You

You
Tidak Seperti Rencana



Di tempat perayaan, Mira dan Devan sibuk menghubungi atasan masing-masing.


“Bagaimana?” Tanya nyonya Harrison pada Devan dan juga Mira. Saat ini mereka sedang berada di belakang panggung, menunggu kedatangan Alex dan juga Efira selaku yang bersangkutan.


“Belum ada jawaban nyonya”


Jam sudah menunjukkan pukul 19.00, acara inti sudah seharusnya di mulai tapi, bagaimana akan memulainya jika yang bersangkutan saja belum hadir di antara mereka.


“Lakukan dulu acara intinya, biar kami yang menghubungi Alex dan Efira” Ucap nyonya Javonte pada nyonya dan tuan Harrison. Bagaimana pun acara tetap harus berjalan sesuai dengan rencana.


“Bagaimana masalah seperti ini bisa terjadi? Pasalnya seharusnya ini menjadi surprise untuk Efira tapi, kenapa mereka tidak kunjung datang?” Nyonya Harrison mulai berceloteh, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada putranya dan calon menantunya.


“Nyonya besar, ada baiknya jika anda melangsungkan inti acara, kasihan para tamu sudah menunggu anda” Ucap Devan sopan, memberikan pengertian sehalus mungkin pada ibunda dari atasannya.


Nyonya Harrison terlihat menghela napasnya kasar, seperti berpikir keras untuk hal ini.


“Baiklah, kita mulai acaranya” Uca nyonya Harrison.


Semua bernapas dengan lega, Devan segera menghampiri MC untuk segera naik ke atas panggung dan memulai perayaannya.


Acara pun dimulai dengan lancar, meskipun nyonya Harrison terlihat tidak begitu bahagia, memikirkan putranya?


“Bagaimana?” Kali ini pertanyaan itu keluar dari mulut Mira untuk Devan.


“Tidak ada yang mengangkat. Tidak mungkin juga mereka dalam perjalanan atau bahkan belum berangkat. Pasti ada sesuatu hal yang sudah terjadi” Devan terlihat sangat tenang menghadapi masalah seperti ini. Meskipun sebenarnya lelaki itu juga bingung dalam lubuk hatinya.


“Suruh anak buahmu mencari tau” Ucap Mira.


“Menurutmu aku tidak mengutus mereka sejak tadi? mereka bahkan juga tidak ada satupun yang memberiku kabar atau sekedar mengangkat satu detik saja panggilanku” Jelas Devan.


“Acara ini tetap harus berlanjut, bagaimanapun set dekorasi dan lain-lain lebih menonjol di acara pertunangannya” Jelas Devan lagi.


Mereka sama-sama memutar otak. Mengingat di panggung sana sudah tertera kalimat ‘Happy Birthday and Happy Engagement’. Siapa yang akan bertunangan jika pemeran utamanya tidak ada?


Drrrt


Drrrt


Drrrt


Sebuah panggilan masuk ke ponsel milik Devan.


“Di rumah tuan Alex, kami hanya menemukan sebuah kotak cincin. Sepertinya sudah terjadi hal buruk, rumah tuan Alex benar-benar berantakan. Beberapa orang sedang bergerak mencari di rumah nona Efira” Jelas seseorang di seberang sana.


“Segera kabari aku kelanjutannya”


“Baik tuan”


Panggilan diputus sepihak oleh Devan.


Dia lalu mengutus anak buahnya yang lain untuk mengatur beberapa hal demi menyelamatkan acara ini dan tentu saja nama baik perusahaan.


Pasalnya, kolega dan tamu yang lain tidak hadir hanya untuk memeriahkan ulang tahun nyonya Harrison tapi, juga mereka ingin tau siapakah yang akan bertunangan pada malam hari itu.


...***...


“Efira” Panggil Alex.


Lelaki itu segera mendekati kekasihnya.


“T-Tidak, jangan mendekat” Ucap Efira terbata.


Bayangan masa lalunya itu terus terngiang di otaknya. Pria itu dan berbagai perkataannya terekam jelas di benak Efira.


Susah payah Efira melupakan kejadian itu, dengan mudahnya sekarang lelaki itu kembali. Menyiram air garam pada luka lama yang belum tertutup sempurna.


“Ini aku, Alex” Ucap Alex pelan, menatap mata gadisnya, memberi kekuatan tersirat dari tatapannya.


“A-Alex?”


“Iya, aku Alex”


Alex mulai mendekati kekasihnya, merangkul gadis itu bersama dengan tangis Efira yang semakin pecah.


“Tenang dulu, kita pergi dari sini” Ucap Alex lalu membawa Efira pergi. Lelaki itu menggendong kekasihnya ala bridal style.


Namun, di luar seperti ada orang?


Alex segera bersembunyi, siapa tau itu adalah anak buah si brengs*k tadi bukan?


“Tuan Alex?”


“Nona Efira?”


“Kalian di dalam?”


Alex segera keluar menemui anak buahnya.


