
Detak jam di dinding terus berdetak bagaikan debaran jantungku. Samar-samar suara orang-orang yang mengarah ke ruangan ini terdengar semakin jelas. Aku memperhatikan dengan seksama ketika bosku membawa seorang karyawan baru.
“Rival? Hah? Itu beneran Rival?"
Bos mengumumkan bahwa hari ini ada karyawan baru yang akan bekerja di kantor ini. Siapa lagi kalau bukan Rival. Ia di tempatkan dengan bidang yang sama denganku. Entah ini kabar buruk atau bagus, kebetulan atau bukan, tapi aku berharap ia tak akan banyak mengganggu pikiranku. Ia duduk tepat di sebelah meja kerjaku yang kosong.
“Hai, Shan. Apa kabar?” sapa Rival ketika pertama kali melihatku.
Entah kenapa rasanya sapaan darinya saat itu terdengar sedikit menyebalkan.
“Baik kok, kalau kamu?” jawabku dengan senyuman yang nampak jelas sekali dipaksakan.
“Baik juga. Lama gak ketemu ya. Aku gak nyangka loh bisa satu kantor sama kamu,”
“Iya, benar, lama gak ketemu. Hanya kebetulan saja ya,”
“Mohon bantuannya ya, senior,” ejek Rival tiba-tiba.
“Iya, juniorku yang ngeselin," ejekku balik.
"Aku ngeselin ya? Wah senangnya,"
"Kok aku jadi tambah kesal ya?"
Aku sebenarnya ingin menanyainya tentang rekaman video yang waktu itu kulihat. Namun entah mengapa, aku sedikit tidak enak untuk menanyainya di kantor, apalagi saat sedang bekerja seperti sekarang ini. Ia berpikir bahwa rekaman video itu sudah tidak ada. Tapi, aku berhasil mengembalikannya. Mungkin sebaiknya untuk menganggap bahwa rekaman video ini benar-benar telah hilang.
“Ntar makan siang sama-sama ya, aku belum begitu tahu lingkungan kerja di perusahaan ini. Kantinnya di sebelahana juga aku nggak tahu,” ajak Rival.
“Hem, boleh,” jawabku singkat seakan berpura-pura tidak ada yang menggangu pikiran lalu mulai melanjutkan pekerjaanku.
“Yosh, baguslah. Aku jadi lapar. Ayo makan sekarang," ajak Rival.
"Astaga jam makan siang masih lama, Rival nyebelin. Dua jam lagi. Sabar ya adik junior,"
Dua jam akhirnya berlalu. Jam makan siangpun tiba dan kami mulai memesan makanan di kantin depan kantor yang selalu kugunakan sebagai markas makan siangku. Aku sudah sangat dekat sekali dengan ibu penjaga kantin itu. Mungkin karena terlalu dekat, ibu itu sudah menganggapku seperti anaknya sendiri. Ia sering kali ingin memberikanku diskon makan siang namun selalu kutolak. Aku tidak ingin merugikan bisnisnya dengan menjadi benalu saja.
“Shan, ntar malam sibuk, gak?” tanya Rival.
“Kenapa memangnya? Mau ngajakin makan malam bareng?" tanyaku.
“Nggak lah. Aku cuma mau ajakin jalan-jalan aja,” ajak Rival.
“Haha.. Maaf ya, kayaknya gak bisa deh. Soalnya temanku lagi opname di rumah sakit dan aku harus ngejagain dia,” tolakku secara harus.
“Mau aku temani jaga?"
“Makasih, Tapi gak usah deh. Soalnya aku jaga sama temanku yang lain,”
“Oh, iya deh. Kalau ada perlu apa-apa, kasi tahu aku ya,”
“Iya, Rival,”
Tak lama berselang, menu pesanan yang telah dinantikanpun tiba dan kami segera menyantapnya bersama-sama.
“Kamu makan banyak banget ya, Shan. Tapi badanmu kok nggak tinggi ya? Emang makanannya lari kemana? Pasti habis dimakan cacing,” ujar Rival.
“Haha..Iya kah? Aku lapar banget mau ngasi makan cacing-cacing peliharaanku,"
“Mau makan punyaku sekalian?” tanya Rival.
