
“Guys, apa kalian mau ikut berenang?” Tanya Efira pada teman-temannya. Mereka sedang sarapan, Efira dan Alex yang memasak. Mereka tidak menggunakan jasa koki, bukankah memiliki pesta sendiri itu menyenangkan?
“Tidak, aku ingin berjemur di pantai bersama Elena” Jawab Bella. Sepertinya Elena sudah mampu berbaur dengan teman-teman SMA Efira.
“Aku akan bermain game di pinggir pantai sana. Sepertinya seru” Sahut Samuel.
“Aku akan menonton pertandingan bola dengan Devan” Ujar Nando.
“Aku akan menghabiskan waktu di sawah mungkin? Terlihat sangat sejuk disana”
Frans pun akan menikmati kesendiriannya di sawah.
“Aulia dan Deva?” Tanya Efira, bertanya tentang kegiatan mereka hari itu.
“Mencari tempat untuk berswa foto” Jawab Deva yang langsung di angguki oleh Aulia.
“Ngomong-ngomong, apa yang kalian lakukan semalam?” Bella menaik turunkan alisnya penuh sarat kepada Efira dan juga Alex.
Alex yang saat itu sedang menenggak minuman, dibuat tersedak akan hal itu.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
“Apa tidak ada pertanyaan yang lebih baik dari itu?” Tanya Alex.
Sedangkan Devan sudah menahan tawanya. Sejatinya, dia bukanlah sekretaris yang kaku, dia hanya suka kesal dengan bosnya.
“Aku hanya bertanya, apa salahku?” Jawab Bella santai.
“Lagipula kau tega sekali, aku dan yang lainnya harus tidur di ruang tengah karenamu” Ucap Samuel.
“Betul sekali, kau ini membuatku ingin menangis melihat kalian malah berpelukan di dalam sana” Ucap Gio, lagi-lagi dengan frontal.
Para lelaki itu ingat betul bagaimana mereka dengan gaya sempoyongan, berusaha masuk ke dalam kamar mereka. Sudah berjuang dengan keras untuk sampai ke kamar, ketika membuka pintu malah?
“Heh” Gio yang membuka pintu tercengang dengan apa yang ia lihat.
“Kembali! Tidur saja di ruang tengah” Lanjut Gio. Memastikan bahwa yang lainnya tidak melihat apa yang ia lihat.
“Kenapa? Aku sudah sangat mengantuk, jangan menghalangiku” Ucap Frans. Lelaki itu ingin menerobos masuk.
“Hey bule, kau tidak boleh masuk” Ujar Gio, menahan Frans dengan jari telunjuknya mendorong dahi teman bule Alex itu.
“Memangnya ada apa?” Tanya Samuel, wajahnya sudah sayu tidak kuat menahan diri lagi.
“Kau memang sialan Gio, biarkan kami masuk. Kau saja yang tidur di ruang tengah” Balas Nando, mencoba menyingkirkan Gio.
Tentu saja Gio kalah, dirinya tergeser oleh teman-temannya.
Deg
Seketika, Samuel dan yang lainnya terdiam di depan pintu. Sudah tidak suci mata mereka.
“Kenapa tidak bilang ha?” Ucap Devan protes.
“Aku sudah melarang kalian tapi, kalian tetap ingin masuk. Salahku dimana?” Bela Gio.
“Kau tidak bilang jika Efira juga ada di dalam” Sahut Nando.
“Berpelukan mesra dalam satu selimut begitu. Mataku tidak lagi baik, mungkin besok aku katarak” Ucap Samuel.
Begitu kira-kira kejadian yang dialami para lelaki.
Para gadis mendengarkan hal itu dengan baik. Tadi pagi, mereka pun bertanya-tanya kenapa lelaki-lelaki itu malah tidur di ruang tengah, bukan di kamar.
“Ternyata begitu ceritanya. Lalu, bagaimana Efira? Alex? Apa yang terjadi sebelum itu?” Tanya Deva.
“Kalian tau kan ini masih pagi? Tidak baik bertengkar di depan makanan, begitu kata Aulia” Ucap Efira sebelum perdebatan akan semakin panjang.
Alex dan Efira saling menatap kaku.
Bukan apa-apa, hanya saja itu terdengar sangat memalukan.
...***...
“Eengghh” Efira menggeliat pelan, merasakan berat di area perutnya.
Penasaran, gadis itu menurunkan pandangannya. Sebuah tangan kekar bertengger di perutnya.
“Aaaaa”
BRAK
Alex terjatuh, bokongnya mendarat mulus pada permukaan lantai.
“Kenapa berteriak pagi-pagi begini?” Alex bangun dari duduknya, menatap Efira kesal. Dia masih mengantuk, percayalah.
“Apa maksudmu berteriak-teriak pagi hari? Kenapa kau disini?” Ucap Efira cepat, mempertanyakan maksud Alex di kalimat pertamanya.
“Ck, bukankah semalam aku yang memintamu untuk menemaniku? Semalampun kau sudah mengangguk jadi, aku atau dirimu yang mabuk?”
Efira jadi malu sendiri. Seharusnya dia ingat bahwa kejadiannya seperti itu tapi, kenapa malah Alex yang ingat dan dia lupa?
Wait.
“Kau ingat?” Tanya Efira.
“Aku bahkan ingat rasa manisnya bibirmu” Jawab Alex santai.
Sialan.
“Alex, jadi semalam kau tidak mabuk?”
“Aku? Aku mabuk dan aku ingat. Beginilah menjadi lulusan terbaik di universitas terbaik di luar negeri”
Cih, tinggal katakan bahwa semalam alam bawah sadarnya masih ada. Begitu saja apa susah?
Kenapa malah menyombongkan diri begitu?
“Kita hanya berciu*an, tidak lebih dari itu. Tolong biasa saja, kondisikan wajahmu itu” Ucap Alex.
Padahal dirinya sendiri sudah mau mati saking malunya dengan kejadian semalam.
Oke, ini bukan pertama kalinya tapi, rasanya jantungnya mau meledak.
Efira segera mencari cermin, wajahnya memang merah sekali.
Ah, memalukan.
Dia segera berlari ke kamarnya dan menyiapkan sarapan dibantu Alex.
Ditemani kecanggungan di antara keduanya.