You

You
Damai



“Nona” Panggil Devan, mereka (Devan dan Efira) sudah berada di salah satu café terdekat dari perusahaan.


“Hm?”


“Kau tau? Sebuah masalah seharusnya di selesaikan dengan kepala dingin. Jika kau terus menghindar dari masalah, bukannya selesai, masalahmu akan semakin rumit” Ucap Devan, lelaki itu tau bahwa sahabat bosnya sedang tidak dalam mood yang baik.


“Maksudmu?”


“Aku tau, kau tidak nyaman dengan model itu di sekitar Alex tapi, kau tidak bisa dibutakan cemburu seperti ini. Kau harus ingat, Alex dan dirimu hanya ‘sahabat’. Kalian tidak memiliki hubungan khusus dimana kalian bisa saling cemburu. Sebagai seorang sahabat, kau perlu mendukungnya dan memberikan dia masukan jika dia salah. Berbeda cerita jika kau kekasihnya, kau punya hak untuk bersikap sedingin ini jika dia bersama wanita lain”


Kata-kata itu sangat sampai pada relung Efira, terbukti dari wajahnya yang mulai memerah. Menahan tangis?


“Hahaha, kau benar. Aku hanya sahabatnya. Ya, aku tau posisiku. Terimakasih sudah mengingatkanku. Lagipula mana ada aku cemburu, aku hanya kesal, dia tidak menggubrisku setelah itu”


“Aku tau kau mencintainya, begitu juga sebaliknya. Kalian hanya saling tidak menyadari. Efira, minta maaflah padanya, kau salah jika kau bersikap seperti ini. Diapun sama sakitnya melihatmu bersamaku begini”


“Lalu kenapa kau mau ku ajak kemari?”


“Apa kau lupa jika kau yang menyeretku kemari?” Tanya Devan, membuat Efira menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Tapi, ada baiknya. Aku bisa menasehatimu disini. Aku butuh Alex yang tidak berantakan. Aku sangat frustasi melihatnya tidak begitu fokus dengan pekerjaan di hari pertama”


“Aku akan menemuinya nanti. Ayo makan” Ucap Efira, bersiap menyantap hidangan di hadapannya.


...***...


Efira POV


Aku berjalan menyusuri lorong menuju ruanganku, tentu saja bersama dengan Devan. Suara sepatuku yang bertemu dengan lantai, menggema disana.


Ceklek


Aku membuka ruang meeting, aku sudah menunjukkan senyum sumringahku tapi, yang kulihat malah?


“What are you doing?” Tanyaku.


Hening


Tidak ada jawaban


Lelaki itu hanya memandangku sedikit tajam?


Tidak, itu sangat tajam


“What happened?” Tanyaku lagi.


“Ini masih jam istirahat, pergilah”


“Tapi,-”


“Kau tau aku tidak suka penolakan” Alex dengan cepat memotong ucapanku seenak dagunya.


“Nope, let me help you!” Tolakku, lalu berlari mencari kotak P3K.


Entah apa yang sudah si bodoh ini lakukan hingga tangannya berlumuran darah begitu.


“Kemarikan tanganmu!” Ucapku.


Tidak ada respon.


Aish, lelaki ini.


Aku menarik tangannya mendekat, lalu fokus mengobati lukanya. Banyak sekali serpihan kaca yang menancap di tangannya.


“Apa tidak sakit?” Tanyaku.


“Hatiku jauh lebih sakit”


Bodoh, jawaban macam apa yang dia katakan?


“Bagaimana kau mendapatkan luka ini?” Tanyaku sambil mengobati lukanya.


“Katakan, apa maumu?”


Aku tersenyum, sedikit menghela nafas atas jawabannya. Mengalihkan pembicaraan hm?


“Aku? Aku ingin menemuimu. Apa salah?”


“Cih, kencan saja dengan Devan. Aku tidak peduli”


What the hell?


Bicara melantur apa orang ini? Aku bahkan tertawa mendengarnya.


“Bedebah ini, kau cemburu ha?” Ucapku sedikit meninggikan suara di awal kalimat.


“Tidak” Jawabnya singkat.


“Kentara sekali jika kau cemburu” Aku sedikit menekan lukanya.


“Aw. Pelan-pelan”


Apa terlalu keras? Aku akhirnya membalut lukanya dengan penuh perasaan.


“Sorry” Ucapku, suaraku terdengar sangat lirih. Bahkan hampir tidak terdengar.


Aish, apa aku gugup?


“Ya?” Jawabnya.


Tanganku masih fokus membalut lukanya, hanya saja bola mataku berlarian ke kanan dan ke kiri, bingung. Hingga di putaran perban terakhir, aku menghela nafas berat.


“Maafkan aku, tidak seharusnya aku memperlakukanmu dengan buruk. Itu hanya masalah sepele tapi, aku terlalu berlebihan menanggapinya” Akhirnya aku memiliki keberanian.


“Cemburu itu buta Efira. Lupakan saja. Pergilah ke ruanganmu, sudah masuk jam kerja” Ucapnya mengelus rambutku.


“Jadi, apa kau memaafkanku?” Ujarku memastikan dengan baik bahwa dia sudah tidak mempermasalahkannya.


“Aku tidak bisa marah denganmu” Jawabnya.


“Sekalipun kau memecahkan cermin di ruangan ini dengan tanganmu sendiri?” Ucapku kesal, dia hanya terkekeh mendengar penuturanku.


“Mendekatlah”


Apa?


