba seakan menggali kembali pembicaraan sebelumnya yang tampak belum terselesaikan.
Aku terdiam sejenak memikirkan jawaban apa yang harus kuberikan. Kulayangkan pandanganku pada langit dan genangan air danau, mencoba mencari inspirasi yang mungkin akan membantuku memberikan jawaban.
“Kenapa, Shan?” tanya Geri lagi.
“Gimana ya, kak. Aku kadang berpikir akan lebih senang jika kakak benar-benar menjadi saudaraku, menjadi keluarga, dan bukan pacarku. Karena kakak sangat-sangat baik. Kakak benar-benar mengingatkanku pada saudara laki-lakiku yang sudah pergi. Setiap kali aku merasa merindukannya, entah mengapa terkadang aku jadi memikirkan kakak” jawabku mencoba meyakinkan. Arghhh.. kak Geri kenapa jadi bahas ini lagi sih.
“Jadi kamu bukan anak tunggal, ya?”
“Bukan, kak. Aku pernah punya saudara laki-laki, mungkin dia seumuran dengan kakak, sayangnya dia sudah pergi jauh. Kenapa memangnya, kak?”
“Oh, aku pikir kamu anak tunggal. Soalnya kamu juga nggak pernah cerita apa-apa tentang keluargamu atau saudaramu. Mestinya kamu anggap aku pacar donk, jangan malah dianggap kayak kakak sendiri, atau jangan kayak penyihir dicerita tadi” ujar Geri sambil mengelus-elus rambutku.
“Eh, tapi kak sebenarnya, aku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta, seperti cerita kakak tadi tentang sang penyihir itu,” lanjutku.
“Jangan-jangan kamu penyihir itu,” sindir Geri sambil tertawa terbahak-bahak.
“Ih, kakak bisa saja. Kan kakak bilang, penyihir tadi hanya mitos belaka,” ucapku kesal sambil mencubit lengannya.
“Tapi mungkin bawaan trauma juga, sih kak. Soalnya ortu aku kan juga udah cerai,” lanjutku lagi.
“Oh, kalau itu sih masuk akal. Ya udah, kamu pelan-pelan aja ngilangin trauma kamu,”
“Iya, kakak,”
"Shan, kamu percaya reinkarnasi, tidak?" tanya Geri tiba-tiba.
"Reinkarnasi ya? Agak ragu sih, kak. Aku pikir, kalau reinkarnasi itu ada... hem.. entahlah.. aku juga bingung sih kak, tapi jelas kalau aku nggak percaya. Kenapa kakak tiba-tiba nanya itu?" tanyaku.
"Nggak ada maksud apa-apa sih, hanya saja, katanya beberapa orang yang bereinkarnasi bisa membawa perasaan mereka dari kehidupan sebelumnya, jadi kalau reinkarnasi itu benar-benar ada, bisa saja kamu reinkarnasi si penyihir tadi. Hahahahaha... ," jawab Geri ngelantur.
"Ah.. aku pikir kakak mau ngomong serius. Ternyata, masih juga ngeledekin kalau aku reinkarnasi penyihir angsa. Huft," gerutuku.
"Kakak kan udah banyak tahu tentang aku, jadi aku mau nanya-nanya balik, boleh?" tanyaku.
"Sure, silahkan",
"Tiga pertanyaan ya? Oke. Pertama, kakak tidak punya saudara perempuan. Kedua, kakak anak tunggal, jadi tidak ada saudara kandung lainnya. Ketiga, kakak suka tidur, mungkin?" Jawab kak Geri.
"Tidur? Kok mungkin?" tanyaku heran.
"Entahlah, rasanya setiap kali tertidur, aku seperti bertemu dengan seseorang, seseorang yang aku rindukan. Haha, mungkin bawaan sikap melankolis kakak kali ya? Jadi malu,"
Aku terdiam sejenak mendengar jawaban kak Geri barusan. Bukankah itu sedikit mirip denganku?
"Eh, kakak aneh," ejekku mencoba mengalihkan pikiranku.
