
“Efira ayo ikut aku. Apa kau tidak ingin tukar kado?”
“Ah iya, ayo” Jawab Efira antusias.
Gadis itu terlihat begitu bersemangat, langsung berdiri dan mengikuti langkah Alex tapi, belum juga melangkah jauh, mereka sudah dihentikan dengan suara-suara teman-teman mereka.
“Hati-hati dengan hati” Ucap Nando menyindir Alex?
“Teman tapi, mesra. Kapan kita jadiannya kanda?” Sahut Bella.
“Anak perawan, baik-baik disana” Ucap Aulia.
Siapa yang tidak tau persahabatan antara Alex dan juga Efira yang begitu manis, lebih terlihat sebagai sepasang kekasih tapi bukan kekasih?
“Aku akan menendang kalian jika terus menggoda kami” Tutur Alex, membawa tangan Efira masuk ke dalam rumahnya.
Ah, ternyata ruangan pribadi Alex. Kamarnya.
“Kenapa harus kesini?” Tanya Efira.
“Kado untukmu ada di dalam” Alex membuka pintu kamarnya, lalu masuk ke sana. Tentu saja Efira mengekori, sudah bukan hal yang tabu jika gadis itu memasuki area pribadi Alex.
“Berikan hadiahku dulu” Ucap Alex setelah berhasil mengambil sebuah kotak berurukuran sedang berwarna merah muda.
“Tidak, hadiahku dulu” Jawab Efira tidak mau kalah.
“Tidak mau”
“Yasudah” Efira mengerucutkan bibirnya, mengalihkan pandangannya dari Alex.
“Berikan dulu milikku, Efira” Bujuk Alex.
“Tidak, hadiahku dulu”
“Tidak mau”
“Hei, kau sudah 21 tahun. Apa begitu caranya bersikap kepada seorang gadis manis sepertiku?” Ucap Efira kesal.
“Kau pikir berapa usiamu ha?”
“18 tahun”
“Tidak ada bocah berumur 18 tahun se-boros ini wajahnya”
“Aish”
“Mari berikan hadiah ini bersama” Ucap Alex memberikan jalan tengah. Dia juga lelah menggoda Efira.
“Baiklah, dalam hitungan ke-tiga. Oke?”
“Oke” Jawab Efira.
“Satu”
“Dua”
“Tiga”
Itu Alex yang menghitung. Dihitungan ke-tiga mereka sama-sama memberikan kado ulang tahun disana. Efira juga sudah memegang kotak kado berwarna merah muda dari Alex, sedangkan Alex juga sudah memegang kotak kado berwarna abu-abu dari Efira.
Keduanya terlihat tidak sabar untuk membukanya, penasaran dengan isi di dalamnya.
“Bukanya di rumah saja” Ucap Alex.
“Itu juga, nanti saja membukanya” Jawab Efira.
“Baiklah, ayo berkumpul kembali dengan yang lain”
“Tunggu”
Efira mencegah Alex keluar.
Pasalnya, gadis itu masih penasaran dengan sesuatu di kotak hitam yang dikatakan oleh tuan Harrison tadi.
“Apa yang ada di kotak hitam?” Tanya Efira.
Alex terkejut bukan main.
Kenapa harus membahas kotak hitam itu lagi?
Lelaki itu terlihat berfikir, seperti berbicara, ‘Aku harus mengatakan apa?’
“Aku ingin melihatnya, kau terlihat sangat gugup. Apa itu sesuatu yang penting?”
Jiwa perempuan seorang Efira telah bangkit, rasa penasarannya sudah membumbung tinggi.
“Tentu” Jawab Alex singkat.
“Lalu? Apa yang akan diberikan padaku di kotak hitam itu?”
Alex diam.
“Alex, ayo katakan”
Masih hening.
Tidak ada jawaban.
“Aleeeex” Kali ini jurus andalan Efira sudah keluar. Nada bicaranya sangat manja.
Tapi, Alex hanya diam tidak bergeming. Ingin keluar-pun tidak bisa, Efira sedang berada di depan pintu sekarang, menghalangi jalan keluarnya.
Ini bahaya untuk Alex. Karena Alex juga seorang lelaki normal.
“Aleeex, apa kau tidak akan memberitahuku?”
Sial
Suara Efira terdengar sangat sexy di telinga Alex. Lelaki itu memandang Efira sendu sekarang.
“Ayolah, beri tahu aku. Jangan hanya diam saja”
Seolah tidak tadi apa yang akan terjadi , Efira terus bertingkah manja, kali ini sambil bergelayut manja di lengan kekar milik sahabat lelakinya itu.
Tentu saja Alex hanya mampu memejamkan mata, meredam apapun yang sedang bergejolak dalam dirinya.
“Jika kau ingin selamat malam ini, maka ayo pergi” Ucap Alex tegas.
Tapi, Efira tidak mendengarkan hal itu, dia terus berceloteh manja. Mendesak Alex untuk memberi tahu sesuatu di kotak hitam yang dimaksud tuan Harrison.
Sampai Alex akhirnya tidak tahan.
Brak
Itu tidak keras, sesuatu itu berasal dari tabrakan tubuh Efira dan Alex di kasur milik lelaki itu.
“Kau mau tau bukan?” Ucap Alex seduktif, lelaki itu sudah berada di atas tubuh Efira saat ini.
“T-T-Tidak j-jadi” Efira sudah kalap sekarang, dia di kurung dengan tubuh Alex di atasnya.
“Sesuatu yang berunsur 21++, menggoda dan sexy”
What?
A-Apa itu video?
Aish, otak Efira sudah berkeliaran kemana-mana, jantungnya pun sudah hampir copot.
“J-Jangan teruskan. Mari kembali saja” Ucap Efira, mencoba bangkit dan lepas dari kungkungan sahabatnya namun, nihil. Tenaga Alex jauh lebih besar daripada dirinya.
“Lingerie berwarna merah. Apa kau ingin mencobanya untukku?”
Tentu saja Efira terkejut bukan main.
Lingerie berwarna merah?
Belum lagi suara Alex yang sudah serak, menandakan dia sedang dalam mode siap memangsa siapapun detik itu juga.
Efira tahu dan paham akan hal itu. Bahaya jika dirinya dan Alex terus berada di kamar itu.
“Jika kau berani menyentuhku, aku akan memotong milikmu” Tutur Efira galak.
“Sebenarnya aku tidak takut tapi, aku menghargai dirimu sebagai wanita. Ayo kembali, jika kau tidak mau. Aku tidak akan menahan diri lagi” Ucap Alex lalu bangkit, diikuti Efira yang sudah berdiri tegak.
Wajahnya benar-benar merah. Malu jika mengingat Alex terus mengatakan hal-hal vulgar dengan posisi seperti itu.
Mereka akhirnya kembali ke pesta.
Efira dan Alex banyak bercerita dengan teman-teman mereka dulu. Hingga tengah malam, mereka baru bubar, mengingat besok masih hari kerja.