You

You
Rencana Alex



Pagi menyapa, Alex dan Efira seperti biasa berangkat bersama. Seperti janji kemarin, bahwa mereka akan membolos hari ini.


Pertama mereka pergi ke kantor polisi untuk menemukan kejelasan kemana perginya bayi tersebut.


“Permisi pak” Sapa Alex pada salah satu penjaga di dalam kantor itu.


Pak polisi terlihat setengah baya itu mendongakkan kepalanya, mengalihkan fokusnya dari kertasnya kepada kedua insan di hadapannya.


“Ada yang bisa saya bantu?” Jawabnya ramah.


“Boleh kami meminta sedikit waktunya?” Tanya Alex lagi.


“Silahkan duduk dulu” Ucap pak polisi dengan ramah, mempersilahkan dua sejoli itu duduk.


“Kami ingin mencari tau dan mengulas sedikit tentang kecelakaan keluarga Javonte dan keluarga Johnson sekitar 25 tahun yang lalu, kantor polisi ini adalah kantor polisi yang menerima laporan kecelakaan tersebut dan laporan kehilangan bayi dari keluarga Javonte. Apa saat itu bapak sudah bertugas disini?” Ucap Alex.


“Ya, saya sudah berada disini sekitar 28 tahunan” Jawabnya.


“Kasus kecelakaan 25 tahun yang lalu tentang keluarga Javonte ya? Saya sedikit lupa, mungkin karena sudah terlalu lama. Jadi, apa yang menjadi tujuannya?” Lanjut pria paruh baya itu.


“Tentu untuk meminta sebuah penjelasan dari pihak kepolisian tentang alasan kasus tersebut ditutup dan berakhir memberikan surat kematian kepada keluarga Javonte tanpa memberikan mayat bayi tersebut kepada mereka” Jelas Alex.


Deg


Sepertinya pak polisi mulai mengingat kejadian tersebut, terbukti dari raut wajahnya yang semula tenang menjadi kebingungan?


“O-Oh anak muda, bukankah itu kejadian sudah sangat lama. Kasusnya pun sudah ditutup” Jawab pak polisi.


Sebenarnya, sekarang ini pak polisi merasa was-was dengan tatapan elang dari tamunya itu.


“Jadi, dimana mayatnya pak?” Tanya Alex mengintimidasi.


“Mayatnya hangus terbakar bersama mobil itu” Ucap pak polisi.


Tapi, masalahnya adalah begini “Menurut bukti rekaman CCTV yang aku dapatkan, mobil yang terbakar adalah mobil miliki keluarga Johnson dan mobil di dalam mobil tersebut sudah tidak ada siapapun karena tuan dan nyonya Johnson sudah dikeluarkan dari dalam sana” Sahut Alex tanpa basa-basi.


Alex memang sangat pintar memojokkan seseorang bukan?


“Katakan, menurut penyelidikan polisi apa penyebab kecelakaan itu terjadi?” Lanjut Alex. Tidak peduli dengan ekspresi pak polisi yang seperti tercekik disana.


“Seingatku itu terjadi karena rem mobil dari keluarga Javonte tengah ada masalah. Rem mobilnya blong dan beliau tidak bisa mengendalikan diri saat menyetir, ditambah dengan kecepatan kedua mobil yang diatas rata-rata” Jawab pak polisi dengan detail.


“Sepertinya anda sangat mengingat dengan baik insiden itu ya pak, apa ada sesuatu yang membuat anda mengingatnya dengan baik?” Tanya Alex, kembali memancing polisi tersebut tentang bayi itu.


Alex yakin, pasti polisi tersebut tau sesuatu. Raut wajah yang tak biasa, membuatnya yakin dengan pemikirannya.


“Saya mohon pak, tolong jangan menyembunyikan apapun dari kami. Kami sangat membutuhkan informasi apapun tentang insiden itu” Ucap Efira memelas, berharap pak polisi mengasihani dirinya.


Melihat pak polisi sama sekali tidak ada niatan untuk menjawab, Alex mulai memanfaatkan kekuasaannya.


