
Alex POV
Lusa adalah hari ulang tahunku bersama sahabatku, Efira. Aku sedang mencari kado untuknya, kira-kira kado apa yang cocok untuk seorang gadis?
Baju? Ah tidak.
Bajunya sudah banyak.
Sepatu?
Dia sudah memiliki tiga lemari di walk in closet-nya bahkan semuanya memiliki harga yang tidak murah.
Perhiasan?
Efira bukan tipe gadis yang suka menggunakan perhiasan.
Aku memasuki satu per satu toko di satu per satu mall.
Mall ini menjadi pilihan terakhirku, aku terus memasuki toko baju, toko perhiasan, toko aksesoris, toko buku juga, intinya toko yang biasa dikunjungi wanita, bahkan tak jarang aku salah memasuki toko untuk dalaman wanita.
“Tuan anda ingin mencari dalaman wanita?” Tanya salah satu pegawai.
“Ah i-iya” Jawabku gugup, sebenarnya aku sungkan untuk menolak pertanyaan pegawai ini, tatapannya seperti ‘Ayolah, nak’. Dia wanita paruh baya namun, masih sangat cantik, sepertinya dia adalah supervisor di area ini. Ah, sudah tertangkap basah juga, biar saja tercebur sekalian.
Tapi, ketika masuk hatiku terus mengumpat. Bagaimana mungkin aku memasuki surganya para wanita ini?
Lihat, apa itu?
Maaku hampir copot berada disini. Hey, aku tidak pernah melihanya se-detail ini.
“Tuan, berapa ukuran bra yang akan anda beli”
Ukuran bra?
Sial.
Apa aku harus bertanya pada Efira berapa ukuran branya? Aku yakin, kepalaku akan langsung dipenggal.
Aku menggaruk tengkukku pelan, menandakan bahwa aku sedang bingung.
“Kau membeli ini untuk istrimu kan? Apa kau tidak pernah melihat berapa ukuran branya?”
Kau tau? Aku hanya tersenyum kikuk mendengar penuturan ini.
“Se-sebenarnya aku tidak tau berapa ukurannya”
Mulutku ini, aish. Aku tidak bisa mengatakan apapun lagi.
Untuk istriku? Berapa ukuran branya?
Aku bahkan tidak pernah merasakan kencan atau pacaran jika kata orang Indonesia. Arti cinta saja aku baru akan belajar dari buku novel yang aku beli tadi.
“Kau pasti pengantin baru. Aku tau sesuatu yang cocok untuk istrimu” Wanita paruh baya itu melenggang pergi, memberikan aku isyarat dari matanya untuk mengikuti langkahnya.
What?
Kakiku sangat lemas mendengar penuturan ibu ini.
“Ini”
Kalian tau itu apa?
Jejeran lingerie terpampang di hadapanku.
Aku meneguk ludahku kasar, bagaimana ini?
“Jika kulit istrimu kuning langsat atau kulitnya putih seperti orang Korea. Warna hitam dan merah akan sangat cocok untuknya tapi, warna merah akan terkesan sangat menggoda” Ibu itu menunjuk salah satu model yang terlihat sangat sexy disana.
Wajahku pasti sudah merah padam sekarang.
Aku tidak akan mamou menolak ibu ini, dia sudah paruh baya. Harusnya anaknya yang bekerja, dia tinggal menikmati masa tuanya di rumah.
“Pilihkan saja yang menurut anda bagus” Finalku.
Akhirnya aku membeli satu buah lingerie berwarna merah. Aku memintanya untuk sekalian dibungkus, agar tidak terlihat oleh mataku. Anggap saja untuk istri masa depanku.
Aku menerima paper bag itu dari tangan kasir lalu membayarnya.
Ingat! Aku tidak mau memberikan ini untuk Efira.
Aku langsung keluar dengan cepat dari toko ini.
Setelah aku menetralkan diriku sendiri dengan membasuh wajah di toilet mall, aku melanjutkan penjelajahanku.
