
‘Tuan, nona Efira bersama dengan Elena dan Frans hari ini pergi menemui tuan dan nyonya Javonte. Sedangkan, pada libur panjang pekan depan, mereka berencana liburan bersama ke pulau Bali menggunakan pesawat pribadi keluarga Javonte’
“Siapa Frans?”
‘Teman kerja nona Efira saat di Amerika’
“Mereka terlihat dekat?”
‘Sangat dekat’
“Baiklah, terimakasih”
Itu adalah obrolan Alex dan orang suruhannya di tanah kelahiran. Mereka tengah berbincang via ponsel.
“Devan, atur semua jadwalku. Usahakan aku pulang pekan depan. Jika perlu, pulang saja besok”
“Jika anda ingin segera bangkrut, mari kita pulang hari ini juga” Jawab Devan dengan santai, lelaki itu sedang sibuk dengan laptopnya.
Alex semakin uring-uringan, mengingat dia sedang tidak bersama Efira. Apalagi katanya Efira sedang menghabiskan akhir pekannya dan sedang merencanakan liburan manis tanpa dirinya?
Sedangkan Efira? Memberinya kabar saja tidak sama sekali. Dihubungi pun tidak ada jawaban apapun.
“Tuan, tolong periksa semua berkas ini. Saya akan kembali pukul 19.00 malam nanti dan saya harap anda sudah menyelesaikan pekerjaan anda” Ucap Devan setelah menyelesaikan pekerjaannya, lalu lelaki itu melangkahkan kaki keluar menuju kamarnya.
Alex dibuat tercengang, sebenarnya bosnya siapa?
“Sepertinya aku akan bertukar jabatan dengan Devan” Ucap Alex bermonolog, meraih laptopnya lalu melihat semua dokumen-dokumen di dalamnya.
...***...
Sedangkan saat ini, Efira dan teman-temannya sudah berangkat bekerja, tepatnya mampir dulu ke tempat proyek butiknya. Elena dan Frans ditunjuk langsung oleh agensi Efira dulu untuk survey lapangan di tempat Efira, mereka akan bekerja sama nantinya.
Butik Efira sudah berjalan 50% selesai, butik mewah dengan tiga lantai. Dimulai dari meja resepsionis, lalu lobby, ruang ganti dan juga ruang kerja karyawan, tidak lupa ruangan untuk memamerkan busana-busana karya Efira nantinya.
“Ini sangat indah. Kau menyusun interiornya dengan sangat baik” Ucap Elena. Gadis itu takjub dengan bangunan mentahan itu.
“Kau bisa saja, kalau begitu aku pergi ke kantor. Berhati-hatilah. Sampai jumpa di kantor” Ucap Efira. Gadis itu pamit kepada dua temannya, menginat dirinya juga masih memiliki pekerjaan. Menitipkan mereka pada sopir yang ia bawa dari rumah, sedangkan Efira sendiri membawa mobil pribadinya.
Sejak kemarin, Efira tidak melihat ponselnya. Sengaja, karena dia benar-benar ingin quality time bersama kedua temannya yang datang jauh-jauh dari negeri orang.
Kali ini, gadis itu mencoba menghidupkan ponselnya namun, nihil. Mungkin kehabisan daya. Ponselnya lowbat.
“Ah, bisa saja ponsel ini. Aku akan mengisi dayanya setelah sampai nanti” Ucap Efira bermonolog, lalu mulai mengemudikan mobilnya.
“Selamat pagi” Sapa Efira setelah sampai kantor, gadis itu menyapa kedua sekretarisnya dengan baik, bersama senyum khas miliknya.
Tentu saja hal itu membuat kedua sekretarisnya sontak berdiri dan memberi salam hormat kepada Efira.
Jujur saja, Efira sangat tidak nyaman dengan perlakukan seperti itu.
“Apa jadwalku hari ini?” Tanya Efira.
“Pertemuan dengan Harrykiel Company bersama wakil direkturnya”
“Tuan Alex sedang perjalanan bisnis ke luar negeri, nona” Lanjut Mira.
Efira kali ini terdiam. Menatap ponselnya yang sudah tidak bernyawa. Bertanya-tanya apakah sahabatnya itu memberinya kabar? Meski dia tidak tau.
“Ah begitu, baiklah. Tolong padatkan semua jadwalku dan jadwal kalian. Pastikan akhir pekan ini semuanya selesai. Libur panjang pekan depan, mari ikut bersamaku berlibur ke pulau Bali, jika kalian tidak ada halangan”
Mira dan juga Keisha membelalakkan mata, berlibur ke Bali? Gratis?