“Boleh,”
“Ih, itu perut apa gentong? Emangnya kamu mampu?”
“Kamu meragukan aku?” tanyaku balik.
“Gak, kamu memang udah banyak makan dari SMA. Hanya badan kamu gak sesuai porsi makanannya,”
Aku teringat kalimat itu, rasanya pernah ada yang mengatakan hal itu padaku. Ah, aku ingat. Ari dan teman-teman lain yang pernah mengatakannya padaku ketika kami makan-makan di perayaan seusai ujian skripsiku. Mereka apa kabar ya?
“Val,” panggilku perlahan sambil memperhatikannya yang sedang menyantap makan siang.
“Iya Shan, “ jawab Rival tanpa memandangku dan masih sibuk dengan makanannya.
“Vaaaalllll,” panggilku lagi dengan lebih manja.
“Ada apa Shan,” jawab Rival sambil mengarahkan pandangannya padaku.
Aku tersenyum dan ingin mengatakan apa yang aku pikirkan soal rekaman itu. Tapi tiba-tiba aku merasa jika aku tidak seharusnya mengatakan hal itu.
“Kok aku baru sadar kalau kamu ganteng, ya,” ujarku tiba-tiba. Aku terkejut dengan ucapan pengalihan yang baru saja keluar dari mulutku.
“Trus?” tanya Rival santai karena tahu aku tidak serius.
“Eh, gak kok,” jawabku malu sendiri.
“Trus kamu mau jadi pacar aku gitu karena aku ganteng?” tanya Rival mulai serius.
“Eh?” tanyaku dengan wajah polos.
“Aku serius, kamu mau jadi pacar aku gak?” tanya Rival lagi.
“Hih, gak mau,” tolakku.
“Kenapa?” tanya Rival lagi.
“Kamu nembaknya gak romantis,”
“Jadi kalau aku nembak kamu dengan romantis, bakalan kamu terima?”
“Bisa jadi, bisa enggak” jawabku.
“Kok gitu?,” tanya Rival.
“Soalnya pacaran kan nggak hanya ngelihatin pasangannya yang ganteng aja, tapi harus ada rasa saling sayang juga,”
“Jadi, kamu sayang aku atau nggak?” tanya Rival lagi.
“Kok nanyanya frontal kayak gitu sih?” komplainku sambil tersipu malu dengan pertanyaannya.
“Mau tau aja, supaya nanti kalau nembak lagi sudah antisipasi biar gak di tolak kayak gini lagi,”
“Jadi yang tadi masuk hitungan?”
“Jelas,”
“Ahahahahaha… kamu ada-ada aja,”
“Sayang atau nggak?” tanya Rival lagi.
Aku hanya melihatnya sinis tanpa memberikan jawaban lalu beranjak dari sana. Mencoba mengontrol perasaanku yang mulai tak karuan.
“Please Shan, jangan baper… Jangan baper. Cukup Wira aja yang bikin kamu galau. Jangan nambah lagi sama si Rival,” ujarku dalam hati. Sadar, aku sebelumnya nggak pernah bisa suka pada siapapun. Aku rasa perasaan yang sedang aku rasakan sekarang pada Rival sedikit aneh, terasa sedikit menggelitik di hatiku. Apa ini yang dinamakan suka?
Setelah makan siang, tak tampak batang hidung serta kepala, badan, tangan, dan kaki Rival di sebelahku. Mungkin saat itu ia sedang dipanggil atasan untuk diberi pengarahan. Aku tak begitu memperdulikannya dan fokus melakukan pekerjaanku.
Tepat pukul 4 sore ketika jam kerja berakhir, Rival tiba-tiba masuk ke ruangan kantor sambil membawa seikat bunga dan berjalan perlahan ke arahku. Seisi orang di ruangan itu memperhatikannya. Ia berhenti tepat di hadapanku.
Astaga…. Ini benar-benar memalukan, rasanya aku ingin kabur dan berlari keluar sekarang juga. Aku hanya akan menjadi korban kejahilan Rival disini.
“Shanvierra, mau kah kamu menjadi pacarku?” tanya Rival dengan tatapan serius ke arahku.
