You

You
Pulang



“Mau aku bantu bersiap-siap?” Tanya Alex.


Efira terkejut akan hal itu. Pasalnya lelaki itu tiba-tiba memunculkan kepalanya di balik daun pintu.


Setelah adegan dramatis tadi, mereka memutuskan untuk segera bersiap ke bandara.


“Kau mengagetkanku, memangnya kau sudah prepare?” Tanya Efira.


“Aku sudah selesai” Jawab Alex, berganti posisi seperti melipat kedua tangannya di depan dada dan bersandar pada pintu.


Terlihat keren.


Begitulah pikir Efira.


“Tidak usah membantuku, aku akan selesai sebentar lagi” Ucap Efira semangat, menutup kopernya dengan cepat.


“Baiklah, mari berangkat dan tinggalkan tempat ini” Jawab Alex, membawa koper milik Efira lalu keluar, menyeret kopernya juga di tangan yang kosong.


Saat sudah di bandara pun, banyak sekali peraduan mulut di antara keduanya.


Seperti ini misalnya, “Biar aku saja, Lex” Sahut Efira, mencoba mengambil alih kopernya dari tangan sahabatnya itu.


Namun, Alex adalah Alex. Lelaki itu tidak membiarkan hal yang diingikan Efira terjadi. Dia malah semakin erat memegang koper Efira.


“Ya ya baiklah, aku menyerah”


Efira berjalan di belakang Alex, menatap lelaki itu yang tengah kesusahan menyeret dua koper di tangannya.


“Berjalanlah di sampingku, aku tidak mau kehilangan jarak pandang denganmu. Nanti jika kau hilang bagaimana? Aku tidak mau repot dua kali, Efira. Bayangkan aku mencarimu sambil membawa dua koper begini. Bukankah itu sangat merepotkan?” Omel Alex, lelaki itu terlihat lucu jika sedang begitu. Efira yang mendengar hal itu langsung berlari kecil sebagai respon positif.


Dengan paksa mengambil kopernya dari Alex hingga lelaki itu mengalah.


“Begini kan nyaman, kau tidak kerepotan dan tidak akan kehilangan diriku juga” Efira menautkan jemarinya di antara jemari tangan Alex yang bebas.


Alex hanya tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya yang memang masuk akal juga.


Kira-kira begitu drama kali ini.


“Tidurlah, kau harus istirahat” Ucap Alex, mereka duduk bersebelahan di dalam pesawat. Tidak ada yang istimewa, hanya perhatian kecil yang biasa dilakukan olehnya.


“Kau juga” Jawab Efira.


Mereka akhirnya terbang ke alam mimpi bersama. Yang membuat iri awak kabin adalah tangan mereka tetap bertautan di sana.


...***...


Tidak terasa, hampir 12 jam mereka menempuh perjalanan, akhirnya Efira dan Alex tiba di kompleks perumahan.


Rumah mereka berhadapan, anggap saja mereka tetangga. Ini sebabnya mereka dapat bersahabat sejak kecil.


“Rumah kita tidak berubah ya?” Ucap Alex, memandang rumahnya dan rumah Efira dengan penuh rindu.


Begitu juga dengan Efira. Gadis itu pun memandangi rumahnya sendu.


Orang tua keduanya sudah menanti di depan gerbang masing-masing.


“Ayah, bunda” Efira langsung berlari, berhambur pada pelukan orang tuanya.


Sedangkan orang tua Alex?


Tuan dan nyonya Harrison menghampirinya yang sedang sibuk mengeluarkan kopernya dan koper Efira dari bagasi dibantu supir taxi.


“Dasar anak nakal, lima tahun tidak pulang. Kau pikir ibumu ini tidak merindukanmu ha?” Ucap ibunda Alex, menjewer telinga lelaki itu dnegan gemas.


“A-a-ah bunda” Rengek Alex, mengusap telinga kanannya pelan, merasakan panas disana.


Lelaki itu memutar badannya dan memeluk bunda tersayangnya, menumpahkan segala kerinduannya, “Alex rindu tapi, Alex sudah dewasa, setidaknya jangan jewer Alex di depan gerbang begini. Malu jika ada yang melihat” Ucap Alex pelan di tengah pelukannya.