Itu terlalu berlebihan, maksudnya adalah mereka diajak langsung oleh CEO muda itu? Berlibur bersama?
Coba katakan, dimana ada atasan semacam Efira di dunia ini?
“Bagaimana? Apa kalian ada waktu?”
“Saya sedang ingin pulang ke rumah, nona. Sepertinya lain kali saja” Jawab Keisha lesu, sebenarnya gadis itu juga ingin ikut namun, dia rindu keluarganya.
“Begitu? Baiklah, tidak masalah. Semoga kau bersenang-senang dengan keluargamu. Bagaimana denganmu?” Ujar Efira yang diakhiri dengan melontarkan pertanyaan kepada Mira.
“Saya tidak bisa, nona” Jawab Mira singkat.
Ah, gadis itu memang sangat sangat tidak berperi ke-komunikasian.
“Kau tidak punya alasan khusus? Kau tidak mungkin memiliki alasan yang sama dengan Keisha kan? Kau bertemu keluargamu setiap hari. Kau juga tidak memiliki kekasih. Jadi, kau harus ikut, tidak ada penolakan” Ucap Efira lalu melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya.
Sampai pada menit kesekian, Efira langsung menghidupkan ponselnya. Ingin melihat saja, apakah ada hal penting yang masuk ke ponselnya.
Seperti pesan dari sahabatnya, Alex mungkin?
Ah tidak salah lagi.
“Banyak sekali” Gumam Efira melihat banyaknya panggilan tak terjawab dan juga pesan yang masuk ke ponselnya dan semua itu dari Alex.
“Disana pasti sudah malam, apa aku harus menghubunginya?” Lagi-lagi gadis itu bermonolog. Belum sempat berpikir panjang, gadis itu menekan tombol hijau di nama kontak Alex.
...***...
Drrttt
Drrttt
Drrttt
Lelaki itu menggeliat saat merasakan getaran ponselnya. Ini sudah tengah malam, siapa orang gila yang meneleponnya di jam begini?
Alex meraih ponselnya dengan susah payah. Dia ingin istirahat, matanya terlihat sayu karena kelelahan.
“Hello, can I help you?” Ucap Alex, lelaki itu bahkan tidak melihat siapa yang sedang menelponnya saat ini.
‘Kau sudah tidur?’ Jawab seseorang di seberang sana.
Alex kenal suara itu, dia langsung bangun dan melihat nama kontak yang tertera di ponselnya.
“Kau ini kemana saja ha? Aku menghubungimu sejak ah entah sejak kapan tapi, yang aku dapat malah jawaban dari operator. Apa kau lupa menaruh dimana ponselmu berada ha?” Ucap Alex bertubi-tubi.
‘Maafkan aku, Elena dan Frans datang jadi, aku menyambut mereka. Kemarin pun aku mengajak mereka untuk jalan-jalan bersama’ Jawab Efira santai.
“Asik sekali ya? Sampai kau melupakanku?” Kali ini suara Alex sedikit dingin. Mengingat bagaimana orang suruhannya mengatakan bahwa Efira dan Frans terlihat begitu dekat.
‘Sudah, jangan marah-marah. Kau harus segera tidur. Aku juga akan melanjutkan pekerjaanku’ Jawab Efira.
“Hm”
‘Tapi, berapa lama kau disana?’ Tanya Efira.
“Tidak tau, bisa saja baru selesai bulan depan atau mungkin minggu depan” Alex sengaja memancing sahabatnya. Barangkali ingin menceritakan tentang rencana liburannya?
‘Lama juga. Baiklah, segeralah tidur. Jaga dirimu baik-baik. Selamat malam, semoga mimpimu indah’ Jawab Efira.
“Hm, semangat bekerja” Ucap Alex lalu mengakhiri sambungan telepon keduanya.
Lelaki itu sudah tidak nafsu tidur lagi. dia lebih memilih merenung di balkon kamar hotelnya. Tidak tau juga sedang memikirkan apa.
...***...
...Ambis Group...
^^^Efiraaaa^^^
^^^Libur panjang pekan depan, pulau Bali^^^
Samuel Xavie
Okey
Giosangpangerankatak
Yeah, aku akan mencari bule cantik yang mungkin lebih cantik dari Deva
DevaCantik
Silahkan saja
Efiraaaa
Pukul 06.00 pagi di bandara, penerbangan privasi keluarga Javonte
Efira baru saja mengabari teman-temannya, memberikan kepastian untuk janji yang telah ia buat beberapa waktu lalu. Mungkin Alex tak bisa ikut mengingat jadwal lelaki itu yang sepertinya padat di negeri orang sana. Lalu hari itu, Efira disibukkan kembali dengan pekerjaannya.