Seisi orang di ruangan menyoraki kami.
“Terima… Terima…” sorak mereka.
Aku berbisik perlahan pada Rival.
“Kamu mau buat aku malu? Ini baru hari pertama kamu kerja disini, kalau kamu kayak gini kamu bisa dipecat," bisikku.
“Please kamu terima aku, jangan bikin aku malu karena kamu tolak di hari pertama aku kerja disini,” bisik Rival balik.
“Gak mau, aku mau buat kamu malu,”bisikku lagi.
“Please Shan, jangan buat aku malu, terima ya,” bujuk Rival setengah memaksa.
Ah, Rival benar-benar membuatku tak bisa menolaknya. Akupun menerima cintanya dan bunga itu. Sekilas kulihat Hendra menatapku dari kejauhan. Ia adalah teman sekantorku yang pernah kutolak tempo hari. Tatapan matanya yang sinis seolah menggambarkan kecemburuannya padaku.
“Jadi kita resmi pacaran?” tanya Rival gembira.
“Iya,” jawabku dingin.
Iapun memelukku dan hal ini membuat seisi orang di ruangan heboh. Aku segera melepaskan pelukannya karena risih. Tak lama kemudian, kami dipanggil atasan dan mendapat omelan. Sudah kuduga hal itu akan terjadi.
“Rival menyebalkan,” gerutuku.
Sore itu, kami pulang bersama. Aku sebenarnya masih ragu apakah ia benar-benar menyukaiku. Apalagi dengan caranya menyatakan perasaan yang seperti itu. Aku tidak dalam posisi yang bisa menolaknya, selain karena kasihan jika ia malu karena ditolak, aku sebenarnya juga ingin mengubah sudah pandang orang-orang terhadapku.
“Kamu benar-benar serius suka sama aku?” tanyaku ragu.
“Iya, Udah sejak dulu. Sayang kamu gak pernah sadar,”
“Masa sih? Jadi selama ini kamu pedofil donk?” tanyaku lagi.
“Ah, iya. Aku pedofil, sukanya sama kamu. Ntar kalau sempat, ganti status hubungan facebook kamu ya. Ubah jadi berpacaran dengan Rival Saputra,”
“Gak ah,”
“Kok gitu sih?”
“Iya ntar aku ubah,”
“Shan, kamu tahu gak, aku benar-benar senang bisa ketemu kamu. Dan terlebih aku senang sekarang kamu bisa jadi pacar aku. Setelah pacaran, kita nikah ya,” ajak Rival.
“Ew, gak usah ngomongin nikah dulu deh, aku masih mau menikmati masa muda,” jawabku.
“Lah, menikmati masa mudanya sama aku lah. Iya deh iya, aku bakalan setia menunggu kamu kok,”
“Gombal,” gerutuku.
"Aku serius kok" ujar Rival.
"Terserah deh,"
Malam itu aku bercerita pada Nini tentang kejadian hari ini. Ia masih tampak lemah tapi tetap ingin mendengar ceritaku. Ia tertawa sesekali mendengar ceritaku.
“Jadi kamu gak jadian sama Wira dan malah sama Rival? Aku pikir kamu bakal pelet Wira biar bisa dapetin dia” komentar Nini.
“Wew, pelet. Ini tahun berapa sih masih pake kayak begituan. Iya, aku lagi mau move on juga dari Wira. Dia PHP, gak pernah ngasi kepastian,” ….dan sebenarnya ia juga tidak seharusnya berada di masa ini, mungkin sudah saatnya aku melepaskannya.
“Oh, baguslah kalau kamu bisa move on. Aku dukung kamu sama Rival, ntar kapan-kapan kenalin aku ya,”
“Iya, pasti”
Apakah Nini akan mempercayaiku jika aku menceritakan yang sebenarnya tentang Wira? Tapi, selain pada Rival, aku tak berniat menceritakannya pada orang lain lagi tentang identitas Wira yang sebenarnya.