"Kakak nggak konsisten deh. Kadang kalau ngomong pakai kata aku, kadang pakai kata kakak," komplainku.
"Eh, iya kah? Nggak sadar soalnya. Jadi enaknya pakai kata apa?"
"Kakak aja, soalnya emang kakak sudah tua, hahahaha" ejekku.
"Bukan tua kok, cuma lahirnya lebih dulu dari kamu aja,"
Kami berjalan beriringan di tepian danau sambil sesekali tertawa bersama.
Sayup-sayup kudengar intro lagu dari Ungu-Tercipta Untukmu mulai diputar dari pengeras suara di tepian sisi danau lainnya.
"Bukankah kita terlihat cocok saat bersama?" lirih kak Geri.
"Kakak ngomong apa barusan? Aku nggak begitu dengar soalnya suaranya agak pelan dan aku tadi lagi dengerin lagu Ungu,"
Sebenarnya aku mendengar kalimat yang dia ucapkan dengan jelas, hanya saja, aku berharap dia menarik ucapan itu dan melupakannya.
"Eh, kakak nggak ngomong apa-apa kok,"
"Oh, berarti Shan yang salah dengar, ya,"
Syukurlah, kak Geri tidak mengulangi perkataannya, karena memang lebih baik begitu.
Kami berhenti berjalan dan berdiri tepat di tepian danau. Dari sini, dapat dengan mudah untuk menyentuh permukaan air danau yang tenang. Keindahan yang terpancar begitu sempurna, danau yang luas dengan hiasan langit yang menawan. Perlahan, dapat kurasakan aroma danau yang khas, dengan semilir angin malam yang dingin, membuat suasana malam yang sebenarnya dingin menjadi terasa hangat.
“Shan, aku bisa membuat kamu jatuh cinta padaku,” ujar Geri tiba-tiba sambil menatap jauh ke ujung danau.
Perlahan kutatap wajahnya untuk melihat keseriusan di balik perkataannya.
“Bagaimana caranya?” tanyaku.
Geri meraih kedua bahuku dengan tanganya yang besar dan perlahan hendak mencium keningku. Aku yang sangat terkejut dengan perlakuan Geri segera melepaskan kedua tangannya dari bahuku dan mundur menjauh darinya. Namun hal ini malah membuatku terpeleset ke dalam danau. Akupun terjatuh dan membuat seluruh pakaianku basah. Untung saja tepian danau itu tidak dalam.
"Kakak sudah gila ya?! Kakak kenapa sih seperti ini terus. Aku benar-benar nggak habis pikir dengan kakak!"
Geri hanya terdiam sesaat lalu mencoba membantuku naik ke daratan, namun segera kutepis bantuan yang ia berikan.
"Aku bisa sendiri,"
Air danau yang membasahi tubuhku terasa begitu dingin, menghilangkan perasaan hangat yang beberapa saat lalu menyelimuti hatiku. Semua perasaan yang ada di hatiku seketika itu juga bercampur aduk. Aku merasa malu dan segera membersihkan tubuhnya lalu beranjak dari sana. Geri menyesali perbuatannya dan meminta maaf namun tak kuhiraukan. Aku memintanya jangan mengantarku pulang ataupun mengikutiku.
"Shan, aku benar-benar minta maaf,"
Bersama segenap perasaan malu yang mengisi pikiran, kulangkahkan kaki untuk terus maju menepis rasa malu yang tak kunjung pergi. Tatapan orang-orang yang mengarah padaku seakan memberikan sindiran yang tersirat dengan jelas di mataku. Aku harus segera meninggalkan tempat ini dan menemukan tempat yang aman di kamarku.
