You

You
Kehidupan Baru Devan



“Jadi, apa yang akan kau lakukan Devan?” Tanya Alex pada calon kakak iparnya itu.


“Tidak ada, aku akan menganggap tuan dan nyonya Javonte sebagai keluarga kandungku tapi, aku mungkin tidak bisa ikut karena ada tuan Pyton yang harus aku temani mengingat dirinya seorang diri kini” Jawab Devan.


Tepat seperti yang dipikirkan Alex, Devan mengambil keputusan yang menurutnya benar.


“Untuk perusahaan, daddy mau kau tetap menjadi penerus daddy” Ucap tuan Pyton.


Alex menggelengkan kepalanya, “Tuan Pyton, apa anda tidak malu mengatakan perihal perusahaan di saat seperti ini?” Ucapnya, tentu saja dengan nada bercandanya.


“Aku ingin pensiun sebenarnya tapi, anak nakal ini selalu membuat alasan agar tidak menjadi direktur disana” Jawab tuan Pyton.


“Tentu saja, dia tau kemana dia harus pulang” Sahut tuan Javonte diiringi tawa ringan dari yang lain.


Tuan dan nyonya Javonte sepakat untuk menghargai keputusan yang telah dibuat oleh Devan, dengan syarat tentu saja lelaki itu harus bisa membawa diri diantara dua keluarga.


“Aku tidak akan menjadi penerus siapapun. Dad, kau memiliki Alex sebagai tangan kananmu, jadikan saja dia direktur di perusahaanmu”


“Apa kau ingin aku mengganti kepalamu dengan kepala kuda ha?” Ucap Alex menyahuti perkataan Devan yang terkesan nyeleneh.


“Sebelum kepalaku, mungkin kepalamu yang lain yang harus hilang karena Efira sudah pasti menjadi ras terkuat yang membelaku” Ucap Devan, melirik adik perempuannya.


Tak


“Sialan sekali memang” Gumam Alex setelah melemparkan kulit kacang tepat ke arah Devan.


Jangan harap mereka bisa akur meskipun setelah tau bahwa Devan adalah kakak kandung Efira. Keadaan semakin tidak terkendali diantara keduanya.


“Bercandanya nanti saja, habiskan dulu makanan kalian” Ucap nyonya Javonte kepada kedua putranya.


...***...


Keesokan harinya ketika sedang sarapan bersama, Efira membuka suara, “Ayah, aku ingin membicarakan perihal perusahaan” Ucap Efira.


Saat itu mereka sudah menghabiskan makanan yang ada di piring masing-masing, ada tuan Pyton dan juga Devan disana.


“Apa ada masalah?” Tanya tuan Javonte.


“Tidak ada, berhubung Devan selaku anak,…”


“Sopankah memanggil kakakmu begitu hm?” Ucap Devan menyela, tentu saja dengan nada bercandanya.


“Cih, baiklah kak Devaaaaan. Jadi begini ayah, berhubung anak pertama ayah sudah ketemu, aku ingin dia saja yang menjadi direktur perusahaan” Ucap Efira tanpa basa-basi.


Devan yang saat itu awalnya tenang, langsung membelalakkan mata.


“Tidak bisa begitu, kau ini sudah ditetapkan menjadi ahli waris dari Javonte’s Group. Lagipula pada akhirnya aku akan memimpin perusahaan tuan Pyton, bukan begitu dad?” Ucap Devan lalu menoleh pada daddy-nya.


Tuan Pyton mengangguk, “Ya tapi, tidak menutup kemungkinan kau bisa melakukan keduanya sekaligus” Ucapnya tegas.


Sialan, pikir Devan. Berharap dirinya akan dibela oleh ayah angkatnya, malah dirinya sendiri yang kena batunya.


Efira berdiri, mengitari meja untuk ke tempat Devan, “Kakakku tersayang, bukankah seharusnya kau tidak mau jika adikmu ini merana karena berpikir terlalu keras perkara pekerjaan?” Ucapnya sambil merangkul Devan dari belakang.


...***...


“Cyntia, sementara waktu kau harus merangkap pekerjaan Devan” Ucap Alex pada sekretarisnya sebelum masuk ke ruang kerjanya.


“Tapi, kemana pak Devan, tuan?” Tanya Cyntia.


“Dia akan segera menggantikan saudaranya menjadi presiden direktur di sebuah perusahaan” Ucap Alex lalu segera pergi.


Cyntia terlihat bingung, “Jadi pak Devan sama derajat dengan tuan Alex?”


Alex memang sudah tau perihal Devan yang akan segera menggantikan Efira di perusahaan.


Flashback On


“Mulai hari ini Devan tidak akan menampakkan dirinya lagi di Harrison Company, dia akan menggantikan aku sebagai presiden direktur segera setelah pengumuman jati dirinya” Ucap Efira saat menghubungi Alex pagi-pagi tadi.


Alex tidak terkejut dengan pernyataan itu, sudah bisa ditebak isi kepala Efira saat tau jika kakaknya adalah Devan, sekretaris pribadinya.


“Tentu saja, aku ikhlaskan lelaki itu resign secara tidak hormat, bisa-bisanya dia tidak berpamitan denganku cih” Omel Alex kepada Efira.


“Tidak penting, lagipula aku yang menyuruhnya apa kau masih ingin melawan?” Jawab Efira ketus.


Alex hanya menyeringai, “Aku takut sekali dengan macan betina seperti dirimu” Ucapnya diakhiri dengan kekehan.


Tut


Akhirnya panggilan diputus secara sepihak oleh Efira.


Flashback Off