
Sinar matahari menembus jendela kaca semua orang, kicauan burung terdengar bernyanyi disana-sini, tetes embun di dedaunan masih basah, sesekali menetes pada tanah.
“Euuumm" Gumam Efira, gadis itu menggeliat pelan. Membuka matanya, merasakan hawa berbeda dari biasanya.
Sejuk sekali. Pikirnya.
“Aku lupa aku sudah di rumah. Rasanya sangat asri” Ucap Efira, menyibak selimutnya lalu berjalan membuka gorden kamarnya.
Gadis itu menyipitkan mata, kala sinar mentari menyambut pagi pertamanya di rumah setelah lima tahun lamanya. Dia tersenyum, merasakan getaran hangat dan bahagia.
Efira lekas keluar kamar tapi, sebelum itu dia membasuh wajahnya terlebih dahulu.
“Ayah, bunda” Sapa Efira saat melihat kedua orang tuanya sedang bersiap?
“Efira, sudah bangun?” Tanya nyonya Javonte, membelai lembut pundak putrinya.
“Emm, mau kemana? Ayah juga, kenapa tidak ke kantor?”
“Kami mau berkebun, urusan kantor biar di urus sekretaris ayah. Kau tau, ini sudah waktunya panen”
Efira membelalakkan mata, kaget dengan jawaban sang ibunda. Memangnya sejak kapan orang tuanya suka bertani begitu?
“Sejak tiga tahun lalu, kami berpikir mungkin akan sangat menyenangkan jika dapat keluar dari zona nyaman, terlebih lagi kau tidak ada di rumah, rasanya sepi sekali. Kami memutuskan untuk membuat kebun saja di desa tempat nenekmu dulu tinggal. Kami biasa melakukan ini di akhir pekan” Jelas tuan Javonte, lelaki itu seperti tau apa yang ada di pikiran anak gadisnya.
“Aku mau ikut, tunggu. Tunggu aku. Jangan kemana-mana dulu” Ucap gadis itu antusias, lalu berlari tunggang langgang ke dalam kamarnya, menyiapkan diri berkebun untuk pertama kalinya.
Sedangkan di rumah Alex?
“Hoaaaam” Lelaki itu menguap lebar, menutupi mulut singanya dengan telapak tangannya.
Sama seperti Efira, lelaki itu membuka gorden kamarnya sebagai pembuka hari, lalu lanjut dengan mencuci wajahnya.
“Ayah, bunda?”
“Anybody home?”
“Ayaaaaaah”
“Bundaaaaaaa”
“Apa ayah sudah pergi ke kantor?” Gumam Alex menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Lalu?
Lelaki itu tetap tidak menemukan kedua orang tuanya sama sekali meskipun dirinya sudah berteriak begitu, dia hanya menemukan secarik kertas dengan tulisan,
Kami pergi ke rumah bibi, dia sedang sakit. Ibu tidak tega membangunkanmu. Maafkan kami karena kau harus bangun tanpa sambutan di pagi pertamamu di rumah. Ibu sudah menyiapkan sarapan di meja’.
Alex melirik makanan yang tertata di meja makan, tentu saja dia memilih melahap makanan itu hingga tandas. Lalu, memutuskan untuk pergi ke rumah Efira.
“Apa dia sudah bangun ya?” Gumam Alex, lekas memakai sandalnya.
Tidak jauh kan? Hanya beberapa langkah dari gerbangnya untuk sampai di depan gerbang rumah Efira.
Jangan tanya bagaimana halaman rumah Efira dan Alex, rumah sultan itu sangat luas dan beruntungnya rumah mereka berhadapan, jika melewati rumah keduanya, pasti tau. Ini sultan A dan di depannya adalah sultan B.
Pintu ruang utama sudah terbuka.
“Efiraaaaa”
“Ayah Javonte”
“Bunda Javonte”
“Spadaaa”
Ting
Ting
Ting
Alex menekan bel rumah itu tanpa segan, apa yang mau di segankan? Sedangkan orang tua Efira sudah menjadi orang tua Alex juga sejak kecil.
“EFIRAAAAAA”
“BERISIK” Jawab Efira tepat di depan wajah Alex, tak mau kalah dengan teriakan maut sahabatnya.
Gadis itu langsung berlari mendengar teriakan Alex tadi. Ekspektasinya untuk ganti baju tiba-tiba hilang.
“Kau baru bangun?” Tanya Alex, melihat Efira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambutnya memang rapi, di kuncir kuda begitu tapi, pakaiannya?
Piyama pink dengan lengan dan juga celana pendek?
“Tidak, aku sudah mau pergi. Mau ikut?”
Ha?
Dengan piyama gambar beruang itu?
“Kemana? Ke pinggir jalan? Kau persis gelandangan”
Seperti biasa, lengan Alex adalah korban dari kesalahannya.
“Kebun milik ayah dan bunda” Jawab Efira, tentunya setelah puas menggampar lengan sahabatnya itu.
“Sejak kapan?” Tanya Alex bingung, terbukti dari kerutan di dahinya.
“Aku tidak tau tepatnya tapi, jika kau mau ikut, jangan buang-buang waktuku” Ucap Efira, lalu memakai sandalnya.