“Kemari hm” Kali ini ucapannya diikuti tindakan mengambil tanganku pelan. Tentu saja aku mengikuti kata hatiku, menggeser dudukku lebih dekat dengannya.


Lalu?


Grep


Aigooo


Dia memelukku lebih dulu, bayanganku menjadi kenyataan. Apa dia bisa membaca pikiranku?


Hal itu membuat wajahku memanas. Mungkin sekarang sudah semerah tomat.


Katakan saja aku berlebihan, aku sering berpelukan dengannya sebelum ini tapi, kali ini situasinya berbeda. Saat ini aku melihatnya sebagai seorang lelaki, bukan sebagai sahabatku.


“Sudah cukup. Detak jantungmu sangat terdengar. Aku takut dia lepas”


Sialan, lelaki ini benar-benar merusak moment.


Tentu saja hal itu membuatku langsung mendorongnya, beranjak pergi adalah pilihan paling tepat.


Jantungku.


Jantungku memang mau meledak.


Efira POV End


...***...


“Jadi konsep seperti apa yang kau inginkan?” Tanya Efira. Kali ini baik Alex, Efira, Mira dan juga Devan sudah berada di ruangan Efira. Mereka sedang meeting untuk rencana renovasi Harrykiel Company.


“Aku menginginkan konsep yang tidak monoton. Tempat kerja yang asri tanpa banyak ornamen, kenyamanan pegawai adalah yang utama” Jelas Alex. Lelaki itu mulai ada dalam mode seriusnya, begitu juga Efira.


Devan dan Mira sesekali mengetik beberapa poin penting di laptop mereka.


Meskipun hanya membahas konsep tapi, ternyata Alex tidak mau main-main untuk renovasi perusahaannya. Lelaki itu menginginkan ruangan-ruangan utama menjadi titik fokus dalam pengerjaan nanti, dan itu memakan banyak waktu untuk meeting mereka hari itu.


Belum lagi Efira mengeluarkan beberapa ide desain interiornya yang cukup membuat Alex bimbang dalam memilih.


Namun, Alex dengan cekatan mengeluarkan pendapatnya. Perusahaan bayangannya akan segera di realisasikan.


“Baiklah, kami akan segera kirimkan surat kerjasama kita nanti. Melalui sekretaris anda, untuk anda” Ucap Efira, mengulurkan tangannya sebagai tanda bahwa mereka resmi menerima proyek dari Alex.


Tentu saja Alex menerima uluran tangan Efira, dibarengi dengan jam kerja yang sudah habis.


“Tuan, tidak ada jadwal apapun lagi untuk anda setelah ini. Apa anda ingin pulang?” Tanya Devan sopan.


“Hm, kau pulanglah dulu” Jawab Alex.


“Saya permisi” Ucap Mira, menyusul sekretaris Alex ke luar ruangan.


Sedangkan, Alex dan Efira masih berada di dalam ruangan.


“Pulang bersamaku” Itu terdengar seperti sebuah perintah dari Alex. Nada suaranya juga tidak selembut tadi. Kenapa? Apa ada masalah? Pikir Efira. Gadis itu merasa bahwa dia dan sahabatnya sedang ada pada fase dimana mereka sudah berbaikan beberapa waktu lalu.


“Okay, wait a minute. Aku akan mengambil tasku dulu” Jawab Efira lalu melangkahkan kaki jenjangnya menuju meja kerjanya, mengambil tas selempangnya yang tergeletak di meja.


“Mungkin mulai besok, kita akan sama-sama sibuk. Mari kita habiskan hari ini bersama” Ucap Alex. Mereka sudah berada di dalam mobil Alex. Nada bicaranya sudah kembali lembut, sepertinya tadi dia masih terbawa suasana meeting?


Mobil Efira? Tentu saja di tinggal di parkiran perusahaan. Itu tidak masalah, lagipula siapa yang berani mencuri mobil milik CEO Javonte Group.


“Baiklah, kemana kita akan pergi kali ini?”


“Kita pergi makan malam dulu, bagaimana? Kau yang pilih tempat makannya” Ujar Alex santai, masih menatap fokus pada jalanan namun, senyum sudah terukir di wajahnya.


“Oke. Kita makan di perempatan jalan ini, disana ada banyak sekali penjual jajanan. Aku ingin sekali kesana”


“Kau tau dari mana di sana ada banyak penjual jajanan? Kau kan baru beberapa hari di sini” Alex melikir sedikit tidak percaya dengan sahabatnya.


“Apa yang aku tidak tau tentang makanan?”


Efira si penggila jajanan pinggir jalan is back. Begitulah pikir Alex saat mendengar jawaban sahabatnya tadi.


Pasalnya sejak sekolah, mereka sering mengelilingi kota saat pulang sekolah. Tidak seperti gadis lain yang akan berbelanja dan jalan-jalan di waktu senggang setelah sekolah. Gadis itu malah memilih menghabiskan waktunya untuk membeli banyak sekali jajanan pinggir jalan, tidak jarang pula gadis itu membungkusnya. Katanya untuk teman belajar mereka nanti saat di rumah.


Efira dan Alex sebuah kesatuan, saat satu hilang, yang lain akan merasa kurang. Jadi, jika ingin hilang, hilang saja bersama.


Mereka sering menghabiskan waktu untuk menjajah kuliner namun, setelah itu mereka akan belajar bersama secara mati-matian di rumah. Entah di rumah Alex atau di rumah Efira. Gantian saja.


Se-akrab itu saja persahabatan mereka.