
Alex terbangun lebih dulu, masih dengan posisi memeluk wanitanya. Lelaki itu tersenyum sekilas, menelisik wajah Efira dari dekat.
“Cantik” Gumamnya, mengelus pelan pipi Efira.
Mungkin pergerakan tersebut membuat Efira tidak nyaman, wanita itu bergerak sejenak lalu membuka matanya.
Mendapati Alex tepat berada di depannya dari jarak yang begitu dekat membuat jantung Efira berdetak begitu cepat.
“Today, mau keluar atau mau di kamar saja?” Tanya Alex, mengingat mereka sudah menghabiskan malam yang begitu melelahkan. Barangkali Efira malah tidak mau keluar?
Efira yang masih belum sadar sepenuhnya, mengerutkan keningnya, berfikir keras.
“Keluar saja” Jawabnya serak.
“Baiklah, ayo siap-siap” Ucap Alex lalu bangkit dengan santainya.
Efira yang melihat Alex hanya menggunakan ****** ******** langsung melempar lelaki itu dengan bantal, “GUNAKAN CELANAMU DENGAN BAIK” Teriaknya lalu menutup wajahnya yang mungkin malu dengan bantal yang lain.
“Kau sudah melihatnya sayang, lalu apalagi yang harus di sembunyikan hm?”
Entah kenapa lelaki itu tiba-tiba sudah kembali ke ranjang, berbisik halus di telinga Efira.
“Mau mandi bersama?” Tanya Alex memainkan alisnya, menatap Efira menggoda.
“Tidak, pergi sana” Efira salah tingkah, langsung mengusir lelakinya begitu saja.
“Hah, baiklah”
Tanpa aba-aba Alex langsung membawa Efira ke gendongannya, membawa wanita itu masuk ke kamar mandi.
“Aleeeeeex, tidak maaaauuuu” Kira-kira begitu protesan Efira pada suaminya.
...***...
“Ini semua gara-gara kau” Efira mendengus kesal saat menyebrangi jembatan khusus pejalan kaki, ponte sisto.
Alex hanya tertawa gemas, “Sudahlah sayang, apa kau akan mengahabiskan waktu dengan menggerutu begini?” Ucapnya.
Ya, ini sudah pukul 12.00 siang disana dan mereka baru keluar dari hotel.
Acara bersih-bersih yang katanya mandi tadi berakhir tidak hanya dengan mandi, membuat keduanya malah turun di siang terik.
“Kan jadi tidak lama jalan-jalannya”
“Kau bisa menghabiskan waktu selama yang kau mau disini” Sahut Alex, menggandeng tangan istrinya lembut.
“Kau mau?” Tanya Alex, memperhatikan Efira yang seperti sudah ingin melahap ice cream khas Italia itu dari kejauhan.
Sebagai jawaban Efira hanya mengangguk semangat, memperlihatkan diri seperti seorang anak kecil yang sangat menginginkan sesuatu.
“Signore, vorrei due palline di gelato alla nocciola e alla menta”
Alex memesan dua Scoops ice cream hazelnut dan dua mint gelato yang merupakan ice cream khas negara tersebut dengan bahasa Italia yang baik.
“Ok signore, aspetti un minuto” Jawab sang penjual, meminta Alex dan Efira menunggu sebentar.
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan dengan menyantap gelato, menikmati pemandangan kota tua Roma yang begitu indah dan karismatik.
“Kau senang?” Tanya Alex.
“Tentu” Sahut Efira.
“Bagus, kau terlihat jelek jika marah-marah seperti tadi” Ucap Alex, menggoda wanitanya hm?
Tapi, Efira tidak mau mengambil pusing goadaan suaminya, gelato miliknya terasa begitu nikmat, tidak harus dipadukan dengan rasa jengkel untuk menambah cita rasanya.
“Aku dengar disini ada butik kelas dunia?” Ucap Efira mengalihkan topik pembicaraan.
“Hm, ada di Spagna atau Spanish Steps. Piazzanya pun begitu indah. Kau bisa belanja berbagai macam brand disana, mau kesana hari ini?” Tanya Alex.
Lagi-lagi Efira hanya mengangguk sebagai jawaban, mereka menyusuri jalanan dengan tenang dan bahagia, sesekali berhenti sekedar untuk berfoto, mengabadikan kenangan disana. Di jam makan malam, mereka mampir ke salah satu restoran untuk makan malam, rupanya mereka melupakan sarapan dan makan siang mereka saking asiknya.
“Kau mau pesan apa?” Alex membuka menu-menu di hadapannya.
“Aku mau spagheti saja, simpel. Tidak sabar ingin jalan-jalan lagi” Ucap Efira.
Alex tersenyum sekilas, “Signorina, due spaghetti e due porzioni di succo d’arancia”
Dua spaghetti dan dua jus jeruk dipesan dengan cepat.
Mereka menghabiskan waktu hingga sepertinya ikut menutup toko. Efira berhasil pulang membawa belanjaan dengan brand-brand ternama seperti hermes, gucci, bvlgari, prada dan armani.
“Kau harus membayar mahal untuk ini, Efira” Gumam Alex saat mengikuti istrinya belanja, masuk ke toko satu ke toko yang lain dan keluar menenteng belanjaan.
Bukan tentang berapa nominalnya tapi tentang bagaimana Alex lelah mengikutinya, belum lagi barang-barang itu langsung diberikan padanya.
“Aku akan menggantinya setelah sampai rumah” Begitu jawabnya.
“Aku sudah kaya, tidak butuh uangmu. Aku akan benar-benar membuatmu tidak bisa berjalan besok pagi” Ucap Alex lalu masuk ke taxi diikuti Efira yang sudah mulai was was, mengerti dengan ucapan suaminya.