You

You
Dari Masa Lalu



Efira sudah siap dengan dress yang diberikan Alex untuknya tadi, entah apa yang akan dilakukan kekasihnya itu. Dia hanya mengikuti perintah bukan? Pergi ke acara ulang tahun nyonya Harrison, gadis itu sudah menyiapkan hadiah ulang tahun untuk calon mertuanya dan dia hanya tinggal menunggu kekasihnya datang menjemputnya.


Tok


Tok


Tok


“Pasti Alex” Efira langsung bergegas menuju halaman rumah, senyumnya mengembang sempurna. Seolah kebahagiaan tengah menyelimutinya.


Ceklek


“Hai cantik”


Deg


“K-Kau? A-apa yang k-kau lakukan?” Ucap Efira terbata.


Seseorang di hadapannya bukanlah kekasihnya. Dia adalah seseorang yang datang dari masa lalunya.


Seseorang yang membawanya pada jurang ketakutan. Lelaki itu, lelaki yang bahkan hampir membuatnya mati bunuh diri.


“Aku? Menjemputmu. Apa lagi? Bukankah kita sudah lama tidak bertemu?” Jawab lelaki itu.


“P-Pergi”


Efira mulai melangkahkan kakinya mundur, dia takut. Jiwanya benar-benar kacau.


Sedangkan lelaki itu dengan santainya mendekatkkan diri seirama dengan mundurnya langkah Efira.


“T-Tidak”


“Kau masih mengingaku dengan baik rupanya” Ucap lelaki itu.


Efira hampir menangis sekarang. Dunianya sudah berputar ke masa lalu. Masa dimana lelaki di hadapannya ini membuat secoret luka penuh darah dan air mata.


Hanya satu nama yang saat ini terlintas di otaknya. Kekasihnya, sahabatnya, Alex.


Hanya lelaki itu yang sanggup menolongnya.


Tapi, kenapa dia lama sekali?


...***...


“Emmmm Emmmm”


Terlihat seorang lelaki dengan setelan creamnya mencoba memberontak dari sebuah jerat yang melilit di tangan dan kakinya dalam gelap tamaram.


Kursi yang ia duduki pun ikut bergoyang kesana kemari mengikuti gerakan tuannya. Lakban hitam berhasil menutup mulutnya. Lalu bagaimana dia bisa berteriak? Setidaknya untuk sekedar meminta pertolongan?


“Emmmm emmmm”


Sial, apa yang harus aku lakukan sekarang? Batinnya.


Dia adalah Alex, entah bagaimana dia bisa terkurung dan terjebak disana. Lelaki yang tidak ia ketahui siapa gerangan, tiba-tiba menerobos masuk ke ruangannya dan membekapnya seperti seorang tawanan.


Ruangan ini benar-benar senggang, tentu saja. Gudang kerjanya hanya berisi berkas-berkas arsip. Mana ada gunting atau cutter disana?


Oh tunggu.


Alex menjalankan kursinya menuju sebuah kotak, dimana di dalam kotak tersebut berisi beberapa alat tulis, termasuk cutter yang sudah sedikit tidak tajam.


Setidaknya itu bisa membantu bukan?


Alex mengambilnya dengan susah payah, karena tangan dan kakinya sama-sama diikatl, dia pun menjatuhkan dirinya perlahan.


Efira pasti sedang menunggunya. Begitu pikirnya selama memperjuangkan kebebasannya.


Hanya butuh waktu 10 menit hingga dirinya mampu bebas dari tali-tali yang mengikatnya sejak tadi.


KRAK


“Aw” Keluh Alex saat merasakan sensasi panas akibat pembukaan lakban di mulutnya secara terburu-buru. Lelaki itu, segera berlari keluar rumah.


Sedikit terkejut, mendapati satpam dan supirnya dalam keadaan tidak berdaya, sama-sama diikat di ruang tamunya?


Apa sedang terjadi pembantaian di rumahnya?


Alex lalu melihat ke arah rumah Efira. Pintunya terbuka.


Apa gadisnya tengah menunggu kedatangannya?


“Tentu saja, bodoh. Kau bahkan sudah telat setidaknya 10 menit” Ucap Alex pada dirinya sendiri lalu berlari menuju rumah Efira.


Tok


Tok


Tok


Tok


Tok


Tok


Tidak ada jawaban


Sekali lagi


Tok


Tok


Tok


“Ada sesuatu yang terjadi?”


Setelah mengatakan hal itu, Alex langsung masuk mencari keberadaan kekasihnya.


Sebenarnya tidak ada yang mencurigakan, hanya saja perasaannya begitu tidak enak. Tidak biasa saja Efiranya telat menyambutnya padahal pintu rumahnya terbuka lebar.


“Arrgh”


Panik.


Satu kata yang berhasil merasuki Alex saat mendengar suatu hal mencurigakan datang dari arah dapur?


Lelaki itu berlari, sibuk mencari kekasihnya.


“EFIRA”


“DIMANA KAU?”


“EFIRA”


“KAU MENDENGARKANKU?”


Deg


Deg


Deg


Alex berhasil tercengang dengan kejadian yang ia lihat.


“Sialan”


Bug


Bug


Bug


Tanpa ampun Alex menghajar lelaki yang dengan berani menyentuh gadisnya. Kejadian yang sama untuk kedua kalinya terjadi di hadapannya. Beruntung Alex datang di waktu yang tepat, lagi.


Efira hanya mampu menangis, mengingat kejadian serupa dialaminya sudah untuk ketiga kalinya. Tentu saja ada rasa trauma tinggi setelah ini.


“Hiks, hiks” Begitu suara tangisnya melihat Alex menghajar habis lelaki itu hingga pingsan tak sadarkan diri.


...***...


Sedangkan di markas Alex, sudah berserakan mayat manusia, tak jarang pula kepala menggelinding disana-sini.


“Sialan, musuh mulai tau kelemahan tuan Alex”


Ucap salah seorang lelaki yang saat itu adalah tangan kanan tuan besar Harrison. Lelaki itu bergumam sambil menyerang musuh kesana-kemari.


“Hahaha, ternyata hanya seperti ini kemampuan kelompok mafia yang katanya terkuat se-Asia” Ucap sang musuh, meremehkan kemampuan lawannya.


“Sudah cukup main-mainnya, mari selesaikan ini dengan cepat”


Lelaki itu mulai menyerang musuhnya satu per satu dengan brutal, tidak peduli bulu. Dia langsung menghabisi musuhnya tanpa sisa.


“Kau, mau mati atau hidup dan mengadu penuh luka begini kepada atasanmu?” Ucap lelaki tangan kanan tuan Harrison tadi kepada sang ketua penyerangan ini.


Musuhnya itu sudah berdarah-darah, akan sangat mudah mencabut nyawanya di tempat saat itu juga tapi, itu tidak dilakukan. Lelaki itu ingin tau seberapa berani musuhnya itu menyerang lagi.


“Tidak menjawab? Apa kau ingin mati?” Tanya-nya lagi.


“B-Baiklah, aku memilih nyawaku” Jawabnya.


“Sudah kuduga, pergilah dan silahkan mengadu pada atasanmu, aku mengingat betul tato ular itu di lehermu” Ucap lelaki itu, masih tetap menodongkan senjatanya sampai musuhnya pergi.