
“Euuungh” Efira melenguh pelan, menarik tangannya ke atas untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku setelah tidur semalaman.
“ARGHHHH” Efira berteriak, mendorong tubuh Alex hingga terjatuh.
Tentu saja Alex langsung terbangun.
“Efira, kau ini kenapa?” Tanya Alex, masih dengan suara seraknya.
“Hah, apa?”
Sial*n kenapa dirinya malah menjadi seperti seseorang yang linglung? Efira baru ingat jika mereka sudah menikah kemarin.
“Maafkan aku, aku lupa kita sudah menikah” Ucap Efira, membantu Alex bangun dari jatuhnya.
“Kau benar-benar mengganggu tidur nyenyakku sayang, apa kau mau aku lucut* sekarang juga huh?” Ucap Alex vulgar.
“Tapi, sepertinya kau harus menahannya dulu untuk beberapa waktu” Jawab Efira ragu.
Diam
Alex masih mencerna perkataan istrinya, “Kenapa tidak boleh sekarang, sayang? Aku sudah tidak tahan, jangan mencoba untuk menahanku kali ini” Ucap Alex mendekati Efira perlahan, bersiap memangsa buruan yang siap di depannya.
“Aku tidak mencoba menahanmu tapi, kaui harus lihat ini” Sahut Efira, melihatkan bercak merah pada seprei kasur mereka.
5 detik terdiam, Alex baru mengerti.
“Aaaassshhhh, berapa lama biasanya?” Keluhnya.
“Kurang lebih satu minggu” Jawab Efira santai, melenggang pergi begitu saja ke kamar mandi.
“Satu minggu? Apa aku harus menunggunya selama itu sayang?” Alex menggerutu sendiri pagi itu.
“Menyesal sekali semalam aku tidak membukanya saja, selama ini aku sudah menunggu moment ini tapi sekalinya sudah menikah apa? Tamunya malah datang jauh-jauh dari bulan sana” Lanjut Alex, menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup sempurna.
“Sabar ya Alex kecil, kau pasti akan tidur nyenyak bagaimana pun caranya” Ucap Alex mengelus pelan anak kobra di dalam celananya.
...***...
“Pagi” Sapa nyonya Harrison kepada pasangan pengantin baru yang tiba di meja makan.
“Pagi, bunda” Jawab Efira, riang.
“Kalian tidur dengan nyenyak?” Tanya nyonya Harrison lagi.
“Aku tidur dengan sangat baik” Sahut Efira.
Sedangkan Alex diam saja, melihat gadisnya sedang menyiapkan sarapan untuknya.
“Alex?” Tanya tuan Harrison pada putranya.
“Tanyakan saja pada menantu kesayangan bunda ini, dia membangunkanku pagi-pagi sekali dengan cara yang tidak biasa, sakit semua rasanya badanku” Jawab Alex panjang lebar.
“Hey, dia menendangku dari kasur karena lupa bahwa kami sudah menikah, ini tidak seperti yang kalian pikirkan” Ucap Alex mencoba memberi penjelasan. Rupanya lelaki itu tau apa yang ada di pikiran orang tuanya, pasti tidak jauh-jauh dari kegiatan malam pertama bukan?
Lihat saja, mereka bahkan belum melakukan apapun, berci*man saja tidak.
“Ya ya, terlihat dari cara Efira berjalan masih lancar-lancar saja” Sahut nyonya Harrison.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Efira tersedak dengan celetukan ringan mertuanya, itu terlalu vulgar menurutnya.
“Minum dulu” Alex segera memberikan segelas air putih sambil sesekali menepuk punggung Efira agar batuknya mereda.
“Bun, kau membuatnya gugup. Lihat, wajahnya bahkan sudah seperti kepiting rebus karena malu” Sahut tuan Harrison.
“Maafkan bunda” Ucap nyonya Harrison sambil tersenyum.
“Omong-omong, kapan kalian pergi bulan madu? Tiketnya sudah disiapkan bukan?” Tanya tuan Harrison.
Alex menghentikan sejenak kegiatan makannya, menyipitkan matanya sambil berpikir.
“Aku akan mengundurnya minggu depan, menggunakan pesawat keluarga lah, apa istimewanya menggunakan pesawat umum?” Ucap Alex sombong.
“Cih, sombong sekali” Gumam tuan Harrison.
“Kenapa minggu depan, Alex? Apa ada pekerjaan yang belum selesai?” Tanya nyonya Harrison bingung.
“Efira sedang kedatangan tamunya, jika berangkat dalam waktu dekat kan sayang sekali di italy tidak bisa membuatkan cucu untuk kalian” Jawab Alex tidak kalah vulgar.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Untuk kedua kalinya, Efira tersedak makanannya sendiri. Ini adalah definisi as son as father bukan?
“Ayah dan anak sama saja” Gumam nyonya Harrison.
“Ya sudah terserah kalian, lanjutkan saja makannnya” Ucap tuan Harrison.
Pagi itu terlihat damai, seperti kemarin tidak terjadi apa-apa pada acara resepsi pernikahan mereka.
Alex berangkat kerja seperti biasa dan Efira pergi ke butik diantar oleh supir keluarga Harrison.