Ibundanya itu tengah menangis, Alex mencoba menenangkannya dengan usapan-usapan pelan di punggung sang ibu, menyalurkan kenyamanan disana.


“Ayah pikir kau meninggal disana, bagaimana mungkin kau sama sekali tidak pulang selama lima tahun ha?” Omel tuan Harrison.


Alex menggaruk tengkuknya yang tak gatal, meringis pelan dengan ucapan pedas ayahnya, “Ayah, jika Alex meninggal, ayah akan sangat kesusahan mengingat harta ayah yang begitu banyak dan sayangnya, anak durhaka ini adalah satu-satunya pewaris yang ayah miliki” Balas Alex penuh kemenangan.


“Sudah, besok saja berdebatnya. Ayo masuk, ini sudah larut. Angin malam tidak baik untuk kesehatan” Ucap nyonya Harrison.


Namun, belum sempat mereka melangkahkan kakinya, “Pasti Alex juga belum makan. Ayo makanlah di dalam. Bunda sudah menyiapkan banyak masakan untuk menyambut kedatangan kalian” Ucap nyonya Javonte, ibunda Efira kepada Alex dan kedua orang tuanya.


Pasti akan ada banyak pertanyaan yang timbul selama mereka tidak pulang, mengingat waktu yang mereka miliki tidak banyak, bahkan sekedar untuk menghubungi keluarga. Perbedaan waktu yang cukup jauh pun membuat mereka kesulitan, apalagi di tengah kesibukan kuliah dan juga dan pekerjaan mereka.


“Ini sangat lezat, aku rindu sekali dengan masakan lokal” Puji Alex, mulutnya masih dipenuhi makanan.


“Kau bisa menghabiskannya” Jawab nyonya Javonte, tersenyum hangat pada Alex. Lelaki itu tetap menjadi Alexnya Efira, tetap menjadi anak lelaki kesayangan keluarga Efira dan juga Alex.


Alex hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


“Ayah dengar Alex dan Efira berkembang pesat di sana. Alex masuk ke dalam perusahaan IT besar, dan Efira masuk ke dalam butik terkenal. Tandanya kalian sudah sangat siap memasuki dunia kerja bukan?” Ucap tuan Javonte pada dua sejoli yang baru saja sampai di rumah itu.


“Sebelum kami pergi, kami hanyalah sebuah bibit kecil tak bermakna. Lalu, di sana kami tumbuh, berkembang, berbunga, berbuah, lalu akhirnya hari ini kami tinggal memetik buahnya saja” Jawab Alex menggunakan bahasa perumpamaan yang mudah dimengerti.


“Kami bangga dengan kalian. Bagaimana dengan kehidupan kalian? Apa menyenangkan berada disana?” Tanya nyonya Javonte, sambil mengelus puncak kepala putrinya.


“Ayah, bunda. Disana menyenangkan, sangat menyenangkan tapi, disini jauh lebih menyenangkan, karena kalian adalah rumah kami. Kebahagiaan kalian adalah tujuan kami” Ucap Alex lagi, Efira tidak ingin banyak bicara. Gadis itu sibuk bermanja dengan bundanya.


Mereka menghabiskan waktu bersama dengan bercerita, sampai tidak terasa hari sudah semakin larut. Efira dan juga Alex segera dipersilahkan untuk beristirahat.


“Kamarku tidak berubah” Ucap Efira. Memandang setiap sudut ruangannya. Barang-barangnya di Amerika masih terngiang, album-album K-Popnya masih disana semua.


“Aku akan mengambilnya jika ada kesempatan” Gumam Efira lagi, lalu berlalu ke alam mimpi.


Di sisi lain, Alex juga tengah menikmati suasana kamarnya, “Tidak ada yang berubah” Ucap lelaki itu, merebahkan tubuh lelahnya di ranjang.


“Wellcome home, Alexander Harrison” Gumam lelaki itu, berakhir dengan menutup matanya.