
Alex bersama keluarganya sudah berada di ruang keluarga kediaman Harrison, mereka sedang bercengkarama disana.
“Bunda, katakan apa yang bunda inginkan di hari ulang tahun bunda? Apa menginginkan pesta? Bunda bisa mengundang semua teman-teman bunda” Ucap Alex kepada ibundanya.
Pasalnya dua hari lagi adalah ulang tahun sang ibunda, bisa-bisanya Alex bertanya tentang pesta di H-2 tanggal ulang tahun bundanya.
“Bunda menginginkan pesta pertunanganmu dengan Efira” Jawab nyonya Harrison.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Kali ini Alex yang dibuat tersedak ludahnya sendiri, kenapa keluarganya ini unik sekali? Apa melamar seorang gadis seperti membalikkan telapak tangan menurut mereka?
“Bunda, anakmu ini masih 21 tahun. Apa menurutmu tidak terlalu muda untuk menikah? Aku bahkan belum mendapat penghargaan apapun di perusahaan, bahkan aku juga belum lama lulus dan pulang dari luar negeri. Kenapa pulang-pulang begini aku malah disuruh menikah, bukannya disuruh bekerja dengan baik agar bisa menghidupi keluargaku sendiri nantinya?”
Seperti itulah protesan Alex kepada sang bunda.
“Pekerjaanmu sudah baik, kau juga sudah cukup matang untuk menikah. Mau menunggu apalagi?”
Alex hanya mampu membelalakkan matanya, kira-kira dulu sang nenek memaksa bundanya menikah begitukah?
Alex mengacak rambutnya, menatap ayahnya sebentar. Sedangkan yang ditatap hanya mengedikan bahu tidak peduli, memberikan keputusan itu sepenuhnya kepada putranya.
“Jika kau ingin segera menikahinya, ya lakukan saja. Ayah tidak melarangmu untuk menikah muda”
Sialan sekali, bukan jawaban itu yang diinginkan Alex. Dirinya memang mencintai kekasih sekaligus sahabatnya itu tapi, bukankah ini masih terlalu awal?
“Aku bahkan belum merayakan anniversary pertama dengannya” Gumam Alex.
“Rayakan saja acara anniversary-mu untuk hari pernikahan” Sahut nyonya Harrison.
Alex dengan cepat menolehkan kepalanya kepada sang bunda. Nyonya Harrison benar-benar diluar dugaannya.
“Bunda ini sudah tua, sudah ingin menimang cucu”
Sungguh, Alex ingin frustasi. Lelaki itu mengacak rambutnya lagi.
“Alex pergi ke kamar dulu” Ucap Alex lalu pergi meninggalkan orang tuanya di ruang keluarga.
Dia sudah angkat tangan dengan tuan dan nyonya Harrison, tidak tau harus mengatakan atau merespon apalagi.
...***...
“Efira, apa kau tidak ingin menikah?” Tanya sang bunda pada putri semata wayangnya.
Efira yang awalnya sedang fokus dengan tayangan berita terkini di layar monitornya tiba-tiba menolehkan kepalanya ke arah nyonya Javonte.
“Bunda, Efira masih terlalu muda untuk menikah. Lagipula, masalah kita belum selesai apa mungkin Efira tega untuk melangsungkan acara pertunangan disaat seperti ini?” Balas Efira, gadis itu kembali fokus ke layar televisi di hadapannya.
Nyonya Javonte mengelus pelan surai panjang anak gadisnya.
“Efira, bunda kan hanya bertanya. Barangkali kau ingin menikah di usia ini pun bunda tidak akan melarang. Pendidikanmu sudah selesai, karirmu pun menurut ibu sudah cukup sukses dan memuaskan. Mungkin saja jika masalah ini selesai kau bisa melangsungkan pertunangan atau sebelum masalah ini selesain pun bunda tidak melarang”
“Bukankah kita masih bisa mencari kakakmu sembari kau melangsungkan pertuanangan?”
Efira pening sekali dibuatnya, bundanya itu wah benar-benar.
Nyonya Javonte langsung memeluk putrinya sayang, memberikan senyum terbaiknya untuk anak gadisnya itu.
