
Sesaat setelah Devan keluar bersama polisi itu, Efira segera berlari menghampiri Alex dan memeluk lelaki itu sambil menangis.
“Jangan hiks begini, aku hiks aku takut” Ucap Efira di tengah tangisnya.
Menyadari gadisnya takut dengan dirinya, membuat Alex sadar. Dia menghembuskan nafasnya perlahan, meredakan emosinya lalu membalas pelukan kekasihnya.
“Maafkan aku” Ucapnya sambil mengelus surai hitam Efira, sesekali mencium puncak kepala gadis itu pelan, menyalurkan kehangatan dan kenyaman seperti Alex yang biasa dilihat oleh gadis itu.
“Ayo duduk dulu, kau pasti masih merasa syok”
Alex menuntun Efira kembali ke sofa lalu mengambil air putih untuk gadis itu.
“Apa yang kau tangisi?” Tanya Alex setelah Efira sudah mulai tenang.
“Kisah itu dan sikapmu. Belajar dimana ketidak sopanan macam itu? Kau terlihat seperti ketua mafia di novel-novel yang pernah aku baca” Ucap Efira.
Ah, sudah ia duga bahwa gadisnya akan mempertanyakan sikapnya yang benar-benar seperti pemimpin mafia di novel-novel yang dibicarakannya itu.
“Ck, kau terlalu banyak membaca novel. Lagipula kau ini hidup di dunia bisnis. Jika kau tidak ingin mati di tangan orang lain maka, biarkan orang lain mati di tanganmu” Ucap Alex pada kekasihnya.
“Darimana pistol itu kau dapat?” Tanya Efira, masih tidak percaya bahwa lelakinya bersedia mengotori tangannya dengan melukai seseorang dengan senjata itu.
“Itu milikku. Apa menurutmu aku pinjam? Cih, yang benar saja. Bisa-bisa nanti akan muncul berita bahwa CEO Harrykiel Company meminjam sebuah pistol untuk membalas perbuatan orang jahat di kantornya. Sangat tidak estetik sekali wahai pemirsa” Ucap Alex panjang lebar, sudah seperti biasa dengan gaya narsisnya.
“Buang saja pistol itu, kau bisa melukai orang lain dengan itu” Ucap Efira, mengingatkan Alex.
“Aku sudah melukai orang dengan pistol itu Efira. Jika kau bilang aku harus membuangnya maka, aku katakan tidak. Kau tau itu harganya sama dengan membeli dua ginjalmu ditambah juga dua bola matamu. Dia memiliki kualitas jadi, aku tidak akan membuangnya. Jika kau menyuruhku untuk menyimpannya maka, akan aku simpan” Jawab Alex.
Dua ginjal ditambah dua bola mata?
Itu sangat mengerikan di telinga Efira, tidak habis pikir dengan bayangan yang ada di otak sahabat sekaligus kekasihnya itu. Memangnya sejak kapan Alex jadi suka dengan sesuatu yang berbau darah begitu?
“Kau terdengar seperti psikopat, sebaiknya simpan saja sana. Aku tidak mau melihat benda itu lagi” Ucap Efira.
Alex pun hanya menurut, lelaki itu mengambil pistolnya dan memasukkan ke saku dalam jasnya.
“Hei kenapa kau masukkan di sakumu?” Efira berteriak panik dan Alex hanya tertawa renyah.
“Dia keluar dari sakuku maka, dia kembali ke sakuku juga” Ucapnya.
Jadi, sejak tadi Alex membawa pistol itu kemana-mana? Saat ke kantor polisi, restoran, itu tadi Alex membawanya? Wah, apa aku sedang memiliki pacar seorang mafia? Pikir Efira.
“Jangan menatapku begitu” Gumam Alex saat menyadari tatapan gadisnya yang menyipit, terus melihat jasnya yang sudah rapi.
“Bukankah pistol tidak dianjurkan di negara kita? Maksudku penjual belian alat semacam itu adalah ilegal disini” Ucap Efira.
Ya, seingatnya memang peraturan negara begitu kan? Lalu, kenapa kekasihnya bisa memiliki itu secara pribadi?
“Jangan terlalu memikirkan hal itu. Pikirkan saja kemana kau akan mencari kakakmu, pikirkan juga bagaimana kau mengatakannya kepada orang tuamu” Lanjut Alex, mengalihakan pembicaraan?
Tapi, ada benarnya juga. Efira mulai berfikir, bagaimana dia akan mengatakannya kepada orang tuanya? Apa dirinya juga butuh penjelasan dari ayah bundanya?
“Tapi, Alex bagaimana dengan pengakuan polisi tadi?” Tanya Efira.
Alex mengambil ponselnya di atas meja, memutar ulang percakapannya dengan polisi tadi.
Wow
Alex memang tidak akan cerdas jika tidak memiliki pikiran diatas rata-rata.
“Ck, ini dia CEO Javonte’s Group. Kau lama sekali berpikirnya, kenapa tidak langsung pulang dan katakan semuanya kepada mereka, lagipula kita sudah memiliki bukti yang kuat untuk itu. Sekarang kita hanya perlu mencari keberadaan nyonya Johnson saja untuk menemukan kakakmu” Ucap Alex kepada kekasihnya.
Tanpa pikir panjang, Efira segera berdiri “Bawa bukti-buktimu ayo iku aku, bantu aku menjelaskan kepada mereka” Ucap Efira.
Alex pun menurutinya, membawa tas kerjanya dan keluar dari ruangannya bersama Efira. Namun sebelum pergi ke parkiran, Alex menghampiri Devan, menyuruh lelaki itu membersihkan ruang kerjanya mengingat tadi darah pak polisi juga menetes ke lantai.
“Baik tuan” Begitu jawaban yang dikatakan Devan, sedangkan Cyntia hanya bisa diam seribu bahasa, membayangkan atasannya yang biasanya ramah sekarang malah membuat sport jantung dengan suara tembakan dari ruang CEO tadi.
...***...
“Ayah, bunda” Panggil Efira saat masuk ke dalam rumahnya. Gadis itu sedikit terlihat sedikit tergesa-gesa.
Yang dipanggil ternyata berada di kolam renang, rupanya sang ibunda sedang menemani suaminya
“Ayah, bunda” Panggil Efira lagi.
Mereka menoleh ke sumber suara, putri mereka bersama dengan Alex berdiri di ambang pintu perbatasan ruang keluarga dan kolam renang yang terbuat dari kaca itu.
“Kau pulang cepat?” Tanya sang ibunda, ini bahkan belum jam makan siang. Alex dan Efira kira-kira masih 2,5 jam yang lalu menghabiskan sarapan mereka di restoran.
“Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting. Ayah, tolong segera naik dan mari berkumpul di ruang keluarga” Ucap Efira lalu meninggalkan kedua orang tuanya, menunggu mereka di ruang keluarga bersama Alex.
Baik bunda dan ayahnya mulai merasa resah dengan wajah serius putri mereka.
“Apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan” Ucap nyonya Javonte kepada suaminya.
Tuan Javonte mengangguk, menyetujui bahwa mungkin saja pemikiran mereka sama.
“Ayo, segera bersihkan diri dan temui mereka setelah itu” Ucap nyonya Javonte.
Tuan Javonte segera pergi ke kamar untuk membersihkan diri diikuti nyonya Javonte yang menyiapkan baju ganti untuk suaminya.