You

You
Suasana Sarapan



Pagi itu saat Alex dan Efira kembali dari rumah sakit, orang tuanya masih belum terlihat. Tidak ada yang istimewa, artinya mereka belum tau bahwa Alex pagi-pagi sekali tadi membawa istrinya ke rumah sakit.


“Satpam di rumah ini apa perlu aku ganti?” Gumam Alex melihat keadaan rumah masih sepi, hanya beberapa pelayan yang sibuk dengan tugas masing-masing.


“Jangan kaku begitu” Sahut Efira.


“Ya sudah, ayo bersih-bersih dulu lalu ikut sarapan bersama nanti” Ucap Alex, kali ini menggendong Efira sampai ke lantai dua, kamar mereka.


Alex segera mengambil handuk, sedangkan Efira langsung menyiapkan pakaian untuk suaminya bekerja nanti. Tidak lupa, untuk dirinya sendiri juga.


Rencananya, hari ini Efira akan pergi ke butik untuk menyelesaikan beberapa project.


“Jika Alex menginginkan ‘itu’, apa boleh ya? Bodoh sekali, kenapa tidak tanya tadi” Gumam Efira sambil menyiapkan pakaian.


Sesekali dirinya berdiri di depan standing mirror, melihat bentuk tubuhnya yang masih belum berubah, kadang juga mengelus perutnya yang masih rata.


“Kira-kira bagaimana dia bisa membesar nanti? Bagaimana juga aku mengeluarkannya?” Gumamnya sendirian.


Tidak lama, terdengar suara pintu kamar mandi sudah dibuka, menandakan bahwa Alex sudah selesai dengan ritual mandinya. Sekarang gantian, Efira yang masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Sayang, apa mama dan ayah tau soal kehamilanmu?” Tanya Alex sambil menyisir rambut istrinya.


“Belum tau, aku memang berniat memberi tau mereka pagi ini” Jawab Efira.


Efira duduk sedangkan Alex di belakang Efira, menyisir rambut istrinya yang menurut Alex itu adalah bagian yang paling Alex suka.


“Omong-omong, kenapa kau rapi sekali hm?” Tanya Alex, melihat penampilan istrinya.


“Mau ke butik” Sahut Efira.


Alex langsung diam sejenak, “Kau tau bukan jika aku tidak akan membiarkanmu pergi tanpa seizinku” Ucap lelaki itu sebelum akhirnya melanjutkan kegiatan menyisirnya.


“Huh, sebentar saja Alex, aku hanya akan menyelesaikan beberapa project yang belum sempat aku lihat” Efira memohon, mengeluarkan puppy eyes sebagai jurus andalannya.


“Jangan menatapku begitu” Ucap Alex, masih mencoba kuat dengan pendiriannya.


“Ayolah, sayaaaang. Sebentaaaar saja” Sahut Efira, semakin memelas.


“Huh, baiklah tapi, kau harus aku antar. Aku tidak mengizinkanmu berangkat sendirian dan hanya sampai waktu makan siang nanti, aku akan menjemputmu di jam istirahat, makan lalu aku antar pulang” Sahut Alex.


“Terimakasih” Efira langsung memeluk Alex, menyalurkan rasa terimakasihnya disana.


“Ayo ke bawah, pasti ayah dan mama sudah menunggu” Ajak Alex.


Tidak salah, saat sudah tiba di ruang makan memang sudah ada tuan dan nyonya Harrison.


“Kejutan semalam berjalan lancar?” Goda nyonya Harrison.


Efira tersenyum, “Berjalan dengan sangat baik, ma”


“Apa kau juga tidak ingin berbagi kebahagiaan dengan kami?” Tanya tuan Harrison.


“Hehehe, maafkan Efira yah. Aku akan memberi tau sekarang, bahwa aku sedang hamil”


Tidak ada respon yang baik, terlihat bahagia namun ya sudah, biasa saja. Tuan dan nyonya Harrison tidak terkejut akan hal itu.


“Masa kami tau dari orang tuamu semalam, padahal kau sudah di rumah ini sejak siang, sibuk mempersiapkan kejutan untuk suamimu tapi, tidak memberi tahu kami? Ckckck, apa aku harus menghukummu?” Ucap nyonya Harrison, mengungkapkan rasa sedihnya karena tidak tau berita itu dari Efira langsung.


“Ya sudah, jangan di perpanjang. Intinya, kau harus jaga kesehatanmu dengan baik, katakan jika kau menginginkan sesuatu dan Alex, pastikan kau menjadi suami yang siaga untuk Efira” Kira-kira seperti itu wejangan yang di sampaikan oleh tuan Harrison kepada menantu dan anak laki-lakinya.


“Omong-omong, Efira apa kau mau bekerja, nak?” Tanya nyonya Harrison, melihat penampilan Efira yang terkesan rapi.


Efira mengangguk, menyetujui pernyataan dari ibu mertuanya, “Iya ma tapi, aku akan di antar Alex, tidak lama hanya sampai jam makan siang nanti, dia juga akan menjemput ku ke butik katanya, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan” Jelas Efira.


“Baiklah, jaga dirimu baik-baik ya” Ucap nyonya Harrison.


Pagi itu suasana sarapan di kediaman keluarga Harrison begitu hangat dirasa. Tidak berbeda dengan suasana sarapan di kediaman keluarga Javonte, mereka sepertinya sangat bisa menerima kehadiran Mira sebagai menantu keluarga Javonte, meskipun dengan kondisi yang sudah hamil sekitar 5 bulan katanya.


“Kau tidak sudah tidak perlu bekerja, Mira. Biarkan Devan yang memeras keringatnya di luar sana” Ucap tuan Javonte, mengingat kehamilan menantu perempuannya sudah mencapai bulan yang rentan, perut Mira juga perlahan sudah membesar.


“Tapi, ayah kasian Devan jika dia bekerja sendirian hanya berdua dengan Keisya, pekerjaannya terlalu menumpuk”


“Tidak apa, dia bisa mencari sekretaris baru nanti, atau apa kau cemburu jika dia hanya berdua dengan Keisya?” Goda tuan Javonte, meskipun dengan nada yang terdengar kaku.


Mira hanya tersenyum kecil, menatap Devan yang juga sedang melihatnya. Entah apa yang ada di pikiran keduanya saat ini.