Aku memandangi Valen yang masih sibuk bermain game online dengan hp tercintanya. Aku tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Aku tahu jika ia sebenarnya ingin berbicara banyak dengan Nini. Tapi aku juga tahu jika ia tak mampu melakukan hal itu. Ia hanya bisa banyak berbicara dengan Nini ketika kami sedang berkumpul bersama teman-teman yang lain. Cinta yang terpendam, tapi sampai kapan ia akan memendamnya? Bukankan akan lebih sakit jika menjadi cinta terpendam yang bertepuk sebelah tangan?
Setelah Nini tertidur, aku segera membuka facebook dan mengganti status hubungan seperti yang Rival pesankan tadi kepadaku. Tak lama setelah itu, sebuah pesan bbm kuterima. Pesan dari Geri.
“Adikku tercinta baru pacaran ya, selamat ya,”
“Terima kasih, kakak,” balasku segera.
Pesan itu hanya di read dan tidak di balas lagi. Aku tahu Geri pasti sangat kecewa dengan keputusanku, tapi biarkan sajalah.
Sebenarnya aku ingin bersikap objektif. Aku tidak ingin menerima Rival menjadi pacarku. Tapi dengan caranya yang seperti itu, apa aku tega menolaknya? Mungkin harus kuputuskan dia beberapa hari ke depan. Atau jika nantinya perasaan yang kupunya akan berubah, mungkin aku harus lebih belajar untuk mempertahankannya. Perasaan yang seperti menggelitik itu masih terasa asing bagiku.
Pagi itu kudapati Rival sudah berada di kantor. Ia duduk di meja kerjaku dan menghadap pada laptop yang biasa kugunakan untuk bekerja.
“Hai, kamu lagi ngapain?” tanyaku penuh curiga.
“Lagi ngepoin laptop kerja kamu,” jawab Rival santai.
“Hem, apa ya? Kamu mau aku hipnotis lagi?” tanya Rival menggodaku.
“Nggak!” tolakku tegas.
“Geser sana,” pintaku sambil mulai menduduki kursiku.
“Wih, padahal sudah pacaran tapi masih kayak gitu. Yang manja donk minta tolongnya,” ledek Rival.
“Dih, ini kan memang kursiku, cuci muka dih sana,” ujarku.
“Cuci muka buat apa? Toh udah ganteng gini,”
“Itu bekas ilernya masih ada,” jawabku seenaknya.
“Haha.. kamu ada-ada aja,” ujar Rival menyadari kebohonganku sambil mengelus-elus rambutku.
“Ini lagi di kantor loh,”
“Oh iya ya, harus fokus kerja,” sambung Rival sambil mulai memulai pekerjaannya.
Hari-hari berlalu terasa berbeda semenjak Rival mulai menjadi pacarku. Ia selalu membuatku bahagia dan tertawa. Entah aku sudah jatuh cinta atau belum padanya, tapi aku merasa nyaman setiap kali ia berada di dekatku. Aku merasa jika sebenarnya kami memang sudah sangat dekat sekali. Apa karena perasaan ketika aku SMA terbawa kembali?
Setiap pagi, sering kudapati ia menggunakan laptopku, entah apa yang ia lakukan tapi aku tak memperdulikannya selama itu tidak menggangguku, lagipula tidak ada hal-hal mencurigakan yang ada di laptop kerjaku. Aku malas menanyainya, sebab jawaban yang selalu ia berikan tetap saja sama.
Aku segera duduk di kursiku dan melanjutkan pekerjaan yang diberikan atasan kepadaku untuk membuat laporan proyek yang baru saja dilaksanakan. Aku telah mengerjakannya selama beberapa hari dan akan kuselesaikan hari ini. Sebab laporan itu akan digunakan untuk presentasi lusa.
Laporan itu kuselesaikan tepat ketika jam makan siang berbunyi. Aku menyimpannya di laptopku dan akan kuserahkan kepada atasanku setelah makan siang dengan Rival.
Menu yang berbeda, selera yang berbeda. Itu yang aku sukai jika makan siang bersama Rival. Sebab dengan itu, ada alasan bagiku untuk berpura-pura mencicipi menu yang ia pesan. Senangnya bila bisa dapat jatah makan siang double.
“Shan, makananmu masih banyak loh,” komplain Rival karena aku terus mencicipi makan siangnya.
“Kayaknya kurang deh, kemaren-kemaren habis bikin laporan jadi perlu banyak energi tambahan baru,”
“Oh begitu?”