“Pak polisi, saya Alexander Harrison bisa berbuat nekat jika anda tidak memberitahu apapun yang anda tau tentang bayi itu dan tentang insiden disana” Ucap Alex.


Jika dilihat dar raut wajah pak polisi, sepertinya dia menimang-nimang isi kepalanya.


“Kau tau bukan kekuasaan keluarga Harrison? Aku sendiri saja bisa merentas sistemmu, membuatmu dalam masalah besar atau bahkan bisa membuatmu dipecat secara tidak hormat” Ancam Alex.


1 menit


2 menit


3 menit


Tidak ada jawaban


Alex menghembuskan nafasnya pelan, “Kau lebih memilih opsi yang sulit tapi, tidak masalah untukku karena aku sudah memiliki kejutan lain untukmu” Ucap Alex, menarik kekasihnya pergi dari kantor tersebut dengan perasaan kesal dan kecewa.


“Lalu, kemana kita setelah ini?” Tanya Efira saat mereka sudah ada di perjalanan.


“Ke restoran, kau belum sarapan bukan? Mari kita sarapan sambil memberikan kejutan yang membuat polisi itu datang sendiri kepada kita” Ucap Alex.


“Kau ingin makan apa?” Tanya Alex pada kekasihnya.


“Emm, apa saja” Jawab Efira.


Jawaban seorang gadis memang begitu kan? Batin Alex.


“Menurutmu bagaimana dengan makanan western?” Tanya Alex, memberikan penawaran untuk Efira.


Efira terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya dia mengangguk, “Ide yang tidak buruk” Ucapnya.


Alex mengangguk, melajukan mobilnya ke restoran western terdekat.


“American breakfast 2 porsi, minumnya orange jus 2” Begitu ucap Efira pada pelayan di restoran tersebut.


Sedangkan Alex sudah mulai membuka laptopnya, mengutak-atik isi di dalamnya, seperti biasa sedang merentas akun seseorang yang tidak lain dan tidak bukan adalah polisi tadi.


“Apa rencanamu pada pak polisi tersebut?” Tanya Efira, melihat kekasihnya yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri.


“Tunggu saja sebentar lagi, aku pasti menemukan bukti menarik tentangnya” Jawab Alex.


15 menit berlalu, mereka tetap dengan posisi yang sama. Pesanan yang mereka pesan pun sekarang sudah berada di hadapan mereka.


“Ah benar dugaanku” Ucap Alex setelah mendapatkan banyak bukti tentang polisi tersebut.


Efira mulai mendekat pada Alex, melihat sesuatu yang ditemukan kekasihnya itu.


“Dia adalah polisi licik, suka uang dan hmm lelaki hidung belang?” Gumam Alex, meneliti satu per satu hasil temuannya.


“Apa yang akan kau lakukan dengan itu?” Tanya Efira, masih tidak mengerti dengan alur yang akan kekasihnya itu rencanakan.


“Bagaimana jika pak tua itu tau bahwa kita sudah paham dirinya adalah koruptor besar di kantor itu? Atau bagaimana jika istrinya tau tentang perselingkuhan suaminya di belakangnya? Atau saja bagaimana jika atasannya tau tentang bagaimana liciknya oramg ini menyelesaikan kasus tanpa menyentuh kasusnya?” Ucap Alex, membayangkan bagaimana hancurnya kehidupan polisi itu jika sampai dirinya nekat melakukan hal gila itu.


“Kau akan melakukan apa yang ada dipikiranku?” Tanya Efira melihat Alex, menerka-nerka bahwa dugaannya itu benar.


“Tentu saja, pertama mari kita buat dia mengakui kebenarannya dulu kepada kita. Selanjutnya, mari kita buat dia benar-benar jatuh. Negara kita adalah negara hukum, dimana penjahat tetap harus dihukum” Ucap Alex, menyisihkan laptopnya.


“Kembali ke tempatmu, ayo kita makan” Lanjut Alex, memerintahkan kekasihnya untuk melahap sarapan tersebut.