You

You
Rindu



Alex dan Efira semakin hari semakin tidak memiliki waktu bersama. Ini sudah satu bulan sejak malam piknik itu. Mereka terus disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang menumpuk. Ini karena posisi yang mereka terima mengharuskan baik Alex maupun Efira beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru.


Pertemuan demi pertemuan bisnis terus bergulir dan berjadwal, sekretaris mereka memadatkan jadwal selama satu bulan penuh.


Alex sedang berada di ruangannya sekarang, membolak-balikkan dokumen dari satu map ke map yang lain.


“Devan, apa aku ada waktu luang hari ini?” Tanya Alex. Saat itu, Devan juga sedang berada di ruangannya, menyusun jadwal tuannya untuk satu bulan kedepan.


“Waktu luang anda hanya ada di jam makan siang dan setelah jam kerja anda selesai, tuan”


“Ah, baiklah. Terimakasih” Alex lalu melanjutkan pekerjaannya, memijat pelan pelipisnya. Tidak ada yang istimewa dari hari-harinya. Kepalanya seperti ingin pecah karena terus lembur dan terus menerima kafein.


Secangkir kopi cukup untuk menemani paginya, tentu saja secangkir lagi untuk lemburnya.


Tidak dapat dihindari jika lelaki itu juga merindukan Efiranya. Jangankan mengirim sebuah pesan, melihat ponselnya saja hampir tidak ada waktu.


“Devan, kapan aku memiliki waktu luang?” Tanya Alex, membuka kalimat diantara keduanya.


“Tidak ada tuan”


“Kau bercanda?” Alex melotot menatap Devan horor.


“Saya tidak pernah bercanda dengan pekerjaan”


What the?


“Berikan aku waktu luang”


“Anda sedang memohon?”


“Tidak” Jawab Alex singkat, memutar bola matanya jengah.


Alex sudah sangat sangat sangat merindukan Efira.


“Apa yang akan kau lakukan jika kau merindukan seseorang?” Alex lagi-lagi bersuara.


“Aku akan menemuinya” Jawab Devan cuek-cuek saja.


“Bagaimana jika kau dan dia sama-sama sibuk?”


“Aku akan menyempatkan waktu meski itu hanya satu menit”


Devan tipe lelaki yang bucin ternyata. Batin Alex.


“Kalau begitu, aku akan menemuinya. Kau urus semua pekerjaanku dulu” Alex langsung berdiri semangat, mengambil jas dan kunci mobilnya, meninggalkan Devan sendirian. Jangan lupakan smirk di bibir Alex karena berhasil mengelabuhi sekretarisnya.


Sedangkan, Devan hanya mampu menatap nanar pada pintu ruangan yang sudah tertutup rapat, menghilangkan tuannya dari pandangan.


What the fucking ****?


Devan sungguh menyesal menjawab pertanyaan atasannya begitu saja, seharusnya dia sadar dengan keanehan dari pertanyaan itu.


Maksudnya, menemui gadis itu nanti saja, saat jam kerja telah usai. Bukan sekarang juga.


Argh


Setengah jam lagi ada meeting sedangkan bosnya?


Pergi begitu saja.


“Cyntia, tolong siapkan dokumen meeting kita hari ini. Aku akan menggantikan tuan Alex”


Cyntia adalah sekretaris Alex di kantor, berbeda dengan Devan yang selalu menemani Alex, Cyntia lebih ke formalitas kantor.


“Tuan Alex kemana?”


“Pergi, menemui kekasihnya”


“Ah, manis sekali. Pasti dia sangat merindukan kekasihnya”


Devan hanya mendengus kesal mendengar hal itu. Dimana letak manis yang dimaksud Cyntia ha?


...***...


Saat ini, Efira sedang menandatangani dokumen-dokumen di mejanya. Gadis itu terlihat biasa saja, kerja lembur salah satu keahliannya. Berangkat pagi, bekerja, pulang malam, di rumah lanjut bekerja, lalu tidur, bangun lagi. siklus kehidupan Efira selama satu bulan ini.


“Mira, setelah ini aku ada janji dengan penjual tanah. Tolong hari ini kau urus dulu semuanya”


Mira ada di ruangan atasannya saat itu, gadis itu baru saja meletakkan dokumen-dokumen baru untuk Efira.


Tapi, bosnya dengan seenak jidat meminta cuti setengah hari?


“Kenapa nona tidak mengatakannya sejak kemarin?” Tanya Mira, suaranya terdengar sangat tidak bersahabat.


“Sepertinya aku lupa”


BRAK


“EFIRA”


Baik Efira maupun Mira langsung menoleh ke sumber suara.


Wellcome to the Efira’s world Mr. Alex Harrison.


“Kau tidak merindukanku?” Alex sudah membentangkan tangannya, kode meminta sebuah pelukan.


“Aku tidak punya waktu untuk merindukanmu. Maafkan aku”


Jawaban itu sukses membuat Alex kesal setengah mati tapi, semuanya kalah dengan rindu.