Aku tak ingin menoleh ke belakang untuk melihat Geri ataupun mengharapkan permintaan maaf darinya lagi. Aku benar-benar kesal dan tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Sesampainya di kost, segera kuganti pakaianku yang mulai mengering dan bergegas mandi. Aku benar-benar malu dan kesal. Aku memikirkan bagaimana caraku memperlakukan Geri jika bertemu nanti. Apakah aku harus marah? Atau diam saja? Entahlah…
Kenapa sih dia harus bersikap seperti itu? Kenapa dia tidak melupakanku saja dan segera mencari pengganti saja? Apa sih yang dia lihat dariku? Aku benar-benar tidak bisa mengerti dengan berbagai situasi yang sedang kuhadapi sekarang. Tanpa terasa, air mataku sudah membanjiri pipiku yang mulai memanas, “Kenapa harus seperti ini? Apa sih yang kak Geri pikirkan?"
"Wira, tolong bantu aku. Kenapa kamu tidak muncul? Kamu satu-satunya orang yang ingin aku tanyai saat ini. Kamu yang membuatku bingung sehingga pikiranku sekacau ini. Tolong, kamu dimana?"
Tangisanku semakin pecah dan tak tertahankan lagi. Aku hanya sendiri dalam sunyinya malam itu.
Malam ini aku segera tidur dan berharap dapat bertemu seseorang di dalam mimpiku yang dapat menghiburku. Aku berharap Wira hadir lagi di mimpiku. Saat tengah tertidur, samar-samar aku mendengar suara laki-laki yang memanggil namaku. Suara yang sangat sudah tidak asing lagi, suara Wira.
"Shanvierra.. Shanvierra.. Aku di sini. Bangunlah! Shanvierra, tidak bisakah kamu melihatku? Aku tepat di depanmu, bangunlah !"
Aku terbangun dan mendapati tidak ada apapun di sekitarku, mungkin aku masih bermimpi. Apa karena aku terlalu mengharapkannya?
Tapi entah mengapa, aku benar-benar dapat merasakan keberadaan Wira di dekatku. Berbagai pertanyaan mulai menghantui pikiranku. Sekuat tenaga kucoba menghalau berbagai pikiran negatif yang membuatku berpikir bahwa Wira sebenarnya sudah tiada atau dia hanyalah imajinasiku, sebab aku selalu merasakan keberadaan Wira setiap kali aku mengharapkan kehadirannya. Aku benar-benar harus mencari Wira, bagaimanapun caranya, karena aku benar-benar yakin, dia adalah kunci untuk menemukan jati diriku, siapa aku sebenarnya. Apa hubungannya masa lalu dan masa yang sedang kuhadapi saat ini. Alasan mengapa Wira sampai mencariku selama ini, aku harus menemukan jawabannya.
Hari terus berganti hingga tidak terasa sudah beberapa bulan berlalu semenjak kejadian itu. Aku benar-benar tak pernah lagi bertemu atau mendengar suara Wira memanggilku, walaupun selalu kurasakan keberadaannya ada di dekatku.
Kini aku sudah bekerja di salah satu perusahaan yang sebenarnya tidak sesuaikan dengan jurusanku ketika berkuliah dulu. Tapi bagiku segala sesuatu bisa dipelajari dan itu bukanlah masalah yang besar. Jalani saja. Inilah kehidupan, mengeluh atau menyerah tidak akan menyelesaikan apapun.
Malam itu, setelah sekian lama akhirnya aku kembali memimpikan Wira. Namun mimpi kali ini berbeda dari mimpi yang biasa kualami. Aku tak begitu mengingatnya, tapi ketika pagi datang, kudapati air mataku telah mengalir ketika terbangun dari mimpi itu.