“Kau mau keluar dengan piyama pink dengan beruang coklat itu?” Tanya Alex.
“Memangnya kenapa?” Gadis itu malah balik bertanya.
“Tidak! Ganti yang lebih sopan sana!” Ucap Alex tegas, lelaki itu memang sangat sensitif dengan Efira, terkadang sikap sensitifnya itu malah menjadi sebuah bentuk posesif.
“Ini kan santai, Lex” Jawab gadis keras kepala itu. Pasalnya dia sudah malas ganti baju dan itu semua karena Alex.
Ingat!
Karena Alex!
“Ganti sendiri atau aku yang gantikan?” Ucap lelaki itu, mengerikan!
Bahkan ucapannya diikuti seringaian nakal.
Terlempar jauh, saat dimana dia dengan sangat terpaksa harus menggantikan pakaian Efira.
“Kau tau siapa yang menggantikan pakaianku semalam, Alex?”
Malam itu, saat dimana Alex baru selesai dengan urusan di perusahaan ayahnya, dia memutuskan untuk mampir ke tempat Efira, sekaligus membawa makan malam untuk gadis itu.
Dan pertanyaan gadis itu tentu saja membuat Alex terdiam sejenak, memandang Efira yang tengah menatapnya polos.
“Aku” Jawab Alex cuek.
“Ah, oke. Terimakasih”
Huh, Alex bernafas lega karena Efira tidak merespon dengan cakaran kucingnya atau memakinya dengan mulut pedas gadis itu.
“APA?”
Oke, tarik kembali kelegaanmu tuan Alexander Harrison.
“KAU YANG MENGGANTIKAN PAKAIANKU?”
Alex memandang Efira yang berapi-api di ranjang sana, lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Menurutmu siapa yang akan menggantikan pakaianmu jika bukan aku? Kau sedang tidur dan tidak ada siapapun selain aku disini”
“Kau bisa memanggil pelayan, Alex” Sungut Efira.
“Mana sempat terpikirkan, aku sedang panik tadi. Sudahlah, makan dan segera tidur untuk beristirahat, besok biarkan aku yang menggantikanmu ke perusahaan. Selamat malam” Ucap Alex lalu pergi ke tempatnya.
Begitulah respon Efira saat itu, saat tau sahabatnya itu dengan kurang ajar mengganti pakaiannya tanpa izin darinya.
“Aku bisa ganti sendiri” Jawab Efira, gadis itu langsung berlari masuk kembali, menghilang di anak tangga terakhir sebelum masuk ke kamarnya.
“Apa boleh seperti ini?” Tanya Efira, dia sudah keluar dengan setelan kasualnya. Tentu saja semua orang (Alex dan kedua orang tua Efira) menoleh. Kaos putih, dipadukan dengan joger abu-abu, sepatu berwarna senada dengan jogernya dan tas putih?
“Kau mau berkebun atau pergi hang out?" Alex dibuat bingung dengan sahabatnya yang satu ini, apa pergi berkebun harus seperti itu?
Efira sendiri juga bingung, dia melihat penampilannya sendiri. Apa ada yang salah, begitulah arti dari tatapan matanya untuk Alex.
Tuan dan nyonya Javonte pun sudah geleng-geleng kepala dengan anak gadisnya itu.
Mereka bahkan yakin sekali Efira belum mandi.
“Copot sepatumu, letakkan juga tasmu. Kenapa kau ini tidak pintar-pintar hm?” Ucap Alex sedikit sinis.
Tidak habis pikir dengan sahabatnya.
“Baiklah-baiklah” Gadis itu langsung melepas sepatu sekaligus kaos kakinya di tempat, lalu meletakkan tasnya di meja.
“Efira pasti sangat merepotkan ya disana, Lex?” Tanya tuan Javonte pada Alex. Mereka sedang duduk di ruang tamu, sambil menunggu Efira tadi.
“Tidak juga, ayah. Alex suka menggodanya” Jawab Alex sambil tersenyum manis.
“Ya sudah, ayo berangkat” Ucap Efira. Dilihat dari raut wajahnya, gadis itu sangat bersemangat.
Alex dengan cekatan memakai sandalnya. Ya, karena sebenarnya sandal yang Alex gunakan ini memiliki model yang rumit.
“Kenapa kau menggunakan sandal yang banyak talinya begitu?” Geram Efira menunggu Alex.
“Kau lupa siapa yang memilih sandal ini untukku hm?” Ucap Alex sinis, pasalnya sandal yang saat ini digunakannya adalah sandal yang dipilih oleh Efira satu tahun lalu.
Efira dibuat bersemu saat mengingat dirinya memaksa Alex untuk membeli sandal itu dulu, menurutnya itu akan keren jika digunakan Alex.
Padahal sebenarnya adalah Alex memang tampan dengan gaya apapun. Lihat saha sekarang, bangun tidur pun Alex tampan.
Kaos garis-garis vertikal wara biru dan putih, disetelkan dengan celana hitam, ditambah sandal yang katanya hasil Efira memilih satu tahun lalu, terlihat sangat keren meskipun sederhana.