“Iya,” jawabku santai.
“Nambah dih sana, ntar aku yang bayarin,”
“Eh, nggak usah. Kalau nambah makan dengan nyicip-nyicip makanan orang lain tuh rasanya beda,”
“Oh, gitu yaaaaaa…” ujar Rival sambil mencubit pipiku dengan geram mendengar jawabku.
Aku hanya tertawa dan tetap melanjutkan makan siang double-ku.
Kami kembali ke kantor segera setelah menyelesaikan makan siang. Rani memberitahuku jika atasanku sudah menunggu laporan yang harus kuberikan hari ini padanya. Akupun segera mencari file yang akan kuberikan kepada atasanku.
Berulang kali kuperiksa setiap folder yang mungkin akan kugunakan sebagai ruang penyimpanan file-ku, namun tak kutemukan data itu dimanapun. Aku berputus asa dan mencoba mencarinya di recycle bin namun tak juga kutemukan. Aku memberitahukan masalah yang kuhadapi pada Rival. Ia mencoba mencari data itu namun tak menemukannya juga.
Akupun menyerah dan segera menemui atasanku. Kulihat Rival masih mencari data itu di laptopku sesaat sebelum aku benar-benar meninggalkan ruangan.
Aku menemui atasanku dan mengatakan apa yang terjadi. Ia tidak mempercayaiku dan mengatakan bahwa aku tidak benar-benar membuat laporan itu. Ia mengancam dapat memecatku karena kecerobahan itu. Aku memohon belas kasihan padanya, dan akhirnya ia memberikanku satu kesempatan. Aku harus menyerahkan laporan itu besok pagi.
Aku benar-benar bersyukur masih diberikan kesempatan untuk memperbaikinya. Tapi, apa aku mampu menyelesaikan laporan itu dalam waktu satu malam? Apa aku bisa menemukan file itu dengan aplikasi yang pernah kugunakan untuk mengembalikan rekaman video Rival tempo hari? Entahlah. Aku menangis dan mulai beranjak pergi dari sana.
Aku segera meninggalkan ruangan itu dan bersamaan dengan itu Rival masuk ke ruang atasanku sambil membawa laptopku.
“Kamu keluar aja dulu biar aku yang urus ini,” pinta Rival.
“Iya,” jawabku sambil mengangguk dan berjalan lesu menuju meja kerjaku.
Aku merebahkan kepala di atas meja kerjaku. Rani pun datang menghampiri dan menanyaiku apa yang terjadi. Kegelisahan wajahnya mengalahkan kegelisahan wajahku sebagai korban utama dalam masalah ini setelah mendengar ceritaku.
“Shan kok bisa sih?”
Aku tak ingin menjawab pertanyaannya dan ingin tidur saja. Rani adalah temanku yang paling dekat di kantor. Sikapnya yang lembut dan penuh perhatian selalu membuat orang di sekitarnya nyaman. Ia juga sedikit peka pada penderitaan orang lain dan dapat dengan mudah menangis.
Sejenak kualihkan pikiranku pada Rival. Apa yang akan ia lakukan dengan laptopku pada atasanku? Aku harap ia benar-benar bisa membantuku kali ini. Mungkin ia bisa menghipnotis atasanku itu dan membuatnya lupa. Tapi Rival tak akan melakukan hal seperti itu. Ia tak memberitahu banyak orang jika ia bisa menghipnotis orang lain. Semasa SMA, hanya aku dan 2 temanku saja yang mengetahui kemampuannya. Rival bukan tipe orang yang suka pamer.
Tak lama setelah itu, Rival kembali bersama laptopku.
“Jadi bagaimana, Val?” tanyaku penasaran.
‘Kamu dipanggil atasan lagi. Cepat kesana, gih” pinta Rival sambil tersenyum.
Melihat senyumannya, aku merasa bahwa itu adalah pertanda baik. Dengan sedikit ragu, segeraku bergegas menuju ruangan yang beberapa saat lalu kukunjungi. Kulihat Hendra tertunduk malu sambil mendengarkan ceramahan atasanku. Akhirnya aku tahu bahwa Hendra yang menghapus file itu. Tapi bagaimana cara mereka bisa mengetahuinya? Dan mengapa Hendra menghapusnya? Apakah ia membenciku?
