
“Temani aku makan malam nanti” Ucap Alex pada Efira, pasalnya Alex ada pertemuan dan perjamuan di salah satu koleganya. Kabarnya karena koleganya itu sedang merayakan ulang tahunnya.
“Jam berapa?” Tanya Efira.
Mereka pulang bersama, saat ini mereka sudah berada di perjalanan menuju rumah.
“Pukul 19.00” Jawab Alex singkat.
“Jemput aku” Ucap Efira.
“Okey sayang, mau mampir dulu? Mencari gaun untukmu?” Tawar Alex.
Katakan, dimana bisa mendapat lelaki se-royal Alex di dunia ini? hanya 3 banding 100 yang ada di dunia ini. terlalu sedikit dan terlalu jauh perbandingannya.
“Tidak, aku sudah memiliki banyak gaun di rumah. Kau tau bukan jika aku tidak terlalu suka dengan gaun? Lihat saja di lemariku, setelan formalku bertambah setiap waktu. Tuntutan pekerjaan membuatku harus mengoleksinya” Ucap Efira.
Efira memang bukan gadis tomboy tapi, dia adalah gadis yang anti ribet. Semasa remajanya dulu, pakaian casual adalah outfit terbaik untuknya. Sedangkan sekarang? Setelan formal dan kefeminimannya dituntut untuk mencolok karena pekerjaannya.
“Ya ya baiklah, siapa tau kau ingin membeli lagi. Sekedar untuk mengoleksinya di walk in closet-mu?”
“Tidak tidak, aku akan sangat kesusahan nanti. Lebih baik kau belikan aku bakso di depan komplek perumahan kita, itu terasa lebih segar dan mengenyangkan”
Mendengar hal itu, Alex hanya mampu terkekeh. Jika biasanya seorang gadis akan suka jika diajak belanja maka, kekasihnya itu lebih suka diajak makan dan jajan di pinggir jalan.
Se-sederhana itu, padahal jika di pikir-pikir Efira adalah CEO perusahaan yang sangat maju dan itu tidak membuatnya membandingkan atau membedakan kastanya dengan orang lain.
“Baiklah, kita mampir dulu kesana” Ucap Alex setelah melihat jam tangannya yang ternyata masih menunjukkan pukul 17.00. Masih cukup waktu untuk makan bakso, setidaknya setengah jam itu sudah cukup lama.
“Serius? Kita kesana?” Tanya Efira semangat.
“Tentu, apa yang kau inginkan itu adalah sebuah perintah yang harus di segerakan olehku”
Efira tentu saja melayang dengan jawaban itu, pipinya pasti sudah merah sekarang.
Dulu jika Alex mengatakan hal-hal manis seperti itu, Efira akan bergidik ngeri dan akan mengatakan hak-hal menyebalkan, memancing debat diantara mereka. Sekarang apa? diam membisu sambil tersipu malu.
Alex melirik gadisnya sebentar, dia gemas sendiri dengan kekasihnya itu.
“Jangan membuatku gemas, kau bisa saja aku cium disini jika wajahmu terus memerah begitu” Ucap Alex, meminggirkan mobilnya.
“Kenapa berhenti?” Tanya Efira.
Takut jika Alex benar-benar akan melakukannya di pinggir jalan begini.
Alex dibuat bingung, lalu sedetik kemudian sadar bahwa kekasihnya masih terlalu salah tingkah hingga tidak menyadari sesuatu. Alex ingin menggoda gadisnya, dia mendekatkan wajahnya kepada Efira, seolah ingin menciumnya. Saat itu Efira bahkan sudah memejamkan matanya, pasrah dengan kekasihnya.
Huh
Alex meniup wajah Efira, membuat gadis itu membuka matanya. “Kita sudah sampai di depan komplek, ayo turun. Abang tukang baksonya sudah menunggu kita” Ucap Alex lalu turun, membukakan pintu untuk kekasihnya yang sudah menampilkan wajah kesalnya.
“Maafkan aku” Ucap Alex lalu mencium kening gadis itu, di depan banyak orang di komplek itu.
