You

You
Hasil



Dinginnya angin malam menusuk tulang, setelah makan malam selesai Efira berpamitan main ke rumah Alex.


Sebenarnya bukan main PS atau main ngobrol seperti yang dibayangkan orang tuanya. Bukankah itu terbilang sangat serius?


Ah tapi, Efira adalah seorang ratu drama yang pandai menyembunyikan sesuatu.


“Bi Diah, ayah dan bunda Harrison ada dirumah?” Tanya Efira pada kepala pelayan di istana Harrison itu.


“Mereka sedang keluar makan malam bersama, non. Ada yang bisa bibi bantu?” Tanya Bi Diah sopan.


“Sebenarnya aku ingin bertemu Alex” Ucap Efira, menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Langsung naik saja seperti biasa non. Tuan Alex ada di kamarnya” Ucap Bi Diah, mempersilahkan nona Efiranya langsung ke kamar tuan muda Harrison.


“Okey, terimakasih Bi”


Seperti biasa, senyum manisnya sama sekali tidak pernah luntur.


“Non Efira mau dibuatkan minuman apa? atau mau camilan apa?” Tanya Bi Diah pada Efira sebelum gadis itu melangkahkan kakinya ke atas.


Efira menggeleng, mengangkat satu plastik jajanan yang sudah ia bawa dari rumahnya “Aku sudah membawanya sendiri, Bibi tidak usah repot-repot. Lakukan pekerjaan yang belum usai saja, lalu segeralah istirahat” Ucapnya.


“Baik non”


“Aku keatas dulu ya Bi” Pamit Efira.


Bi Diah mengangguk, merasa sangat dihargai meskipun hanya seorang pelayan disana.


Tok


Tok


Tok


“Alex, kau di dalam?” Ucap Efira dari luar.


“Masuk sayang” Jawab Alex.


Bolehkah Efira melupakan sejenak masalahnya? Dia ingin melayang karena Alex.


Efira membuka pintu itu sesuai dengan yang diperintahkan sang pemilik ruangan.


“Bagaimana?” Tanya Efira To the point setelah menutup pintunya.


“Nihil, sepertinya memang ada konspirasi tentang ini. Sama sekali tidak ada sisa apapun. Aku sudah masuk ke sistem mereka tapi, file-filenya sudah dihapus permanen” Begitu penjelasan Alex.


“Bahkan seorang Alex tidak bisa mendapat informasi apapun” Gumam Efira.


“Nanti aku akan mencari tau lagi di gudang. Meskipun mungkin ayah atau bunda sudah membereskan tempat itu agar aku tidak menemukan bukti yang lain” Ucap Efira.


“Aku juga akan mencari tau ke situs-situs lain, apapun itu yang hanya bisa kita dapat dari informasi singkat di berkas-berkas ini. Tenanglah, aku tidak akan menyerah begitu saja” Ucap Alex, menenangkan gadisnya.


“Apa kau memiliki pikiran yang sama denganku?” Tanya Efira.


“Mungkin”


“Mau menanyakannya kepada orang tuaku?” Lanjut lelaki itu.


Sebenarnya itu bukanlah hal yang buruk tapi, itu mungkin akan menjadi sebuah kewaspadaan untuk tuan dan nyonya Javonte. Tidak menutup kemungkinan untuk hal itu terjadi.


“Tidak, kita cari tau dulu ini secara pribadi. Aku takutnya nanti hal itu akan membuat kedua orang tuaku semakin waspada dan akan semakin menutup semua akses kita untuk mencarinya” Ucap Efira.


Alex kali ini setuju dengan ucapan gadisnya.


“Jangan terlalu dipikirkan ya, aku pasti akan membantumu. Kau terlihat sangat kurang beristirahat” Alex mengambil tangan kekasihnya, menggenggamnya pelan dan mengelusnya penuh sayang.


“Aku akan menjaga kesehatanku dengan baik” Jawab Efira.


“Mau sedikit melupakannya?” Tanya Alex pada kekasihnya itu.


“Bagaimana caranya?”


“Menagih bayaranmu untuk makan siang kemarin”


Efira terkejut dengan jawaban itu, bisa-bisanya kekasihnya masih ingat bahkan menagihnya hari ini.


“Hey, what do you think?” Ucap Efira.


“I think, I’m so crazy with you”


Alex menarik Efira kedalam dekapannya, mencium gadis itu sedikit terburu-buru. 10 menit berlalu tanpa melepas penyatuan ranum mereka.


What a good kisser, Alexander Harrison?


“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku akan mencari tempat yang tepat?” Ujar Alex diakhir ciumannya.


Efira benar-benar dibuat tersipu oleh kekasihnya.


“Pulanglah, sudah larut. Berjanjilah untuk segera tidur dan jaga pola istirahatmu dengan baik” Ucap Alex mengelus pelan surai Efira lalu memberikan kecupan hangat di kening gadis itu.


Sungguh kuat iman keduanya, mereka tidak melanjutkan kegiatan itu setelah adegan panas sebelumnya.