Atasanku memberikanku waktu lebih lama untuk menyelesaikan laporan itu. Beliau akan menunda presentasi yang akan dilakukan. Aku berterima kasih kepadanya dan segera meninggalkan ruangan setelah mendapat instruksi.
“Rival, apa yang tadi kamu lakukan di dalam?” tanyaku penasaran.
“Gak ada,” jawab Rival santai.
“Aku udah bantu kamu kali ini, jadi kamu harus gantian bantu aku,” ujar Rival lagi.
“Apa yang bisa aku bantu?” tanyaku penasaran.
“Ntar malam aku jemput, ya. Aku gak bisa bilang sekarang,”
“Iya deh. Tapi aku benar-benar mau bilang terima kasih untuk hari ini,”
“Iya, sayang, sama-sama,” jawab Rival manja.
Setelah jam kantor berakhir, aku berniat untuk menemui atasanku tadi dan meminta penjelasan bagaimana beliau bisa mengetahui pelaku dan alasannya. Namun, beliau sudah pergi lebih dulu beberapa jam yang lalu. Mungkin akan kutanyai besok atau lain kali jika aku ingat.
Malamnya, Rival membawaku ke suatu tempat, jauh dari keramaian kota dan sunyi. Sepanjang perjalanan, aku terus menanyainya akan pergi kemana, namun ia hanya senyum-senyum saja tanpa memberikan jawaban. Tak lama berselang kami sampai di tempat itu. Kudengar suara deburan ombak yang terasa begitu merdu di telingaku saat kami mulai menginjakkan kaki di atas butiran pasir yang lembut.
Pantai yang sangat indah dengan hiasan bulan purnama yang telah memanjat di tengah langit adalah tempat yang ia tuju untuk pergi bersamaku malam ini. Mungkin, pantai adalah sesuatu yang dapat mewakili kepribadiannya yang tenang-tenang membingungkan, bagaikan kumpulan ombak.
“Jadi, apa yang bisa aku bantu?” tanyaku memulai pembicaraan.
“Shan, tolong liat aku,” pinta Rival sambil memegang kedua bahuku.
“Iya,” jawabku gugup.
“Tolong cintai aku dengan sepenuh hatimu, jangan pernah memikirkan orang lain lagi, jangan pernah memikirkan tentang Wira atau Shia lagi, bisa?” tanya Rival dengan serius.
“Iya, akan aku usahakan,” jawabku masih dengan gugup.
“Kamu harus bisa, Shan,”
“Iya Rival, aku berjanji akan melupakan Wira dan Shia, juga tidak akan memikirkan laki-laki lain lagi,” ucapku.
“Terima kasih, Shan,” ujar Rival sambil melepaskan tangannya dan memelukku. Ia menarikku dan mengajakku untuk melihat bintang dari tempat yang paling indah.
“Ayo buat harapan,” ajak Rival.
Kamipun membuat harapan saat melihat bintang jatuh yang mulai membentuk garis lurus di langit. Sebuah pengharapan untuk terus bersama.
“Jika nanti kamu siap, aku akan melamarmu. Aku ingin menikah denganmu, Shan,”
“Iya, Val,”
Apa aku benar-benar sudah jatuh cinta pada Rival? Apa aku sudah melupakan Wira? Aku berharap jika itu adalah hal yang terbaik bagiku, maka biarkan saja hal itu yang terus terjadi. Aku merasa senang Rival selalu ada untukku.
Rival melukis berbagai macam gambar di tepian pantai, sementara aku hanya membuat tulisan namaku dan nama Rival.
“Shanvierra loves Rival, tambahin forever di belakangnya biar bagusan,” komentar Rival saat melihat tulisan yang kubuat.
“Iya.. Iya… Iya..” jawabku tanpa banyak komplain dan mulai menambahkan tulisannya.
“Nah, begitu sudah bagus. Sini foto aku foto kamu dekat tulisannya,”
“Pengen foto bareng,” ujarku manja.
