
Malam hari mereka sudah tiba di Roma, ibu kota Italia. “Indah” Satu kata itu yang mampu keluar dari mulut Efira.
Tiba di hotel, melihat ranjang king size di hadapannya membuat Efira ingin segera menjatuhkan tubuhnya disana. Padahal selama perjalanan tadi dirinya sudah lama tertidur tapi, terasa masih lelah saja.
“Aku mau mandi, apa kau mau ikut?” Tanya Alex.
Efira langsung memebelalakkan mata, apa katanya tadi? Apa kau ingin ikut?
“Tentu saja tidak, pergilah sana. Aku lelah sekali, rasanya tubuhku hampir remuk” Ucap Efira, merengek agar Alex segera pergi ke kamar mandi.
“Ya ya, baiklah” Alex langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.
Efira saat itu masih santai, bukankah dia tidak akan di apa-apakan lagi malam ini? Dirinya masih halangan kan?
Gadis itu membuka kopernya, menyiapkan baju ganti untuk diri sendiri dan juga Alex, sedikit risih juga jika melihat ****** ***** suaminya itu.
“Hanya tiga hari di Roma, lebih baik jangan di keluarkan semua” Gumam Efira.
Suara shower di dalam sana masih terdengar deras, menandakan bahwa Alex belum selesai juga dengan acara mandinya, padahal ini sudah 15 menit berlalu.
Efira mulai lelah melihat ponsel, gadis itu meletakkan punggungnya pada kepala ranjang, menghadap langsung ke kamar mandi, menunggu Alex hingga tertidur tanpa sadar.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Alex hanya dengan balutan handuk di pinggangnya.
Siapapun yang melihatnya pasti akan terpaku dengan perut kotak-kotak itu. Tapi, sayang Efira bahkan tidak melihatnya selama menikah.
“Sayang, kau tidur?” Gumam Alex mendekati Efira, dilihatnya sudah ada satu setel piama miliknya di ujung kasur.
“Kau menyiapkannya untukku hm?” Gumamnya lagi, meskipun sadar tidak akan ada jawaban, lelaki itu tersenyum atas perhatian kecil yang selalu dilakukan istrinya itu.
Setelah mengenakan baju tidurnya, Alex langsung menggendong Efira, membenarkan posisi tidur wanitanya.
Tapi, tunggu.
Tangannya tidak sengaja menyentuh area pribadi Efira.
“Dia tidak menggunakan?” Gumam Alex, menyipitkan matanya menatap sosok yang tengah tertidur pulas di gendongannya.
“Dasar kucing nakal, kau mau membohongiku rupanya” Gumamnya lagi, kali ini dia meletakkan Efira dengan asal.
“Sayang, kau tidak mandi hm? Apa mau langsung tidur saja?” Tanya Alex berbisik di telinga Efira.
Efira menggeliat pelan, dia mendengar bisikan suaminya.
“Eungh, aku mau tidur saja” Jawabnya dengan nada malas, mencari selimut untuk menutupi tubuhnya.
“Atau kau ingin aku tiduri saja hm?” Ucap Alex lagi, masih dengan berbisik sensual di telinga Efira.
Hal itu sontak membuat mata wanitanya membulat lebar sempurna.
“A-Apa maksudmu?” Efira terlihat gugup menjawab pertanyaan Alex barusan.
Sedangkan yang di tatap hanya mengeluarkan smirk andalannya.
“A-Apa?”
Gadis itu menelan salivanya kasar, kenapa Alex tiba-tiba aneh begitu hm?
“A-aku kan sedang…”
“Mandi atau aku buka sekarang?” Sahut Alex, memotong ucapan Efira.
Entah apa yang terjadi dengan Alex tapi, Efira segera mencari aman saja langsung lari ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi gadis itu terlihat bingung, mondar-mandir kesana kemari, “Apa dia sudah tau aku sudah selesai?” Gumamnya. Dia lalu mengisi bathub dengan air hangat, ingin berendam sedikit lama saja, yang sekiranya Alex sudah tertidur ketika ia keluar nanti.
20 menit berlalu, Efira merasa mungkin sudah cukup, dirinya juga sudah lelah berada di dalam air, keluar dari bathub lalu, “Dimana?” Gumamnya mencari handuk atau bathrobe.
“Aku tidak membawanya ya tadi?” Gumam Efira panik, berkeliling kamar mandi dan wastafel di depan shower.
“Sh*t” Dia mengumpat lalu pergi ke depan pintu.
“ALEX?”
Tidak ada jawaban
“Alex, apa kau sudah tidur?” Efira bertanya masih di balik pintu.
Sedangkan yang di panggil sudah ada di depan pintu kamar mandi sebenarnya, lelaki itu tau handuk Efira tertinggal.
“Alex?” Panggil Efira lagi, sedikit lebih keras.
Tapi, tetap saja tidak ada jawaban. Alex kembali ke kasurnya dan pura-pura tidur, menunggu gadisnya keluar sendiri saja.
“Huh, untunglah. Mungkin dia sudah tidur”
Efira membuka pintu, melongokkan kepalanya sedikit dan melihat Alex sudah berbalut selimut di ranjang sana.
Huh, gadis itu lagi-lagi menghela napas lega. Dia mengendap-endap untuk mengambil handuk di pojok kasur.
Baru saja melilitkan handuknya, ingin mengambil baju ganti, Alex sudah terlebih dulu bangun dan menarik Efira ke ranjang.
“Argh” Teriaknya.
“Alex, apa yang kau lakukan?” Ucap Efira panik, handuknya sudah meleber kemana-mana, sudah tidak bisa menutup beberapa bagian tubuhnya.
“Memangnya menurutmu apa yang aku lakukan, sayang? Apa aku salah?” Tanya Alex sembari mengelus bahu Efira.
“Ehm” Efira berdehem pelan, menetralkan diri yang terasa sedikit merinding.
“Kau sudah berani berbohong hm?” Bisik Alex, masih belum berhenti tangan nakalnya beraksi.
“A-Alex, kau tau?” Tanya Efira gugup.
Lelaki itu tersenyum, menci*m bibir Efira, mel*matnya pelan, memberikan rasa nyaman disana.
Malam itu, suara des*han keduanya terdengar nyaring. Pemandangan kota Roma menjadi saksi keduanya berkeringat bersama.