“Tuan Alex, apa yang sudah terjadi?” Tanya lelaki yang diketahui bernama Cris itu, dia melihat Efira tidak berdaya di gendongan tuannya.


“Nanti saja ceritanya. Aku akan membawa Efira ke rumah sakit, tolong urus sampah di belakang. Bawa dia kembali ke nerakanya” Ucap Alex yang segera disambut anggukan mantap oleh Cris.


Cris tau, sampah apa yang dimaksud tuannya, dan lelaki itu sangat yakin bahwa lelaki itu ada hubungannya dengan apa yang sudah terjadi di markas.


Ah tapi, tangannya gatal lagi untuk menghabisi bajing*n lain di rumah ini.


...***...


“Jadi bagaimana?” Tanya Devan pada seseorang di seberang sana.


Sudah 15 menit berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 20.00 dan masih tidak ada pergerakan apapun.


“Tuan Alex membawa nona Efira ke rumah sakit. Kemungkinan mereka pasti tidak dapat hadir, ada sebuah insiden yang sudahterjadi di rumah tuan Alex”


“Baiklah, terimakasih”


“Tidak ada cara lain, ayo lakukan” Ucap Devan lalu menarik tangan Mira ke panggung utama.


“Hey, apa yang kau lakukan?” Mira memberontak, pasalnya gadis itu tidak tau ada rencana bodoh apa yang disiapkan oleh sekretaris tuan Alex itu.


Intinya saja, perasaannya tidak enak.


Pasti dia akan menjadi tumbal kali ini.


Devan segera menaiki panggung utama, diikuti oleh Mira tentunya.


Ralat.


Lebih tepatnya Mira yang ditarik oleh Devan.


Lelaki itu tersenyum ramah pada seluruh tamu, melihat ekspresi bingung tuan dan nyonya Harrison begitupun tuan dan nyonya Javonte.


“Selamat malam semuanya, saya Devan. Sekretaris pribadi tuan Alex, CEO Harrykiel Company. Malam ini saya tidak tau bagaimana saya akan mengatakannya pada beliau karena telah menaiki panggung ini tanpa seizin darinya tapi, ijinkan saya untuk mengatakan satu hal kepada kalian semua bahwa malam ini tuan Alex dan nona Efira berhalangan untuk hadir di tengah-tengah kita semua” Devan menghela nafasnya perlahan.


“Untuk tuan dan nyonya Harrison izinkan saya untuk mengisi acara berikutnya” Lanjut Devan, memandang tuan dan nyonya Harrison penuh harap, seolah sedang menjelaskan keadaan saat ini lewat tatapan matanya.


Tuan Harrison yang memang peka dengan sekitarnya langsung menganggukkan kepala sambil tersenyum indah dari tempatnya.


Mira? Gadis itu sedang mati kutu di atas panggung, tidak tau mau melakukan apa.


“Malam ini disini, saya ingin memberikan sebuah kejutan untuk pujaan hati saya. Katakanlah saya bukanlah seseorang yang romantis atau bahkan seorang lelaki yang suka mengumbar janji manis tapi, dengan segala kekurangan ini saya berharap kamu bersedia menutupinya dengan kehadiranmu dalam kehidupan saya. Dengan segala kekurangan saya ini, izinkan saya untuk memintamu. Amira, maukah kamu menjadi pendamping hidup saya? Menjalani liku kehidupan bersama saya? Menjadi ibu untuk anak-anak saya dan menua bersama?”


Devan berlutut, membuka sebuah kotak cincin berlian yang entah datangnya dari mana. Seolah pertunangan ini benar-benar direncanakan.


Sebenarnya, itu adalah cincin yang diperintahkan Devan pada anak buahnya tadi. Hanya butuh waktu 15 menit untuk cincin itu sampai di tujuan.


Lelaki itu ingin membuang wajahnyha sekarang, antara malu dan marah menjadi satu.


Marah pada mulutnya. Bisa-bisanya dia mengatakan hal menggelikan seperti itu?


Semua orang segera bersorak, “Terima terima”


Tapi, tidak dengan hati keduanya yang keras. Mira tentu saja dibuat tercengang dengan perlakuan Devan. Belum lagi dengan hadirnya sebuah cincin di antara mereka, seolah ini bukanlah rekayasa.


Dengan menarik nafasnya perlahan, Mira mengatakan “Yes, I will”


“WOOAAAAAHHH” Suara riuh tamu undangan membuat baik Mira maupun Devan memiliki pandangan yang sulit diartikan.


Apa-apaan ini? kira-kira begitu keduanya ber-telepati.


Devan langsung saja berdiri dan memasangkan cincin itu pada jari manis kiri Mira.


Sekali lagi, tepuk tangan tamu undangan mengiringi mereka.


Dan apa selanjutnya?


Devan mencium punggung tangan Mira mesra.


Tentu saja para gadis disana berteriak histeris.


“Cogan perusahaan sudah berkurang satu”


“Patah hati dedek, mas”


“Teganya kau bersama dengan wanita lain sedang disini ada hati kau hancurkan”


Begitulah celotehan gadis-gadis perusahaan.