“Bukan seperti itu sayang, bunda lihat kau dan Alex sudah menemukan kecocokan. Menurut bunda, ada baiknya jika kalian tidak berlama-lama menjalin kasih begini. Kita tidak hidup di negara bebas sayang, kau harus menyesuaikan diri dengan itu. Kau sudah mengenal Alex dengan baik, begitu pula sebaliknya. Ada baiknya kalian segera terikat saja, bunda tidak memaksamu menikah, setidaknya lakukan saja acara pertunangan agar ayah dan bunda tidak khawatir untuk kedepannya. Mungkin bisa mempercayakanmu kepada Alex sepenuhnya, one step saja untuk hubungan kalian. Alex sudah banyak membantu keluarga kita, dalam artian dia sudah bukan lagi termasuk ke dalam kategori sahabat atau kekasihmu tapi, dia sudah termasuk ke dalam keluarga kita”
“Bukankah akan lebih baik jika dia benar-benar menjadi bagian dari kita seutuhnya?” Lanjut sang bunda.
Efira mulai pening, perkataan bundanya sulit untuk diserap oleh otaknya yang kecil. Rasanya kepalanya itu ingin meledak.
Menikah?
Di usia begini?
Ugh
Seperti tidak estetik sekali pemirsa.
“Ayah, apa ayah mengijinkanku menikah?” Tanya Efira kepada sang ayah.
“Ayah tidak melarangmu untuk menikah di usia muda, Efira. Bundamu benar, Alex sudah masuk terlalu jauh di dalam keluarga kita. Kami percaya dengannya tapi, seharusnya masalah ini tidak keluar dari urusan keluarga kita sendiri”
Deg
Biasanya seorang ayah akan melarang putrinya untuk menikah di usia dini, memikirkan bagaimana nasib putrinya setelah menikah, memikirkan putri yang sangat di sayangi harus keluar rumah mengemban beban menjadi seorang istri.
Biasanya seorang ayah pun akan mengintrogasi dulu bagaimana sosok lelaki yang akan meminang anak gadisnya.
Ah, itu hanya ekspektasi Efira. Rupanya ayah Efira enteng-enteng saja mengatakan hal itu.
“Ayah juga tidak menyayangiku?” Ucap Efira dramatis.
“Jangan berlebihan Efira, ayah tau apa yang ada di pikiranmu. Ayah sudah mengenal Alex sejak dirinya masih kecil, mana mungkin ayah tidak yakin pada kekasihmu itu?”
“Rumah keluarga Harrison ada di depan rumah kita, jika rindu kau bisa langsung pulang kemari. Biasanya kau juga main kesana hingga larut malam” Lanjut sang ayah.
“Tapi, Efira tidak ingin ikut mertua ayah. Aku ingin memiliki keluarga kecil sendiri, yang mandiri, yang sekiranya aku tidak membutuhkan pembantu rumah tangga” Balas Efira.
“Kau adalah kekasih dari CEO ternama, kau pikir berada disekitar Alex tidak berbahaya? Apa menurutmu Alex dan keluarga Harrison setara dengan kita? Jawabannya tidak Efira, mereka jauh lebih tinggi dari kita. Jadi, tidak mungkin jika kau menjalani kehidupan mandiri tanpa satupun pelayan. Bahkan sangat memungkinkan bahwa kau pasti akan mendapat setidaknya satu atau dua bodyguard untuk mengawalmu kemana pun kau pergi nantinya. Sama persis seperti apa yang dilakukan Mira padamu, bedanya dia akan selalu ada di dalam dan di luar rumah”
Sebuah pernyataan ambigu yang membuat Efira berfikir lagi, tadi percakapan keluarga Harrison yang tedengar aneh, sekarang ayahnya juga mengatakan hal yang membingungkan. Jadi, bagaimana Efira harus membagi otaknya untuk berfikir?
“Itu terdengar sedikit berlebihan, bukankah keluarga kita dan keluarga Alex terlihat baik-baik saja?” Ucap Efira.
“Itu karena keluarga Harrison yang membantu kita untuk tetap aman. Kau pasti akan mengerti nantinya, kekasihmu tidak akan sanggup menyembunyikan identitasnya lebih lama lagi”
Deg
Apa itu?
Pernyataan apa itu?
Sebuah pernyataan penuh tanda tanya yang harus Efira pikirkan model apa lagi kali ini?
Aku akan bertanya pada Alex nanti, batin Efira.
“Aku pusing mendengarnya, aku pamit dulu ke kamar. Sepertinya mengistirahatkan otakku adalah jalan terbaiknya. Selamat malam ayah, bunda” Ucap Efira, pamit undur diri dari percakapan serius itu.