Tolong bantu aku berfikir, aku tidak pernah memberikan hadiah yang mahal. Hadiah yang aku berikan selalu yang sederhana.
Ah ya, sederhana namun berkesan bukan?
Aku terus berfikir sambil berjalan mengelilingi seisi mall. Tapi, tidak ada satupun yang pas dengan hatiku.
Sampai akhirnya aku keluar dari tempat ini, parahnya ‘DENGAN TANGAN KOSONG’.
Ah tidak, dengan satu dua buah paper bag berisi novel dan juga lingerie. Tapi, itu jelas bukan kado untuk Efira.
“Aish” Aku menggaruk rambutku yang tidak gatal ini hingga mungkin terlihat kacau.
Dasiku sudah tidak rapi, jasku sudah aku sampirkan di lenganku dengan telapak tangannya membawa paper bag.
“Bahkan dia sangat tampan meskipun rambutnya acak-acakan”
“Terlihat seperti sugar daddy”
“Mungkin dia sudah memiliki istri, aku melihatnya membeli lingerie tadi”
Aku membelalakkan mata, bisa-bisanya gadis itu melihatku membeli barang haram ini. Aku tidak mengenalnya tapi, bisikan para gadis di sekitarku sangat terdengar jelas di telingaku.
“Aku bisa gila, dia sangat tampan”
“Apa dia seorang pangeran dari negeri dongeng?”
“Bukankah dia CEO Harrykiel Company? Ah sangat tampan daripada di foto”
“Culik aku mas. It’s my dream mas, not them”
“Definisi sugar daddy yang sebenarnya. Transfer aku dari rekening yang tak pernah diketahui istrimu mas”
Aku semakin frustasi, bisikan-bisikan para gadis ini selalu terdengar kemanapun aku pergi.
Oh hey, aku masih 20 tahun, lusa baru 21 tahun. Kalian tidak bisa memanggilku sugar daddy, sugar brother adalah julukan yang cocok, batinku.
Aku segera masuk ke mobil setelah menjadi gila untuk diriku sendiri. Menyusuri seisi kota adalah pilihanku. Ya meskipun tidak ada yang bisa kutemukan.
Kruuuuk
Apa itu?
Sesuatu yang bergetar di tubuhku?
Aish, perutku ini. aku melihat jam tanganku, pukul 19.00. Aku bahkan melewatkan makan siang, ya setidaknya aku bisa menebusnya bersama makan malam bukan?
Mari kita makan, boleh saja menggilai sesuatu asal perutmu harus tetap terisi penuh.
Tunggu, apa Efira sudah makan? Kira-kira apa yang sedang dilakukan? Pikirku.
Baiklah, mari kita hubungi saja. Aku mengambil ponselku dari saku, menekan tombol panggil di nomor Efira.
‘Halo’ Suaranya terdengar dari seberang sana.
“Sedikit berisik disana, kau sedang dimana?” Tanyaku saat menyadari bisingnya suara dari tempat gadis itu.
‘Aku sedang menikmati malamku di taman’
“Sendiri?”
‘Tentu saja, aku tadi sempat mencari di rumahku, bibi bilang kau pergi bekerja dan tidak kembali hingga malam begini. Sebenarnya kau ini kemana?’
“Ah iya, maafkan aku. Aku sedang ada urusan mendadak tadi.”
‘Ya ya kau memang sibuk’ Aku bisa mendengar dia sedikit terkekeh di akhir kalimatnya.
“Tunggu, aku akan menjemputmu kesana”
‘Ya, bawakan aku makanan. Aku lapar’
“Baiklah yang mulia ratu. Paket anda akan segera datang”
Aku mengakhiri panggilan kami, lalu menatap kedai sederhana kesukaan kami semasa sekolah. Masih sama, tidak ada yang berubah.
Aku langsung turun dari mobil, memasuki tempat tersebut dan memesan beberapa makanan kesukaan Efira.
Alex POV End