Aku duduk terdiam di sudut tempat tidur, masih mencoba mengingat kembali mimpi apa yang kualami semalam. Namun, sekeras apapun kucoba, aku benar-benar tidak bisa mengingatnya. Aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam diriku setelah memimpikan hal itu, namun aku tak tahu apa itu. Aku merasa, aku menyadari sesuatu yang seharusnya aku ketahui, tapi aku tidak tahu apa yang sudah kusadari. Apa yang sebenarnya terjadi, aku benar-benar tidak mengerti. Mengapa Wira dan harus Wira yang menjadi pertanyaan besar dalam hidupku saat ini? Mengapa Wira harus pergi begitu saja? Seandainya aku diberikan kesempatan, aku ingin bertemu dengannya lagi walau hanya sekali saja. Aku ingin mengajukan berbagai pertanyaan yang mengganjal dipikiranku sehingga aku bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi dan harus kulakukan, atau setidaknya agar aku bisa tenang setelah ia tidak muncul lagi di mimpiku
Perlahan kulangkahkan kaki beranjak dari istana kasurku yang nyaman. Kuambil hp-ku yang tergeletak di atas meja dan setelah membuka kunci layarnya, masih kudapati pesan bbm permintaan maaf dari Geri atas kejadian sebulan yang lalu. Aku sudah mengatakan bahwa aku telah memaafkannya, namun setiap kali ia mengajakku untuk bertemu, hal itu selalu kutolak. Mungkin itu yang membuatnya berpikir jika aku belum benar-benar memaafkannya. Aku memiliki alasanku sendiri mengapa aku menolak ajakannya, sederhana saja sih. Terakhir kali bertemu dengannya, aku berjanji akan memberikan jawaban atas pernyataan cintanya. Sama sekali tidak terpikirkan olehku untuk menerimanya dan kejadian konyol di danau itu semakin membuatku berpikir untuk tidak menerima cintanya.
Hari itu ibu tiba-tiba datang mengunjungiku, membawakan berbagai persediaan makanan kesukaanku. Aku mungkin sedikit jahat karena setelah selesai kuliah tidak langsung bekerja dekat dengan rumah ibuku. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada tempat kerja yang cocok dengan keinginanku di sekitar tempat tinggal orang tuaku.
“Ibu kangen kamu, Shan,”
“Shan juga, bu. Kok ibu datang gak bilang-bilang? Kan Shan bisa jemput di terminal,”
“Ibu mau buat kejutan. Kaget tidak?"
“Haha... Ngak kaget lah. Tapi kan Shan khawatir saja kalau ibu datang pas Shan lagi gak di kost. Bagaimana kalau ibu datang pas Shan lagi ditugaskan ke luar kota? Kan kasihan ibu kalau sampai seperti itu,"
"Iya, iya... lain kali ibu kabarin kalau mau datang ke sini,"
Harus pokoknya,"
Kami saling bercerita banyak sebelum akhirnya ibu mengajukan pertanyaan tentang pernikahan.
"Shan, kamu kan sudah cukup umur, apa tidak ada rencana untuk menikah?"
Sebenarnya aku tidak ingin membahasnya dulu. Tapi karena ibuku yang bertanya, aku harus menjawabnya.
“Shan baru aja di terima di perusahaan, ibu. Masih ada kontrak beberapa tahun lagi sebelum Shan boleh nikah. Ibu sabar aja ya, ntar Shan juga pasti nikah kok,” jelasku.
“Iya, tapi jangan lama-lama ya. Khawatir kamu keburu tua, Shan,”
“Iya, bu,”
Kenapa kehidupan ini selalu seperti ini ya.
Ketika kita sekolah akan ditanyai; “Sudah lulus sekolahkah? Bagaimana nilai rapornya? Mau langsung kerja atau kuliah?”
Ketika kuliah akan ditanyai; “Kapan wisuda?”
Ketika sudah wisuda akan ditanyai; “Sudah bekerja apa belum?”
Ketika sudah bekerja akan ditanyai; “Kapan akan menikah?”
Dan ketika menikah akan ditanyai; “Kapan mau punya anak?”
Begitu seterusnya hingga tak akan berhenti setiap pertanyaan yang hadir dan menunggu jawabannya.
Jujur saja tidak ada satupun laki-laki yang menarik perhatianku dan membuatku jatuh hati. Kenapa hatiku bisa sebeku ini ya? Padahal kalau mendengar cerita teman-teman di kampus dulu atau di tempat kerja, mudah sekali bagi mereka untuk jatuh cinta. Tapi mengapa aku tidak? Keberadaan Wira mungkin sedikit mempengaruhi keputusanku, tapi sebelum Wira datang, aku juga memang sudah membeku dari dulu. Apa benar aku memang terikat dengan Wira? Aku benar-benar lelah memikirkan Wira terus.