Sungguh pasangan tidak tau tempat. Mungkin begitu yang dikatakan pada batin orang-orang yang melihatnya.
“Abang, baksonya dua porsi ya” Ucap Alex, memesan dua mangkuk bakson untuknya dan juga Efira setelah mereka berhasil mendaratkan bokong di
...***...
Alex dan Efira masuk ke aula tempat dirayakannya ulang tahun kolega Alex. Mereka menjadi pusat perhatian karena ya seperti yang diberitakan bahwa dua CEO muda itu akhirnya menjalin hubungan spesial.
“Pantas saja Alex tergila-gila dengan Efira, dia memang sangat cantik”
“Tidak hanya cantik, dia juga anggun dan cerdas”
“Jangan lupa, dia sexy”
Pujian itu membuat telinga Alex panas, bahkan seluruh badannya panas. Tepatnya berpusat di hatinya.
“Aku cemburu mendengarnya” Ucap Alex, berbisik di telinga Efira, memeluk pinggang gadisnya posesif.
“Aku tidak suka kekasihku dilihat banyak orang begini. Lagipula kau ini apa-apaan bajumu itu” Lanjut Alex.
“Memangnya kenapa?” Tanya Efira.
“Kan aku sudah mengatakan tadi, ganti gaunmu. Punggungmu terbuka begitu Efira, aku ini tidak mau ada orang yang melihatnya selain aku”
Plak
Lagi-lagi lengan Alex menjadi korban, meskipun pelan agar orang-orang tidak melihatnya tapi, ya tetap saja menurut Alex itu bentuk penganiayaan.
“Otakmu memang begitu” Ucap Efira.
“Bukan karena vulgarnya sayangku tapi, aku tetap tidak mau jika ada yang melihat tubuhmu yang terekspos ini. Pakai saja jasku” Ucap Alex, melepas jas yang ia kenakan lalu menyampirkannya di bahu kekasihnya dan tak lupa memeluk pinggang kekasihnya itu sebagai tanda bahwa Efira adalah miliknya mutlak.
Jangan tanya hati para wanita yang melihatnya, sudah pasti hati mereka sudah berantakan di tanah melihat kemanisan Alex kepada Efira.
“Aku iri, aku ingin menggantikan posisi Efira”
“Aku pun iri”
“Seandainya mereka bisa dipisahkan”
Itu doa terjelek yang pernah Efira dengarkan, dia sadar bahwa kekasihnya itu kaya dan juga tampan, dan tentu Efira sadar bahwa saingannya ada dimana-mana.
“Kalau bisa, lain kali kau pakai dress panjang seperti yang biasa digunakan Aulia saat kondangan. Itu akan terlihat sangat sopan” Ucap Alex.
“Apa kau menginginkan aku menjadi seperti Aulia? Menjadi muslim begitu?” Tanya Efira.
“Tidak sayang, pakai saja pakaian yang se-sopan dia. Jika kau ingin menggunakan dress yang terbuka, gunakan saja di hadapanku saat kita sedang berdua. Dinner private misalnya. Itu terdengar lebih baik daripada kau harus menjadi pusat perhatian begini” Alex tetap menggerutu, tidak terima dengan gaun yang digunakan kekasihnya.
Padahal jika dilihat, para wanita yang hadir di pesta tersebut malah menggunakan gaun dengan potongan lebih tinggi di atas lutut, atau bahkan gaun pesta yang terlihat sangat terbuka. Efira masih lebih baik, gaunnya masih panjang meskipun bagian punggungnya terekspos sempurna.
“Baikah, jika nanti kau keluar lagi bersamaku maka kau saja yang pilihkan” Ucap Efira, lelah berdebat dengan Alex.
“Bagus” Ucap Alex, semakin mengeratkan pelukannya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat kemesraan mereka berdua.
“Pesta ini untuk kalian, nikmati saja dulu karena besok rencana Alex untuk melamarmu itu tidak akan berjalan dengan baik” Gumam lelaki itu sambil menikmati vodkanya.