
Brak
Huek
Huek
Alex langsung terbangun mendengar suara gebrakan pintu kamar mandi.
“Sayang, ada apa?” Tanyanya pada Efira yang sudah berada di dalam.
Hening
Tidak ada jawaban
Hanya ada suara air yang mengalir.
Ceklek
Melihat Efira sudah lemas di lantai wastafel membuat Alex panik, menggendong istrinya dan membawanya ke rumah sakit.
“Bilang pada ayah dan mama, aku ke rumah sakit” Ucap Alex memberikan pesan pada satpam rumahnya.
Alex melajukan mobilnya dengan cepat, keluar dari pekarangan rumahnya di pagi buta.
“Sayang, apa ada yang sakit?” Tanya Alex melihat istrinya masih begerak gelisah di tempatnya.
“Tidak ada, hanya lemas saja rasanya” Jawab Efira. Wanita itu melihat sekelilingnya, “Kau mau membawaku kemana hm?” Lanjutnya.
“Rumah sakit” Jawab Alex singkat.
Sesampainya di rumah sakit, Alex segera menggendong Efira, membawa wanitanya ke UGD.
“Ada apa? Kenapa?” Begitu pertanyaan yang keluar dari pihak rumah sakit.
“Istriku muntah-muntah dan tiba-tiba lemas pagi ini. Apa dia baik-baik saja, apa bayinya tidak akan ada masalah?” Ucap Alex dengan cepat, panik dan juga cemas adalah alasannya.
“Baiklah, mari kita ke ruangan dokter kandungan” Ucap sang suster, menyuruh Efira untuk duduk di kursi roda.
“Kenapa di dudukkan begitu? Apa tidak akan terjadi hal-hal buruk nantinya?” Alex berkata, malah semakin panik.
Mereka akhirnya pergi menuju ruangan dokter kandungan, bahkan dokternya baru meletakkan tasnya di meja.
“Dokter,…”
“Cepat periksa istriku”
Suster itu bahkan baru memanggil ‘dokter’ tapi, Alex sudah menyela-nya.
“Tapi, jam kerjaku akan dimulai satu jam lagi, Tuan” Ucap sang dokter.
“Apa menurutmu aku peduli? Lakukan saja tugasmu dengan baik, dokter. Aku bisa membayar berapapun untuk itu” Jawab Alex, memindahkan Efira yang tadinya duduk di kursi roda menuju ranjang pasien.
“Alex, sudahlah. Kita bisa menunggunya sampai nanti” Sahut Efira.
“Tidak bisa begitu Efira” Sarkas Alex cepat.
“Lakukan saja jika kau tidak ingin kehilangan pekerjaanmu. Aku Alexander Harrison” Lanjutnya.
Memang pintar, menggunakan nama keluarga Harrison saja sudah membuat suster itu tertunduk bahkan sang dokter juga langsung bergegas memeriksa Efira.
“Cih, memalukan sekali. Maafkan dia ya dokter” Gumam Efira lemah pada sang dokter.
Dokter itu tersenyum tipis, “Tidak apa-apa nona, beliau khawatir dengan anda” Jawabnya.
Setelah memeriksa tensi darah, melihat kandungan Efira dan juga melakukan penanganan yang diperlukan, dokter itu duduk ke tempatnya, mencatat beberapa resep lalu mengatakan hasil pemeriksaannya kepada Alex.
“Usia kandungannya masih sangat muda ya? Tekanan darahnya juga rendah jadi, sebenarnya tubuh ibu hamil memerlukan lebih banyak suplai darah. Untuk mencegah hal itu, istri anda bisa mengkonsumsi makanan yang mengandung asam folat dan suplemen zat besi”
Alex mengangguk mengerti lalu menyipitkan matanya, “Lalu, kenapa dia muntah-muntah tadi pagi?”
“Tuan, umumnya morning sickness pada ibu hamil itu sudah biasa dan bisa dianggap normal. Ini terjadi karena pengaruh hormonal saja. Biasanya, gejala ini dapat hilang setelah usia kehamilan di atas 12 minggu”
Alex terlihat tenang dengan jawaban dokter yang lugas dan detail. Rasa cemasnya langsung hilang seketika.
“Jangan banyak mengkonsumsi makanan pedas, makan dengan porsi kecil tapi sering, istirahat yang cukup dan jangan stres, ini resepnya silahkan di ambil di apotek kami” Ucap dokter tersebut, memberikan resep obatnya kepada Alex.
Efira menghela napasnya pelan, dia bisa membayangkan kehidupannya selama kehamilan nanti akan seperti apa, pasti akan terasa berat karena suaminya itu sudah terlihat posesif sejak dini. Ah tidak, sejak dulu Alex sudah posesif dan pasti akan bertambah parah setelah ini.