“Ya udah, ayo,”
Akupun mengeluarkan tongsis dari dalam tasku. Kami berfoto bersama dan itu adalah foto pertama yang kuambil bersama Rival, setidaknya foto berdua saja dan semenjak berpacaran dengannya.
“Val, aku boleh tanya sesuatu gak?” tanyaku setelah selesai berfoto-foto.
“Iya, tanya saja,”
“Soal rekaman video hipnotisku, apa yang sebenarnya kamu lihat?” tanyaku dengan ragu-ragu sambil memegangi tongsis dan hp-ku dengan erat.
“Kamu benar-benar ingin tahu, kah?” tanya Rival lagi.
“Iya,” jawabku perlahan.
“Aku hanya mengajukanmu satu pertanyaan saja, siapa kamu? Dan kamu menjawabnya dengan nama Shia,” itu saja.
“Gak ada yang lain? Mengapa kamu tidak mengajukan pertanyaan yang lain?”
“Karena aku tidak peduli dengan siapa kamu dimasa lalu. Yang pasti, aku mencintaimu saat ini dan tidak ingin membahas masalah masa lalumu, itu saja,” jawab Rival.
“Lalu…” lanjutku ragu-ragu.
“Lalu apa?”
“Lalu mengapa kamu memelukku?” tanyaku lagi.
“Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?” tanya Rival balik.
“Jawab aku Val,” pintaku.
“Aku tersadar bahwa aku benar-benar menyukaimu, dan aku tidak mau kamu berubah atau pergi kemanapun,”
Sesaat kami hanya terdiam dan tertunduk.
“Shanvierra Areztha, aku mencintai kamu selamanyaaaa!!!” teriak Rival tiba-tiba sambil menentang deburan ombak. Aku terkejut dengan apa yang dia lakukan. Tapi karena hal itu membuatku senang, aku hanya tersenyum sebagai respon yang harus kuberikan padanya.
“Aku juga cinta kamu, Rival,” teriakku sambil menantang deburan ombak yang semakin meninggi datang menghampiri kami. Kami berdua benar-benar terlihat seperti orang gila jika berteriak-teriak seperti itu.
“Kayaknya ini bisa menghilangkan stress deh,” ujarku sambil menatap Rival.
“Emang kamu lagi stress?” tanya Rival.
“Iya, stress gara-gara kamu,” jawabku.
“Seram ya pacaran sama orang stress,” ejek Rival.
“Ih Rival menyebalkan,” gerutuku sambil mencubit lengannya.
Aku berlari mengejar Rival yang mulai berlari-lari menelusuri tepian pantai. Rasanya aku pernah melakukan hal ini tapi mungkin itu semua hanyalah de ja vu. Kami tertawa bersama dan terasa begitu bahagia. Tak lama berselang, Rival mengajakku pulang.
Keesokan harinya, Rival mengajakku ke danau angsa. Dengan bermodalkan sebuah kamera DSL, kami berfoto disana. Tawa canda menghiasi pagi itu. Matahari yang masih belum terlalu tinggi menggantung di langit, memberikan kehangatan yang terasa nyaman.
“Satuu.. dua.. tiga,” hitung Rival sambil mulai menggambil fotoku yang berlatar belakang danau angsa.
“Gantian, Val. Sini aku yang foto,” pintaku.
“Gak usah, kamu aja. Aku lagi ingin membuat banyak kenangan tentang kamu,”
“Masa sih,” godaku.
“Iya, aku mau pajang salah satu foto kamu di meja belajarku. Biar tambah semangat belajarnya,”
“Memangnya kamu belajar apa lagi? Kan udah gak kuliah. Paling ngerjain tugas kantor aja,”
“Belajar mencintaimu,” jawab Rival.
“Ew, pagi-pagi sudah digombalin,” ledekku.
“Intinya, aku mau pasang foto kamu di atas meja belajarku supaya tiap hari bisa dipandangin,” bela Rival.
“Parah, tambah digombalin lagi,” ledekku lagi.
Rival geram atas perlakukanku dan mencubiti pipiku. Rasanya benar-benar sakit. Akupun membalas cubiti pipinya.
“Shan, aku benar-benar sayang kamu,” bisik Rival ketika kucubiti pipinya.