Tanpa aba-aba, lelaki itu menarik Efira dari kursi kebesarannya lalu memeluk gadis itu erat.


“Biarkan aku saja yang merindukanmu, kata Dilan rindu itu berat”


“Kata Efira, lepaskan! Kau membuatnya ingin mati” Ucap Efira mencoba melepaskan diri dari pelukan sahabatnya.


Mira masih berada di sana, melihat drama bucin Alex kepada bosnya.


Tidak lama, Mira memilih meninggalkan dua sejoli itu.


“Kau senggang?” Tanya Efira, mereka sudah duduk di salah satu sofa ruangan Efira.


“Tidak juga tapi, ketika aku punya kesempatan, aku akan kemari. Aku merindukanmu. Apa kau sedang sibuk?” Alex memperhatikan tumpukan kertas di meja Efira.


Gadis itu mengikuti arah pandang Alex, “Tidak juga. Aku ada janji dengan penjual tanah hari ini. Kau tau kan aku akan membuka butik?”


“Hm. Aku ikut” Ucap Alex semangat.


“Tapi, apa itu tidak merepotkanmu jika masih membuka butik? Sedangkan, kau sendiri sudah sibuk disini” Alex melanjutkan kalimatnya.


Mengingat sahabatnya itu akan semakin sibuk dengan pembukaan butik. Pasti akan sangat melelahkan.


Apa gadis itu masih memiliki waktu untuk beristirahat nantinya?


“Ah, aku sudah memikirkannya dengan matang. Satu hingga dua tahun kedepan, aku tidak akan se-sibuk ini lagi”


Alex hanya menganggukkan kepalanya, tanda mengerti.


“Yasudah, intinya kau harus menjaga kesehatanmu dengan baik, ayo kuantar” Alex berdiri lalu mengambil tas Efira, membaw atas tersebut keluar ruangan, diikuti Efira tentunya.


Banyak pasang mata yang menatap mereka. Alex yang tampan dan Efira yang manis menjadi perpaduan yang cocok.


...***...


“Baik pak, terimakasih” Efira menjabat tangan pemilik tanah yang sekarang sudah resmi menjadi miliknya.


Gadis itu menerima dokumen-dokumen surat tanah itu. Bayangannya sudah sangat liar, membayangkan tanah lapang di hadapannya akan di sulap menjadi butik impiannya.


Alex melihat arloji ditangannya, pukul 11.45. Sebentar lagi memasuki jam makan siang. Setelah berpisah dengan bapak pemilik tanah, Alex segera mengajak Efira pergi makan siang.


“Setelah ini kita kembali ke kantor, aku akan mengantarmu dulu” Ucap Alex, menyuap satu persatu potongan danging steak di piringnya.


“Hm” Gumam Efira.


“Nanti malam, kau harus ke rumah. Aku ingin bertanding PS lagi denganmu” Ucap Alex.


Efira hanya menatap sahabatnya malas, “Kau menantangku?”. Begitulah pertanyaan yang keluar dari bibir manis Efira.


“Sedikit”


“Jangan menangis jika kau kalah” Ah, gadis itu bahkan meremehkan seorang Alex.


“Sorry, seharusnya aku yang mengatakan hal itu” Alex tersenyum senang saat menatap wajah Efira sudah merah menahan kesal.


Jadi teringat saat itu, Efira SMP menangis karena kalah bermain game dari Alex. Jika dia kalah, dia tidak akan mendapatkan ice cream. Begitulah perjanjiannya pada waktu itu.


“YA TERUS TERUS” Alex SMP terus memencet remot PS-nya dengan semangat, begitu pula dengan Efira.


“TIDAK, KAU AKAN KALAH SEBRNTAR LAGI” Teriak Efira.


“OOOHHHH” Saat itu, Alex sudah hampir menyerah melihat bagaimana lemahnya jagoannya.


“SEBENTAR LAGI AKU AKAN MENDAPATKAN ICE CREAM COKLAT” Hanya itu, teriakan itu terus diulang Efira memenuhi seluruh ruangan.


“YAAASSSSSS, MENAAAAANG. AKU MENAAAAANGGG” Teriak Alex, dia berloncatan kesana kemari dengan senang.


Tapi lihat.


Kebahagiannya langsung luntur, Efira menangis di depannya. Membayangkan ice cream coklatnya melayang begitu saja.


“Tunggu disini”


Alex pergi ke dapur, mengambil satu kotak ice cream rasa coklat dan vanilla untuk sahabatnya.


“Aku sudah kalah Alex” Ucap Efira tapi, dia tetap menerima ice cream itu.


Tolong ketawakan sikap Efira.


“Kau selalu menang untukku, jangan menangis lagi. Nanti wajahmu itu jadi jelek” Ucap Alex, mengusap pelan air mata Efira.


Itu kejadian yang sudah sangat lampau, sekitar 7 tahun lalu, mereka masih berusia 13 tahun.


Mereka akhirnya terkikik geli mengingat kejadian manis itu, sebelum akhirnya kembali ke kantor masing-masing.