You

You
Melahirkan



Sedang asik-asik makan, Efira tiba-tiba diam, memegang perutnya yang terasa nyeri.


“A-Alex” Panggilnya terbata.


“Ada apa, sayang? Ada yang sakit?” Kali ini Alex benar-benar khawatir, melihat Efira sudah seperti kesakitan dia langsung membawa istrinya itu ke rumah sakit. Tidak ada kata berat menggendong Efira beserta bayi yang ada di dalam kandungan istrinta.


“S-Sakit” Efira mengerang kesakitan.


“Sayang, sebentar ya. Tarik nafas lalu hembuskan pelan” Alex bergumam sambil menyetir mobilnya, melajukan dengan kecepatan sedang, tidak mau Efira merasa tidak nyaman juga karena setirannya.


Sesampainya di rumah sakit, posisi kaki Efira sudah sangat basah, Alex tidak tau itu cairan apa.


“Dokteeeer, tolong” Teriak Alex sambil menggendong Efira.


Dengan sigap, para perawat membantu pasangan itu, membawa Efira ke ruang ICU.


Dokter kandungan berlari ke ruang ICU, menyiapkan persalinan disana.


“Kita tunggu sampai bukaan ke-10 ya, nona” Ucap sang dokter, Efira sudah diganti dengan baju persalinan.


Sambil menunggu pembukaan Efira lengkap, Alex menghubungi keluarganya dan juga keluarga Efira.


“Alex, sakit” Efira menahan sakit, menggenggam tangan suaminya erat.


“Sabar ya sayang” Alex mengelus puncak kepala Efira, kadang mencium kening istrinya. Alex bahkan mengelus punggung Efira juga.


Tidak lama, dokter kandungan kembali masuk.


“Sudah pembukaan ke-10 ya nona, kita mulai persalinannya, anda bisa menggigit bantalan kecil itu jika merasa sakit. Tuan, mohon ditemani” Ucap sang dokter kepada Efira dan Alex.


“Nona, dengarkan instruksi saya. Ambil nafas, buang perlahan sambil mengejan” Sang dokter memberikan instruksi kepada Efira.


Menuruti perkataan dokter, Efira mengejan kuat, mencoba mengeluarkan anak yang sudah tidak betah di dalam perutnya.


“AAAAAA” Efira berteriak, menggenggam tangan suaminya kuat-kuat, menyalurkan rasa sakit disana.


“Terus bu, sediki lagi, kepalanya sudah terlihat, ayo!” Dokter itu memberikan instruksi terus menerus, memandu Efira dengan telaten.


“AAAAAAAA” Kali ini pundak Alex bahkan sudah sampai berdarah terkena cakaran dari kuku panjang terawat istrinya.


Sakit?


Tidak, Alex tidak merasa sakit. Panik dan kasihan melihat istrinya kesakitan begitu.


“Sediki lagi ya, bu. Coba mengejannya dikuatkan” Ucap dokter itu.


“AAAAAAAA”


Hosh


Hosh


Hosh


Suara tangisan bayi bersahutan dengan deru nafas Efira yang baru saja mengeluarkan anaknya.


“Anaknya laki-laki, tampan sekali” Ucap dokternya, membawa bayi itu untuk di bersihkan.


“Terimakasih” Gumam Alex, mencium puncak kepala Efira, bahkan tidak terasa Alex menitikan air matanya.


Setelah proses bersih-bersih pasca melahirkan sudah selesai, keluarga belum boleh dipersilahkan masuk, memberikan waktu untuk Efira istirahat.


Alex keluar menemui keluarganya di luar.


“Bagaimana?” Tanya tuan Javonte.


“Berjalan dengan baik” Jawab Alex, keadaannya terlihat kacau juga.


“Kau terlihat seperti singa bangun tidur. Kenapa tidak membawa Efira ke rumah sakitku? Tidak percaya dengan temanmu ha?” Ucap Gio melihat keadaan Alex yang kacau.


Alex diam, tidak begitu meneggubris Gio, jika dirinya bisa lelah begini lalu bagaimana dengan Efira?


“Daddy Aleeeex” Goda Nando.


“Siapa yang mengundang kalian?” Tanya Alex cuek.


Seingatnya, dia tidak menghubungi satu pun dari teman-temannya itu. Apalagi jam menunjukkan masih jam kerja, tidak mau mengganggu kinerja mereka ceritanya memang.


“Cih, kau begitu seperti tidak butuh teman” Ucap Bella.


“Ponakanku jenis kelaminnya apa?” Tanya Deva.


“Laki-laki” Jawab Alex.


“Ya sudah, kau bersih-bersih dulu” Ucap nyonya Harrison, memberikan paperbag berisi baju ganti putranya.


Alex mengangguk, mengambil baju gantinya dan pergi ke kamar mandi yang ada di pojok lorong, dia tidak mau mengganggu istrinya jika harus mandi di dalam ruang rawat inap Efira.